Animalia

by nuzuli ziadatun ni'mah


Mari membicarakan manusia sebagai mamalia (agar saya tidak menyebutnya dengan ‘kasar’ menggunakan istilah binatang). Seringnya saya sendiri merasa geli karena pada praktik sehari-hari manusia banyak yang memanggil satu sama lain dengan sebutan nama binatang. Tapi sulit sekali untuk menerima bahwa mereka sendiri termasuk bagian dari mamalia, yang diberi nama beken ‘manusia’.

Bagaimana mendefinisikan manusia? Mari saya gunakan beberapa referensi definisi menurut KBBI online:

manusia/ma·nu·sia/ n makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain); insan; orang:

Di bawahnya ada catatan tambahannya lho,

— siap pakai tenaga terdidik yang terampil dan profesional serta siap memenuhi kebutuhan tenaga kerja;
— perahu orang-orang yang secara berbondong-bondong meninggalkan negerinya menuju negara lain dengan menggunakan perahu;

memanusiakan/me·ma·nu·si·a·kan/ v menjadikan (menganggap, memperlakukan) sebagai manusia;
pemanusiaan/pe·ma·nu·si·a·an/ n proses, cara, perbuatan menjadikan manusia agar memiliki rasa kemanusiaan;
kemanusiaan/ke·ma·nu·si·a·an/ n 1 sifat-sifat manusia; 2 secara manusia; sebagai manusia: perasaan – kita senantiasa mencegah kita melakukan tindakan terkutuk itu

Ah, akan saya biarkan teman-teman pembaca sekalian memberikan persepsi tersendiri terhadap kalimat dan definisi di atas. Tapi komentar saya sih, agaknya, perlu ada semacam dekonstruksi terhadap definisi-definisi tersebut, untuk kemudian dikonstruksikan kembali makna dan definisinya sebagai sesuatu yang memang lebih, manusiawi.

Well then, masuk ke inti tulisannya, saya kemarin sedang berkendara dari kosan saya menuju ke sekret SATU BUMI. Penggal jalan itu sudah sangat saya hafal, dan sering sekali di penggal jalan yang begitu pendek, ada banyak ide tulisan yang bermunculan, hehe.

Kali itu saya berkendara dengan selembar baju yang relatif tipis, dengan kondisi hari selepas hujan yang begitu dinginnya di jam 18.30. Saking dinginnya, saya kembali menyadari bahwa manusia begitu rapuh sebenarnya, karena tidak memiliki perlindungan lain selain kecerdasannya, dan yah, beberapa mungkin keterampilan fisiknya dalam melindungi diri. Saya nggak mau mengutip teorinya Darwin, bukan saja karena mungkin akan menimbulkan perdebatan, tapi juga karena saya belum pernah membaca isi teori evolusinya. Yang saya dengar selama ini hanya ‘katanya’ dan ‘katanya’.

Ingatan saya kemudian kembali pada waktu-waktu ketika saya sedang melaksanakan Pendidikan Dasar XII di Turgo. Ketika itu saya sedang mengisi materi zero condition, semacam simulasi kondisi nol seseorang di lapangan, dalam artian simulasi kondisi terparah yang mungkin dialami seseorang ketika sedang ada di lapangan.

Itu pertama kali saya bertugas untuk mengeksekusi bagian itu. Setiap peserta dibawa oleh satu atau dua panitia, dan kebetulan saya bersama dengan seorang adik angkatan. Malam itu hujan, dan jam menunjukkan pukul 4 pagi. Begitu dinginnya karena sepatu yang kami pakai juga telah berkali-kali kehujanan dan air masih menggenang dengan manisnya di sana. Apa boleh buat, setidaknya baju atas saya masih kering. Dan di saat-saat semacam itu dengan sederhana kita mensyukuri kenikmatan mendapatkan selembar kain kering yang selama ini tidak diperhatikan.

Saya membiarkan adik angkatan Pendidikan Dasar itu terduduk di bawah hujan, basah kuyup kedinginan, dan membiarkannya terdiam begitu lama. Saya tidak punya pengalaman memberikan wejangan pada kondisi semacam itu bertanya padanya,

“Menurutmu, kalau kamu sendirian di hutan, kehujanan sampai seperti itu, tidak menemukan tempat berteduh atau membuat peneduh apapun, apa yang akan kamu lakukan?”

Pertanyaan itu lebih saya sampaikan untuk diri sendiri, karena bahkan ketika menanyakannya saya belum memiliki jawabannya. Hampir-hampir saya tidak mampu menjawab sampai sebuah jawaban datang melintas begitu saja di dalam pikiran saya. Saya tidak akan memberikan jawaban itu di sini. Setidaknya saya ingin pembaca yang budiman juga merenungkan seandainya hilang di hutan dalam keadaan basah kuyup dan tidak memiliki apapun, ketika itu kita akan benar-benar diuji. Dalam kemungkinan semacam itulah, kami berkegiatan di alam atas dasar hobi dan kesenangan. Sungguh aneh bukan? Seolah mati adalah sebuah gurauan yang pantas untuk dibercandai sepanjang waktu.

Lantas, hubungan kenangan dan judul tulisan ini apa?

Ketika acara Diksar itu, setidaknya saya semakin paham bahwa manusia begitu lemah, dan selalu bergantung pada hal-hal yang memudahkan. Ke-telanjang-an kita di hutan sana adalah sebuah derita yang serius, sementara binatang-binatang menanggapinya dengan santai. Mereka toh selama ini bisa membuat tempat tinggal sendiri dengan mudah. Yah, meski manusia pernah melewati fase hidup di hutan dengan cara demikian, namun naluri itu semakin memudar. Kita panik jika tidak melihat rumah, atau tidak melihat api. Saya juga harus mengakui demikian adanya. Seolah alam yang melahirkan kehidupan seolah menjadi begitu menakutkan dan terlampau mengancam.

Kita memiliki mental dan perasaan, yang bahkan meski badan kita masih kuat, bisa saja membuat kita mati depresi. Sungguh menyedihkan membayangkan daya hidup manusia yang demikian. Tapi jangan lupa, di sisi yang berlawanan, banyak orang yang begitu sengsara dan kekurangan secara fisik, namun hidupnya masih mampu ditopang oleh keinginan dari jiwa yang ingin terus hidup. Lihat bagaimana para petani Kendeng berjuang, atau yang mungkin sering kita lihat adalah orang-orang tua yang bekerja begitu keras untuk hidup hariannya.

Manusia begitu kompleksnya hingga tidak akan mampu mendefinisikan manusia sebagai sebuah entitas tunggal yang seragam. Kita memakan segala hal, membuat perlindungan dengan berbagai cara, atau bahkan menguasai segalanya. Dan saya kira, memang kisah peradaban adalah sebuah kisah upaya penguasaan atas Bumi yang kita tinggali, entah dulu atau saat ini.

Perkara ini masih berada pada urusan yang sama, mencoba memperlihatkan bagaimana manusia yang begitu rapuh ini, toh mampu menakhlukkan dunia di bawah kendalinya. Tinggal tunggu saja berita akan rencana pemindahan manusia ke planet-layak-huni yang lain di luar angkasa sana, untuk meninggalkan Bumi yang telah dihancurkan olehnya juga.

wordsflow

Advertisements