tentang kematian (v): Rasa

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada sebuah adegan yang begitu ia ingat ketika menonton tayangan TV kala itu. Dalam filmnya yang entah apa judulnya, Nirina Zubir memperagakan bagaimana ia mencoba adegan memakan cabai tanpa merasa pedas seolah itu adalah cemilan yang telah biasa ia makan. Maka ia pun mencobanya, dan memang rasanya hambar saja.

Dalam benaknya, banyak hal yang menari-nari tak karuan, seolah mimpi yang selama ini menghantuinya muncul ke permukaan kesadarannya.

Apa yang lebih sakit dari hati yang telah dihancurkan? Apa yang lebih menyesakkan dari menemukan diri tidak mampu merasai kembali?

Segalanya telah hilang, segalanya telah dihancurkan oleh Kehendak, oleh waktu. Seolah tak ada yang ingin bekerjasama dengan dirinya, seolah semua yang ia lakukan tidak akan membawa hasil kepada apapun. Nihil. Semua kosong. Dan kematian selalu tampak begitu menggiurkan untuk ditempuh.

“Apakah mati semenggoda itu hingga kamu begitu ingin?” tanya Baik di dalam dirinya.

“Tidakkah kau lihat, betapa indah kematian itu? Itu adalah sebuah kepastian yang niscaya. Begitu dingin, begitu tenang, begitu hening, begitu anggun, begitu teduh,” jawabnya tanpa berhenti mengambil cabai dan mengunyahnya dalam bisu yang tak ia pahami sendiri.

“Apakah dunia ini begitu buruknya hingga kematian menjadi jauh lebih mudah diterima?” sekali lagi Sang Baik bertanya dengan gaduhnya.

“Dua hari lalu aku terbangun dan menyadari bahwa laki-lakiku tidak mencintaiku. Ibuku bunuh diri karena ayahku berselingkuh. Dia bahkan tidak bersedih di pemakaman ibuku, dan tidak pula ia mau mengakui perselingkuhannya. Adikku yang paling kecil gila kerena ayahku, sedang adikku yang lain kabur dari rumah ini. Kebaikan apa lagi yang bisa ditawarkan oleh dunia ini?”

Baik dirinya maupun Sang Baik terdiam memandang dinding kosong. Ruangan itu gelap, namun ada sebuah celah kecil di antara gorden yang ia biarkan sedikit terbuka. Cahaya yang masuk dari celah kecil itu begitu kontras sehingga menyakitkan mata. Tidak ada suara apapun di ruangan itu, kecuali detak jam dinding, dan suara mengunyah yang sangat pelan. Sayup-sayup suara radio juga terdengar dari pos ronda di ujung jalan, juga gelak tawa kecil dari keluarga bahagia sejauh 10 meter dari rumahnya.

Baginya sudah tidak ada lagi guna Jahat dan Baik di dalam dirinya. Telah lama ia melebur dengan Jahat itu sendiri, berharap bahwa ia akan segera mampu menghabus Baik dari dalam dirinya dan menetapkan diri untuk mati. Ia tidak peduli akan perkataan Heidegger tentang kematian, baginya, itu telah menjadi keputusan final.

“Tidak ada yang bisa menetapkan kematian seseorang,” Sang Baik mencoba sekali lagi.

“Tidak. Tapi tidak ada pula yang bisa memastikan kebahagiaan,” balasnya ketus.

Hari itu ia telah memastikan, bahwa begitu sinar terakhir hilang, maka ia akan bunuh diri. Memastikan bahwa tidak akan ada lagi yang merasa kehilangan, atau tidak akan ada rasa yang tertinggal untuknya. Biarkan saja ia mati di rumah itu seorang diri; begitu dingin, begitu tenang, begitu hening, begitu anggun, begitu teduh. Membayangkan kematian tidak lagi menakutkan untuknya, ia tampak bagaikan masa depan yang jauh lebih menjanjikan.

“Apa yang membuatmu yakin mati akan lebih baik?”

“Sebagaimana aku akan bertanya kepadamu apa yang membuatmu yakin tetap hidup akan lebih baik. Baik itu relatif dari mana kau melihatnya.”

“Justru karena itu, jangan mengambil keputusan dengan gegabah. Waktumu masih panjang. Kau bahkan belum 25 tahun.”

“Tak masalah. Aku akan hidup lagi. Lalu mati lagi. Hidup dan mati hanya perkara repetisi.”

Semburat jingga mulai terlihat, menandakan hari akan menuju penghabisannya. Matanya masih menatap kosong pada celah gorden yang sedikit terbuka.

Baginya, tidak ada lagi hal yang patut untuk diperjuangkan. Semua orang bahkan seolah bersatu untuk menghancurkan hidupnya. Ayahnya pergi dengan perempuan lain, hanya berselang beberapa minggu setelah kematian ibunya. Adiknya di rumah sakit jiwa, sementara adik yang lain memilih kabur dari rumah dan tidak ada tanda-tanda akan kembali. Laki-laki yang diharapkannya untuk mendampingi hidupnya tak pelak hanya menginginkan tubuhnya. Bagaikan terbuang sia-sia, hanya benda tanpa jiwa. Hanya objek tak bernyawa. Segalanya tampak begitu brengsek di matanya. Seolah segala sesuatu bersekongkol untuk menggilasnya.

“Seharusnya aku minta untuk tidak pernah dilahirkan di dunia ini,” gumamnya, seberkas air mata menggenang di matanya.

Ia tidak pernah ingat kapan meminta kepada Tuhan untuk dilahirkan pada suatu keluarga yang demikian. Kapan ia meminta sebuah tubuh yang demikian. Kapan ia menuliskan keinginan untuk hidup dengan cara yang demikian. Ia tidak pernah minta apapun, bahkan doa pun ia lupakan. Ia menerima begitu saja hingga semuanya begitu menyesakkannya, hingga ia merasa kehilangan segala rasa yang pernah begitu ia nikmati begitu dalam dan pekat.

Ke mana jiwa yang begitu tangguh dan teguh dalam menempuh hidup itu? Baginya ia telah mati sejak ibunya bunuh diri.

Tetes pertama air matanya tumpah begitu saja. Pandangannya kabur dalam bulir-bulir besar air mata yang begitu panas. Kala itu, ia tersedak begitu keras, merasakan bagaimana panas membakar tenggorokannya, perutnya, menggilas keseluruhan syaraf perasanya. Baru sekali itu ia merasakan hidup yang begitu hidup, seolah setiap ujung tubuhnya merespon segala yang terjadi padanya. Seolah seluruh tubuhnya bekerja sama untuk memintanya tinggal di dunia, untuk memintanya menghentikan perangnya dengan Hidup dan memilih Mati sebagai imamnya.

Sang Baik tak mampu melakukan apapun ketika gadis itu meraung-raung dalam tangis yang begitu dalam dan pekat, dalam gelap yang temaram karena secercah cahaya dari sela antara gorden yang terbuka. Menurutnya, begitu saja ia mampu memenangkan pertarungannya dengan si gadis. Celah gorden itu, seperti sebuah kesempatan kedua untuk hidup. Bahwa di antara gelap yang begitu pekat, ada cahaya yang masih harus menyala agar ia tahu ke mana harus berjalan, terduduk, atau bersimpuh.

Maka ia biarkan si gadis terus berurai air mata hingga mungkin tandas tiada bekas. Memeluknya dalam harap yang begitu besar, bahwa kehilangan dan kesedihan akan membawanya kembali pada rasa dalam segala rupa.

wordsflow

 

catatan:

Meski seolah cerita mustahil merupakan sebuah kenyataan, namun saya menyaksikan bahwa cerita-cerita ini nyata adanya. Jika tidak, saya tidak akan mampu menceritakannya, atau merenungkannya dengan cara demikian. Sebagaimana Baik dan Jahat selalu bertarung di dalam diri, Gelap dan Terang (akan hidup) juga berkelindan membentuk sesuatu yang kita sebut sebagai dinamika.

Dalam dunia yang tidak kita tahu ini, kita memilih untuk merayakannya dengan beragam cara, hingga sadar kemudian kematian hanya sejarak kedipan mata saja.

Advertisements