tentang apapun yang kau yakini

by nuzuli ziadatun ni'mah


Apa sekiranya yang saya benci dari modernitas ini?

Adalah kebingungan di seluruh aras pembelajaran dan kehidupan, dan sungguh memuakkan untuk dipikirkan.

Memang, berpikir tidak pernah mudah, semua orang pun paham hal itu. Berpikir juga membuat kita semakin terasah pada hal apapun. Tapi lebih sering tantangan muncul untuk kemudian mewujudkan ide-ide tersebut pada tataran teknisnya. Bagaimana bisa menyeimbangkan semua keinginan orang yang terus menerus berseturu dalam lingkup masyarakat yang selalu kita banggakan sebagai masyarakat yang ‘damai’? Bahkan satu per satu kata yang saya sebut di atas pun saya masih tidak begitu yakin dapat mendekonstruksinya dengan baik dan merekonstruksikannya ulang dengan lebih baik juga.

Sungguh, saya di ambang lautan kebingunan yang semakin luas saja dari hari ke hari.

Malah belakangan saya semakin berkeinginan untuk menjadi orang yang mampu menempatkan diri dengan yakin pada suatu field tertentu tanpa perlu mempertanyakan ini itu. Tapi rasa tidak percaya saya pada banyak hal telah terlanjur tertanam, sehingga rasanya sulit sekali untuk menyemangati diri mengambil langkah ini atau itu.

Sudah berkali-kali saya selalu kembali pada kesimpulan bahwa semua orang terlalu menganggap bahwa dirinya memiliki pandangan dan pendapat yang paling benar. Mungkin saya juga punya kecenderungan yang demikian, dan kalimat-kalimat normatif ini membuktikan hal itu. Tapi, agaknya banyak yang kemudian melupakan bahwa manusia itu majemuk, dan tidak seragam, serta terus menerus berubah. Bagaimanapun hal ini tidak bisa disangkal, dan karenanya pandangan yang menyetarakan dan menyamakan buat saya menjadi terlaluuu, yah, tidak mendalam.

Saya ini produk milenial, dengan sistem pendidikan dan kehidupan di bawah rezim pembangunan. Pun terlena dengan pembangunan itu hingga saya bisa menulis dengan begitu nikmat di platform ini tanpa harus mencari daun lontar dan mengawetkannya.

Lalu, apa yang ingin saya sampaikan kemudian?

Dalam kebingungan akan begitu banyak hal, saya mencoba mencari akar permasalahan yang paling mendasar dari berbagai kemajemukan manusia yang ada. Yang saya temukan kemudian, adalah pola konsumsi masing-masing orangnya. Konsumsi yang saya maksud di sini adalah dalam berbagai konteksnya, dari kebutuhan makan hingga ke informasi. Konsumsi lah yang mendasari kerja dan akumulasi manusia akan berbagai hal yang ada.

Hemm, bisa disangkal sih, tapi coba biarkan saya percaya dulu yak.

Mari saya kaji (njir, sok analis banget saya) dari hal paling material, yaitu makan. Bagaimana transformasi budaya makan yang ada di masyarakat kita? Oiya, sekiranya agak ngelantur maaf ya, saya menulis ini tanpa berusaha mengkonfirmasi ke buku-buku atau jurnal yang pernah diterbitkan sebelumnya. Toh ini bukan tulisan akademis.

Pada mulanya, manusia makan dari alam begitu saja, hanya mengambil dan memakannya. Sesederhana itu, sehingga setiap yang masuk ke tubuh kita adalah hal-hal yang kita tahu persis dari mana asalnya, tumbuh di mana, di ambil dalam kondisi apa, musim apa, dan sebagainya. Selanjutnya, setelah manusia menemukan api, makanan menjadi lebih kompleks lagi, karena muncul proses di sana, dan dengannya ada kerja yang lebih banyak pada makanan tersebut. Sejauh ini, manusia masih tahu persis asal usul makanan dan bagaimana proses itu berjalan.

Transformasi ini terus berkembang kemudian, ketika akhirnya manusia semakin banyak menemukan bahan-bahan alam yang mampu mendukung proses pengolahan makanan, atau membuat makanan menjadi semakin mudah dicerna. Dari teknologi pertanian sederhana untuk tujuan akumulasi pada musim yang sulit, hingga bumbu-bumbu yang mampu membuat daging menjadi lebih lunak, atau mengawetkan beberapa jenis makanan yang mereka inginkan.

Kekuasaan kemudian menciptakan derajat-derajat makanan yang ada pada suatu masyarakat, dan dimulailah pemisahan secara sengaja konsumen terhadap hasil produksi alam. Maksud saya, misal raja yang memperoleh makanan dari dapur dayang-dayangnya, tidak akan mampu mengetahui bagaimana makanan tersebut dimasak, apalagi diambil dari ladang yang seperti apa, kualitas air yang bagaimana, cuaca yang bagaimana, dan seterusnya. Awal pemisahan ini, menyebabkan diri tidak mampu mengetahui apa saja yang ia konsumsi. Ia menjadi semakin sulit untuk memahami, bahan makanan mana yang membuatnya alergi, atau membuatnya sakit, dan seterusnya.

Semakin jauh seorang konsumen dari sumber daya itu, semakin banyak kerja yang ia butuhkan untuk memastikan konsumsinya terpenuhi. Marx telah menjelaskannya panjang lebar sampai berbusa di bukunya, dan memberikan istilah keterpisahan itu sebagai ‘alienasi’. Meski memang ia memberikan istilah itu bukan hanya untuk konsep keterasingan pada konteks yang saya jelaskan di atas, namun pada seluruh pemisahan yang mungkin terjadi antara buruh dan mode produksinya.

Akumulasi kerja yang banyak itu, karena jauhnya jurang pemisah antara konsumen dan produsen atau sumber daya di hari ini, membuat biaya yang harus ditebus semakin banyak. Di sana saya kira, kita bertemu dengan penyebab tingginya harga yang harus dibayarkan untuk sebuah proses konsumsi.

Dalam kebingungan yang semakin tinggi terhadap apapun, saya mencoba untuk membatasi diri pada setiap konsumsi yang bisa saya eksekusi untuk menunjang hidup saya. Konsumsi yang mencakup material, maupun mental (dalam hal ini misal jaringan sosial, atau bahkan agama). Baudrillard telah menyebutkan bahwa postmodernisme menggiring pola konsumsi masyarakat pada tataran yang berbeda, yaitu pada konsumsi simbol-simbol yang melekat pada benda-benda. Huehehe.

Katakanlah pada konteks makanan. Konsumsi makanan harian bukan pada pencarian akan kualitas makanan yang mampu ia akses, namun juga pada reputasi dan simbol-simbol yang melekat padanya. Sehingga membeli nasi rames seharga 7.000 rupiah yang sudah jelas ibu-ibu warung bisa menjelaskan asal usul semua bahan makanannya menjadi tidak lebih bergengsi dari membeli makanan di restoran di mall. Mengerikan yah proses transformasi konsumsi ini, huehehe. Dan siap nggak siap sih, menghadapi setiap perkembangan model konsumsi yang ada di hari ini.

Tapi, sebagaimana yang saya katakan di atas, agaknya membatasi diri pada konsumsi adalah jalan tengah yang bisa saya ambil untuk menghadapi kebingunan diri akan segala hal. Pola konsumsi ini saya pikir akan mampu memberikan gambaran bagaimana seseorang melihat pemenuhan kebutuhan hidupnya. Tentang bagaimana ia melihat kualitas hidupnya terhadap masyarakat yang lainnya. Dan sulit sekali untuk memahami bagaimana semua hal itu mampu ‘dikendalikan’ untuk baik melawan atau mendukung modernitas dan kemudahan globalisasi yang begitu menggoda sepanjang jaman ini.

Untuk mampu ‘mengendalikan’ pola konsumsi itu, pertama-tama manusia harus sadar. Dan mengupayakan kesadaran itu yang sebenarnya sedang diperlombakan di jagad dunia maya ini. Dunia yang serba mudah informasi ini, segala bentuk upaya ‘penyadaran’ dilakukan oleh semua pihak. Lihatlah, dari mulai iklan yang paling receh, quotes penyemangat hidup, hingga selebaran kritik terhadap pemerintah dan korporasi multinasional. Kesemuanya saudara-saudara, hanya untuk mencapai tujuan itu: kesadaran (akan suatu hal; sebagaimana kata Husserl).

Setelah kesadaran, kemudian akan muncul tindakan. Meski masih dapat disangkal pula bahwa kadang ada manusia yang bertindak tanpa adanya sebuah kesadaran, tapi hanya pada kondisi-kondisi tertentu saja saya kira. Tidak boleh diabaikan, namun juga tidak menjadi penghambat yang utama dalam dasar tindakan manusia.

Yah, dalam hal ini saya bahkan mampu mengatakan bahwa beragama pun menggunakan dasar kesadaran itu. Misal kesadaran tentang entitas tertinggi, adanya Sang Kehendak, atau yah, sesuai dengan balada-balada kematian yang baru-baru ini saya tulis, juga karena hanya agama yang mampu memberikan ‘kepastian’ akan kehidupan setelah kematian (teman saya pernah menulis ini; di sini). Atau, kalau kamu seorang fanatik Death Note, maka mungkin akan percaya bahwa semua orang mati akan masuk ke MU atau kehampaan, kan jadi nggak perlu beragama.

Demikian, maka yang manapun menjadi begitu bersifat arbitrer sesuai dengan level kesadaran masing-masing orang mengenai hidup yang sedang mereka jalani. Maka, menyadari-segala-hal bagi saya begitu penting adanya, dan tidaklah sia-sia meski memakan waktu lama, atau melelahkan pikiran kita.

Akhir kata, pada apapun yang kita yakini, semoga ada kesadaran mendalam tentang mengapa-nya. Sehingga kita tidak sedang menjadi budak hasrat semata.

Sementara itu, saya mau memberikan ucapan selamat pada diri sendiri, karena akhirnya mampu menulis tulisan mendadak yang agak terstruktur semacam ini. Selamat malam saudara-saudara.

wordsflow

 

catatan tambahan:

Setelah saya pikirkan lagi, tampaknya masih ada hal yang belum saya bahas. Biarkan menjadi pe er untuk hari Senin, hehe.

Advertisements