tentang kontemplasi di ketinggian bumi

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sesuai janji, saya menulis lagi di hari ini.

Selama persis 49 jam saya ‘membuang’ waktu untuk mendaki bumi, sekali lagi. Saya menyebutnya sebagai perjalanan kontemplasi. Di umur yang hampir 25 tahun ini, toh apalagi yang bisa begitu saya nikmati kecuali untuk kontemplasi?

Ada hal yang ingin saya singkirkan ketika perjalanan itu saya setujui, dan memang hal itu baru akan tampak dan saya pahami begitu saya menjauh dari hal-hal yang sering saya lihat sehari-hari. Dan bukankah gunung dan hutan adalah pengganti yang begitu menyenangkan? Terlebih lagi, pergi ke tempat semacam itu tentu saja tidak untuk memikirkan hal-hal yang terlampau berat dan tugas-tugas kuliah. Tentu saja tidak, waktu semacam itu adalah kebebasan yang sesungguhnya untuk memikirkan diri sendiri, dan hal-hal yang belum kita temukan jawabannya.

Pertanyaan pertama yang saya ajukan untuk diri sendiri, hal apa yang paling saya tidak suka dari diri sendiri?

Pertanyaan kedua, apakah sebetulnya saya menerima kondisi fisik saya yang, tidak cantik?

Pertanyaan ketiga, apa esensi dari gerakan feminisme, lalu apa pendapat pribadi saya?

Ketika pertanyaan itu, yang menemani hari-hari saya di gunung. Bahkan sepanjang perjalanan saya berdialog panjang dengan diri sendiri, sembari menahan pegal di kaki karena begitu jarang berolah raga, dan sesekali menggigil karena udara yang terlampau dingin.

Tentang pertanyaan pertama.

Saya sadar ada banyak orang yang secara pribadi atau secara terbuka sering mengatakan saya orang yang mutusi. Dan hal itu bukan tanpa kesadaran saya melakukannya, karena saya selalu punya cukup waktu sebelum mengatakan sesuatu atau memutuskan sesuatu. Perkara mutusi, adalah sebuah upaya pertahanan diri sebenarnya, akan hal-hal yang tidak bisa saya temukan jawabannya secara langsung atau saya konfirmasikan. Hal itu membantu saya dalam menjalani hidup saya sehari-hari, dan membuat saya semakin mudah berpikir.

Ah, saya berharap kamu akan membaca penggal pengakuan ini.

Ada masa di mana aku selalu berkata pada diri sendiri, bahwa aku tidak tahu apapun tentang siapapun. Bahkan kepada diri sendiri pun kadang aku kesulitan untuk bertindak. Aku sering sadar, bahwa aku merindukanmu, atau berharap dapat berbagi cerita denganmu. Tapi toh ketika kita bertemu, hampir-hampir aku tidak menginginkannya. Sehingga begitu sering aku bertanya sekali lagi pada diri sendiri, yang begitu aku sebut mencintai?

Kita sama kesepian kukira. Tapi aku tak pernah tahu kesepian seperti apa yang kamu rasakan, yang pasti dengan perlahan aku mencoba memahami kesepian seperti apa yang sedang kurasakan. Mungkin, dua orang yang kesepian memang tidak bisa begitu saja disandingkan, karena tidak akan ada hal-hal yang bisa saling dipertukarkan kecuali kesepian itu sendiri. Ah, aku mulai mutusi lagi. Enggak sih, aku tak tahu apa-apa tentang takdir, atau kehendak, atau nasib. Semua bersilang sengkarut dan mencoba diakui sebagai takdir kita.

Kupikir, seharusnya kamu mulai mencari seseorang yang bisa kau sebut ‘perempuanku’, agar kau tak lagi kesepian. Agar mungkin, begitu kamu memastikan diri, aku bisa memutuskan juga ke mana aku akan melangkah tanpa harus bersusah payah menerjemahkan dirimu. Bagiku, lebih mudah menerima kenyataan dari pada memutuskan jalan yang harus kuambil pada titik bifurkasi.

Aku mencoba menyiapkan diri dan memberimu kepastian bahwa aku tak akan lagi dengan mudah memutuskan segala hal seorang diri.

Tentang pertanyaan kedua.

Saya mulai jengah sebetulnya, menyangkut pertanyaan cantik-tidak cantik ini, hahaha. Harus saya akui dengan jujur, bahwa selama bertahun-tahun saya merasakan ketidakpuasan diri akan fisik yang saya miliki. Sudah sangat sering saya disalahpahami karena muka saya yang menyebalkan, dan bukan salah saya jika saya demikian. Sudah terima saja. Tapi jauh sebelum saya disalahpahami karena saya jutek, saya dulu lebih nggak terima karena saya tinggi, sehingga berkali-kali dikira anak pertama di keluarga saya. Tapi semakin saya tumbuh dewasa, persoalan kecantikan ternyata lebih mengganggu.

Tentu saja saya masuk golongan anak-anak perempuan yang ingin tampil menarik dan cantik. Tapi saya sudah sadar bahwa saya tidak cantik sejak saya masih duduk di bangku TK. Kenyataan itu saya sadari karena saya nggak pernah dimintai tolong untuk menjadi gadis-gadis kecil yang bawa kipas manten. Ya ampun, cerita memalukan apa ini. Sejak itu saya sadar, bahwa saya tidak cantik, dan dimulailah segala pertanyaan tentang diri sendiri.

Belakangan saya tahu bahwa orang bisa dibuat cantik, dengan alat rias. Tapi itu tidak memuaskan, karena ibu saya bukan tukang dandan, jadi dia tidak dapat saya jadikan preferensi yang baik. Cukup lama saya ‘menggunakan’ ibu saya sebagai subjek penelitian saya. Semakin lama saya sadar, bahwa kesan yang ditampilkan raut wajah seseorang tidaklah tetap, meski citra yang tersimpan di dalam pikiran relatif lebih tetap dan tidak berubah. Misal saya membayangkan wajah seseorang, ya begitu saja bentuknya, meski di dunia nyata seseorang itu memiliki berratus ekspresi yang berbeda.

Maka, soal cantik tidak cantik itu cuma jadi permasalahan ingatan, hahaha. Kesimpulan macam apa ini? Tapi begitulah, saya sudah lama berdamai dengan diri sendiri, bahwa tidak cantik ya akan begitu selamanya. Nggak perlu berusaha hingga babak belur untuk membuat diri sendiri secantik standar yang diciptakan orang-orang, karena itu menyulitkan diri sendiri. Saya cenderung lebih suka berkaca dan memasang tampang cemberut saya, dan mencoba membayangkan orang lain menghadapi bentuk muka saya yang begitu menyebalkan. Kasian ya orang-orang yang bertemu dengan saya. Hahaha.

Tentang pertanyaan ketiga.

Pada suatu malam yang panjang, saya dan seorang teman (yang cerita hidupnya saya jadikan cerpen tempo hari), berdiskusi singkat mengenai feminisme. Dia yang cukup perhatian dengan permasalahan itu akhirnya mengatakan pada saya, “Menurutku akhirnya gerakan feminis mengalami kemuduran, balik lagi ke awal.” Maksudnya, di hari ini banyak perempuan yang ingin kembali kepada khitohnya aja menjadi seorang ibu, menjadi pemberi kehidupan untuk keluarga kecilnya, dan menjadi ibu rumah tangga. Para lulusan-lulusan perguruan tinggi ini menolak anggapan umum bahwa sarjana harus bekerja, dan memilih hidup menjadi seorang ibu saja. Toh menjadi ibu adalah kodrat seorang perempuan yang adalah juga sebuah karunia.

Pertanyaan ini menyangkut hal yang begitu inti dari pergulatan diri saya sebenarnya. Apa yang kemudian saya anggap penting, yang saya inginkan, yang saya tuju, dan seterusnya. Bukankah urusan ini begitu mengganggu setiap perempuan juga?

Ada beberapa hal yang mencoba saya sadari melalui pertanyaan ini.

Pertama, saya adalah dassein, yang merupakan seorang individu bebas yang tunggal; terlempar seorang diri, dan akan tercerabut dari eksistensinya seorang diri pula. Maka, perihal pencarian diri bukan perkara menghindari kodrat perempuan sebagai pemberi kehidupan untuk anak-anaknya. Justru saya kira, adalah tugas kita jika memang akan memiliki anak, untuk mampu memberikan garis awal yang baik bagi mereka untuk memahami keterlemparannya di dunia. Demikian, mencari definisi tentang hidup, memahami segala hal yang terjadi, mempertanyakan diri dan lingkungannya, atau hal apapun itu, bukan perkara kamu perempuan atau laki-laki. Tapi adalah buah dari status bebas kita sebagai seorang individu.

Yang kedua, kita yang merupakan individu-individu bebas ini, terkurung di dalam berbagai struktur yang saling tumpang tindih. Saya sebagai perempuan misalnya, adalah status yang diberikan atas struktur yang ada di masyarakat, bahwa manusia terbagi menjadi laki-laki dan perempuan. Di dalamnya ada banyak sekali aturan-aturan yang mayoritas tidak tertulis, tapi disepakati bersama. Saya juga seekor makhluk biologis dan material, yang bisa bertumbuh, berkembang biak, berreaksi atau melebur, dan seterusnya. Maka, menjelaskan seorang ‘saya’ tidak bisa sembarangan saja, karena manusia menempati berbagai dimensi struktur.

Dari sana saya kira, menjadi ibu atau tidak menjadi ibu, hidup sendiri atau berkeluarga, bekerja atau tinggal di rumah saja, berlaku feminim atau maskulin, bukan soal benar tidaknya, ‘lebih perempuan’ yang mana, atau perdebatan-perdebatan panjang lainnya. Saya tidak suka generalisasi semacam itu. Kita semua diberikan pilihan sebebas itu sejak lahir, meski pertama-tama harus pula menerima keterlemparan diri dan kesejarahan kita. Jadi, perihal ‘kemunduran’ feminisme bagi saya tidak begitu saja bisa diiyakan. Kita melihatnya sebagai kemunduran, karena sebelumnya perlawanan itu hanya dilakukan pada satu dimensi struktur saja, sementara kita melihatnya dari dimensi struktur yang lainnya. Jadi nggak ketemu. Ah, tapi saya bukan penggiat feminisme, saya hanyalah penerjemah diri.

Sebagaimana sering saya katakan, tulisan di sini tidak pernah sepuitis yang saya dialogkan di dalam pikiran. Saya selalu lupa kalimat-kalimat yang saya susun di dalam kepala. Bahkan terkadang yang tertulis akhirnya juga tidak sampai pada kedalaman pemikiran saya. Tapi biarlah, pinggang saya hampir copot.

Tapi jalan-jalan kontemplasi ini begitu menyenangkan, dan saya begitu menikmatinya. Ternyata saya sudah begitu lama tidak bergelut dengan diri sendiri seintensif itu.

wordsflow

nih saya kasih foto saya yang ndembik, pose favorit eke

nih saya kasih foto saya yang ndembik, pose favorit eke

Advertisements