tentang laki-laki dalam hidupku

by nuzuli ziadatun ni'mah


Aku memiliki beberapa laki-laki dalam hidupku, dan tentu saja kamu ada di antara mereka yang kuanggap sebagai ‘laki-laki dalam hidupku’. Pertanyaan ini akan menuju, terutama pada soal masa depan kehidupanku, tentang laki-laki yang bagaimana yang akan membuatku tidak merasa kesepian, atau yang seperti apa yang bisa menjauhkanku dari perasaan terbuang.

Aku telah melihat berbagai jenis laki-laki, dan berbagai bentuk suami. Kesemuanya tidak sama, cara berpikirnya, kesukaannya, cara mengurus anak, cara memandang istri mereka, atau bahkan cara memandang perempuan lain, dan seterusnya, dan seterusnya. Di sepanjang jalan pulang semalam, saya tetiba mengingatmu dengan berbagai cara yang bisa kuingat. Sebagai seorang kawan yang menyenangkan, pun menyebalkan. Sebagai seorang yang cara berpikirnya kusukai, pun tidak kusukai pada saat yang bersamaan. Yang hidupnya kuketahui, dan tidak kuketahui pula. Yang baik dan buruknya coba aku pahami.

Tiba-tiba aku menginginkan seorang laki-laki dalam hidupku. Yang setiap malam akan menceritakan hari-harinya, lalu bertanya tentang hari-hariku. Kita akan saling berpelukan di bawah selimut yang sama sembari bercerita tentang apapun yang mungkin saling ingin kita ketahui. Di siang-siang kita, tidak harus kita berjalan berdampingan, atau berkunjung ke tempat yang sama. Tidak perlu. Kita hanya perlu menyelinap ke selimut masing-masing, lalu berbincang dengan khidmat hingga kita tertidur pulas sembari berpelukan berdua.

Aku tidak perlu tahu apa saja yang kamu lakukan dalam hari-harimu, sebagaimana aku percaya kita akan tetap saling mengerti. Bukankah kita akan saling berbincang saat bertatap muka? Mungkin berkabar sekali dua kali akan menyenangkan, menunggu-nunggu waktu-waktu bertemu denganmu setiap waktu, lalu kita akan melepas rindu. Kita akan berdekapan bergitu saja.

Lalu kamu akan tahu dalam detak jantung yang seperti apa diriku saat berdekatan denganmu, atau aku akan tahu bagaimana dirimu saat berdekatan denganku. Suara napas kita akan beriringan membawa kita pada mimpi-mimpi ke alam bawah sadar. Dengan cara seperti itu kita akan menghabiskan malam-malam kita.

Lalu ketika pagi, aku akan mengecupmu pelan jika aku tidak bangun terlalu siang. Kadang-kadang mungkin kita akan terburu-buru berbenah untuk segera ke tempat kerja. Atau mungkin kita akan bekerja di rumah! Kadang kita juga bisa sama-sama mengambil cuti, berkemah ke tempat dingin, menonton film tentang perang, petualangan, atau bahkan film-film kartun.

Bagaimanapun, aku yakin saling mencintai tidak harus selalu bertatap muka, atau berkabar sepanjang waktu. Hanya saja, aku ingin menghabiskan waktu bersama begitu kita berjumpa, menceritakan segala hal, mengungkapkan segala perasaan, dan seterusnya. Sepertinya, memang begitulah caraku mencintai. Kadang-kadang mungkin kita akan sangat kesepian, hingga harus pula mengharapkan waktu segera berlalu lantas kita akan bertemu. Memupuk rindu, lalu menuntaskannya. Mungkin aku dan kamu akan saling bersilangan pendapat, dan aku akan selalu menjadi pihak yang keras kepala.

Ah, tapi ini hanya cerita yang kukarang tentang kita.

Seandainya iya, maka ini akan berakhir menjadi cerita yang akan kudongengkan kepada anak-anak kita. Jikapun kesemuanya berakhir sebagai harap semata, maka akan kupastikan kamu mendapatkannya dalam bentuk buku dengan nama penaku sebagai pengarangnya.

beribu kasih dan rindu, wordsflow

Advertisements