tentang apapun yang kau yakini (ii)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Seperti biasa, ketika akan mengerjakan tugas saya pasti justru memilih kembali ke laman ini, lantas menuliskan sesuatu. Sial.

Okai, mari kita lanjutkan.

Sudah lama saya nggak mendengarkan Balmorhea, teduh sekali seperti gerimis malam ini. Huehehe. Di saat-saat hati saya sedang tenang begini, saya sering bertanya-tanya tentang hal-hal yang saya inginkan. Tapi ternyata tidak saya temukan keinginan apapun kecuali samar-samar saja akhirnya. Ya sudah, jadi nikmati saya ketenangan ini hingga badai sekali lagi datang menerjang.

Tentang bahasan yang saya katakan belum selesai, belakangan setelah membaca kritik Keppler terhadap The Theory of Moral Sentiments-nya Adam Smith, saya jadi merasa opini saya sebenarnya telah dijelaskan dengan baik oleh Smith. Perkaranya, saya belum pernah membaca buku Smith sama sekali, dan sejauh yang saya tahu tentang dia, hanyalah perihal teori ekonomi klasiknya. Jadi, tetap saja saya akan menjelaskan dengan cara saya memahami pola konsumsi yang sempat saya bicarakan tempo hari. Jika ternyata kemudian saya akhirnya membaca bukunya Smith dan telah memahami lebih banyak, mungkin akan saya tulis juga di sini.

Soal kesadaran, saya kira terlalu dini untuk menyatakannya demikian. Urusan kesadaran bukan hanya perkara ‘sekarang’ tetapi juga masa depan, dan karenanya juga pasti akan melibatkan masa lalu. Maka, untuk mencapai tahap sadar-akan-sesuatu, seseorang melalui proses yang begitu panjang, hingga akhirnya menentukan pilihan pada hal yang ingin dikonsumsi. Jika kalian sepakat untuk meletakkan definisi konsumsi ini pada setiap aspek, maka hal ini juga berlaku umum, baik pada urusan materi maupun non materi.

Menjadi tidak mudah karena dengan demikian, maka ‘menyadari’ ini menjadi proses yang panjang, sebagai sebuah proses yang terus berlangsung dan tentu saja dialektis. Manusia juga kemudian bertemu dengan kebaruan, berkaca pada pengalaman, dan begitu banyak faktor yang akhirnya berhubungan dengan proses ‘menyadari’ itu.

Agaknya saya menuju pada ujung awal pertanyaan saya, hahaha.

Yah, harus saya katakan bahwa mungkin demikian memang yang membuat kita mengalami kebingungan dalam menghadapi segala hal di hari ini. Nah kan jadi mbulet dan nggak kelar-kelar kan ceritanya. Hell yeah, hadapi saja sudah. Minimal sadar.

**

Mengingat saya nggak suka postingan yang terlalu pendek, saya mau cerita saja tentang diskusi-diskusi kecil saya dengan beberapa orang. Sudah lama saya tertarik dengan pemikiran orang lain, atau minimal logika berpikirnya deh.

Seorang ahli astronomi yang saya ikuti akunnya di Twitter sempat membagikan tulisannya tentang penjelasan mengenai Bumi itu bulat. Mungkin ia jengah dengan fanboy flat Earth. Yang membuat saya kesengsem dengan tulisan itu adalah kutipan awalnya;

“Seorang pemburu berjalan meninggalkan tendanya ke Selatan sejauh 10 km, lalu berbelok dan berjalan ke arah Timur sejauh 10 km. Pada titik ini ia melihat seekor beruang dan hendak menembaknya, tapi si beruang melawan dan dengan cakarnya ia mampu menjatuhkan senapan si pemburu. Si pemburu kabur terkencing-kencing ke Utara sejauh 10 km, dan ia menemukan kembali tendanya. Ia lalu ganti kolor dan istirahat. Apakah warna beruang tersebut?”

—Sebuah cerita lama dari buku teka-teki Matematika

Silahkan baca artikel ini untuk tahu jawabannya. Kalau malas bisa menjawab sendiri juga sih, hehehe.

Dahulu kala di masa SMP saya, saya suka sekali dengan jenis-jenis pertanyaan semacam ini. Bahkan saya dan teman-teman saya sering saling bertukar soal logika untuk mencari kesenangan (sungguh dalam artian sesungguhnya). Saya telah hampir lupa seberapa menyenangkannya hari-hari lampau itu dengan matematika, hahaha.

Sering kali saya menyadari bahwa begitu banyak pengetahuan di dunia ini yang berseliweran dan hanya beberapa orang saja yang ingin mengaksesnya. Saya jarang bicara tentang jurnalisme, sastra, teknologi, astronomi, kuliner, ekologi, pariwisata, dan seterusnya, dan seterusnya. Kadang kala justru merasa tidak peduli dengan segala hal di televisi atau di koran, padahal penting! Pengetahuan umum sudah tidak cukup lagi masuk ke RPUL, sehingga tentu saja kita harus rajin-rajin memahami berbagai hal yang ada.

Di luar fenomena-fenomena sosial yang begitu memusingkan, banyak hal material yang sesungguhnya lebih mudah dipahami. Misalnya saja, ketika mencoba memahami bagaimana konflik sosial terjadi akibat dibangunnya infrastruktur, tidak bisa kita membicarakannya tanpa mengetahui bagaimana si infrastruktur itu diciptakan, dibangun, ditempatkan, dioperasikan, dan seterusnya (menurut saya loh ya). Hal ini saya kira penting karena pengetahuan parsial hanya akan membawa pada kesimpulan yang sama terbatasnya juga. Bukan lantas kemudian semua hal itu menjadi salah, tidak demikian. Lebih pada upaya untuk mengurangi pertanyaan lanjutan yang timbul. Bukankah semakin banyak pertanyaan yang mampu kita jawab, maka semakin terbuka juga realitas itu?

Yah, meski awal dan akhirnya nggak terlalu nyambung, saya harap kalian tetap berkenan.

wordsflow

Advertisements