kenapa akhirnya semua manusia berseteru?

by nuzuli ziadatun ni'mah


Kemarin pagi, ada sebuah kebijakan baru yang diterapkan oleh kampus saya mengenai akses. Jalan utama menuju Lembah tiba-tiba dipasang portal dan tanpa pemberitahuan pagi kemarin diberlakukan wajib karcis untuk masuk ke areal kampus. Tentu saja hal itu menjadi perbincangan hangat. Bukan hanya karena implementasinya yang tiba-tiba, namun juga karena hal itu membuat antrian panjang dan kemacetan di simpang Jl. Agro.

Secara pribadi, saya yakin hal tersebut bertujuan baik, sebagaimana semua kebijakan kampus tampaknya adalah untuk meningkatkan citra kampus di manapun; di hadapan mahasiswa, calon mahasiswa, sesama akademisi, pemerintah pusat, khalayak internasional. Yah apapun lah, yang saya lihat, setiap kebijakan bertujuan untuk mencapai pujian. Tak lama setelah merasakan si portal untuk pertama kalinya, saya membaca sebuah postingan di laman Facebook, yang mempertanyakan kebijakan kampus yang katanya penuh dengan mahasiswa pemenang kompetisi internasional dengan dosen-dosen yang handal pada akhirnya tidak mampu menangani urusan parkir kampus.

Tertamparlah diri ini.

Bukan hanya soal itu. Kita melihat banyak sekali contoh lewat begitu banyak cerita nyata atau fiksi, tentang orang-orang tua yang sukses mengerjakan berbagai hal, menyelesaikan berbagai persoalan, namun gagal mendidik anak-anaknya, membiarkan anak mereka ‘terjerumus’ dalam seks bebas atau penggunaan narkoba, dst. Tidak heran bagi saya, institusi sebesar kampus, yang dipenuhi oleh orang-orang yang kritis dan tentu saja intelek, akan sulit untuk menata dirinya. Ada berapa kubu yang berbeda ideologi di sana, ada berapa kubu yang berbeda paradigma, dan seterusnya.

Saya kira, perihal keberagaman paradigma dan opini telah begitu banyak dipelajari melalui metode-metode analisis perilaku manusia, dan itu ada di berbagai bidang ilmu! Tapi toh kita tidak pernah lepas dari satu fakta: kita masih bertikai setiap harinya.

Maka, menjadi begitu menggelitik pikiran saya sendiri akhirnya, terutama tentang konsep ‘harmoni’. Apakah harmoni itu? Bilamana harmoni tercipta? Apakah harmoni memang mampu dicapai oleh manusia? Apakah harmoni merupakan sebuah cita-cita? Ataukah ia dipaksakan menjadi realita?

Sekiranya memang, saya sendiri pun meyakini meski mungkin karena adanya berbagai faktor yang menyebabkan perubahan tubuh manusia, setiap manusia tercipta berbeda. Hal ini bukan hanya urusan fisik, namun juga cara berjalan, suara, perilaku, dan pemikirannya. Tentu saja perbedaan itu pula yang akhirnya membuat setiap manusia itu unik begitu saja, dan kesejarahan mereka juga unik satu sama lain. Buat saya pribadi, sungguh aneh ketika setiap orang yang begitu berbeda itu, mampu menciptakan sebuah komunitas yang kini kita sebut sebagai ‘masyarakat’. Anehnya, setiap kita juga sama sepakat bahwa ada yang disebut sebagai kesepakatan bersama, yang mungkin kita kenal sebagai etika, moral, tata krama, aturan-aturan, dan seabreg istilahnya itu.

Kemudian saya bertanya-tanya, siapa yang akhirnya mampu menciptakan kesepakatan-kesepakatan itu? Jika pada akhirnya kita percaya pada cerita-cerita masa lalu, kematian pertama diciptakan oleh Qabil terhadap Habil saudaranya. Hal itu saya anggap sebagai upaya penguasaan terhadap orang lain, sebuah dorongan untuk menguasai dan mengatur tentu saja. Yang dilakukannya? Power. Ia menggunakan ketangkasan fisiknya untuk mampu menguasai orang lain. Hewan-hewan yang (katanya) mendahului manusia juga mencoba menerapkan penguasaan melalui kekuatan fisik. Kita kemudian mengenal istilah ‘yang berkuasa yang bisa mengatur’.

Maka, saya tidak bisa mempercayai bahwa ada masyarakat yang tidak memiliki struktur sosial yang hierarkis. Saya menduga (tanpa berusaha mencari tahu lebih dalam), setiap manusia yang akhirnya tunduk di bawah naungan masyarakat, adalah mereka yang tidak mampu mempercayai dirinya sendiri bahwa mereka mampu mencari penghidupan dan perlindungan seorang diri. Saya, anda, dan orang-orang ini, akhirnya membutuhkan sebuah naungan yang mampu menjamin penghidupan dan perlindungan itu.

Smith sempat menyebutkan, bahwa masyarakat menciptakan kodifikasi-kodifikasi tertentu yang kemudian kita sebut sebagai kesepakatan umum, misal dalam urusan fashion, hukum, atau apapun, yang kemudian menciptakan selera pasar yang sama. Tanpa adanya kodifikasi tersebut, maka setiap orang akan tetap unik pada simbol dan kode masing-masingnya sendiri. Bahasa juga merupakan salah satu keluaran kodifikasi tersebut. Maka, jangan merasa berbeda dengan orang lain jika kita nyaman berada di bawah masyarakat kita, karena itu artinya kita telah terkodifikasi oleh masyarakat itu.

(Maaf saya nyomot teori Smith untuk berbagai hal, karena saya anggap masih cukup relevan. Kerjaan ilmuwan kan begitu, mengembangan teori, coba ini itu, siapa tau lebih bisa menjelaskan).

Ini bukan soal ingin menjadi berbeda atau ikuti arus saja. Saya masih yakin manusia yang juga muncul dari manusia lain, yang mana juga mensyaratkan secara mutlak adanya persetubuhan dua manusia, menjadikan manusia setidaknya pada suatu waktu harus berhubungan dengan manusia lain. Seorang perempuan yang padanya dibiarkan mampu mengandung selama 9 bulan dan menghidupi seorang bayi selama 2 tahun, menempatkan manusia sebagai entitas yang harus hidup bersama dengan manusia lain. Meski secara biologis mamalia juga mengalami hal yang sama, pada akhirnya ke-berakal-an manusia menjadikan manusia memiliki sifat-sifat yang tidak dimiliki mamalia lainnya. mampu menciptakan kode-kode yang tidak mampu diciptakan mamalia lainnya, atau jika mau mengutip Marx, manusia melakukan ‘kerja’, yang mana tidak dilakukan oleh mamalia lain. Lebih jauh, Heidegger mengatakan bahwa hanya manusia (yang dia sebut das sein) saja yang mampu mendekati Ada-nya, sedangkan makhluk lainnya hanya menjalani saja.

Demikian, berbagai jenis manusia melalui berbagai disiplin ilmu mencoba menguraikan 5W1H-nya tentang manusia, tentang diri mereka sendiri, tentang kelompok kecil manusia, tentang masyarakat, dan bahkan seluruh orang di Bumi. Bagaimanapun, semua itu mengangumkan dan membingungkan di saat yang bersamaan. Seolah saya tetap yakin bahwa itu utopis saja, untuk berupaya memahami manusia di luar diri kita sendiri. Antropologi keluar sebagai disiplin ilmu yang tidak lagi sekedar ngurusin etnografi, tetapi juga mewujudkan cita-cita ‘memahami liyan untuk merefleksikan eksistensi diri’. Artinya, manusia yang tidak mampu memahami orang lain, akan sulit melakukan refleksi dan akhirnya akan sulit pula memahami dirinya sendiri.

Mengapa?

Pada suatu waktu, ketika kesadaran eksistensi pertama kali menyerempet saya, saya bertanya-tanya mengapa hanya saya yang tidak mampu melihat diri saya sendiri? Mengapa harus orang lain (melalui sepasang mata mereka) yang akhirnya bisa menelaah diri saya secara keseluruhan dan malah bukan saya sendiri yang bisa melakukannya? Saat itu saya menyadari mengapa penting sekali memiliki sebuah cermin besar seukuran badan.

Apa garis merah dari tulisan saya yang berantakan dan tidak jelas juntrungannya ini? Ada saudara-saudara, hehe. Jawabannya adalah imajinasi.

Sudah sangat lama saya mencoba mengkaitkan berbagai banyak hal di pikiran saya. Saya tidak menyukai parsialisasi ilmu pengetahuan, yang akhirnya hanya mampu menyingkap sebagian fakta saja. Ibarat orang-orang yang sering mencontohkan bagaimana seekor gajah didefinisikan oleh beberapa orang buta, tapi toh akhirnya kita mampu menjelaskan bagaimana gajah itu secara keseluruhan. Demikian saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa sebuah realitas, atau masalah, atau apapun, mampu dijelaskan secara menyeluruh dan komprehensif, melalui penalaran dan kajian berbagai disiplin ilmu. Toh pada mulanya ilmu tidak tercerai berai begitu.

Di situ, saya mencoba mencari-cari di mana seni dibutuhkan, dan kenapa harus ada? Melalui seni, manusia menyehatkan imajinasinya, sehingga mereka mampu membayangkan kemudian, bagaimana liyan itu, lantas dapat mengkontekstualisasikannya ke diri sendiri. Imajinasi yang kering akan merusak diri, dan karenanya butuh dipupuk melalui konsumsi berbagai seni yang mewujud dalam produk-produk kebudayaan, atau mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saya mencoba menelusuri bagaimana seseorang bisa meyakini sebuah ideologi dengan begitu yakin, karena bahkan hari ini pun saya masih begitu takut untuk menjatuhkan pilihan saya pada sebuah ideologi tertentu. Sejarah-sejarah dunia telah mengabarkan kepada kita dengan cerita lukanya, Mesir yang maju, Roma yang menguasai Eropa dan sekitarnya, Islam dan masa-masa kejayaannya, Mongol, Yahudi, Nazi, Uni Soviet, dan seterusnya hingga hari ini, ideologi apapun yang dijunjung orang-orang ini, toh tetap ada yang mati. Tetap saja ada manusia yang dikorbankan. Lantas apa yang membuat kita begitu yakin ideologi yang kita yakini tidak lantas membuat orang lain menderita juga?

Saya sangat suka dengan cara berpikir Gie. Dari buku hariannya, saya mencoba membaca perdebatan internal yang ada pada dirinya. Dari surat-suratnya dengan kawan-kawannya, saya bisa membayangkan apa yang sedang dia pikirkan. Dan bagaimanapun, dia adalah orang yang memandang manusia sebagaimana ia melihat dirinya sendiri. Seorang tentara juga mungkin seorang ayah untuk anaknya, seorang miskin juga adalah bagian dari keluarga kecilnya, dan bahkan dirinya adalah seorang anak pada sebuah keluarga.

Ah, saya mulai ngelantur, dan meski masih ingin meneruskan cerita, saya sudah mengantuk. Jadi saya sudahi dulu.

wordsflow

Advertisements