tentang hal-hal biasa yang kau bicarakan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada banyak hal yang saya pikir menarik untuk disampaikan di laman ini. Saya merasa sudah cukup lama tidak bercerita model buku harian seperti yang kadang-kadang saya lakukan. Jadi, mari saya bocorkan kehidupan saya selama beberapa hari. Sehingga mungkin, saya akan memberikan hal-hal yang saya anggap omong kosong ini sebagai sebuah gagasan yang bisa menyebar selayaknya meme.

Selama 4 hari terakhir, saya mengikuti 3 seminar yang berbeda. Yang pertama membahas tentang industri tambang dan bagaimana antropologi memberikan perannya pada sektor tersebut, yang kedua soal refugees yang menjadi ‘problem’ tiada akhir hubungan bilateral Indonesia-Australia, dan terakhir tentang aktivisme dan asketisme. Ketiganya jika didiskusikan secara mendalam, bisa lah menciptakan badai otak (yang bukan brainstorm pada makna umum maksud saya) yang bisa mengganggu stabilitas mental. Mari saya ajak membahas sedikit pergolakan macam apa yang ada di dalam diri saya menyangkut ketiganya.

Topik pertambangan adalah paradoks yang tiada habisnya. Masing-masing pihak yang berkonfrontasi, yaitu perusahaan yang menambang dan masyarakat yang terdampak, berada posisi yang sama sulitnya. Dalam artian, saya kira sudah tidak banyak (sok tahu abis) daerah yang memang ‘bebas manusia’ secara keseluruhan (kalaupun ada memang adalah merupakan wilayah konservasi), sementara tuntutan untuk memenuhi kebutuhan material tambang begitu pesat meningkat. Di sisi lain, masyarakat yang banyak hidup di wilayah-wilayah perawan sasaran tambang, masih berada dalam kondisi hidup primitif (dalam artian masih berburu dan meramu) akhirnya harus menerima pertama-tama pemaksaan menuju masyarakat kapitalistik. Tentu saja gegar budaya mengiringi setiap perjalanan resettlement yang diakui perusahaan telah sesuai dengan prosedur internasional.

Ah, saya harus menyampaikan sebelumnya, bahwa saya tidak akan berusaha memberikan gagasan tentang seminar tersebut. Saya kira, membiarkan tulisan ini tetap menjadi pertanyaan justru akan menciptakan dialektika di dalam diri pembacanya. Hehe. Jadi langsung saya lanjutkan saja ya.

 

Secara tidak sengaja baru saja saya menemukan video ini di laman Facebook saya. Dilema pengungsi di banyak wilayah di seluruh dunia telah juga melanda Indonesia sejak era Habibie. Menurut data yang saya peroleh dari seminar kemarin, pengungsi ‘mampir’ ke Indonesia karena disepakati sebagai negara transit sebelum pengungsi tersebut mendapatkan resettlement atau visa perlindungan dari Australia. Namun, sejak masa itu pula Australia melakukan berbagai bentuk penolakan kapal-kapal yang masuk ke perairan Australia sebagai pencari suaka. Saya kurang mendalami dalil apa yang digunakan oleh pemerintah mereka, namun yang pasti manusia-manusia ini dianggap sebagai ‘problem’ dan akhirnya terombang-ambing di antara dua negara. Beberapa pelaut Indonesia bahkan dibayar kembali oleh pemerintah Australia untuk membawa pencari suaka itu kembali ke Pulau Rote.

Apa kemudian, yang kamu pikirkan? Bagaimana menempatkan diri dalam dilematika semacam itu? Apakah manusia adalah sebuah objek kebijakan? Apa yang kemudian kita maknai sebagai kemanusiaan? Apakah kemanusiaan tanpa syarat adalah sebuah hal yang utopis saja? Apakah sungguh kemanusiaan akan pernah bebas dari prasangka? Sementara masih sering berpikir ulang memberikan sedekah dan bantuan kepada siapapun, betapa jumawa untuk merasa mampu memikirkan hal-hal semacam ini. Di mana kita letakkan kemanusiaan?

Sakit sekali, dan begitu pahit menemukan diri penuh dengan omong kosong semacam ini. Terus menerus diulang dalam meja-meja diskusi, dalam relung pemikiran pribadi, dalam tulisan-tulisan, dalam pelajaran dan seterusnya. Sementara saya merasa bahwa saya harus telah selesai dengan diri sendiri sebelum mulai bertindak, saya sama artinya menjebakkan diri di dalam ketergemingan itu.

Pada seminar semalam, kemudian saya bertemu pada sebuah gagasan mengenai asketisme. Saya kira saya telah menuliskan gagasan yang serupa, meski saya mengistilahkannya sebagai pola konsumsi. Seminar tersebut mempertanyakan sebuah pertanyaan yang begitu mendasar tentang perlawanan terhadap sistem raksasa kapitalisme. Pertanyaannya sederhana; apakah kita telah meninjau kembali aktivisme yang kita lakukan? jangan-jangan kita termasuk manusia-manusia yang justru menghidupi kapitalisme itu sendiri. Begitulah kira-kira intisarinya. Saya tidak hadir secara keseluruhan pada bincang sore itu, meski setelahnya kami membuka diskusi panjang untuk membahas dua kata kunci penting bincang sore itu; aktivisme dan asketisme. Ah, lagi-lagi saya menemukan sebuah tautan tentang perlawanan, yang begitu dekat dengan bidang ilmu saya (silahkan klik di sini), Yah meskipun saya kira mungkin persoalan kompensasi merupakan motif umumnya, namun perlu diperhatikan saya kira.

Diskusi panjang kami, meski juga membahas pula tentang pendidikan sampai Gafatar, akhirnya seorang teman mengungkapkan pergolakan terdalamnya. “Aku ngerasa ini omong kosong doang,” begitu ujarnya. Sekali lagi, yang merasakan sakit, getir, dan pahit yang sama tidak hanya segelintir orang. Bisa jadi begitu banyak orang. Tapi lagi-lagi saya tak mampu menjawabnya meski dalam hati meyakinkan diri bahwa tetap menulis seperti ini, tetap berdiskusi, tetap menyederhanakan hidup, akan membawa pada sebuah perubahan yang sama kita dambakan; dunia yang lebih baik dan manusiawi.

Hal-hal seberat gunung itu, tidak juga bisa saya katakan lebih penting dari hidup saya sendiri. Prinsip rescue di mana pun sama; pastikan diri sendiri aman sebelum menyelamatkan orang lain agar tidak semakin banyak korban. Saya menempatkan diri saya dalam berbagai hal dengan menggunakan prinsip yang sama. Dalam artian, saya sendiri masih meyakini bahwa melakukan pembelajaran yang mendalam, pencarian data yang ketat, refleksi mendalam, dan membebaskan diri dari ketergantungan dasar wajib khatam sebelum mampu menyerahkan diri pada perlawanan. Maaf saya agak idealis soal ini.

Maka, menyadari bahwa kematian bisa selalu begitu dekat (karena tiba-tiba tenggelam) juga merupakan bagian dari pembelajaran mendalam tersebut. Ketika menyadari bahwa kematian adalah sebuah peristiwa yang manasuka dengan hidup kita, maka dalam kondisi apapun kita harus bersiap. Karena itu saya menulis.

Saya mencoba memaknai hidup sedalam mungkin yang mampu saya lakukan. Berbincang secara personal dengan seseorang adalah salah satu hal yang paling saya sukai untuk melakukan refleksi. Diskusikan apapun yang kalian inginkan, akan saya layani sepenuh hati. Persoalan realitas hidup, kesepian, perasaan, atau apapun, saya suka.

Ah, seorang teman baru saja menanyakan soal perasaan, bilamana saya menyukai seseorang, atau bilamana rasa itu hilang. Sayangnya saya tidak mampu menjelaskan persoalan yang saya sebut belakangan karena hal itu belum terjadi. Satu-satunya, dan saya kira memang hanya itu caranya, adalah soal pengendalian diri. Kadang ada rasa yang tidak dapat dipahami alasannya meski saya secara menyeluruh mampu memahami prosesnya. Rasa suka sama anehnya dengan rasa tidak suka, atau perasaan cinta sama anehnya dengan perasaan benci atau canggung dengan seseorang. Bisa saja itu datang tiba-tiba dan sulit menghilangkannya. Kadang bahwa saya berdoa (karena terkadang saya masih percaya) bahwa perasaan itu akan hilang. Tapi toh tidak juga.

Hemm, saya lupa menceritakan keseharian saya kan, hehe. Jum’at lalu saya mendatangi resital piano di Tembi, sebuah agenda yang saya gemari. Kadang bagian anehnya adalah tingkat ngantuk saya yang meningkat ketika menonton itu, namun saya tetap suka untuk menontonnya. Rechmaninoff selalu memenangkan hati saya seolah ada emosi mendalam yang ia terjemahkan dalam musiknya (saya selalu merinding mendengar karyanya). Sayang saya melewatkan Debussy. Nama-nama ini membuat saya harus mencari dengan seksama siapakah mereka, sejarahnya, karyanya, dan seterusnya.

Saya teringat anime-anime yang saya dalami juga sepanjang hari Minggu kemarin, baik dari penata musiknya, sutradaranya, grafisnya, atau bahkan hal-hal di balik itu. Ada sebuah short anime yang menggelitik saya, judulnya A Voice from Distant Stars. Ia bercerita tentang dua orang yang berbagi perasaan yang sama, namun mereka berjarak begitu jauhnya hingga untuk berkirim email akan membutuhkan waktu 8 tahun 4 bulan. Dalam sebuah surat, si perempuan mengakhiri pesannya dengan kalimat “dari Makoto 15 tahun yang mencintai Noboru 24 tahun”. Seolah ada banyak hal-hal ganjil yang tidak terjelaskan di dunia ini.

Hampir setiap orang merasa kesepian, meski begitu riuh suasana sekitarnya. Hal-hal yang begitu paradoks hadir setiap harinya. Seperti kematian itu sendiri, kesepian juga meminta dipastikan, agar kita berdamai dengan hal-hal itu. Saya kira, pekerjaan kita yang tak akan selesai adalah berdamai itu.

Panjang dan tidak jelas arahnya ya tulisan ini, biar saja. Toh hidup juga begitu. Sebagaimana sore ini saya membicarakan persoalan-persoalan dari bakal bubarnya Mojok bulan depan, Melanie Trump, Jokowi, kapitalisme, seni, perlawanan, hubungan interpersonal, seks, dan rasa. Begitu kompleks isi pikiran kita hingga untuk menciptakan peta pemikiran yang begitu komprehensif pun tampaknya akan menguras sebagian waktu hidup kita. Tapi berpikir tidak pernah sia-sia, sebagaimana mencintai pun demikian.

Terakhir, saya ucapkan selamat kepada manusia-manusia yang mampu merasa kesepian, yang menyadari kematian, yang merindukan, yang mencintai, dan yang mencari. Selamat malam.

wordsflow

Advertisements