tentang memahami teks dan eksistensi

by nuzuli ziadatun ni'mah


Kemampuan verbal saya tidak kuat, saya paham itu sejak lama. Bahkan tes potensi akademik saya menunjukkan nilai yang begitu mengenaskan hingga saya mengelus dada dan harus meyakinkan diri bahwa akan tetap baik-baik saja selama kuliah di jurusan saya.

Sudah berulang kali saya mencoba untuk membaca berbagai buku ‘berat’ mengenai berbagai hal, sekiranya memang hal itu akan membantu saya memahami realitas yang saya alami dengan lebih baik. Semakin banyak yang dibaca, semakin banyak dialog antara saya-buku-realita yang akhirnya menciptakan kesadaran baru di dalam pikiran saya mengenai bagaimana segala sesuatu berjalan. Namun, dialog tidak akan berjalan lancar jika saya tidak mampu mendefinisikan setiap terminologi yang digunakan dalam teks oleh penulisnya, atau mendedah setiap inci teks itu secara lebih terperinci.

Ah, saya berasa lagi ngomongin hermeneutika. Tapi bodo amat, saya mau nulis suka-suka.

Saya pengikut Pram dalam hal “seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran”, dan hal itu berlaku untuk banyak bentuk pembelajaran, dan begitu pula dalam mempelajari teks. Asumsi-asumsi mengenai pengetahuan dasar terkait isi buku harus disingkirkan begitu membuka halaman pertama buku, dan segala simpulan yang kita peroleh dari sumber-sumber non buku tersebut harus kita singkirkan dulu pula. Demikian maka setiap membuka sebuah buku baru, lebih-lebih buku teori, hal-hal terkait harus kita singkirkan.

Lantas apa? Selayaknya seseorang yang sedang mencoba untuk mendedah isi pikiran orang lain, maka orang itu harus kita hidupkan kembali sebagai sebuah subjek yang menulis, yang mengekstraksi pemikirannya ke dalam teks. Si penulis adalah sebuah subjek yang menyejarah, artinya ada pengalaman-pengalaman yang bisa jadi (saya katakan bisa jadi karena mungkin ada yang tidak) mempengaruhi isi teks yang ia tulis. Pun, kondisi lingkungan sosial di sekelilingnya bisa juga memberi andil dalam tulisannya. Nah, kita bertemu dengan konteks.

Dengan segala hal itu, maka saya kadang merasa bahwa membaca sebuah buku tidak kemudian akan membuat saya mampu menyarikan isi pemikiran penulisnya. Karena toh pada kenyataannya, hanya hal-hal yang saya butuhkan yang sering kali saya ambil sebagai bagian penting dari tulisan itu. Dialog antara saya-buku-realitas, akhirnya menelurkan sebuah pemahaman parsial saja, yaitu tentang fenomena yang ingin saya kaji.

Kadang di titik itu saya merasa frustasi benar dengan daya pikir saya sendiri. Beberapa tulisan saya yang telah lampau bahkan mengeluarkan beberapa pemikiran yang agaknya telah saya abaikan di hari ini. Atau ada beberapa hal yang saya pusingkan di hari ini, sebetulnya suatu waktu pernah saya temukan solusinya (solusinya?).

Lantas apa maknanya?

Demikian, maka saya pikir, saya pribadi mengalami repetisi kondisi psikis dan emosi yang berulang, dan ini tidak sehat saya kira. Di satu saat, saya yakin bahwa faktualitas saya adalah hal yang paling penting. Sejarah ‘hanyalah’ sebuah pembelajaran hidup, dan dipikir bagaimanapun ia akan tetap demikian adanya. Sedangkan masa depan selalu menjadi sebuah misteri yang tak terprediksi, dan sekali ia terprediksi, maka irasionalitas pengharapan bubar sudah, dan hilanglah sumber kebahagiaan itu. Justru keragu-raguan akan masa depan yang menuntut manusia untuk memaksimalkan kemampuan yang ia bisa di hari ini, untuk menjalani hidup dengan lebih baik di hari ini.

Menulis, sebagaimana saya katakan di postingan sebelumnya, adalah upaya untuk menyimpan pemikiran saya. Tapi bahkan saya kadang sulit menelaah tulisan saya sendiri di masa lampau, dan harus menggali memori untuk melihat konteks penulisan itu. Atau pengharapan dan imajinasi macam apa yang berseliweran di pikiran saya ketika saya menulis artikel atau terlebih sajak. Fakta itu membuat saya merasa bahwa dalam membaca novel, yang saya gadang-gadang mampu membantu saya melihat realitas dan bahkan mampu mendekatkan saya pada pandangan pribadi penulisnya, harus juga menggali begitu dalam sebenarnya apa yang dipikirkan penulis ketika bercerita?

Maka saya meyakini secara pribadi bahwa setiap cerita, menyimpan sejarah hidup penulisnya, meski hanya sebuah adegan parsial, atau pemikiran saja, atau kondisi kejiwaan, emosi, kenangan, intinya dalam cerita itu ada hal-hal yang memang menjadi bagian hidupnya. Demikian, saya jarang melihat buku sebagai sebuah buku, tapi sebuah perdebatan internal dalam diri seseorang yang ia tularkan pada manusia lainnya. Teks, kemudian menjadi media untuk mewujudkan konteks dan memberi pemahaman akan konteks.

Apa hubungan itu semua dengan eksistensi?

Sartre bilang, tidak ada esensi yang mendahului eksistensi manusia, eksistensi manusia ada justru untuk menemukan esensi itu. Manusia itu adalah kebebasan, katanya. Maka adanya esensi yang mendahului eksistensi itu membuat kebebasan itu menjadi tidak ada. Saya belum memahami Sartre, atau mungkin tidak akan bisa, hehe. Tapi, saya sendiri berdebat secara pribadi, bahwa kebebasan manusia itu terbatas pada raga dan jiwanya. Konstruksi keduanya memberikan manusia batasan tertentu, meski saya juga tidak menyangkal bahwa manusia akan mampu melampaui batas itu melalui teknologi yang terekstraksi dari ide dan gagasannya. Menarik sekali ya manusia. Sejarah kehidupan, kemudian katakanlah dapat saya rangkum menjadi “sebuah upaya melampaui batas menuju kebebasan”.

Ada berapa agenda ilmiah yang mencoba mewujudkan teknologi kloning, immortality, atau bahkan mungkin upaya untuk menciptakan dunia sendiri (silakan searching pemodelan rekayasa atmosfer Mars sampai bisa ditinggali manusia). Semuanya, adalah upaya melampaui keterbatasan dan mendekati kebebasan yang sesungguhnya. Banyak sekali bahkan di lingkungan sosial kita, upaya untuk mewujudkan kebebasan diri itu, mungkin saya ambil contoh gerakan feminisme yang menuntut banyak hal terkait perempuan. Saya katakan banyak hal karena tuntutan setiap gerakan feminis tidaklah sama. Bagi saya, itu adalah sebuah upaya mendekati kebebasan diri, yang kemudian termanifestasikan dalam gerakan sosial semacam itu.

Hingga hari ini, saya kira saya tidak mencoba menuju ke arah membebaskan diri sepenuhnya. Saya kira, kebebasan itu menakutkan, hahaha. Cupu sekali. Ah, bagaimana pun, seorang Sartre yang mengatakan demikian pun tidak mewujudkan “kebebasan”nya dalam hidupnya sendiri. Jadi, saya anggap saja bahwa baik jiwa maupun raga saling membatasi diri.

Eh tapi tunggu, apa yang saya maksud dengan jiwa? Pikiran? Emosi? Soul? Nah kan, saya jadi ragu sendiri lagi. Mendendah mereka semua sampai pada tataran ontologisnya akan makan tulisan yang juga lebih panjang, dan saya tidak berniat untuk itu sekarang.

Maka, kebebasan yang disebut Sartre tadi, membuat manusia bisa menjadi apa saja sesuai dengan pencarian esensi yang ia inginkan. Kita memang kemudian menjadi bingung, meski kemudian dalam Islam juga disebutkan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di Bumi, atau untuk menyembah Allah, atau bahkan yang lain-lain, saya menemukan bahwa pada titik tertentu manusia berhenti sejenak dan menanyakan “untuk apa aku hidup?” Kita berlomba mengaktualisasi diri, meningkatkan eksistensi, untuk akhirnya mendekati esensi dan bisa dengan yakin “oh, peran saya ini toh”. Yah, meski kemudian setelah rasa yakin itu muncul, toh frustasi kadang-kadang juga menghampiri.

Ah, teks di mana-mana, tapi saya tak menemukan yang saya cari jua.

Atau, pernyataan itu seharusnya diganti menjadi: saya tak tahu apa yang saya cari, padahal teks ada di mana-mana untuk mampu menjelaskan itu semua.

wordsflow

Advertisements