Rentang

by nuzuli ziadatun ni'mah


Yang terhampar antara subjek materiil dan imateriil, sebuah ruang antara. Kita menyebutnya dengan banyak nama: jarak, keterpisahan, jeda, tapi aku lebih suka menyebutnya sebagai rentang.

Kata itu, membuat semua pengharapan dan keputusasaan atas ruang antara itu menjadi tak lagi kentara. Tak ada yang positif dan negatif dari ‘rentang’, yang ada hanya sebuah terminologi untuk menjelaskan yang ada di antara kita; aku dan kamu.

Pada rentang itu, aku mengisinya dengan banyak hal; pengharapan, suka, cerita, duka, tangis, tawa, kenangan, marah, ah, bahkan cinta. Semua yang mungkin bisa saling kita sebutkan satu demi satu, ada di dalam rentang jiwa kita. Tidak ada yang terlalu indah dalam hidup, atau yang terlalu rendah, semuanya menggambil porsinya sebagaimana meracik ramuan hidup yang dibutuhkan. Tak dijanjikan nasib yang mudah kepada setiap orang, baik kamu maupun aku saling memperjuangkan yang kita inginkan.

Rentang; ruang itu kau isi pula dengan berbagai hal, yang tidak pernah mampu aku telusuri satu per satu. Seperti bertanya pada ruang kosong, apa yang kau letakkan di sana, hingga aku tak mampu melihatnya. Mengurainya, harus pula menghilangkan rentang antara aku dan kamu. Serumit itu.

Ah, tidak rumit juga kamu bilang. Hanya butuh dikatakan, atau ditanyakan?

wordsflow

Advertisements