mempertanyakan untuk mempercayai Tuhan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Harus saya katakan sejak awal, bahwa yang saya tuliskan tidak bertujuan untuk menghasut, atau memberi pembenaran. Tidak demikian. Adalah naluri manusia (dalam kacamata saya) bahwa segala sesuatu harus dipertanyakan sebelum dipercayai sebagai kebenaran. Semoga saya tidak keliru.

Untuk itu, bagi yang tidak berkenan atau merasa tidak nyaman, silakan berhenti sampai di sini. Tapi saya akan tetap melanjutkan.

Saya ingat seorang guru agama di masa SD saya, pernah menjelaskan bahwa mempertanyakan “Apakah Allah itu perempuan atau laki-laki?”, “Bagaimana bentuk Tuhan?”, “Di mana Dia tinggal”, dan seterusnya, adalah pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat seseorang berdosa. Sebagai anak kecil yang telah hafal cerita mengerikan perihal siksa kubur dan siksa akhirat yang tidak akan pernah berakhir, maka hal itu menjadi begitu tabu dan mau tidak mau setiap anak akan berusaha melupakan pertanyaan-pertanyaan khas anak kecil itu.

Belakangan, jauh setelahnya ketika saya duduk di bangku kuliah (saya pernah membahas ini), dunia anak-anak kemudian harus saya akui sebagai dunia paling jujur dan paling filosofis dari seorang manusia. Pertanyaan-pertanyaan yang sering dikategorikan polos itu, jika ditanyakan oleh seorang mahasiswa, maka akan menjadi pertanyaan berkenaan dengan filsafat ketuhanan. Padahal, heei, anak kecil juga bisa kelez. Dan pada akhirnya, tanpa penelusuran yang cukup mendalam, semua hal itu hanya akan menjadi sebuah dogma saja, yang juga ditelurkan dari mitos-mitos tanpa bukti.

Sekalipun selama ini saya percaya, meski beberapa masih ada di bawah landasan rasa takut akan hukum karma, siksa kubur, atau siksa neraka, namun pertanyaan-pertanyaan seputar ke-Tuhan-an itu tidak bisa saya anggap angin lalu, karena setiap kali berritual, saya toh masih memikirkan hal ini.

Maka, dengan dasar keraguan tersebut, sering kali saya merasa malu ketika melakukan ibadah. Rasa malu ini berdasar pada suara dalam pikiran saya, “untuk apa saya ibadah kalo toh saya masih belum mampu percaya betul?” Dan begitulah, setiap datang waktu untuk bersujud, berserah, atau apapun istilah yang digunakan untuk menyebut hal tersebut, pertanyaan itu kembali hadir dan membuat saya merasa terganggu dengan diri sendiri.

Jika hal-hal semacam ini sudah muncul, saya menjadi begitu dekat dengan perasaan “hilang” sebagai manusia. Bahwa jika memang benar ada Tuhan yang menurunkan manusia dengan tujuan-tujuan tertentu di dunia ini, toh pada akhirnya saya masih juga belum mampu menemukan untuk apa saya ada, hadir, berproses, dan akhirnya nanti mati? Apakah sungguh hanya untuk menjaga Bumi saja; menjadi khalifah? Lantas kalau Bumi sudah dijaga nanti akan diberikan kepada siapa? Agar ketika tertelan lubang hitam di pusat Bima Sakti, Bumi masih tetap utuh? Atau apa? Apakah Tuhan sungguh-sungguh butuh disembah oleh manusia? Atau sebenarnya penyembahan itu adalah sebuah bentuk kepasrahan akan rahasia-rahasia kehidupan?

Memang benar, penjelasan semacam itu (dalam Islam) telah banyak dipaparkan oleh imam-imam yang cukup liberal, yang mencoba untuk tidak sekedar memberikan dogma kepada umat Islam, namun saya butuh dialog. Demikian, tidak banyak yang bisa memberikan saya jawaban yang cukup memuaskan tentang hal semacam itu.

Lantaran alasan itu, tidak salah saya kira, ketika akhirnya secara pribadi saya mencoba merombak segala pemahaman saya mengenai konsep ke-Tuhan-an, dan mempertanyakan secara pribadi masalah agama dan kepercayaan ini. Agama-agama tetangga, yang mungkin juga kalian pahami, cukup banyak yang menguraikan masalah ini dan mencoba membahasnya secara terbuka. Dan untuk alasan sederhana itu, berkali-kali akhirnya saya justru merujuk pada agama-agama lain untuk mencari apa yang tidak bisa saya dapatkan dari agama saya. Dasar tindakan itu saya rasa cukup beralasan, dengan mempertanyakan, kepercayaan kita justru akan semakin kuat.

Di hari ini, yang saya lihat adalah kecenderungan manusia yang lebih suka mengkonsumsi dogma dan mitos, karena hal itu lebih mudah. Urusan agama juga demikian, beberapa hal memang dogmatis. Tapi, untuk percaya akan Tuhan, kita harus lebih dahulu mendefinisikan apa, siapa, bagaimana Tuhan itu. Lalu, bagaimana ke-Tuhan-an itu? Lebih awal, bahkan saya merasa harus bisa menjawab pertanyaan mengenai bilamana entitas yang disebut Tuhan itu ada? Agaknya, akhirnya kita tersudut pada kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita pahami asal-usul-proses-nya sehingga lebih mudah mengatakan bahwa itu adalah hasil kerja Tuhan.

Saya memang pernah membaca juga buku tentang Sejarah Agama-Agama yang ditulis oleh Allan Menzies, dan saya kira cukup lengkap. Tapi, bahkan penjelasan itu tidak bisa menjawab rasa penasaran saya perihal ke-Tuhan-an ini, dan masih saja ada hal yang tidak bisa saya akui di dalam pikiran saya. Atau, jangan-jangan memang perkara ini tidak perlu penalaran? Atau memang benar bahwa agama “hanyalah” jalan hidup? Atau agama adalah panduan hidup? Atau justru itu takdir?

Kerumitan itu masih belum menemukan titik terang hingga hari ini. Namun, di banyak perkara yang berhubungan dengan hidup dan kematian, serta kejadian-kejadian yang terjadi di realitas kehidupan, mengatakan bahwa segala sesuatu merupakan kehendak Tuhan rasanya terlalu “polos” dan tidak menjelaskan apapun. Apakah bisa saya katakan bahwa masyarakat yang begitu taat dan bekerja keras akan selalu mencapai kesejahteraan? Apakah semua orang sungguh-sungguh (dalam artian sesungguhnya) selalu diberikan cobaan sesuai dengan kemampuannya? Bagaimana menjelaskan hal-hal yang terjadi pada masyarakat Timur Tengah yang dilanda peperangan selama bertahun-tahun? Bagimana menjelaskan nasib masyarakat kalangan bawah yang saya lihat begitu patuh beribadah namun tidak pula keluar dari kemiskinannya? Atau bagaimana menjelaskan masyarakat yang hidupnya begitu mudah padahal dalam definisi masyarakat “beragama” mereka itu munafik?

Penjelasan-penjelasan sederhana itu tidak mampu memberikan gambaran yang komprehensif mengenai nasib seseorang di hari ini. Dan sekiranya, tidak salah bagi seorang manusia untuk mempertanyaan perkara ke-Tuhan-an ini. Demikian, maka justifikasi soal ke-Tuhan-an ini menjadi begitu sulit untuk disamaratakan, bahwa sulit sekali untuk melihat siapa yang apa, siapa yang bagaimana, siapa yang seperti apa.

Seorang dosen saya, yang gaya pengajarannya saya sukai selalu memperingatkan kami untuk terus merefleksikan segala persoalan kepada hal-hal yang sangat pribadi dari kita. Menurutnya (yang juga saya iyakan) memahami perkara liyan seperti menelusuri diri sendiri. Maka untuk memahami liyan kamu harus memahami diri sendiri, dan untuk mampu memahami diri sendiri kita juga harus mendalami liyan. Saya rasa, hal itu juga berlaku dalam mempelajari Tuhan. Ah, tapi Tuhan tidak sama dengan manusia kan? Atau jangan-jangan Tuhan hanya sebuah hasil dari psikokinesis?

Di luar pertanyaan-pertanyaan saya tadi, sebenarnya saya memiliki kekaguman yang mendalam perihal agama saya, dan meski mungkin banyak orang yang tidak sepakat, tapi Al-Qur’an itu mengagumkan. Saya kurang tahu dengan kitab suci lain, karena saya belum pernah membaca. Tapi saya bisa mengatakan, bahwa saya yang tidak taat ini pun selalu merasa tersentuh setiap kali mendengar seseorang membaca Al-Qur’an.

Well, agaknya saya harus mengakhiri tulisan ini sebelum ngelantur. Jika kemudian pembaca yang budiman kecewa karena saya tidak memberikan konklusi apapun, maafkan saya, karena tulisan ini tidak bermaksud mencapai kesimpulan. Saya pikir, saya yang juga masih berproses ini tidak layak memberi konklusi.

Tapi, sebagai penutup, saya akhirnya mencoba menjawab diri sendiri, bahwa berketuhanan itu sama seperti mencintai. Kamu ragu, kamu bertanya-tanya, kamu tidak tahu ke mana akhirnya, tapi toh tetap mencintai. Maka begitu juga berketuhanan. Karena di ujungnya mungkin kita mengharapkan kepastian, entah datang atau tidak. Mungkin, pembaca yang budiman tidak akan cukup paham bagaimana proses panjang saya akhirnya mencapai kesimpulan itu. Tapi berketuhanan berdasar dogma, dan berdasar pencarian, buat saya tidaklah sama. Dan semoga saya tidak keliru.

Pada akhirnya, satu pelajaran dari guru SD saya yang juga selalu saya ingat, iman itu diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan lewat perbuatan. Tanpa yang terakhir, kamu tidak akan mencapai keimanan, maka saya mencoba. Tabik.

wordsflow

Advertisements