put your problems away

by nuzuli ziadatun ni'mah


Jadi sudah seminggu saya tidak menulis di sini, dan saya merasa seminggu ini begitu lama, dan terlalu banyak hal terjadi dan saya pikirkan hingga saya sendiri mengalami kebingungan. Saya pikir, kadang dunia ini terasa begitu asing untuk menjadi sebuah kenyataan yang berimplikasi pada diri, tapi terkadang ia begitu lekat. Pikiran pun demikian, hingga seolah segala hal menjadi begitu meragukan.

Di tulisan terakhir saya mencoba berdamai dengan diri sendiri terkait penolakan bertahun-tahun atas otokritik saya pada keimanan terhadap Tuhan. Pada akhirnya saya tidak bisa untuk tidak mengakui bahwa saya masih sangat percaya adanya entitas seagung Tuhan. Dan itu adalah bekal yang sangat cukup untuk memilih ritual agama yang mana yang ingin saya patuhi untuk mendekati Tuhan.

Telah banyak pula yang sering mengatakan bahwa cinta yang hakiki adalah kepada Tuhan, namun tak pernah ada yang mau bersusah payah untuk menjelaskan sepenting apa kemudian cinta kepada sesama itu dalam posisinya terhadap cinta kepada Tuhan. Bagi saya, hanya yang pernah mencintai dengan benar yang akan mampu membawa pada cinta yang lainnya. Dalam artian, bahwa hanya mereka yang mampu mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh yang akan mampu memberikan cinta yang sama besarnya kepada manusia lainnya, pun sebaliknya. Ini hanya perkara mau dari mana kamu memulainya? Sayangnya, untuk bisa melakukan keduanya dengan benar, mula-mula kesadaran akan cinta itu harus pula ada. Bersamaan dengan segenap penyimpangannya: rasa benci, cemburu, iri, sakit, luka, sedih, bahagia, dan segala rasa sampingan akibat cinta itu sendiri.

Mencinta tidak melulu indah, maka berketuhanan juga tidak melulu indah. Bahwa Tuhan memilih satu atas yang lain memang begitulah cara Tuhan membalas cinta manusia. Mungkin ada yang dipanggil lebih awal, karena memang Tuhan lebih mencintai mereka. Tunggu saja, nanti juga kamu dipanggil untuk dibalas cintanya sama Tuhan.

Maka, saya anggap cerita saya mengenai perdebatan perihal ketuhanan ini saya cukupkan dahulu, karena kehidupan fana menyediakan lebih banyak pertanyaan yang belum selesai saya cari jawabannya.

Belakangan, saya disibukkan oleh tugas-tugas kuliah yang bertumpuk akibat tiga minggu berturut-turut jadwal kuliah yang amburadul. Alhasil saya banyak menghabiskan hari-hari dengan buku-buku dan artikel. Sayang sekali karena dengan keterpaksaan di bawah kepentingan tugas ini, beberapa buku tidak saya baca dengan sungguh-sungguh. Beruntung sekali karena beberapa perkuliahan lebih mementingkan diskusi, dan ekopol berhasil menarik segala perhatian saya sebagaimana Marxisme di semester kemarin.

Saya sedang mencoba mendalami Burawoy yang mengulas konsep society-nya Gramsci dan Polanyi, di mana Gramsci menekankan pada civil society dalam hubungannya dengan state, sementara Polanyi membicarakan active society dalam kaitannya dengan market. Keduanya meski berangkat dari dua kritik yang berbeda dari pendahulunya, Gramsci dari Lenin dan Polanyi dari Lukacs, namun keduanya komplementer dalam merumuskan konsep mengenai society di bawah naungan kapitalisme. Ternyata oh ternyata, pertanyaan yang selama ini saya persoalkan mengenai konsep society akan saya temukan di sini. Sudah benar betul saya masuk kelas ini, huehehe.

Pembahasan Burawoy ini sangat menarik dan membuat saya ingin berlama-lama dengan artikel ini sebelum mereviewnya untuk esok hari.

Semakin lama membaca hal-hal semacam itu, saya merasa bahwa ada begitu banyak hal yang berkelindan begitu rupa, centang perenang, silang sengkarut, bukan hanya pada tataran empiris, namun juga idea. Dan saya kira, sebenarnya sangat mengerikan membayangkan begitu banyak hal yang paradoksal dan kontradiksi di dunia ini. Lalu kita masih ingin menuju pada ‘world as a single society’?

Curhat sedikit.

Dua hari yang lalu saya membuka laman facebook dan menemukan video sederhana tentang cara kita melihat masalah. Jadi si bapak bercerita di depan muridnya tentang segelas air yang dia pegang. Katanya, “Ini adalah segelas air, berapa kah beratnya?”, setelah beberapa lama ia bertanya hal yang sama. Intinya, masalah itu sama kayak si gelas tadi, beratnya tetap sepanjang waktu. Tapi semakin kamu memegangnya dan nggak mau meletakkannya saja, maka ia akan semakin berat dan konsentrasi kita akan terkuras pada si gelas.

Anggap saja saya sepakat dengan bapak itu terkait masalah pribadi. Tapi pertanyaannya, bisakah kita melihat permasalahan sosial dengan cara yang sama?

Kompleksitas realitas sosial kita di hari ini membuat segala hal menjadi tidak lagi sederhana, dan saya sulit juga untuk melihat dari perspektif naturalis. Ah ngomong apa sih, hahaha. Maksudnya, dunia ini nggak sesimpel baik dan buruk, atau benar salah, atau segala hal berjalan alamiah dan sesuai takdir masing-masing orang. Maka, soal mencintai Tuhan sebagaimana pembuka tulisan ini tidak harus menjadi begitu, suka-suka kalian aja. Toh segala hal telah terlanjur bercabang sebegitu rupa hingga mungkin inti ajaran yang sesungguhnya adalah apa yang selama ini kita usahakan untuk didekati.

Yak, sama pula seperti Marxisme, dimana segitu banyak orang yang mencoba untuk mengikuti tradisi Marxis dalam melihat kapitalisme. Tapi lihat apa yang terjadi, begitu banyak percabangan yang tidak ada kata sepakat di dalamnya. Marx toh juga tidak mampu menyelesaikan tulisannya, dan bahkan belum memulai rencana tulisan lanjutan setelah Capital sebelum akhirnya ia meninggal. Menyisakan begitu banyak pekerjaan rumah bagi mereka yang ingin menjadi pengikut Marx setelahnya. Burawoy mencatat bahwa, beruntung sekali kita punya Marxisme yang mengimbangi gerak kapitalisme dan terus memberikan kritik paling komprehensif terhadap kapitalisme.

Ah, tiba-tiba saya merasa iri dengan orang-orang ini, Marx, Lenin, Lukacs, Gramsci, Polanyi, Rosa, Kautsky, Trotsky, atau berapa banyak lagi nama-nama yang mampu memberikan kontribusi intelektual pada kita hari ini. Mereka memang juga mengakar pada orang-orang sebelumnya, tapi bukankah setiap ide muncul dengan cara itu? Kita terus mempelajari hal di masa lalu untuk memberikan kritik dan pengembangan. Atau kita berusaha untuk berkaca pada orang lain untuk memahami diri sendiri. Kita berusaha untuk memahami lawan untuk mampu melawan. Dan demikian kerelaan itu hadir sebagai upaya untuk menyambut hal yang lebih besar lagi.

Lalu, simpulan dari segala hal ini apa?

Mencintai, berketuhanan, atau belajar, semuanya membutuhkan kerelaan dan pengorbanan untuk mau memberi sebelum akhirnya mencapai pemahaman dan mampu menerima lebih banyak. Saya masih percaya pada setiap usaha selalu ada reaksi yang mungkin setara sebagaimana kata Newton. Tapi dalam hubungan sosial terutama, apalagi hubungan ketuhanan, siapa yang tahu, hehehe. Maka, mencintailah lebih banyak, berketuhananlah lebih ikhlas, dan belajarlah lebih giat.

Apakah saya menjadi menyebalkan dengan berkata demikian? Hehe, saya ganti saja kalau begitu. Berproseslah, karena kedewasaan itu achieved dan bukannya ascribed.

Demikian, semoga berkenan dengan tulisan ini. Saya hanya ingin mengisi blog ini karena terlalu lama saya tinggalkan.

Selamat malam.

wordsflow

Advertisements