pagi sendu, siang benderang, sore temaram

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sekiranya, begitulah suasana hati saya jika dirangkum dalam satu kalimat. Luar biasa sekali pergolakan di dalam diri, seolah tak mau dikendalikan oleh nalar kewarasan manusia yang bisa berpikir!

Siang menjelang sore tadi, saya akhirnya keluar kamar dan makan di sebuah warung makan pinggir selokan mataram. Tak diduga, bapak pemilik warung makan membuka obrolan dengan temannya perihal kemacetan Monjali yang sudah begitu parah dan tidak terkendali. Menurut bapaknya, orang jaman sekarang tidak ada yang mau bersabar, bahkan ketika ada penanda lalu lintas yang mempersilakan pengendara untuk belok kiri langsung, toh akses untuk belok kiri telah tertutup untuk mereka yang tidak sabar ingin  berjalan lurus.

Lalu si bapak berkata pada bapak pemilik warung, “Njenengan setuju mboten nek misal maksimal umur motor 5 tahun?” tanyanya. Bapak yang satunya menjawab dengan mantap bahwa hal itu diperlukan. Ia bahkan mencontohkan bagaimana negara-negara maju bebas macet karena sedikitnya jumlah motor yang dimiliki oleh warganya. Pembatasan umur motor pun perlu agar semua orang merasa nyaman menggunakan jalan.

Saya tidak cukup banyak menguping pembicaraan mereka karena saya makan cukup cepat, dan akhirnya membayar lantas pergi begitu saja. Tapi, dari obrolan singkat mereka, saya masih mencoba untuk melihat beberapa hal yang nyatanya toh menjadi perhatian masyarakat kecil di negeri ini.

  1. Masalah sehari-hari masih menjadi topik seru di masyarakat.
  2. Preferensi masyarakat tidaklah sesempit yang mungkin pernah saya bayangkan. Pada dasarnya, mereka mudah belajar.
  3. Masih ada rasa percaya pada pemerintah sebagai pihak yang mampu mengatur.

Agak terburu-buru mungkin saya menyimpulkannya, tapi di tengah begitu banyaknya pihak yang melihat pemerintah dengan pandangan yang tidak bersahabat, ternyata masih ada harapan-harapan bahwa pemerintah akan mampu membenahi hal-hal yang tidak mampu dibenahi oleh masyarakat.

Buat saya, membicarakan pemerintah ini sangat sulit, sama sulitnya membicarakan masyarakat itu sendiri. Lagi-lagi tidak ada manusia yang sepenuhnya jahat dan sepenuhnya baik dalam kacamata saya. Setiap-tiapnya bertindak berdasar skala prioritas, pun kalau tidak bisa jadi karena adanya tekanan atau yah, siapa yang tau apa yang mendasari tindakan seseorang? Dalam urusan melihat pemerintah dan masyarakat pun sama saja demikian.

Kadang sekali waktu saya sangat ingin percaya bahwa ada manusia yang sungguh-sungguh baik dan berperi kemanusiaan, tapi yang saya temui kemudian adalah orang-orang yang juga penuh curiga. Atau hanya saya saja yang berprasangka? Atau ternyata orang-orang seperti saya lah yang membuat segala hal yang senyatanya jujur itu menjadi tampak begitu berpura-pura?

Ah sudahlah, saya nonton Howl’s Moving Castle saja.

Kadang kala, saya kira susah hati dan pikiran bisa dilerai dengan menyibukkan diri, dengan aktivitas tubuh yang teratur, dan mungkin merenung dengan begitu syahdu sembari membaca buku atau membuat buku. Tapi nyatanya toh tidak juga. Jumawa betul mengira segala hal mampu berada di bawah kendali kita. Bahkan diri pun tak pernah kita ketahui.

Lagi-lagi, saya harus mengingatkan diri sendiri untuk selalu menikmati hari, atau apapun yang kamu lalui. Mungkin di sana lah rahasia dan jawaban yang kamu cari berada. Ah, saya harus juga mengatakan satu hal soal pertemanan dan keluarga, bahwa sepertinya saya salah selama ini, hehe.

Di luar itu semua, tiba-tiba aku ingin berbincang denganmu, dan sekedar membagikan senyum yang entah telah berapa lama tidak kuberikan pada sekelilingku. Semoga kamu berbahagia.

wordsflow

Advertisements