tentang seseorang di dalam dirimu

by nuzuli ziadatun ni'mah


Malam ini saya ingin bersedih sejenak, karena telah begitu lama saya tertawa-tawa dengan begitu sungguh.

Cerita ini dimulai dari orang-orang di dalam hidup saya, sebuah kesamaan yang juga dimiliki semua orang di dunia; kita membagi waktu, gagasan, tempat bersinggungan dengan orang lain sepanjang waktu. Luar biasa sekali intensitas bersinggungan itu jika mau susah payah dihitung dalam logika matematis, tapi itu kan tidak perlu. Beberapa lebih mementingkan relasi apa yang terbentuk antar manusia, atau konteks yang memungkinkan munculnya relasi itu. Atau barangkali, sebenarnya tidak ada alasan apapun di balik persinggungan itu.

Saya pernah menuliskan rasa tidak percaya saya pada semua orang yang ada di sekeliling saya. Suatu hari terbukti bahwa tidak ada seorang pun yang sepeduli itu dengan hidup orang lain, dan tentu saja saya dapat menyebutkan begitu banyak contoh dari argumen itu. Lalu saya pun tumbuh, mungkin mendekati hari-hari yang lebih kontemplatif dari yang saya kira akan saya alami. Bertemu jugalah saya dengan banyak anak manusia yang juga sama kebingungannya dengan saya.

Tidak jauh berbeda, semua orang pernah ada di titik persimpangan yang sama. Hanya saja, barangkali mereka mengambil jalur yang berbeda, menjalani daur hidup yang tak sama.

Tapi pertanyaan mengenai ketaksamaan itu kemudian menjebak kita pada pertanyaan-pertanyaan lainnya yang jauh lebih luas. Dan muncullah tuntutan terhadap diri untuk menjadi lapang, selapang yang tidak pernah saya bayangkan. Atau menjadi bijak, meski kata bijak sendiri masih sulit didefinisikan.

Saya pernah sangat ingin menjauh dari ruang hidup saya di hari ini, menemui orang-orang baru, mengurus diri sendiri, dan mungkin, saya akan menemukan kedamaian yang selama ini terbayang sambil lalu di dalam pikiran. Tapi pikiran tidak lantas berdampak pada tindakan orang-orang di sekitar kita, meskipun psikokinesis berkata itu memungkinkan. Pikiran tidak lantas menghilangkan ritme yang telah terlanjur terbentuk, atau tanggung jawab yang terlanjur diemban. Apakah sungguh terlanjur? Tidak. Itu pun pilihan.

Bagian terberat dari berteman dengan diri sendiri adalah menemukan kenyataan bahwa terkadang diri sendiri pun tidak mudah untuk dikendalikan. Simpangan itu yang seharusnya saya identifikasi dan temukan mengapanya, lalu mungkin menyingkir dari hal-hal yang mengawalinya. Karena itu, keinginan untuk menyingkir sejauh-jauhnya dari ruang hidup ini masih begitu besar meski secara paksa saya mencoba merepresinya jauh ke bagian paling dalam. Supaya bisa jadi, saya toh akhirnya mengakui bahwa keinginan itu terlalu emosional daripada yang sesungguhnya terjadi.

Ah, saya masih tetap ingin bersedih, dan menebar aura negatif malam ini.

Ada waktu-waktu ketika raga dan pikiran tidak sejalan, ah bukan, itu adalah simpangan yang tidak bisa diputuskan, karenanya memicu kekacauan. Jarak yang tercipta antara dua pikiran itu yang mengacaukan hal-hal yang terrencana di bagian pikiran yang lainnya. Kadang saya sungguh kesal karena hal-hal yang tidak ingin saya ketahui toh saya tahu juga. Atau di waktu yang lain, saya mengutuki kestabilan diri yang tergores oleh visualisasi. Lalu sedih itu tercipta.

Bagi saya, kesedihan itu bagian yang menyenangkan. Kehilangan perasaan itu agaknya menakutkan untuk dipikirkan. Dan saya tidak ingin melulu bahagia begitu saja. Kesedihan memicu introspeksi mendalam, lalu pemahaman yang lebih bijak mengenai dunia yang sedang berputar ini.

Apakah kata-kata barusan adalah bentuk lain dari pelarian? Bisa jadi iya. Atau saya lebih suka menjawabnya semoga tidak pernah menjadi demikian.

Di suatu penggal cerita, Neti pernah mengutuk nasibnya, bahwa orang yang dikatakan cantik, pandai, atau segala bentuk pujian itu pun nyatanya tidak mampu mewujudkan cita-cita terdalamnya. Jadi apa gunanya semua pujian itu kalau toh cita-citanya tak pernah mampu diwujudkannya? Begitu banyak keputusasaan yang menguar di udara, mungkin tertangkap lewat mata orang lain, sentuhan orang lain, atau pikiran orang lain, tak ada yang tahu. Yang pasti, setiap keputusasaan itu coba disembunyikan seorang diri, dan seolah dirinya mampu melalui kesemuanya sendirian.

Ketunggalan insan ini sangat menarik, karena meski upaya untuk melalui itu begitu sulit, tapi nyatanya setiap manusia memang adalah ketunggalan itu sendiri. Dan hal itu membuat setiap-tiapnya seharusnya begitu akrab dengan kesepian, kesendirian, keterpencilan, ketersisihan, atau bentuk ke-an yang lainnya. Berapa kali setiap-tiap kita mencoba untuk memupuk semangat dan memberikan kata-kata motivasi untuk diri sendiri? Pada akhirnya kembali juga kita pada titik kesepian yang sama.

Manusia itu seperti planet-planet. Kita mungkin kembali pada musim yang sama; pada kesepian yang sama. Tapi perputaran itu tidak pernah membawa pada posisi yang sama di jagad semesta, tapi selalu berputar juga pada pusat yang lebih besar, yang bisa jadi pusat itu juga bergerak atas pusat yang lainnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Bukankah kita semua memahami konsep mikro dan makro ini?

Lalu malam ini, saya ingin memeluk diri sendiri lebih erat. Mencoba mengakrabi setiap jeda antara rasa percaya dan putus asa. Agar esok, saya akan lebih siap ketika menemukan hal-hal yang terpercik menyakitkan, atau menyengat terlalu tajam.

Seandainya, seandainya saya bisa menghapus eksistensi diri dan merumuskan diri yang baru, seandainya saya melepas semua relasi yang telah tercipta untuk mencari bentuk relasi baru, seandainya saya memutuskan untuk mempercayai diri sendiri lebih tinggi, seandainya semua hal berjalan sesuai harapan saya, seandainya, dan seandainya semua itu terjadi, apakah saya tidak akan sampai pada keputusasaan yang saya rasakan sekarang?

Tak ada jaminan akan apapun, mengenai siapapun, pada waktu kapanpun.

wordsflow

Advertisements