ingatan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Siang ini pemutar musik di ponsel pintarku memutar sebuah rekaman gitar yang beriringan dengan berisik suara lain. Tentu saja rekamannya tidak mulus, tidak indah, dan hanya mampu menangkap samar-samar permainan gitarmu kala itu. Aku tidak yakin ada orang selain aku yang mengingat malam itu. Kamu bermain tak kurang tujuh lagu, dan tiga gubahan instrumen yang hanya kamu yang tahu nadanya; aku tentu buta nada. Aku merekam tiga gubahan itu tanpa kamu tahu, diam-diam seperti pencuri yang tak mau diketahui.

Malam telah cukup larut, tak ada sesiapa yang lain di sana, hanya aku dan kamu, dalam hening suara manusia, namun riuh gemuruh hatiku; tak terdengar bagaimana denganmu. Tak sepatah kata pun keluar di antara kita, tidak bercanda, tidak sapa, tidak ada apa-apa. Tapi aneh sekali, jarak kita tidak lebih jauh dari satu jengkal, dan aku bahkan mampu merasakan panas tubuhmu terradiasi tertangkap syaraf kulitku. Aku lekat memandang punggungmu, agak lebih bawah karena aku bersandar, sementara kamu membelakangiku, entah apa yang sedang kamu pikirkan ketika itu. Tak pernah sedikitpun aku tahu.

Mungkin, jika kau tanyakan perasaanku kala itu, aku akan tergagap gugup dan mungkin tidak akan ada hal penting yang mampu kuutarakan kecuali penolakan. Tapi kamu tidak berkata apapun, dan dalam hening aku bersyukur karena aku tak harus berurusan dengan kerusuhan hatiku sendiri. Hanya petikan gitarmu dan suara jangkrik dan kodok yang jauh yang mengiringi kita malam itu. Sementara aku tenggelam dalam buku bacaan yang telah kulupa judulnya. Tenang sekali meski gemuruh di hatiku tak juga mereda.

Lucu sekali, rekaman itu tetap kusisakan meski berkali-kali aku berharap mampu menghapusnya. Toh tetap tak tega juga. Hening yang itu pantas aku kenang.

Kita telah lama berjarak. Sangat lama, dan bahkan tidak mampu lagi kubayangkan hingga berapa lama lagi jarak itu akan ada. Tapi sesuatu menyadarkanku, bahwa hanya karena jarak maka setiap suara mampu terdengar, setiap mata mampu bertatap, setiap hati mampu berharap, dan seterusnya, dan seterusnya. Mungkin tidak rasional sudah semua ini, kuduga pada tahap ini aku telah kehilangan kontrol diri. Tapi tidak, aku masih memiliki diriku sendiri, dan kamu masih memiliki dirimu sendiri.

Setiap mengingat satu momen, maka momen lain akan juga berkelebat keluar memamerkan episode lainnya, hening lainnya, atau mungkin tawa lainnya. Beberapa di antaranya kuingat sebagai momen hening paling berharga dalam perjalanan kontemplatifku, dan kamu selalu yang ada di sana.

Tapi, kuduga kamu tidak begitu. Tentu saja momenku dan momenmu berbeda, tidak segala hal harus sama, tidak segala hal harus serupa. Aku bertemu dengan orang lain yang juga jatuh cinta, sama sepertiku, atau sepertimu. Aku bertemu orang lain yang berharap juga. Atau orang lain yang patah hati, yang bertanya-tanya, yang merasa paling menderita, yang mencoba memperjuangkan seseorang, yang mencoba melarikan diri dari luka, yang mencoba menerima segala hal, yang terus berjalan tanpa peduli sesiapa, yang kehilangan percaya, yang terkecewakan hingga menderita, atau apapun itu. Segala hal ada juga pada setiap manusia.

Tidak ingin kukatakan kepadamu seberapa besar luka atau harap yang kutanggung, kupikir kita tidak jauh berbeda. Jika kamu bicara gembira, aku pun sama. Jika aku bicara mungkin, kamu juga begitu. Kita tidak jauh berbeda. Kita hanya berjarak, lalu terpisah jurang yang meski tak seberapa dalam, namun tak mampu kutantang diri untuk melompatinya.

Ada banyak babak kuduga, yang bisa juga kita bagi-bagi ke dalam beberapa perkara. Seorang perempuan tidak akan mampu menerima jika belum ada penolakan kamu bilang, bisa jadi benar. Leluhurku mengajarkan untuk nrimo ing pandum dan selalu rumangsa. Merasa dan menerima, dua inti utama pemurnian jiwa. Jawa yang menjiwai, bukan Jawa yang mewakili. Sedikit berfilsafat tidak akan membuat kita hilang dari realita, keduanya tetap pada tempatnya. Kita hanya pelesir sebentar agar bisa saling mengingatkan.

Bukan menghantarkan duka atau luka, tidak begitu kejadiannya. Tapi ‘merasa’ itu bukan sesuatu yang terlampau mudah sehingga dapat menjadi sebuah perintah atau titah.

Lalu, antara aku belum lagi berminat dengan isi hatimu atau aku telah tidak lagi membutuhkan penjelasan lagi. Bisa jadi, dengan merasakannya dengan lebih tenang, pekat, dan dalam, perkaranya tidak lagi menjadi sama. Itu masih hanya dugaan, toh masih juga aku tak mampu menjawab pertanyaan paling sederhana dari ‘mengapa’. Kadang ada badai yang tidak pernah selesai. Kadang ada yang luput melihat bagaimana segala sesuatu bekerja. Kadang ada yang lupa bagaimana menemukan dan pulang. Kadang-kadang saja begitu. Di lain waktu kamu berlalu tanpa ragu. Atau aku memimpikanmu tanpa malu.

Lagu di ponsel pintarku memang tak lagi mendengungkan suara petikan gitarmu. Memang. Tapi beberapa lagu bergaung-gaung indah, deretan lagu-lagu yang rajin kuperdengarkan kala gegar pertama kuterima darimu. Sudah lama ternyata. Mungkin aku bahkan tidak terlalu ingat bagaimana suasana kala itu. Tak mengapa, bekasnya masih terasa setiap sebuah lagu diputar. Kadang sebuah lagu lain menghantarkan ingatan ketika aku berlari tak tahu arah hanya untuk menghindari luka yang kutebar sendiri, meski kutuduh kau yang menorehkannya. Aneh, kadang ingatan tidak membawa luka yang sama besarnya, namun memberi pemahaman yang jauh dari tuduhan.

Akhirnya, perasaan itu tidak untuk dibela atau dicari dimana letak kebenaran atau nalarnya. Tidak akan kita temui apapun kecuali penimpaan kesalahan pada nasib dan rasa itu sendiri. Kamu sudah pernah menjawabnya ketika itu “rasakan saja”, dan baru sekarang aku memahaminya.

Dan ingatan itu semakin jauh. Semoga kita bermimpi malam ini.

wordsflow

Advertisements