tengah malam ini

by nuzuli ziadatun ni'mah


Tetiba aku berhenti di turunan kedua jalan utama menuju rumah sementara. Seorang diri, malam ini rasanya lain. Aku meminta diri untuk berhenti sejenak, lalu memperhatikan sekeliling dengan cermat.

Tetes gerimis terus menitik di wajahku, tetesnya terasa menekan, lalu sirna. Udara dingin sepoi berhembus dari belakang. Jauh di depan bendera berkibar perlahan. Lampu jalan yang selalu pendar, banyak, bulat, nan tenang. Lalu sebuah layang-layang tersangkut di sebuah pohon. Gemerisik terdengar di kejauhan, dan angin menggoyang dedaunan dengan sangat pelan. Aku sendirian. Rasa yang akrab berkembang, lalu meski sepi dan agak menakutkan, ada tenang yang terselip dengan pasti; rumahku tak jauh lagi.

Kurasai bagaimana orang-orang berduka di sekelilingku. Seorang yang putus asa. Seorang yang patah arang. Seorang yang bimbang. Seorang yang ragu. Seorang yang terluka. Seorang yang sengaja mencari luka. Lalu seorang demi seorang lain bermunculan. Berapa banyak yang ditanggung sebuah jiwa sebelum akhirnya ia kalah berjuang?

Lalu air mata lain jatuh di ujung lain percakapan. Di layar yang sama berita gembira menyebar begitu saja. Bercanda sekali kita semua. Tidak lelah, tidak juga ingin berbenah.

Tuhan punya cara bercanda yang sangat lucu. Kadang terlampau cerdas hingga kurasai tak mampu kutemukan di mana titik kelucuannya. Tapi benar, dia sungguh lucu.

Maka aku harus juga menangis hari ini, seperti juga seminggu yang lalu kukatakan, esok akan begitu berat untuk dihadapi. Entah kenapa, aku selalu bisa meramalkannya, itu sungguh aneh. Tapi berkali-kali kupikir, berpikir saja ternyata tidak cukup. Berkata juga tidak cukup. Hanya aku begitu ragu, karena tatap mata yang menuduhku, kalimat yang mencurigaiku, logika yang memfalsifikasiku. Ah, lagi-lagi harus ada korban dan tersangka dalam setiap perkara.

Kupikir, sudah tepat jika aku ingin undur diri secepat mungkin. Mungkin secepat nasib membawaku ke umur 25, atau secepat mimpiku dihapus oleh pukul 5.

wordsflow

Advertisements