what makes a human, human

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada pernyataan yang sangat sering dikutip oleh akademisi mengenai bagaimana manusia terdiferensiasi secara alami dari primata. Hal tersebut berkaitan dengan ‘kerja’ yang dilakukan manusia, yang mana tidak terjadi pada binatang lainnya di bumi ini. Mungkin beberapa orang akan dengan mudah mendebat mengenai pernyataan itu, misalnya dengan menyatakan bahwa ‘toh binatang juga bekerja’, ‘toh mereka juga mengorganisir diri mereka untuk memaksimalkan potensi berburu’, atau berbagai pernyataan tandingan lainnya untuk menolak pernyataan tersebut. Pada pihak yang berseberangan, berbagai jenis orang akan juga mendefinisikan sendiri-sendiri mengenai apa yang bisa membedakan manusia dengan makhluk lainnya yang ada di dunia ini.

Dalam pendalaman saya terhadap berbagai persoalan yang pernah saya dengarkan, saya lihat, dan mungkin saya kaji dengan sederhana, tidak banyak yang bisa saja ajukan mengenai hal ini. Hanya saja, ada sebuah pernyataan yang tiba-tiba saya pikir cukup relevan untuk menjadi sebuah pernyataan tandingan terkait apa yang bisa membedakan manusia dengan begitu banyaknya hal yang ada di dunia ini.

Struggles.

Hal itu lah yang saya kira ada di setiap manusia yang saya temui di dunia ini, dan bahkan saya alami sendiri sepanjang hidup saya sebagai sebuah bagian yang menyejarah, dan bahkan melekat pada setiap keseharian kita sebagai manusia. Beberapa orang mengira bahwa manusia memiliki kebebasan mutlak dalam menentukan pilihan-pilihan dalam hidupnya. Benar mungkin, pada tataran tertentu. Tapi tentu saja kebebasan ini berbenturan dengan berbagai kepentingan lain yang muncul dari manusia lain sebagai sebentuk ekspresi kebebasan mereka juga. Tersingkirlah kemudian kebebasan mutlak itu sebagai bagian dari manusia. Tidak demikian.

Perdebatan di dalam manusia itu abadi. Dia seabadi manusia itu sendiri, dan berhenti bersamaan dengan berhentinya kehidupan itu sendiri. Perdebatan sebagai sebuah bentuk paling awal dari berpikir, bermula pada urusan menentukan, memilih, mempertimbangkan, mendialogkan, mendialektikakan, dan seterusnya, dan seterusnya. Hanya manusia yang mengalami perdebatan di dalam dirinya terkait dengan segala hal yang ia lakukan di dunia ini. Hanya manusia yang mempertimbangkan dengan dalam mengenai segala hal. Bisa saja semua makhluk hidup memiliki refleks, namun hanya manusia yang berdebat dengan sengit, bahkan dengan dirinya sendiri.

Perdebatan atau struggle ini yang mengendalikan manusia di hadapan manusia lainnya, dalam kaitannya dengan alamnya, Tuhannya, makhluk lainnya, diri sendiri, masa lalu, masa kini, masa depan, atau apapun itu. Dan dia tidak sesederhana istilahnya. Bagi saya, struggle merupakan inti dari aktualisasi diri manusia, dan proses itulah yang membentuk manusia hingga akhir hidupnya.

Perkara yang tidak sederhana ini akan tidak hanya mendewasakan manusia, namun juga membuat seseorang mampu kehilangan dirinya. Struggle tidak pernah menjadi perkara yang sederhana, karena di sana letak kesadaran berperan, telak dialektika berperan, letak nalar berperan, ah apapun.

Sebenarnya saya mau menjelaskan lebih lanjut mengenai apa yang saya pikirkan tentang ini. Tapi sudahlah, nanti saya lanjutkan lagi lain waktu.

wordsflow

Advertisements