Running Away

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada seorang perempuan.

Aku melihatnya berlari satu putaran setiap dua hari sekali. Aku tak pernah melihatnya menyapa siapapun yang berpapasan, bahkan kuduga ia juga tidak melihat ke depan. Dunianya hanya sejauh tiga meter di depan kakinya, seolah tidak ada hal lain yang penting lagi. Tak peduli bagaimana ia orang lain melihatnya dengan penuh perhatian, atau orang lain mencibirnya dengan kesombongan. Baginya dunianya hanya berjarak tiga meter dari ujung kakinya.

Aku melihat perempuan itu berlari pada waktu-waktu tertentu. Setiap pagi dua hari sekali ia dengan wajah setengah mengantuk berlari dengan ritme lambat yang menenangkan, suara langkah kakinya bahkan begitu stabil tanpa ada perubahan. Sering pula ia berlari di sore hari selepas pukul setengah lima. Kadang secara tidak terduga ia datang di hari-hari tertentu, tapi ia memang tidak pernah berlari pada jam yang tepat sama seperti hari-hari sebelumnya.

Wajahnya penuh dengan pertanyaan, itulah hal yang paling aku suka.

Suatu hari, sekitar sebulan yang lalu, aku melihatnya menangis ketika berlari. Aku tak pernah tahu apa yang ia pikirkan, apa yang ada di kepalanya, bagaimana suasana hatinya. Yang kutahu pasti, ekspresi wajahnya tak pernah sama setiap kali ia berlari, dan aku yakin ia tidak pernah berhenti berpikir setiap kali melakukannya.

Meski demikian, ada hari yang sungguh membuatku penasaran dan berkeinginan dengan sangat untuk bertanya. Hari itu sore pukul empat, waktu yang jarang sekali ia gunakan untuk berlari. Wajahnya tidak terbaca; ekspresi yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Ia begitu teduh, teduh yang tidak aku pahami karena seolah ia menyembunyikan gemuruh yang lebih besar. Kali ini, aku memperhatikannya jauh lebih seksama, dan aku punya waktu kurang dari satu menit untuk memutuskan akan menyapanya atau sekali lagi melepasnya untuk kutatap lagi di lain hari.

Jarak kami sudah hampir sejajar, tapi tak juga ada keputusan yang aku ambil. Pada langkah ke lima dari posisiku, ia berhenti, lalu menunduk dalam. Aku terpaku di tempatku, tak mampu memutuskan untuk menyapa atau membiarkannya. Tapi justru aku menunggu. Seolah yakin aku akan menemukan jawaban tak lama lagi.

Ia menunduk dalam, punggungnya tiba-tiba bergetar pelan dan punggungnya naik turun. Ia menunduk semakin dalam, hingga akhirnya terduduk. Secara ajaib, suasana itu terasa begitu pekat untukku, seolah ada dorongan untuk mendekatinya, lantas meletakkan tanganku di pundaknya untuk mencoba merasai berat hatinya. Tapi tidak kulakukan; aku tetap terpaku di tempat, bahkan suara napasku harus kutahan sepelan mungkin agar ia tak terganggu.

Tak sampai dua menit ia berdiri kembali, mengusap ujung matanya dan berlari pada irama yang sama. Seolah tak terjadi apapun!

Maka aku berlari pula mengikutinya dari belakang. Aku begitu ingin melihat hal apa lagi yang ia lakukan. Tapi tak ada lagi yang cukup penting terjadi pada dirinya selepas tangis itu. Aku bahkan tidak melihatnya menengok ke belakang barang sejenak. Lagi-lagi dunianya hanya sejauh tiga meter ke depan dari ujung kakinya, dan terus begitu sepanjang waktu.

Benar. Tak akan ada yang bisa melihatmu selain dirimu sendiri. Tak ada yang memahami kedalaman hatimu selain dirimu sendiri.

Perempuan itu aku, dan aku adalah perempuan itu.

Pada momen berlari, aku menikmati kesendirian yang dalam, melihat tidak pada siapapun kecuali sejarak tiga meter ke depan. Tidak mendengar apapun kecuali detak jantung dan tapak kaki pada tanah yang keras. Tidak merasakan apapun kecuali panas tubuh yang meningkat. Tapi pikiranku berkelindan erat dengan perasaan, bergelayut mengikuti irama detak jantung. Kadang terlonjak pada sebongkah ingatan, kadang teredam pada sepenggal pemahaman. Tapi ritme itu tidak berubah, terus berlalu tanpa ragu.

Perkaranya hanya satu, selama apapun pelarian itu, pada akhirnya titik akhirnya tetap sebuah mula.

wordsflow

Advertisements