the very idea of cracking

by nuzuli ziadatun ni'mah


Jenuh sudah katanya dengan kapitalisme. Tapi tidak. Suara ketikan laptop masih terdengar, internet masih berjalan, bank masih beroperasi mengatur transaksi dagang saya, motor masih membutuhkan bensin, sesekali pergi ke toko waralaba ternama, kadang-kadang pergi ke mall dan menikmati udara berpendingin, sering pula menengok harga barang-barang, pun tidak jarang berkeinginan untuk membeli barang keluaran baru, daftar tempat wisata tujuan masih terpampang, atau segudang ‘tapi’, ‘kadang’, ‘sering’ atau lain-lain itu.

Hidup di bawah kapitalisme itu enak. Kamu tak butuh memikirkan sawah yang terkena hama, atau tanah yang terlalu kering karena air tidak mengalir. Tidak perlu nyeblak damen setelah lelah memanen. Tak perlu ke luar rumah di hari yang panas dan terik untuk menjemur gabah yang belum mengering. Tidak perlu membaliknya secara rutin biar kering menyeluruh. Tak perlu memilih gabah yang bagus untuk bibit musim tanam berikutnya. Tidak perlu napeni atau nggiling lagi. Tak perlu lah semua kerumitan-kerumitan itu. Tinggal datang ke warung dan membeli berapa kilo pun yang bisa kamu beli dengan uangmu. Atau kalau yang begitu saja malas, pergi lah sudah ke warung makan dan pesan apapun yang kamu mau.

Hidup di bawah kapitalisme itu enak. Sungguh.

Kapan lagi kamu bisa menikmati apel washington kalau bukan karena kapitalisme? Kapan lagi kamu bisa naik roller coaster kalau bukan karena kapitalisme? Kapan lagi kamu bisa nonton film kalau bukan karena kapitalisme? Kapan lagi kamu bisa enak saja pagi ini di Jogja dan sejam lagi di Jakarta kalau bukan karena kapitalisme? Dan semua ‘kapan lagi’ yang lainnya yang mungkin nggak akan bisa dirasakan sampai mati; misalnya kapan lagi kamu bisa wisata ke bulan kalau bukan karena kapitalisme?

Sekali lagi, hidup di bawah kapitalisme itu enak. Nggak usah repot, segala hal bukan hanya dekat dengan kita, tapi menghampiri tanpa diminta. Bahkan terkadang membabi-buta hingga kita tidak tahu kemana seharusnya uang kita dibelanjakan. Hingga seringnya terus merasa kurang, terus merasa salah gaya, merasa kurang sejahtera, kurang segalanya.

Apa lagi yang kau minta? Kapitalisme menyediakan semua hal yang bahkan tidak bisa kamu bayangkan. Tak lagi ada yang mustahil di dunia ini. Lihat saja, donor kepala pun sudah menjadi hal yang mungkin, rekayasa genetika ada di mana-mana, pengembangan nuklir pun bukan lagi perkara, bahkan manipulasi pemikiran sudah lama menjadi hal biasa. Sebentar lagi mungkin kamu bisa imortal atau siapa tahu bisa hidup tanpa oksigen.

Bagi yang peduli, rusaknya kawasan karst adalah perkara, hilangnya pulau adalah bencana, berkurangnya hutan adalah kerusakan, matinya paus adalah ancaman, pencemaran lingkungan adalah keresahan, dan seterusnya yang bisa kamu sebutkan. Tapi bagi yang tidak peduli, persetan dengan segala hal itu! Hidup di bawah kapitalisme itu enak! Untuk apa kamu melawan semua kepraktisan?!

Tapi kamu masih menangis karena keluargamu meninggal. Tapi kamu masih sakit hati putus cinta. Tapi kamu masih resah dengan kemarahan orang tuamu. Tapi kamu masih terharu melihat keponakanmu. Tapi kamu masih marah melihat kemacetan. Tapi kamu masih suka melamun di pojokan. Tapi kamu masih berkeinginan untuk bolos kerja. Tapi kamu masih berkeinginan untuk mengambil libur panjang. Tapi kamu masih sesekali ingin tidur saja dan melupakan dunia. Tapi kamu masih jatuh cinta.

Sungguh, kamu masih manusia.

Terkadang memikirkan begitu banyak hal yang tidak kamu tahu setelah begitu banyak hal lain yang kamu tahu terasa jauh lebih menyesakkan. Setelah begitu banyak pengetahuan itu kamu berharap apa lagi? Membunuh kapitalisme yang memberikan semua kemudahan ini? Merusak sumber penghasilan teman-teman kampusmu yang juga manusia biasa itu? Kampanye untuk membentuk negara sosialis baru yang mungkin akan lebih gagal dari Rusia jaman dulu? Atau, seberapa mampu sih kamu menciptakan dunia yang lebih baik lagi dari ini?

Lalu pagi ini saya masih terbangun di ruangan 3×5 tanpa cahaya, dikelilingi teman-teman yang mungkin tidak menyenangkan tapi mereka ada saja sudah cukup. Keluar ruangan dan mendengar gemericik air kolam, langit masih mendung, dan semburat jingga samar-samar tampak di timur. Halaman depan selalu adalah kekacauan, ruang dalam selalu berantakan, kerusakan ada di sana sini, debu ada di setiap telapak kaki, genangan masih mengambang tak mau mengering. Dunia di hadapan saya masih jauh dari iming-iming jumawa kapitalisme. Tentang kita yang akan sejahtera semuanya. Tentang kita yang akan hidup mudah seterusnya.

Tapi kamu masih jatuh cinta, berbahagia, bersedih, atau bertanya-tanya untuk apa kita hidup di dunia, di mana Tuhan selama ini, mengapa aku perempuan dan kamu laki-laki. Kamu masih berseteru dengan dirimu sendiri. Kamu masih bertanya tanpa henti. Kamu masih putus asa tapi berusaha bangkit lagi. Kamu mungkin memaki tapi kamu percaya hidup tidak harus selalu seperti ini atau seperti itu. Kamu mungkin bersedih, tapi berbesar hati karena seorang teman lama mengirimkan undangan pernikahannya. Kamu tergelitik untuk membeli baju baru, lantas sadar pakaian hanya penutup badan. Kamu struggle untuk meyakinkan diri sendiri bahwa segala hal cukup dilalui dengan sederhana, dan segalanya akan baik-baik saja.

Lalu kamu ingat suatu hari bertemu seorang teman baru, kalian membicarakan barang yang layak dipertukarkan. Kalian saling menyusun rencana jalan-jalan, memasak bersama, bermain gitar, dan membaca buku di bawah teduh cemara. Di lain waktu kamu mendoakan keselamatan teman-temanmu yang demo turun ke jalan. Di hari lain kamu mendatangi acara penggalangan dana dan turut bercengkerama. Atau bahkan, ada hari di mana kamu diam saja dan menonton semua kartun yang bisa kamu temukan.

Kamu adalah patahan, kata John Holloway. Kamu adalah harapan yang muncul di kegelapan. Kamu lah yang harus memantik jalan keluar; menumbuhkan, mengkreasikan, dan mempertahankan kemungkinan. Kamu mungkin sangat partikular. Tapi semua hal penting dimulai dari partikel; rekayasa genetika, nuklir, memetika. Jadi tak mengapa, resah itu selalu adalah titik mula.

wordsflow

Advertisements