Cita

by nuzuli ziadatun ni'mah


Bicara soal cita-cita atau mimpi, kadang seolah setidak-relevan mengharapkan masa kecil kembali lagi. Tapi pada suatu pagi saya terbangun dan meyakini bahwa saya harus sekali lagi membangun cita-cita dan merumuskan maknanya sekali lagi. Menjadi dewasa itu bukan perkara tidak lagi memiliki cita-cita, atau memandang cita-cita terlalu kekanakan, justru masa itu lah ketika cita-cita harus dipahami ulang sebagai sesuatu yang tidak melulu untuk dicapai begitu saja. Bisa jadi, cita-cita adalah upaya untuk menularkan sesuatu kepada orang lain, yang mana tidak akan pernah selamanya kita tahu bahkan hingga mati.

Topik mengenai memetika menjadi sebuah pembahasan yang sangat menarik karena begitu banyak hal yang mungkin tidak mampu dipahami selama ini menjadi lebih terjelaskan karena kita mempelajari meme, mempelajari bagaimana habitus itu terbentuk, dan seterusnya, dan seterusnya. Ah, tapi hubungan keduanya menjadi tidak cukup mampu saya jelaskan di tulisan ini, pun belum masanya saya mampu menjelaskan.

Lagi-lagi, mari kembali ke pembahasan mengenai cita-cita tadi.

Dibandingkan karena faktor material, manusia lebih bisa hidup karena masih ada harapan di dalam hidupnya. Masih ada angan-angan yang membuatnya merasa bahwa hari esok mungkin penantiannya akan bersambut, harapannya akan terwujud, jalannya akan terbuka, cita-cita akan sampai jua, atau skenario apapun yang mungkin paling ideal menurutnya.

Tapi toh, bahkan di keluarga mana kita dilahirkan pun tidak pernah ada yang bisa memilih. Jalan macam apa yang akan kita lalui pun bukan sesuatu yang bisa begitu saja dipetakan dengan bebas.

Ah, cita-cita. Saya lupa passion apa yang membuat saya bisa begitu gila mencurahkan segalanya. Ia menjadi sesuatu yang tercecer penuh tanda tanya. Semakin banyak kita melihat, semakin lapang pandangan. Semakin lama kita mendengar, semakin peka terhadap setiap keluhan. Semakin iklas meluangkan, semakin banyak yang tertuang. Dan semakin dalam pula mencapai pemahaman bahwa hidup saya terlalu indah untuk dikeluhkan sepanjang perjalanan.

Setiap duka yang tersampai, adalah ketukan untuk berjuang. Seperti setiap orang yang saya dengarkan ceritanya, saya perhatikan raut mukanya, saya lihat tertawanya, saya rasakan pedihnya, tak lain hanyalah cermin besar atas kemanusiaan kita.

Selamat hari pendidikan untuk kita. Didiklah diri untuk memanusiakan, untuk mencerdaskan, untuk menghidupi kehidupan.

wordsflow

Advertisements