pantai, dan hari panas yang lain

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sudah lama saya tidak menulis sebuah catatan perjalanan. Maka, kali ini saya mau bercerita sejenak perihal libur yang tiada habisnya. Dan waktu yang terlalui dengan begitu banyak percakapan di antara berbagai manusia.

Pantai sudah menjadi hal yang saya akrabi sejak kecil. Tapi karena ketakutan saya pada air, jarang sekali saya merasa sungguh menikmati pantai, hehe. Lebih dari itu, air pantai selalu pliket dan tidak nyaman di kulit, sehingga saya tidak sebegitu merasa tertarik kepada pantai. Tapi yah, meski begitu nyatanya saya sering bermain ke pantai, entah dengan berbagai macam tujuan, hehe.

Sekitar setahun yang lalu, Ocean of Life yang ada di Watu Kodok membuat semacam trip tracking dari Siung ke Wedi Ombo. Jalurnya sangat indah, dan karena mahal saya tidak ikut trip itu.

Hingga akhirnya, beberapa waktu yang lalu saya menemukan teman seperjalanan untuk trip ini, hehehe. Kami berlima memutuskan untuk menghabiskan waktu libur yang mepet dengan mengambil trip ke sini. Sebenarnya tripnya nggak sampai tracking ke Wedi Ombo, tapi ini sudah sangat menyenangkan.

Saya tadinya hampir memutuskan tidak jadi berangkat karena begadang, tapi akhirnya jalan juga, hehe. Setelah sarapan soto di Sagan, kami pun berangkat menuju Pantai Siung. Hari itu sangat panas, dan udara yang begitu gerah menemani kami. Beruntung sekali karena saya tidak harus menggunakan motor saya yang sudah menyedihkan itu, hahaha.

Begitu sampai kami sama sekali tidak menyentuh air laut dan langsung saja menuju tempat tujuan. Jalan di tengah terik matahari memang tidak menyenangkan. Bahkan selepas tanjakan pertama kami memutuskan nongkrong di warung dan membeli es teh. Sayang sekali si es tidak ada, jadilah kami hanya numpang berteduh di warung sembari mengumpulkan semangat menerobos terik matahari yang gila-gilaan.

Kan, tiba-tiba saya tidak bersemangat meneruskan cerita ini.

Tapi yasudah, pokoknya kami menempuh perjalanan lumayan panjang melewati ladang dan jalan setapak. Saya sangat menyukai jalan itu, suka banget. Dan beruntung sekali akhirnya saya bisa menempuh perjalanan di jalur yang sudah saya angan-angankan sejak tahun kemarin.

Setelah tanjakan pertama tadi, jalanan berubah datar. Jalan menanjak hanya sampai warung yang biasanya digunakan untuk berfoto-foto para pengunjung Siung. Tidak banyak yang meneruskan ke jalur kami, dan riuh rendah pengunjung teredam begitu kami meneruskan perjalanan. Jalan setapak yang membawa kami berbelok ke kanan, melewati ladang kacang. Kami membayar retribusi untuk kedua kalinya di bagian ini. Ada beberapa rumah yang kami lewati, dan memang orang-orang ini tampaknya tinggal di sana.

Jalanan kemudian berbelok turun ke kiri, ke arah sungai. Kami melewati jalan setapak di samping sungai. Dan, jeng-jeng-jeng, ada rumah lain yang jualan es teh. Langsung saja kami duduk di lincak bawah pohon, memesan es teh, main musik, lalu foto-foto di sungai, hehe. Pemandangan dari spot itu bagus, dan saya bisa saja betah sampai sore nongkrong di sana.

Air mengalir sampai ke laut ❤

Sampai sini saja saya sudah bahagia, padahal tujuan kami masih setikungan lagi. Hehehehe. Entah berapa banyak foto yang kami ambil, tapi cukup lama kami menghabiskan waktu di sini. Bahkan sempat membuat rekaman video kompilasi musik. Selesai membayar minuman kami meneruskan perjalanan. Sebenarnya terik matahari dan udara bercampur air laut sudah berhasil membuat saya gerah banget. Jadi saya sarankan untuk tidak memakai celana jeans kalau jalan-jalan ke sana. Gunakan juga pakaian yang outdoor yang nyaman. Intinya, lebih baik setelah outdoor gembel gitu lah yaaa, jangan kayak saya. Hahaha.

Spot favorit

Ini dia spot foto yang membuat saya mupeng banget sedari setahun yang lalu, ketika saya melihatnya di poster Ocean of Life. Menyenangkan, sungguh. Dan saya rela berlama-lama di sepanjang jalan itu untuk merekam semua yang saya lihat di dalam ingatan. Bahkan, saya pikir saya sebaiknya punya rumah yang halaman belakangnya langsung menuju jalan semacam ini. Well, that’s too over-dream sih tapi.

Jalan itu tidak panjang memang, hanya setikungan itu, kemudian menanjak sebentar, dan sampailah kami di bukit tujuan! Dari sana sebenarnya bisa dilanjutkan sampai ke Wedi Ombo. Tapi itu bukan tujuan kami, dan rasanya terlalu lapar untuk melanjutkan perjalanan. Kami akhirnya menghabiskan seharian untuk duduk termenung, mengobrol hal-hal receh hingga serius, masak-masakan, baca novel, mainan anjing, sampai bikin video rekaman. Seolah-olah tak ada pe-er yang menunggu untuk dikerjakan bersama, hehehe.

Tapi bagaimanapun, jalur itu layak untuk dilalui lagi, mungkin berkali-kali.

Si anjing jinak yang menemani main

Yang ini si anjing manis yang menjaga tempat main kami. Dia kepunyaan bapak-bapak yang buka warung di sana, sekaligus penjaga bukit kali ya. Saya sebetulnya terobsesi punya anjing dari lama. Maunya sih, kalau nggak golden retriever ya siberian husky. Tapi saya takut memelihara hewan; takut nggak sanggup ngerawat dan akhirnya mati. Dan oleh karena itu saya lebih suka gangguin piaraan orang lain, hehe. Duuh, si anjing tampan banget deh, gemas!

Grup musik dadakan

Si teman saya yang pegang gitar itu punya berbagai alat musik daerah, yang dengan suka rela ia bawakan untuk kami. Dia juga yang mengaransemen komposisi musik untuk kami jadikan video rekaman di siang yang terik itu. Jadilah jalan-jalan kami menghasilkan dua rekaman video musik yang cukup membanggakan buat saya yang memang nggak pernah punya bakat musik dari dulu. Saya tadinya mau membagikan videonya, apa daya karena filenya yang terlalu besar makanya saya tidak bisa upload, hehe.

Akhir kata, akhirnya saya selesaikan juga tulisan ini. Daan, mungkin saya akan menulis trip-trip lain. Mungkin.

 

Ceritanya sok-sok-an candid

laugh until it get hurts, yet it would never hurts your heart; only tickling your stomach instead

wordsflow

Advertisements