rumah; a place where you belong

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sepertinya saya pernah membahas mengenai rumah di blog ini. Sebuah pendalaman yang ketika itu saya dapatkan karena seorang dosen mengatakan bahwa rumah adalah tempat yang selalu membuatmu mulih (yang dapat berarti pulang dan pulih). Demikian, maka rumah bisa jadi apapun yang membautmu merasakan keduanya.

rumah adalah tempat yang membuatku tidak merasa bersalah menghabiskan waktu

Kadang manusia terbangun dan mendapatkan kesadaran baru tentang sesuatu. Tentang rasa, tentang cerita, tentang manusia, tentang banyak hal. Saya rasa, menjelang tidur saya telah cukup berbesar hati untuk berdamai dengan banyak hal, untuk memutuskan berbagai hal. Nyatanya ketika bangun, kesadaran lain yang muncul. Lalu, itu alam sadar atau alam bawah sadar yang sedang mengemuka?

Semalam saya dan Anis membicarakan rumah tinggal. Saya sadar rumah saya di Bantul sana agak jauh dari standar rumah yang ngarsitektur. Secara pembagian ruang dan aksesnya tidak maksimal dan banyak ruang-ruang nanggung dan sulit dipergunakan. Beberapa waktu ini pun ramai diperbincangkan di berbagai kalangan mengenai kemungkinan anak-anak milenial tidak akan pernah mampu membeli rumahnya. Ujung-ujungnya paling hanya rumah tapak kecil, atau apartemen, atau rumah kontrakan. Ini menarik, karena rumah selalu diasosiasikan dengan sesuatu yang tetap, tidak berubah, dan diwariskan.

Rumah, bukan hanya perkara place dan space, tapi sekarang dia menjadi aset dan representasi kemapanan hidup. Simbolisasi ini agak aneh sebetulnya jika ditelusuri lebih jauh ke belakang. Bagaimanapun, di banyak masyarakat, aset tidak didasarkan pada rumah, namun kepada tanah sejak dahulu kala. Banyak contohnya, dimana-mana ada. Saya tapi lebih suka menggambarkan lewat sepenggal cerita di Ronggeng Dukuh Paruk.

Mungkin karena cara menceritakannya, saya menjadi tersentuh dengan novel itu. Pun imaji saya tentangnya belum juga hilang lantaran nilai-nilai di dalam novelnya yang saya suka. Oiya, ke intinya. Jadi, rumah orang-orang Dukuh Paruk digambarkan sebagai sebuah rumah kayu reyot. Dalam perkembangannya, ketika Srinthil akhirnya menjadi seorang ronggeng, rumahnya perlahan mengalami perubahan. Atapnya berubah, perabotannya berubah, dan bahkan material rumahnya pun berubah. Di saat yang sama, penduduk lain masih menggunakan model rumah lama yang hanya terbuat dari kayu seadanya. Ketika akhirnya terjadi kerusuhan dan rumah penduduknya dibakar, yang terjadi adalah berdirinya rumah-rumah ilalang yang baru, seolah-olah tidak terjadi apapun sebelumnya, dan mereka tetap tinggal di sana begitu saja.

Penggambaran saya memang tidak seromantis itu mengenai tanah dan rumah. Tapi yang mau saya bilang adalah, orientasi terhadap tempat tinggal kini disederhanakan dalam bentuk rumah. Padahal, tempat tinggal adalah place and space, yang mana juga menyangkut lingkungan alamnya. Ketika orang berorientasi pada rumah, terang saja menjadi sesuatu yang terlampau jauh untuk dijangkau. Padahal, sebenarnya harga tanah juga ada yang enggak semahal itu dan bisa saja terbeli dengan harga terjangkau. Kadang memang, akses menjadi pertimbangan dengan memperhitungkan jaraknya dengan tempat kerja. Tapi yaah, banyak faktor sih.

Di waktu tertentu, kadang saya merasa bahwa tinggal itu perkara yang sulit untuk didefinisikan. Beberapa orang merasa baik-baik saja terus berpindah rumah dan tidak menetap di satu wilayah, mempersimpel barang-barang mereka, dan memilih untuk terus menjadi nomad. Begitu pula selama menjadi pelajar dan mahasiswa, bahkan setelah kerja, banyak orang yang nyaman saja menjadi nomad. Bahkan lagi-lagi, saking nyamannya berada di lingkungan kerja atau kampus, tempat tinggal menjadi hanya sebatas ruang tidur dan kamar mandi saja, tidak lebih.

Ah, tapi itu mungkin saya, hehe. Toh banyak sekali contoh lain yang lebih menghidupi ruang privasi mereka dengan berbagai kegiatan.

Demikian, maka mendefinisikan rumah buat saya rasanya tidak mudah. Beberapa tempat begitu nyaman sehingga saya bisa menghabiskan waktu saya tanpa pernah merasa bersalah sama sekali. Beberapa tempat menjadi sebatas ruang yang dimana saya berada, namun tidak merasa.

Maka, perkara rumah ini menarik karena semakin berkembangnya segala hal, maka orientasi dan definisi seseorang atas rumah pun akan sangat berbeda. Sama seperti Anis yang mengharapkan bisa tinggal di Bantul, atau saya yang pengen punya rumah di daerah semacam Gunung Kidul. Bisa jadi, itu hanya angan-angan perkara kebiasaan. Siapa yang bisa meyakinkan?

Mungkin pula, definisi saya juga akan berubah besok, minggu depan, atau tahun depan, saya pun tidak tahu. Bisa jadi begitu menikah saya akan berusaha punya rumah sebagaimana yang diidam-idamkan orang-orang di masa kini. Bisa saja saya memang akan terus nyaman dengan ruangan seluas kosan saya. Tak ada yang tahu. Tidak juga diri saya, hehe.

wordsflow

Advertisements