menghapus kebencian

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada sebuah ketakutan yang selama ini dibawa serta oleh pemikiran dan hati yang menghidupi diri. Suatu waktu, berbagai pertimbangan rasional dan emosional pun tidak mampu menghapuskan perasaan aneh bernama kebencian yang menggelayut. Ia bukan hanya bergabung teguh dengan ketakutan menciptakan penjara yang tidak bercelah pun tanpa cahaya.

Kadang di tengah penyesalan saya akan perasaan itu, tidak ada yang mampu menolong kecuali mencurahkan segala ketidakmampuan diri dalam bentuk air mata, atau duka yang terlalu pahit nan pekat. Saya selalu percaya kala itu, bahwa tidak akan pernah ada yang bisa menolong saya dari belenggu itu kecuali dengan berjalannya waktu. Tapi, menunggu atau beradu, keduanya pun saling berseteru.

Rasa benci itu hal yang tidak pernah mampu saya urai selama ini. Kebencian yang menyengat ke masa lalu, kepada manusia-manusia yang tidak sungguh bersalah, kepada momen yang tidak pernah tepat, kepada nasib yang tidak pernah mendukung, kepada diri yang tidak pernah mau menyerah ataupun melangkah, kepada masa depan yang tidak pernah memberi kepastian. Semua hal yang mengganggu itu terangkum dalam sebuah rasa yang pahit bernama kebencian. Hal yang sungguh tidak pernah berhasil saya damaikan dengan kesenangan, pengharapan, cinta, ketenangan, maaf, atau segala bentuk rasa lainnya. Dia menjadi sebuah yang dominan dan bercokol mengangkangi segalanya.

Lalu, saya semakin terpuruk membenci.

Begitu sederhana rasa itu sebenarnya. Penolakan untuk ikhlas menerima, untuk menikmati hidup sebagaimana adanya; tanpa prasangka, tanpa tuduhan, tanpa apapun kecuali menjalani sebaik yang saya bisa. Pun, setelah memahami bukan berarti pemahaman itu akan datang bersamaan dengan perasaan yang sama.

Apa yang kau tahu soal memahami dan merasakan? Keduanya tidak pernah berkawan akrab. Keduanya adalah asing satu sama lain. Merasakan adalah yang lebih jauh saya akrabi, sedang memahami adalah hal yang baru saya kenal namun saya sukai.

Belakangan, ada harapan yang tersemai, ada celah yang telah terbelah. Pada akhirnya. Dan saya kira, seharusnya saya tidak pernah menyia-nyiakan celah itu sesegera mungkin sebelum sekali lagi terisi endapan yang semakin mengerak.

Berupaya tidak boleh setengah-setengah kata seseorang. Orang lain mengatakan bahwa berupaya tidak akan pernah salah asal dengan sepenuh jiwa.

Yang manapun yang benar, saya tak lagi cukup peduli. Pada akhirnya yang lebih saya percaya adalah suara di dalam diri. Menerima dan mempercayai tidak akan pernah ada artinya tanpa bertindak dan bergerak. Begitulah yang abstrak selalu kalah dengan yang empirik. Yang ideal selalu jatuh di bawah yang material. Kadang mungkin, yang ‘terasa’ kalah dengan yang ‘ternyatakan’. Kadang kala.

Suatu pagi saya terbangun dengan sebuah kesadaran baru. Ternyata saya menyisihkan cinta yang besar untuk diri sendiri. Selama ini saya bukannya mengabaikan diri, hanya saja kesadaran akan diri itu tersisih karena terlalu sibuk mencintai orang lain.

Pagi itu saya tersadar, cinta itu lah yang membuat saya berhenti merusak diri, berhenti membenci diri, berhenti takut akan hal yang tidak pasti, dan mengakrabi diri jauh lebih dalam dan lebih tenang. Dia juga yang membuat saya bisa bertahan dalam luka dan duka, dalam pengharapan dan bahagia, dalam ketakutan dan gelap gulita. Meski demikian, saya masih begitu mempercayai perasaan saya, dan bagaimanapun selama ini hal itulah yang mengawal saya menjalani hidup yang sudah 25 tahun ini. I do feel the intimacy with the quarter life crisis these days.

Mungkin, pada waktu tertentu saya percaya akan ada masa badai datang kembali, mungkin dengan kekuatannya yang lebih besar. Namun hari ini, kali ini, biarkan saya menikmati ketenangan air tanpa riak, langit tanpa awan, gerimis tanpa angin, harap tanpa resah, dan cinta tanpa ketakutan, pun tanpa kebencian.

wordsflow

Advertisements