menyoal politik di hari ini

by nuzuli ziadatun ni'mah


Okai, mari kita singkirkan dulu perlahan urusan emosinal dalam menghadapi gejolak politik hari ini. Sudah lama sebetulnya, urusan politik menjadi begitu memuakkan untuk diikuti. Namun, tidak bisa tidak, hal itu secara langsung mempengaruhi hidup kita dalam praktik. Menyebalkan memang, mencoba tidak peduli namun toh terpengaruh juga dengan hal-hal tersebut.

Saya lama tidak menonton tv. Sungguh sudah lupa kapan terakhir kali menonton tv saya jadikan rutinitas harian. Namun saya cukup rajin mengikuti berita di koran atau media sosial untuk tetap tahu apa yang sedang terjadi di hari ini. Belakangan, Instagram menjadi platform yang saya gemari untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Sebelum membahas substansinya, saya mau berargumen mengenai Instagram ini.

Dalam beberapa kesempatan mungkin banyak yang menyatakan kejenuhannya akan media sosial. Tapi saya tidak begitu saja menggunakan media sosial untuk mencari dukungan atas argumen saya mengenai banyak hal. Media semacam Instagram dengan berbagai akun yang ada, entah pribadi, perusahaan, berita, bahkan akun masak, memberikan kemudahan kepada saya untuk menelusuri berbagai berita yang ada.

Lalu, apa yang menarik dari hari-hari belakangan ini?

Semakin lama, semakin ekstrim saja masyarakat kita. Kadang saya bertanya-tanya bagaimana kesadaran mereka akan berbagai hal yang ada di hari ini. Melihat berbagai adu pendapat yang ada di dalam dunia empirik dan dunia maya membuat saya bergidik ngeri. Masyarakat dengan mudahnya berdiri di dua kutub ekstrim berlabel pro dan kontra.

Oposisi biner telah menjadi dasar strukturalisme dalam melihat banyak hal. Levi Strauss bahkan menyatakan bahwa hal itu adanya bukan di tataran consciousness, namun pada tataran sub-consciousness. Ini menarik, karena hal tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa setiap manusia melihat berbagai hal dalam dua pertimbangan oposisi biner. Di hampir setiap hal!

Entah, saya bingung. Saya pribadi ngeri membayangkan bahwa saya bisa melakukan sesuatu secara tidak sadar, yang mana itu berarti saya tidak punya kontrol atas diri saya sendiri. Apapun yang ada di bawah sadar harus juga saya sadari bahwa ia ada di alam bawah sadar. Perkara saya akhirnya melakukannya karena sadar atau tidak bukanlah soal utamanya, namun yang menjadi penting adalah menyadari bahwa hal itu berada di dimensi mana.

Ketika saya menemukan berbagai postingan individu untuk turut bergerak bersolidaritas (dalam hal apapun), bukan perkaranya yang justru membuat saya bertanya-tanya. Melainkan perihal kesadaran masing-masing orang yang turut serta dalam gerakan tersebut. Ini soal value struggle di dalam diri seseorang.

Dari berbagai persoalan manusia, saya pikir pada perihal kesadaran ini lah yang paling membuat saya tertarik. Berkali-kali saya mempertanyakan sesuatu dan berupaya sekeras apapun untuk menemukan jawabannya. Pada akhirnya, kesemua hal tersebut adalah upaya untuk menyadari suatu perkara; apa, bagaimana, mengapa, dan segala bentuk pertanyaan tentangnya.

Maka, ketika saya menemukan bahwa masyarakat dengan mudahnya beroposisi, saya bolak-balik penasaran dengan dasar pemikiran yang membuat mereka melakukan hal tersebut. Apakah yang ada di dalam pikiran mereka, bagaimana pertimbangan mereka, apa yang mereka cari, apa yang sebetulnya mereka tuntut, dan apa yang sesungguhnya mereka pikirkan tentang manusia? Banyak orang di sekeliling saya sepakat bahwa politik hanyalah soal permainan. Politik tidak ubahnya sebuah tarik ulur kepentingan, sebuah upaya untuk berbagi jatah dalam skenario pembagian kekuasaan.

Dan kenyataan pahit yang kadang tidak disadari adalah bahwa kita, masyarakat, menjadi pihak yang paling dirugikan atas segala bentuk permainan politik!

Bayangkan, berapa kali sistem politik negara ini berganti. Berapa kali kita mengubah sistem dan jabatan di dalam pemerintahan. Berapa kali kita berdebat karena permasalahan kenegaraan. Menyisakan apa? Kita yang masih merupakan masyarakat sipil biasa. Yang menjadi orang tua tetap memiliki anak. Yang menjadi anak tetap memiliki orang tua. Yang bersaudara tidak akan bisa menghapus kesedarahannya dengan saudara lainnya. Kita masih berdebat dengan kehidupan sehari-hari pula.

Kita ini objek permainan politik. Dan terlalu sedih mendapati bahwa masyarakat dengan mudahnya (atau mungkin mereka sebenarnya tidak merasa mudah juga) beroposisi secara ekstrim pada dua kutub yang begitu jauh berlawanan. Lalu, siapa yang mau dengan susah payah menempatkan diri dan berkorban sebagai jembatan di antara keduanya?

Antara muak namun merasa harus peduli dengan perkara ini, saya pun gamang dalam melihat, apalagi menghadapi dan menanggapi. Masyarakat terbelah menuju dua kutub ekstrim. Anehnya, relasi yang tercipta di antara mereka masih saja sama. Bisa saja kedua pihak adalah rekan kerja, teman kuliah, saudara kandung, dan sebagainya. Dalam pertikaian menentukan mana yang menurut mereka patut dibela, keduanya kemudian bertemu dengan kenyataan bahwa sebeda apapun mereka dalam pendapat hubungan persahabatan mereka cukup pantas untuk dipertahankan meski beberapa ada yang memilih untuk bertikai, beberapa terpaksa berdamai karena memiliki hubungan darah yang tidak mungkin dihapuskan.

Saya prihatin sih sebenarnya melihat semua ini. Hanya saja, sejauh ini saya pun belum melakukan sesuatu kecuali berusaha mendalami lingkungan sekitar saya, sembari berkesadaran semakin tinggi mengenai hidup. Refleksi menduduki tindakan paling tinggi yang dapat membawa pada pemahaman akan kemanusiaan menurut saya. Sebagai hasilnya, kesadaran akan kemanusiaan akan datang bersama dengan kedalaman refleksi yang sudah dilakukan.

Entahlah, saya pun masih hanya sekedar menuliskan ini. Jauh di belakang pemikiran, saya mengagumi pendidik-pendidik saya yang mendorong saya untuk terus melakukan refleksi. Mungkin, barangkali mungkin, pendidikan yang berbasis refleksi akan membawa kita pada kemanusiaan dan keadilan yang lebih dari sekedar jargon saja. Semoga.

wordsflow

Advertisements