mati, itu apa?

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada kematian yang tiba-tiba mengada dari ketiadaan–ah bukan, sebetulnya kematian itu hanya istirahat sebentar.

Dua film bertema kehilangan sedang tayang di layar lebar. Saya pikir keduanya mengangkat hal yang sama, menyoal cinta dan rela, akan orang terkasihnya, akan masa lalunya, akan hal-hal yang tidak bisa mereka terima. Hanya saja, cara penceritaan keduanya jauh berbeda, yang satu mendekati soal kematian ini melalui ziarah, sedang yang satu lagi menyoal kematian ini dengan rasa bersalah.

Saya bukan kritikus film memang, dan tulisan ini tidak akan membahas film yang sedang tayang itu sama sekali. Tapi, sekali waktu dalam pusara simbah saya, saya menyadari bahwa apa yang bisa saya petik dari kematian? Kematian tidak menawarkan apapun kecuali kematian itu sendiri, saya kira. That’s all.

dead man tells no tale

Itu kalau Pirates of Carribean. Tapi apa sesungguhnya kematian itu, tidak begitu saja dapat dijawab dengan mudah. Orang mati nggak bisa hidup lagi untuk menjelaskan rahasia-rahasia kematian itu kaan.

Dalam sebuah berita, saya menemukan nama Julia Perez yang sedang kanker stadium 4, penyakit yang jaraknya sungguh tipis dari kematian. Saya sebetulnya bertanya-tanya sungguh tentang kesadaran manusia yang berada pada kondisi kritis harapan untuk hidup. Soal apa yang ada di dalam kesadaran dan mungkin ketidaksadarannya. Ada memang rahasia-rahasia yang tetap menjadi rahasia bagaimanapun inginnya kita berupaya mengungkapnya ke permukaan. Itupun, jika kita sama-sama sepakat soal permukaan ini.

Oke, kembali ke masalah kematian ini.

Lagi-lagi, kematian memunculkan romantisme mendalam. Sebuah kesadaran tipis mengenai kehilangan yang sesungguhnya, meski masih juga bertanya-tanya soal apa itu sesungguhnya, mati itu? Dalam kebingungan saya, selama keterombang-ambingan diri saya selama beberapa waktu ini, saya toh pada akhirnya sadar bahwa pada kematian saya menemukan pegangan yang paling nyata. Tidak ada yang pasti kecuali mati. Maka ia menjadi hal yang merangkum seluruh, atau kesemua ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, keresahan, kesedihan, atau apapun itu.

Begitu mesranya merasakan cinta yang begitu dalam pada diri ketika menyadari akan ada kehilangan terbesar dalam kematian. Ada akhir dari setiap penantian. Keseluruhan itu akan terhenti pada mati. Semuanya pun begitu.

Kadang kala ada imajinasi liar tentang kematian yang sewaktu-waktu menyisip di sela berbagai kesibukan, atau di dalam kekacauan pikiran. Ia sering berbisik-bisik meminta perhatian. Sewaktu-waktu ia seolah berdiri mematung di pinggir jalan meminta pertanyaan. Di waktu yang lain bahkan ia menghalangi jalan tanpa basa-basi meminta kita sejenak berhenti dan menyapa. Dekat sekali. Dan lekat sekali kita dengan diri dan mati ini.

Kematian selalu memancing mesra, selalu memancing cinta, selalu memancing rasa yang mendalam tentang hidup. Atau tentang apapun yang sedari awal kita abaikan.

Sekian saja soal mati ini, nanti saya tulis surat cinta lagi. Atau surat mati?

wordsflow

Advertisements