Sajak-Sajak Empat Seuntai

by nuzuli ziadatun ni'mah


/1/
kukirim padamu beberapa patah kata
yang sudah langka –
jika suatu hari nanti mereka mencapaimu,
rahasiakan, sia-sia saja memahamiku

/2/
ruangan yang ada dalam sepatah kata
ternyata mirip rumah kita:
ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana –
hanya saja kita diharamkan menafsirkannya

/3/
bagi yang masih percaya pada kata:
diam pusat gejolaknya, padam inti kobarnya –
tapi kapan kita pernah memahami laut?
memahami api yang tak hendak surut?

/4/
apakah yang kita dapatkan di luar kata:
taman bunga? ruang angkasa?
di taman, begitu banyak yang tak tersampaikan
di angkasa, begitu hakiki makna kehampaan

/5/
apa lagi yang bisa ditahan? beberapa kata
bersikeras menerobos batas kenyataan –
setelah mencapai seberang, masihkah bermakna,
bagimu, segala yang ingin kusampaikan?

/6/
dalam setiap kata yang kaubaca selalu ada
huruf yang hilang –
kelak kau pasti akan kembali menemukannya
di sela-sela kenangan penuh ilalang

© 1989, Sapardi Djoko Damono

***

Sudah beberapa waktu lamanya saya tidak menulis, entah mengapa. Padahal saya kira, ketika mencoba menulis sesuatu, tetap akan ada yang tersampaikan. Sayang sekali, ada yang telah hilang, ada yang telah berubah, ada yang telah mati, dan sedang menunggu sesuatu bertumbuh kembali; apapun itu.

Mungkin, saya tidak akan menulis lagi. Barangkali saya akan berhenti berlari dan membangun tempat istirahat sendiri. Menangis sampai pagi, mungkin? Atau berdiam diri hingga petang menjelang. Setiap kali kubayangkan ada hari baru yang datang, tiada yang berbeda dari apapun yang telah lalu. Rumput bertumbuh yang sama, rumah yang sama, air mengalir yang sama, pepohonan yang sama. Tiada yang berubah, mereka hanya bergerak-berpindah.

Sudahlah.

wordsflow

 

Advertisements