through music we build hope

by nuzuli ziadatun ni'mah


Di sela keinginan saya untuk bisa melakukan segalanya di dunia ini, saya akhirnya memutuskan untuk bercerita di sini kembali. Ini soal ketertarikan saya pada musik, namun tidak pada musisi, hehehe.

Waktu kecil, ayah saya sering memutar kaset dengan lagu yang itu-itu saja. Saya bahkan hingga kini tidak bisa membedakan mana yang lagunya Ebiet, Iwan Fals, Bimbo, atau sederet nama musisi lama. Saya hanya bisa turut bernyanyi kalau ada yang sudah memainkan intronya. Begitulah saya akrab dengan lagu-lagu dan musik. Tidak lebih dari permainan gitar ayah saya yang itu-itu saja, dan lagu kaset yang itu-itu aja juga.

Saat menginjak SMP saya berkenalan dengan beberapa alat musik, tapi menyerah karena saya buta nada sama sekali, hahaha. Ketertarikan saya pada musik juga masih dalam kadar yang sama. Untung sekali waktu itu ada MTV Bujang yang jadi tontonan saya selama libur sekolah. Kalau nggak salah ingat acara itu tanyang setiap jam 10 pagi setiap hari Kamis, entah, saya sudah lupa. Berkat chanel TV yang itu, saya menjadi cukup mengenal beberapa band beken luar negeri. Hemm, sebagaimana mungkin anak SMP lainnya di masa itu, saya tergila-gila sama Avril dan Linkin Park. Tapi masa SMP saya tidak menghasilkan kemampuan musik apapun, meski ketika itu saya berkeinginan sungguh untuk main musik. Apa daya, kemampuan tidak tumbuh dari keinginan, namun dari dipraktikkan.

Mungkin memang saya terlalu kompetitif sejak kecil, sehingga untuk bisa bermain musik pun harus dengan cara di-trigger oleh orang lain. Saya harus berterima kasih pada adik saya yang berhasil membuat saya mati-matian bermain musik waktu itu. Agaknya secara alami saya menganggap adik saya adalah saingan. Sehingga ketika ia bisa bermain gitar, saya mengharuskan diri saya untuk itu juga.

Saya rasa hidup saya memang penuh persaingan. Lebih karena saya menstimulasi diri sendiri untuk demikian ketimbang karena orang lain mengatakan hal tersebut ke diri saya. Kadang saya berpikir jauh mengapa saya melakukan hal tersebut, mengapa saya melihat orang lain dengan kacamata yang demikian. Padahal ya sudah sih, terima saja kalau kemampuan masing-masing orang berbeda. Tapi ternyata saya masih terus terpengaruh oleh orang lain. Meski bertanya-tanya, saya toh mengikutinya juga, hehehe.

Semakin lama, jauh setelah keinginan egois untuk tampak keren dan bisa memamerkan kemampuan diri, saya menemukan keteduhan yang dalam melalui musik. Banyak hal yang memang tidak bisa diraih dalam sekali waktu. Ketika saya sungguh ingin bisa memainkan gitar, yang saya dapat hanya sebuah kepuasan temporal, bukan kedalaman. Tapi belakangan saya menemukan ada hal lain yang menggantikan rasa bersaing itu. Sulit tapi didefinisikan. Karena yang begitu hanya bisa dinikmati dan dirasakan.

Saya banyak terkesan oleh film atau anime karena musiknya. Saya menemukan kedalaman puisi karena musikalisasinya. Yang paling mengesankan adalah saya begitu terharu dengan Red Turtle yang notabene adalah silent anime. Maka, peranan musik terasa sangat penting untuk membangun perasaan terhadap hal yang tampak oleh mata. Musik juga menyimpan banyak hal yang tidak mampu tersampaikan lewat kata. Bahkan ia bisa menciptakan suasana yang awalnya tidak ada. Dan kekaguman saya pada musik, pada manusia-manusia yang menekuni musik, pada alat yang menghasilkan musik, dan pada suara-suara semakin besar.

Voice is not merely a voice.

Saya bayangkan kemudian masa-masa ketika saya lebih sering bersedih dan bermuram durja diiringi lagu-lagu melankolis nan mendayu-dayu. Sembari kadang meng-iya-kan liriknya atau mengumpat atasnya. Hahaha. Menengok ke masa-masa itu, saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ternyata manusia bisa berubah begitu rupa. Bisa berproses begitu panjang, penuh lika-liku dan sangat dinamis. Dan semua orang merasakan hal yang sama!

Oh ya ampun, saya ngelantur.

Lalu malam ini saya tercengang ketika membayangkan rupa masa lalu, masa kini, dan masa depan. Pikiran saya telah mendekonstruksi segala hal hingga ke titik intinya, dan rekonstruksi yang dibentuk agaknya telah terlampau jauh dari yang saya duga. Ternyata ada gunanya juga menyimpan foto-foto lama dan mengasah ingatan melaluinya.

Well then, tulisan ini tidak indah, tidak jelas, dan tidak sesuai dengan judulnya. Tapi ini cukup, untuk membuat blog ini terisi dengan ceracauan saya.

wordsflow

Advertisements