Detachment

by nuzuli ziadatun ni'mah


Semester ini berat, sungguh.

Tidak saya bayangkan sebelumnya bahwa saya akan melalui berbagai hal berat di semester ini. Jangankan urusan pribadi, urusan lain pun sama beratnya. Ada banyak guncangan, ada banyak tangis, ada banyak tawa, ada banyak cerita, ada banyak pemahaman, ada banyak sekali tugas kuliah, ada berbagai campuran perasaan yang berubah menjadi kemuakan, dan ada begitu banyak hal yang tidak bisa saya rangkumkan di sini. Tapi tentu saja, masih ada kabar gembira karena ada semakin banyak teman dalam hidup saya.

Dalam enam bulan ke depan, akan banyak orang yang pergi. Sebagian untuk sementara, mungkin sebagian lain memutuskan untuk selamanya. Siapa yang tahu akan masa depan, hehe.¬†This isn’t easy for sure. But realizing that people should never trap because of something, it’s getting easier to accept those things. People come and go, as I am once also.

Ada beban sebesar gunung? ah saya berlebihan, tidak, beban itu tidak sungguh seberat gunung saya kira. Hanya kadang kemunculannya membuat saya kesal luar biasa. Demikian, saya ceritakan beberapa hal sembari mencari sela atas tugas yang belum berakhir juga.

Saya mau membahas sebuah film yang saya tonton semalam, judulnya Detachment. Saya pikir saya orang yang sangat telat tertarik menonton film. Saya tidak mengenal nama-nama aktris atau aktor, saya tidak tahu judul film, saya tidak mengikuti Oscar, ah apapun lah tentang film, saya tidak paham. Tapi saya bertemu dengan orang-orang yang sangat peduli dengan film. Mereka membahas film lebih dalam dibandingkan semua orang yang pernah saya tahu. Pun demikian dua dosen saya membahas film dengan cara yang jauh berbeda dari cara orang lain membicarakan film.

Yang saya sadari ketika itu adalah, oke, saya ternyata melewatkan banyak hal dari film.

Dalam beberapa waktu belakangan, dan saya kira saya juga sempat merasakan hal yang sama, anak-anak milenial terjebak dalam kebingungan luar biasa, ketidakmengertian, keputusasaan, kecemasan, keterasingan, dan segala bentuk perasaan lain yang merusak jiwa dan psikis kita. Koe no Katachi misalnya, menceritakan pula kegamangan yang sama akan hidup, ketidakpercayaan terhadap manusia lain, penolakan terhadap pertemanan, dan seterusnya. Rasanya menyakitkan melihat hal-hal yang kita khawatirnya nyatanya merupakan sebuah kenyataan juga di dalam hidup orang lain.

Dua orang teman saya didiagnosa schizophrenia. Yang satu saya kenal setelah sembuh, yang seorang lagi saya kenal sebelum terdiagnosa. Hal yang mula-mula begitu jauh itu, ada begitu dekat dengan saya, tanpa saya pahami bagaimana ia sebenarnya.

Detachment mungkin tidak sepenuhnya memberikan pelajaran kepada saya, namun film itu mengingatkan saya untuk sekali lagi lebih peka. Pada dasarnya seorang manusia tidak bisa menghilangkan kemanusiaan di dalam dirinya kan. Bahkan sejauh-jauhnya kita memisahkan logika dan rasa, pada satu titik kita akan pula jatuh pada ketersesatan yang begitu mencekat, mungkin bahkan memporak-porandakan dan menghancurkan.

Ada banyak bentuk sakit di dunia ini. Baik saya atau Anda merasakannya, entah sebagian atau semuanya, entah sebentar atau selamanya. Tanpa cerita, yang semacam itu hanya akan merusak diri, saya kira. Demikian, setiap orang akan juga berusaha mencari seorang pelengkap. Bisa jadi orang itu selalu figur yang sama, bisa jadi kamu butuh lebih dari satu untuk melengkapi yang tidak kamu pahami.

Ketidakpedulian, keteracuhan, atau kelogisan kita bisa jadi menjadi begitu salah ketika berhubungan dengan orang yang tidak berpikir dengan cara yang sama. Dan hubungan interpersonal itu bisa begitu membahayakannya hingga membuat orang lain begitu sakit, begitu merasa terbuang, bahkan menemukan keberanian untuk mengakhiri hidup. Seolah-olah keinginan untuk memandang dunia dengan cara yang sederhana dan gembira terfalsifikasi oleh reaksi yang tidak saya duga. Keteracuhan yang menimbulkan perasaan terbuang, kegembirakan yang memicu kesedihan, semangat yang memicu rasa putus asa, logika yang menimbulkan rasa.

Kita tidak hidup seorang diri.

Dan begitu menyebalkan membayangkan begitu banyak hal bersilang sengkarut menjadi hal yang semakin rumit. Setiap hari ketika berada di jalan raya atau kerumunan manusia, saya selalu kembali pada pikiran lama. Sebegitu banyak manusia di dunia ini, mengapa saya hanya bisa terpaku pada satu wujud yang tak pernah berganti, memenjara diri dalam pikiran yang semakin tidak saya pahami dari waktu ke waktu. Sebegitu banyak manusia, mengapa tidak banyak yang saya pedulikan. Dan sungguh, manusia ada begitu banyaknya! Satu menjadi tidak sungguh bermakna, namun satu yang kita khususkan mampu merubah banyak hal dalam hidup kita.

Seorang teman tiba-tiba berkata bahwa playlist lagu saya sangat sedih, dan entah karena saya telah begitu terbiasa atau justru saya tidak sungguh mendengarkan, saya menganggap itu pertanyaan yang aneh.

Waktu pun tetap berjalan. Malam ini atau esok hari adalah hal yang sama misteriusnya seperti yang sungguh terjadi kemarin lalu. Yah, saya tidak mereview film juga akhirnya, biarkan saja, hehe. Diam-diam, saya masih berharap pada banyak hal, membagi diri menjadi banyak bagian, yang tidak pula dapat saya ceritakan karena hanya bisa dipraktikkan. Seolah tidak juga lelah, berusaha berpasrah namun tak mau berhenti mengupayakan. Paradoks sekali hidup ini. Dan semakin pecundang saja diri ini, dari hari ke hari.

Ini bukan cerita sedih, ini hanya cerita tentang hidup.

wordsflow

Advertisements