days with no interests

by nuzuli ziadatun ni'mah


Seorang perempuan berjalan cepat di trotoar. Tangannya menutup mulut menghalau debu dari kendaraan yang berlalu lalang.

Seorang tukang gojek berjongkok di samping motornya yang terparkir di luar gerbang yang terkunci. Jaket hijaunya tersampir lunglai di atas jeruji. Kepalanya tertunduk. Kedua tangan memegang tengkuk. Tidak bergerak. Layar ponsel berkedip di bawah motor yang diam.

Seorang pria dengan pakaian lusuh berdiri mematung di pinggir jalan.

Seorang lelaki muda sedang sibuk dengan ponselnya. Helm lekat di kepalanya. Motornya kaku tanpa suara mesin. Tak dipedulikannya sesiapa yang memenuhi jalan raya.

Seorang lainnya terburu-buru menyeberang jalan. Menggenggam erat perempuan kecil yang mungkin adalah darah dagingnya. Tas kresek hitamnya bergoyang-goyang oleh hentakan kaki terburu-buru.

Di dalam mobil seorang perempuan menginjak rem. Matanya tak lepas dari dua penyeberang jalan. Entah apa yang ada di balik bola mata itu. Kiranya.

Sejengkal jalan di dalam jeda. Menyediakan rupa manusia. Seperti aku di mata yang lainnya. Atau kita di mata sesiapa.

Still, there are days with no interests.

Advertisements