“memperbaiki hidup”

by nuzuli ziadatun ni'mah


Begitu katamu setiap kali bergegas pergi. Segalanya kau tata rapi dan kau pastikan tidak ada sesuatupun yang tertinggal. Semua yang milikmu kau bawa, yang bukan kau tinggalkan begitu saja.

1984. Buku itu hilang entah ke mana. Disusul kemudian beberapa judul yang lain. Kemudian kesadaran samar-samar mengenai buku-buku lain lagi yang jauh lebih lama yang tidak lagi ada wujudnya juga membanjir ke permukaan.

Telah banyak yang hilang, tanpa disadari.

24 jam tampak terlalu lama pada suatu waktu. Di waktu yang lainnya semua itu terlampau cepat untuk berlalu. Berapa banyak perubahan yang terjadi hanya dalam hitungan hari? Bahkan tidak butuh lebih dari satu minggu untuk menghampakan segalanya. Meniadakan hal-hal yang sebelumnya saya percaya. Waktu mempermainkan diri. Atau justru diri yang mempermainkan segalanya. Tidak lagi ada hasrat untuk memastikan di antara keduanya.

Ada perasaan yang aneh yang tidak saya akrabi setiap kali saya berada seorang diri. Perasaan yang justru tidak ingin saya pastikan apa itu. Perasaan yang justru tidak ingin saya rumuskan definisinya. Perasaan yang mengobrak-abrik kecamuk dan resah. Tidak saya pahami, dan tidak ingin saya pahami.

Dibanding “memperbaiki hidup”, istilah “memperbaiki diri” itu aneh. Saya pikir semua orang memang pas pada waktunya. Yang kita lakukan bukanlah memperbaiki diri sebenarnya, hanya memposisikannya kembali agar sesuai dengan kondisi yang ada ketika itu. Tapi ini pun bukan hal yang selamanya seperti itu. Saya kira, saya telah kehilangan kepastian mengenai segala hal. Hampa saja.

Setiap kali melihat manusia, rasanya lebih menyenangkan membayangkan bahwa semua manusia pernah menjadi makhluk yang polos dan dicintai karena kepolosannya sebagai pembawa kabar gembira. Demikian, tidak ada yang berbeda antara manusia yang ini atau yang itu, yang mencampakan atau menarik mendekatkan, menyakiti atau mencintai. Kita hanya bingung. Seperti yang mungkin sedang terjadi pada saya di hari ini. Yang tidak tahu untuk apa terus mengupayakan. Untuk apa terus berjalan. Untuk apa berusaha terus percaya bahwa manusia adalah manusia saja. Tidak lebih, dan tidak kurang.

Sering kali saya berpikir untuk berhenti pada satu titik, dan memilih untuk menghilangkan diri dari hidup orang lain. Tapi perasaan yang seharusnya mendorong saya melakukannya tidak ada di sana. Tidak ada apa-apa kecuali mata yang tetap memandang dunia. Tangan yang tak lelah mengirimkan pesan. Detak jantung yang tetap pada irama yang sama indahnya.

Segala hal memuakkan dan penuh harap pada saat yang bersamaan. Menyisakan keputusasaan atas kebingungan-kebingungan yang tidak berjalan-keluar. Sementara tidak ada yang mau menghentikan umurnya pada titik yang sama. Semua orang berkejaran menjadi yang pertama. Sedangkan menjadi yang kedua seolah takut menjadi tertuduh yang hanya bisa mengikuti tanpa autentisitas. Selalu menakutkan menjadi yang kedua. Selalu lebih melegakan menjadi yang selanjutnya, atau justru yang terakhir saja.

Padahal tanpa yang kedua, tidak akan ada yang selanjutnya.

Ada perasaan sesak yang aneh yang tidak juga ingin saya pastikan apa. Tidak ada gairah yang meneriakkan semangat berulah. Yang ada hanya–tidak ada apa-apa.

Isu-isu sosial tetap menjadi isu saja. Isu lingkungan sama saja. Isu apapun, hanya menjadi isu. Saya marah pada diri sendiri. Salah siapa? Diri sendiri.

Tapi tidak sesederhana itu untuk yakin bahwa hidup tidak berguna. Telah banyak yang bisa membuktikannya. Tapi apa. Tidak ada apa-apa di sana.

Ada yang bernama Ginan, seorang pengidap HIV yang berusaha mengenal dirinya untuk memastikan hidup seberharga itu untuk diteruskan dan diperjuangkan. Saya sepakat. Ia menulis buku tentang hidupnya yang hanya saya baca sekilas selama 10 menit. Aneh sekali ia bisa menceritakan hidupnya dengan sedetil itu. Kisahnya menginspirasi karena dia sungguh-sungguh ada, bukan imajinasi. Pun ceritanya tidak ia karang sendiri, tapi ia jalani. Tapi hebat sekali ia ingat semua hal itu. Sementara banyak yang saya lupakan di hidup saya.

Masa depan seolah tidak ada. Tapi dia dipikirkan oleh semua manusia di dunia. Mungkin saya juga, meski barangkali kamu tidak peduli. Tak mengapa. Tidak peduli adalah andalan manusia untuk menanggapi banyak hal yang mungkin tidak ia inginkan. Perasaan misalnya.

“Kamu kenal Chris Cornell nggak? Dia meninggal hari ini.” Waktu itu ada yang bertanya begitu.

Saya tidak kenal. Tapi saya sedang mendengarkan lagunya. Sama seperti kebanyakan musisi yang sok saya kenal lalu saya dengarkan musiknya. Kadang-kadang bahkan sama sekali tidak paham apa yang dinyanyikan. Kadang bahkan judul lagunya tidak saya tahu. Lahir kapan dia? Mulai main musik tahun berapa? Apa nama grup musiknya? Genrenya? Ada banyak hal yang saya paksakan. Sebagian besar cocok saja. Karena ketidakpedulian. Sisanya menjadi hal yang terlupakan setelah berusaha mengaksesnya.

Seperti file-file buku digital yang terbengkalai setelah diunduh lebih dari tiga tahun yang lalu. Terlalu banyak buku digital yang belum pernah dibuka sejak diunduh ke sistem operasi. Atau bergiga album yang belum pernah didengar sejak dimiliki. Atau bergiga foto yang tidak pernah dikenang kembali setelah disimpan. Untuk apa kenangan jika tidak menjadi kenangan bersama? Untuk apa yang lama jika kita selalu hidup di kala yang sama; saat ini, sekarang ini?

Tidak ada yang harus dirayakan. Tidak sekarang atau besok, bahkan mungkin lusa. Tidak juga. Filsafat ditinggalkan manusia, sayang sekali. Diri dibawa kabur dari jiwa. Segalanya lebih nyata di luar pikiran manusia. Memang. Tapi tidak suka, meski kadang-kadang saja.

Memperbaiki hidup. Memperbaiki diri. Apa itu?

wordsflow

Advertisements