Temple Grandin

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya ragu ketika pertama kali membuka file mengenai film tersebut mula-mula. Namun mengingat saya membuka film itu atas rekomendasi seorang teman, maka saya melanjutkan menonton tanpa berekspektasi terlebih dahulu di awal.

Temple sangat menarik sebagai perempuan di mata saya. Dia sangat membahagiakan untuk dilihat, demikian saya lebih suka menyebutnya dibanding mengistilahkannya dengan kata ‘ceria’. Ah sebelumnya, jika ada pembaca yang belum menonton filmnya, silakan menonton dulu kalau tidak ingin saya ganggu dengan review singkat ini, hehehe.

Ketika film baru dimulai, saya menduga-duga cerita macam apa yang akan dibawakan oleh film itu. Lalu apa yang membuatnya istimewa untuk menjadi sebuah film?

Saya jarang menonton film yang dibintangi manusia sungguhan dan lebih suka menghabiskan waktu menyelami dunia-dunia anime yang buat saya jauh lebih dalam dibandingkan film-film yang ada. Temple berbeda, film ini adalah sebuah biografi. Dan sejauh yang saya ingat pula, film yang berdasar pada kisah nyata selalu dan akan selalu memukau saya. A Beautiful Mind, The Theory of Everything, Silent of the Lamb, Snowden, ah dan banyak lainnya selalu bisa membuat saya terpukau. Kisah itu adalah kenyataan yang dinyatakan tanpa pernyataan. Hanya sebuah tampilan sebagaimana kita melihat manusia-manusia lain di keseharian kita. Mewujudkan kemanusiaan mereka sebagai manusia biasa yang berjuang dan melawan hidup.

Manusia-manusia seperti Temple hampir tidak pernah saya temui di dalam hidup. Semua orang yang saya kenal adalah mereka yang berada pada kondisi paling sempurnanya. Hanya dua orang yang seingat saya memiliki kekhususan dalam dirinya, dua-duanya saya kenal ketika masih sekolah dasar. Hingga sekarang saya tidak pernah tahu apa yang membedakan mereka dari kami semua yang menyatakan diri normal saja.

Temple Grandin sangat mengagumkan. Ia memahami bahwa dirinya autistic dan terus berproses sedemikian rupa untuk berdamai dengan kondisinya, tanpa kehilangan masa depannya. Hal semacam itu, adalah sesuatu yang sayangnya tidak saya akrabi selama ini.

Banyak kondisi-kondisi di masa lalu saya yang tidak saya gunakan dengan baik. Waktu yang saya buang untuk hal yang tidak seberapa berguna. Salah menentukan prioritas. Tidak tepat dalam menentukan pilihan-pilihan. Terlalu memikirkan banyak hal yang tidak sungguh layak dipikirkan. Dan akhirnya kehilangan mimpi-mimpi dan tidak mampu memilih di antara begitu banyak pilihan.

Seorang Temple tidak memiliki kekhawatiran semacam itu dalam hidupnya. Ia hanya berusaha terus melakukan hal-hal yang ia sukai, melakukan hal-hal yang menyenangkan, bersungguh-sungguh, dan terus memperjuangkan hal-hal itu sepenuh hati. Dibandingkan dengan begitu banyak manusia yang mengumbar pendapat mengenai hidup yang ideal, saya pikir idealitas mereka tidak sejujur apa yang terjadi pada Temple. Tipu daya saja semuanya. Palsu saja semuanya. Ketidakyakinan saja semuanya.

Tapi tentu saja, ada manusia-manusia yang hidup dengan kemanusiaan yang tulus, dengan keyakinan yang besar, dengan kesenangan yang utuh. Dan ada manusia lain yang tidak mempercayai bahwa ada hal-hal semacam itu di dunia ini. Lalu sebagian lain memilih berada di irisan keduanya, atau menyingkir sama sekali untuk tidak akan bersentuhan dengan kutub ekstrem itu.

Mungkin tulisan ini masih palsu saja. Mungkin saya sebenarnya tidak sungguh mengagumi hal-hal itu. Mungkin saya juga masih begitu ambisiusnya seperti sebelumnya. Mungkin saya hanya berpura-pura. Sering kali orang lebih merasa nyaman meyakini bahwa orang lain berpura-pura bersikap baik, atau sesungguhnya mereka memiliki maksud lain. Entahlah.

Ada banyak hal yang sederhana saja, sesederhana kehidupan Ernest dan Ethel yang ceria, kadang berlinang air mata, kadang penuh kekhawatiran, kadang penuh rasa syukur. Biasa saja.

Apakah hal yang biasa saja itu lantas tidak dalam dan tanpa makna? Saya kira berpikir demikian sama halnya menyatakan kesombongan. Anehnya, tidak ada determinasi tertentu yang dapat digunakan untuk menstandarisasi sebuah kehidupan. Proseslah yang paling nyata dibandingkan semuanya. Karena ia niscaya dan abadi keberadaannya. Terangkum kesemuanya dalam tiga hal saja; lahir, berproses, lalu mati. Sudah begitu saja mungkin.

Beberapa mencapai kemanusiaannya, beberapa bertahan menjadi pecundang, beberapa menolak untuk sekedar menjadi manusia, beberapa yang lain dibutakan hal-hal yang seharusnya hanya sebatas sarana, beberapa tidak tahu apa-apa, beberapa menerima saja segalanya, dan terus beberapa-beberapa yang lainnya. Dan sudahlah, malam telah semakin larut saja.

Untuk yang belum menonton, ini saya kasih linknya.

https://indoxxi.net/movie/temple-grandin-2010-subtitle-indonesia-pxe

wordsflow

Advertisements