etos kerja dan mekanisme janji

by nuzuli ziadatun ni'mah


Seorang pecundang adalah dia yang tidak mampu menepati janji, dan dia yang tidak berani berjanji.

Sebaris kalimat itu muncul entah dari mana, bahkan saya sendiri tidak dapat memahami dari mana datangnya. Mungkin memang terkadang ada hal yang muncul tiba-tiba, bahkan sejak di dalam pikiran.

Apa yang kemudian saya ingat adalah soal etos kerja saya selama ini. Saya mencoba mengingat sejak mula tentang bagaimana cara saya bekerja, dan apa yang membuat saya merasa kecewa terhadap diri sendiri, dan apa yang kemudian saya syukuri dari diri.

Etos kerja adalah istilah yang tidak saya akrabi sampai saya masuk kuliah. Itu pun tidak terjadi pada awal saya masuk kuliah, namun setelah sekian lama saya berada di lingkungan kuliah.

Etos kerja saya buruk. Amat sangat buruk. Sering kali mungkin saya menjelaskan bahwa saya anak yang bisa mengatur waktu, memastikan bahwa setiap saat saya akan tetap bisa mengejar deadline dengan hasil yang sama baiknya dengan orang lain. Pada kenyataannya, saya hanya mencoba memberi pembenaran atas hal-hal salah yang saya lakukan dalam bekerja.

Saya ingat seorang teman menegur saya dahulu kala, mungkin tahun 2011 kalau saya tidak salah ingat. Ketika itu saya sempat berkata bahwa saya akan menghadiri sebuah acara. Namun yang saya lakukan adalah menghadiri acara lain dengan teman saya. Demikian, dalam perjalanan pulang sang teman bertanya, mengapa saya tidak jadi menghadiri acara yang pertama. Tentu saja karena tidak mau disalahkan saya menjawab bahwa kawan saya yang lainnya tidak bersedia menemani.

Meski cerita itu mungkin tidak diingat oleh sang teman, sering kali setiap saya merasakan kekecewaan pada diri atas etos kerja yang buruk, yang terjadi adalah munculnya kembali memori ketika itu di dalam ingatan saya. Seolah saya menertawakan diri ketika itu, mengutuk diri bahwa meski saya sadar yang saya katakan tidaklah benar, pada akhirnya saya mengingkarinya dengan perkataan lain.

Oh, hidup ini penuh kepalsuan saya kira.

Beberapa kali saya kemudian merasa bahwa hidup saya memang penuh dengan kepalsuan. Entah tentang diri sendiri atau tentang yang lainnya.

Tapi itu soal yang lain lagi. Sedang yang ingin saya bahas adalah perihal etos kerja.

Jauh setelahnya, saya sering mengalami kekecewaan terhadap diri sendiri. Dan hal paling luar biasa adalah, tidak ada yang berubah dari diri saya kecuali terus menerus bekerja dengan etos kerja yang sama buruknya dengan sebelumnya. Berapa kali saya berakhir dengan diomeli pelanggan karena tidak memenuhi target pengerjaan barang. Berapa kali saya harus mempercepat ketikan karena deadline tugas kuliah. Atau berapa kali saya akhirnya menyerah karena tidak berhasil memenuhi deadline tertentu. Berkali-kali hal semacam itu menjadi keakraban harian saya.

Tapi saya lantas bertanya-tanya, apakah dengan demikian saya sama saja tidak bekerja dengan passion? Atau saya hanya tidak fokus saja? Atau sebetulnya memang begitulah cara kerja yang terbaik untuk saya?

Jawabannya masih belum saya temukan tentu saja. Ada banyak metode kerja yang bisa saya uji cobakan ke diri sendiri. Saya bisa meniru satu teman dan teman lainnya, saya bisa meniru berbagai manusia sukses di luar sana, atau kalau tidak ingin terlihat seperti pengikut, saya bisa mulai untuk mengevaluasi diri sendiri dan akhirnya menemukan kelemahan dan kekuatan saya sendiri.

Lagi-lagi, itu masih sebatas bisa jadi. Ada hal-hal yang tetap tidak membuat saya terdorong untuk memperbaiki etos kerja saya selama ini. Mungkin alam bawah sadar saya menyatakan bahwa ini adalah metode yang paling baik yang bisa saya adaptasi, dan tidak ada lagi yang akan lebih baik dari ini! Atau, saya hanya tidak mau memperbaiki etos kerja saja. Sesimpel itu.

Di balik etos kerja yang begitu menyebalkan itu, saya sering kali menjebakkan diri dalam janji-janji. Lagi-lagi ini soal waktu dan kualitas kerjaan.

Dalam janji, banyak sekali hal yang kita bicarakan, lantas kita sepakati. Banyak sekali kemudian yang muncul di dalam pemahaman satu sama lain, dan sangat mungkin ada perbedaan pemahaman di antara keduanya. Ekspektasi muncul di dalam janji. Demikian, maka janji menciptakan jarak antara diri dan realitas yang mungkin tercipta nantinya.

Janji menjadi sesuatu yang lain dari realitas itu sendiri.

Hemm, saya takut akan masa depan. Takut jika ada hal yang gagal saya pahami sampai tiba saatnya harus undur diri.

wordsflow

Advertisements