Laut

by nuzuli ziadatun ni'mah


Apa yang dijanjikan laut kecuali pulang?

Suatu kali saat kulihat laut menjulang lebih tinggi dari bukit-bukit kecil, aku bertanya dalam hati, “Mengapa laut yang di bawah itu tampak begitu tinggi di atas sana?” Lalu kau bilang itu horizon namanya.

Batas.

Apakah ia sungguh batas?

Ketika membaca tentang The Flat Earth Society, banyak hal yang mungkin menjadi perdebatan. Banyak yang nyinyir mengenai hal itu. Toh tapi banyak juga yang percaya. Masalahnya, manusia punya batas. Dan demikian, panca indera menjadi batas yang paling dasar sebelum akhirnya logika mampu mengubah batas itu menuju cakrawala yang jauh lebih luas lagi.

Bagaimana pun, tidak ada sesuatu hal yang sungguh dapat dipercaya sampai seseorang mengetahui sendiri bagaimana semua itu mewujud dan ada. Toh setelah mengetahui sendiri pun, belum tentu penglihatannya benar, pendengarannya benar, penafsirannya tepat, dan seterusnya.

Kalau begitu, mana yang bisa disebut sebagai kebenaran?

Entahlah. Setiap kali semakin mengawang-awang saja.

Begitu banyak, ah lebih dari itu, amat sangat banyak hal yang tidak bisa mewujud sebagaimana hal itu terwujud sebagaimana adanya. Yah, meski Heidegger sudah berbusa membicarakan Ada, tapi siapa yang peduli? Seseorang barangkali bahkan akan selalu bingung ketika mendeskripsikan dirinya sendiri. Padahal dia hidup di dalam wujud itu seumur hidupnya! Dan itu pun ia masih ragu.

Yang begitu bicara kebenaran di luar diri??

Tapi mungkin, karena kita adalah satu-satunya subjek yang tidak bisa mengamati diri sendiri, kita selalu butuh refleksi. Tapi toh setiap manusia berbeda. Demikian, refleksi tidak bisa selalu sempurna. Kita bertemu lagi dengan batas.

Batas pun ada banyak bentuknya ternyata. Seperti laut.

Yang membatasi yang darat dan air. Laut selalu mengundang untuk dipertanyakan. Apakah binatang laut merasakan laut sebagaimana kita merasakan udara? Atau berbeda sama sekali? Bagaimana memberi tanda pada laut? Bagaimana membatasi laut sementara air selalu bergerak? Ah, barangkali sama seperti kita yang tidak bisa membatasi udara, tapi bisa membatasi daratan. Mungkin di laut selalu ada tanda alam yang bisa menyatakan. Meski dalam.

Tapi di laut kita merasakan air. Di darat belum tentu kita merasakan udara.

Semua hal menjadi seolah tidak penting untuk dibicarakan, untuk diperjuangkan, untuk dijalani, untuk diharapkan, untuk direnungkan, untuk dipikirkan, untuk diperbaiki, dan untuk-untuk yang lainnya. Tapi sekelebat kemudian rasanya semua hal sepenting itu untuk diri sendiri, orang lain, dan barangkali untuk masa depan jika itu memang menjanjikan. Masih saja banyak kebingungan setelah sekian tahun berlalu.

Tapi saat melihat laut, takutku menjadi begitu nyata. Senyata itu untuk menyadari di mana kita berpijak di hari ini.

wordsflow

Advertisements