Jarak.

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya sempatkan menulis sebelum esok. Ini cerita sederhana tentang hidup saya belakangan ini.

Coba dengerin lagu Kaze no Machi e deh, lagunya bagus banget.

Semakin ke sini, semakin banyak hal yang saya bingungkan tentang dunia ini. Saya kehilangan perasaan saya akan semua hal agaknya, dan belum pernah saya merasa sehilang ini selama hidup saya.

Saya tidak nihilis saya kira. Tidak sejauh itu. Tapi rasa-rasanya saya semakin tidak tahu apapun. Semakin tahu semakin merasa tidak tahu. Semakin mendekati semakin merasa jauh. Semakin ingin paham malah semakin membingungkan. Tentang hal-hal di dunia ini. Tentang manusia-manusianya. Tentang permasalahan sosial dan lingkungan. Tentang hal-hal spiritual. Tentang apapun. Literally tentang apapun.

Saya tidak suka menyesali hal-hal yang saya lalui. Saya tidak suka merasa terbebani dengan banyak hal. Meski ketidaksukaan itu masih juga dibarengi dengan bayang-bayang masa lalu dan berbagai ‘seandainya’ atau ‘barangkali’. Itu menyebalkan.

Sejauh itu saya dari realitas. Seberjarak itu saya dari banyak hal.

Barangkali banyak manusia yang saya tahu cerita hidupnya, susah-senangnya, tawa-air matanya. Tapi begitu saja kali ini. Tidak ada perasaan. Tidak ada apa-apa.

Ketiadaan yang pekat. Ketiadaan yang dekat dan lekat. Ketiadaan yang meniadakan juga.

Tidak, saya sering meyakinkan diri bahwa saya hanya bingung. Amat sangat bingung hingga menyesakkan dan terasa menyebalkan. Saya tidak bisa paham bagaimana cara membiarkan semua hal berjalan tanpa prasangka. Barangkali beberapa orang berhasil, tapi saya melalui 25 tahun saya dalam kegagalan untuk menenangkan diri saya sendiri menghadapi hal-hal di masa depan yang tidak pernah saya tahu sampai saya alami.

Saya masih bersedih memang. Masih menangis dengan cara yang sama. Dan hanya perasaan itu yang bisa saya percaya karena di dalam kesedihan selalu tersimpan kedalaman dan pemahaman. Hanya menangislah hal terjujur yang bisa dirasakan manusia. Kesenangan, pengharapan, tawa, cinta, dengki, atau yang lain selain tangis, adalah hal-hal lain. Saya tak bisa menjelaskan, hanya bisa mempraktikkan hal-hal semacam itu.

Barangkali hilang adalah hal yang paling mengobati dari semua pilihan yang ada. Saya pun tidak tahu. Tidak mau berprasangka. Tidak mau memikirkan. Tidak mau menduga. Bahkan tidak mau mendoakan.

Apakah hanya menjalani hidup menjadikan hidup saya lebih rendah makna dan nilainya dibandingkan mereka yang terus optimis? Apakah hanya menjalani hidup meniadakan optimisme itu sendiri?

Tidak ada yang tahu bagaimana seseorang memikirkan suatu hal. Aku tidak tahu kamu. Saya tidak tahu mereka. Saya tidak tahu siapapun. Yang kita simpulkan hanyalah hal-hal yang kita lihat, yang tersampaikan, yang dibicarakan, yang dilalui, yang dirasakan. Tapi tidak pernah, dan tak akan pernah merangkum keseluruhan dari pikiran seseorang.

Saya paham, tidak semua hal di dunia ini harus saya pahami. Tidak semua harapan akan saya dapatkan. Tidak selamanya segala sesuatu indah dan berjalan lancar. Pun barangkali, tidak selamanya saya sehilang hari ini, atau kamu sebingung itu. Setiap orang menyatakan hal yang mungkin tidak dia pikirkan. Barangkali yang dipikirkan justru yang berkebalikan. Atau di satu pihak ada yang sejujur itu tentang pikirannya. Saya tidak tahu. Tidak akan pernah tahu.

Dan kerumitan itu semakin dipikirkan semakin memuakkan. Semakin dipahami semakin menyesakkan. Semakin dibiarkan semakin menghilangkan.

Lagi-lagi, apakah menjalani hidup saja meniadakan makna dan nilai hidup itu sendiri?

wordsflow

Advertisements