Mata.

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada tangis yang tetap tidak bisa dibendung, meski diam-diam disembunyikan oleh senyum. Ada tangis yang tidak butuh alasan untuk menitik, hanya butuh hati yang sungguh untuk merasa. Ada tangis yang tetap tidak akan mewujud meski begitu ingin menyelesaikannya.

Atau bahkan, ada tangis yang selalu tertunda hingga waktunya tiba.

Di dalam hari-hari yang panjang dan tidak pernah selesai, terselip segudang pertanyaan yang samar-samar menggaung di dalam hati. Tentang masa lalu yang jauh, masa depan yang sama jauhnya, tentang pikiran yang juga begitu jauh dari saat ini.

Ada ketidakmengertian yang selalu bertumbuh di samping harapan yang sama tingginya. Ada hasrat yang masih menggumam lembut di samping ketidakpedulian. Selalu ada hal-hal kontradiktif yang mengiringi setiap langkah dan pikiran, membuat segalanya tidak sekedar demikian.

Sayang, di suatu waktu ada hati yang tidak siap dan goyah atas pendirian. Tiada lain, yang ada di dalam diri adalah hati yang tidak sekeras batu cadas. Ia bersifat sebagaimana semua sifat yang kita lihat di dunia. Begitulah cara diri merangkum kosmos di dalam hatinya masing-masing.

Demikian, di antara sela kalimat yang tak pernah selesai itu, kubiarkan ada tangis yang mengalir tenang dan pelan.

(antara nyata dan metafora, mana yang kau yakin benar adanya?)

wordsflow

Advertisements