saujana

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada sebuah lagu yang selalu saya putar setiap kali menulis. Namun bahkan lagu ini tidak pernah saya hafalkan liriknya, saya hanya suka aransemen musiknya, yang dalam, yang tidak juga membosankan untuk diputar. Tidak ada judul, karena saya merekamnya dari penampilan salah satu seniman Jagongan Wagen.

So far.

Tapi sejauh apa?

Sore ini ketika berlari di landasan pesawat, saya menyadari betapa lurus jalan itu. Jalan paling lurus yang pernah saya lihat dan saya gunakan untuk berlari. Namun yang aneh, jalan itu memiliki ujung. Satu-satunya jalan lurus yang memiliki ujung, sementara semua jalan di dunia ini bersambungan membentuk sebuah jaringan.

Kenyataan hanya sejauh mata memandang. Saujana mereka bilang.

Sementara yang sangat jauh di sana adalah imajinasi tidak terkatakan dan tidak mampu diduga tanpa diberitakan melalui cerita. Tidak jauh berbeda dengan mimpi malam tadi, atau kemarin, atau mungkin malam nanti.

Jalan selurus landasan sangat mudah untuk dilalui, begitu mulus, begitu jauh, begitu lurus. Tapi sesaat saja yang saya butuhkan untuk mengawali, menduga-duga, lalu membuang napas di akhir kilometernya. Sementara semua jalan lain memiliki lebih banyak pilihan. Untuk memilih satu dari perempatan, untuk memilih berbelok di pertigaan, atau lurus saja di setiap simpangan. Kadang pula harus turut saja berputar, atau berbelok menghindar.

Waktu terasa cukup lambat. Namun demikian, ada lebih banyak napas yang bisa dirasakan di setiap tarikannya. Ada lebih banyak hentak yang bisa dirasakan di setiap langkahnya. Ada lebih banyak tetes yang bisa dirasakan jatuhnya. Lebih banyak detik yang terhitung setiap harinya. Lebih banyak kita di setiap pembaringan dan istirahatnya.

Dibanding malam-malam sebelumnya, hanya malam ini saya bisa menyisihkan waktu untuk mengetik kembali. Seolah begitu lama saya terpisah dari dunia tulisan ini. Atau seolah begitu jauh saya dari hal-hal yang terbentang sebagai saujana sebelumnya.

Indah sekali ketika menyadari keberadaan dunia sekali lagi. Ketika lelah dan mata menemukan bahwa ada sesuatu yang tidak pernah sungguh saya nikmati sebelumnya.

Terkadang ada denyut yang mampir barang dua atau tiga detik, menggetarkan jiwa atau bahkan menggenangi mata. Sekejab saja. Saya akhirnya paham, yang begitu jujur itu memang menyakitkan. Barangkali karena hal itulah Voltaire lebih suka menulis satire ketimbang dongeng Putri Tidur atau Cinderella. Barangkali, memang begitu manusia tersistem dalam dirinya.

Ada hal yang menarik dari mimpi. Kadang ada hal-hal yang coba ditentang oleh kesadaran. Tapi saya selalu percaya bahwa mimpi mampu menyatakan perasaan diri. Darinya saya belajar untuk menghargai diri, untuk memahami diri, untuk memeluk diri lebih erat, untuk mengenal diri lebih dalam.

Seimajinatif itu saya menjalani hari-hari. Senyata itu saya merasakan diri. Sejauh itu hal-hal berkecamuk tiada henti.

Barangkali esok, yang saya tahu hanyalah waktu dan jarak. Berbeda mungkin, namun keduanya dapat dideskripsikan dengan satu kata yang sama; so far.

Seperti saujana. Indah.

wordsflow

Advertisements