nothing’s more important than money

by nuzuli ziadatun ni'mah


I am not in a really good mood, but somehow after for days discussing about this, and analyzed something that might related to this, read some stories on social media, also attached my own problem and opinion about this thing, let’s doubt ourselves and to the bigger society nowadays.

Some of my research regarding to waste practice through waste bank movement found out some precedents about how people dealed with our current environmental problems. Everything’s good, people encourage another community to give their effort to do the same, the government, academics, people overseas give recognition to some movement but at the end we both ask the same question; does finally everything we do is all about gaining more money, at the end?

This is very interesting for me because I feel the same. Somehow, what I do, what I choose, what I’m into, it directly or indirectly because of money so that I could continue life with no doubt.

I’ll make this quick because I really need some sleep.

I cannot say that we all do, but most of us really money oriented today. Oke pakai bahasa Indonesia aja biar gampang.

Barangkali ini bukan asumsi yang asing buat kita bersama, udah sering disebut dimana-mana kalau sekarang tuh apa-apa harta, tahta, dan Raisa (kalo saya sih Velove Vexia). Dan selama bertahun-tahun, saya masih menanamkan keyakinan bahwa ada yang nggak begitu kok, yang hidupnya biasa saja dan cuma ingin hidup harmonis dengan apapun yang disediakan, atau well, ‘rejeki mah gak akan kemana’ jadi nggak perlu pelit sama orang, dan seterusnya.

Tapi kemudian saya berpetualang ke timur jauh sana, yang saya temui, orang-orang yang serupa, meskipun kadang dengan narasi yang jauh lebih panjang, dan jalan yang lebih berliku, di tempat-tempat lain juga tidak jauh berbeda meskipun dengan narasi yang jauh lebih halus dan segala yang menyelimutinya. Di waktu-waktu tertentu hal-hal ini menutupi kepercayaan saya pada niat baik orang lain dan cenderung membuat saya tetap merasa sangsi meskipun hanya sebagai pendamping dari upaya saya memahami narasi yang disampaikan lawan bicara.

Bukan tidak jarang saya dikejutkan dengan orang yang sungguh-sungguh apa adanya, tanpa basa basi dan tulus begitu saja. Tapi itu keberuntungan saja, hanya segelintir orang. Pun saya sering curiga itu dilakukan dengan asas ‘Allah akan mengembalikan rejeki kita berkali-kali lipat dengan caraNya sendiri’.

Well, again, saya berkawan cukup baik dengan rasa sangsi.

Tapi ibukota menampar saya keras sekali sampai-sampai hal yang sebelumnya hanya saya letakkan sebagai kecurigaan kini sungguh nampak terpampang di depan mata. Semua hal yang sifatnya money oriented dengan segala bentuk sindiran dan diskusinya dipaparkan gamblang dalam keseriusan atau kejenakaan. Sering merasa aneh ketika orang bangga dengan bunga hasil menanam saham, tapi sungguh bagi saya, hal itu masih tampak seperti permainan angka, tidak lebih meskipun nominalnya toh tetap bisa dipakai buat jajan.

Saya sendiri memandang uang dengan cara yang sedikit berbeda barangkali. Sistem perbankan hari ini tak ubahnya wahana permainan dimana kita semua pion-pion kroco yang menjadi garda depan permainan ini. Keuntungan yang kita dapat dari jual-beli saham atau investasi apapun hanya persoalanan itung-itungan sederhana. Tapi tetap saja orang-orang yang paling bekerja keras untuk betul-betul membuat angka itu berharga hanyalah orang-orang yang mengekstraksi hasil bumi, lalu selanjutnya yang memproduksi dan mengolah. Tanpa mereka, angka itu tidak berharga. Tengoklah Venezuela kalau belum yakin.

Jadi, dibandingkan menempatkan uang sebagai tujuan, saya kira dia harus tetap ditempatkan sebagai perantara, penengah, media, alat, untuk mendapatkan sumber daya yang akan menjamin kelangsungan hidup, mental, dan intelektual kita sebagai manusia. Karena tidak lahir dengan kekayaan sumber daya itulah kita membutuhkan uang untuk mendekatkan diri ke sumber daya itu.

Perkaranya, kini orang mengubah posisinya dan cenderung menyerahkan sumber daya untuk mendapatkan uang. Dan ini juga terkait intelektualitas dan moral. Kan bego.

Ah sudahlah, saya mau tidur dulu. Atas ketidakjelasan narasi dan kesulitan memahami maksud, saya mon maap.

wordsflow