Menjadi Jakarta

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sekitar 12 tahun yang lalu di bulan ini, ketika teman-teman saya masih sibuk menyiapkan berkas untuk pendaftaran SMA, saya mendapat telpon entah dari siapa mengabarkan bahwa ada kemungkinan saya akan menerima beasiswa untuk masuk suatu SMA yang namanya saja belum pernah saya dengar. Jauh sebelum itu, sekitar 2 tahun sebelumnya, saya menemukan satu komik yang sampai sekarang saya anggap titik mula dari perjalanan ini. Namanya QED, saya pernah menceritakannya di sini, tapi sudah lupa entah kapan. Saya juga ingat langkah berani kedua yang saya lakukan adalah mengisi soal logika matematika di kedaulatan rakyat yang ditempel di mading SMP setiap hari Kamis. Suatu hari tetiba kedaulatan rakyat membuat rubrik itu, dan alih-alih menyajikan tts, mereka memberikan soal matematika. Soal edisi pertama itu yang mengawali banyak hal setelahnya. Setiap kali mendatangi TU untuk mengecek surat dari sahabat pena saya aka Anis, saya selalu menyempatkan menengok pojok kedaulatan rakyat dan mencatat soal yang ada di sana untuk dipecahkan kemudian.

Saya pikir kejadian-kejadian itu sangatlah natural pada masanya. Saya tidak pernah betul-betul memikirkan saya akan ke mana, dengan siapa, bagaimana caranya, karena praktis yang saya lakukan setiap hari adalah berkhayal dari semua komik dan buku bacaan yang saya baca. Saya juga ingat pernah membaca Karmila dan salah satu karya Mira W di usia 13 tahun. Ketika itu saya bahkan tidak terlalu memikirkan dua bacaan itu sampai ditanya oleh guru SMA saya.

SMA, sampailah saya pada khayalan saya untuk tinggal jauh dari Jogja masuk asrama, persis seperti sinetron Cinderella Boy yang waktu itu baru saja tamat tayang. Dari seseorang yang melihat itu sebagai orang ketiga, sudut pandang saya berubah menjadi sudut pandang orang pertama. Praktis setelah itu saya tidak lagi hanya melihat atau membayangkan saja, namun juga menjalani hal-hal yang dulu hanya saya khayalkan.

Sayangnya, banyak hal yang luput dari pandangan ketika sudut pandang kita berubah menjadi orang pertama. Percayalah orang ketiga memang selalu serba tahu, persis seperti di novel-novel atau kameramen dalam film-film yang diputar di bioskop. Setelah sebelumnya tugasnya hanya melihat dan mengamati, sesekali memberi kritik, saya berubah posisi menjadi orang yang harus menjalaninya, lantas ditonton oleh orang lain. Paling dekat, paling lekat tatapannya adalah keluarga.

Ada banyak yang berubah dari Jakarta setelah 9 tahun saya tinggalkan. Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di kota ini, saya pikir saya tidak akan pernah bisa menikmati kota ini, karena terlalu besar, terlalu panas, terlalu ‘kasar’ untuk saya. Saya di-shock therapy oleh guru-guru saya, juga oleh teman-teman saya, pertama kali saya menyadari begitulah rasanya menjadi minoritas.

Singkat cerita, setelah memantapkan diri untuk tidak lagi merebahkan badan di kota ini, nyatanya saya kembali. Sembari menapaki tangga stasiun di pagi buta, saya bertanya-tanya soal apa yang sedang saya jalani atau saya cari di kota ini. Manakala saya juga ternyata sulit menjawabnya, saya justru merasa ingin balik badan dan pulang ke Jogja, segera. Tapi saya akhirnya tetap keluar stasiun, memesan ojek online lantas mengarungi jalanan lengang Jakarta.

Menjadi Jakarta, sebetulnya tidak jauh berbeda dengan menjadi manusia Jogja. Siapa yang bilang saya tidak shock waktu pertama kali kembali ke Jogja? Teman-teman saya tentu berbeda, lingkungan saya baru, dan ternyata bukan kota yang menentukan bentuk manusia di dalamnya. Kesimpulan ini saya dapatkan jauh setelah masa tinggal saya di Jogja. Maka saya kemudian mencoba melihat bahwa manusia di Jakarta juga tidak ditentukan oleh kota ini. Saya hanya perlu mencari simpul-simpul yang sesuai dengan benang saya, sedangkan jalur lain agaknya harus saya abaikan sama sekali.

Dan di sinilah saya saat ini, duduk mengetik dengan tenang. Saya sampai di satu warung kopi milik seorang bisu. Untuk memesan kopi kamu harus tahu cara memesan sederhana, bisa membedakan bagaimana cara menyampaikan dingin dan panas. Di samping saya ada lima orang yang sedang bercerita seru dengan bahasa isyarat. Tidak ada keributan yang tidak perlu, tidak ada keramaian yang terlalu riuh. Saya anggap diri saya sedang mengumpulkan simpul ke-Jogja-an saya.

Sama seperti kebanyakan orang, saya sangat skeptis ketika tahu bahwa Jakarta akan menjadi tempat hidup saya untuk setidaknya satu dekade ke depan. Tapi kota ini, sama seperti kebanyakan kota lainnya, dicintai sekaligus dibenci, diharapkan sekaligus dinafikkan. Skeptisme ini bukan hanya melekat pada kotanya, tapi juga pada orang-orangnya. Dengan saya menjadi bagian darinya, saya juga jadi manusia yang terlibat di dalam love-hate relationship ini.

Tapi bersama kota ini saya juga dalam proses menjadi-nya. Saya cukup beruntung karena saya merasa cukup tahu kemana saya harus pergi. Ada beberapa yang merasa bahwa ‘jebakan’ ini tidak ada obatnya, lantas membiarkan dirinya terseret oleh bagian skeptis dari kota. Saya bahkan tidak beringinan untuk turut membawa mereka serta dalam upaya saya sendiri sementara saya sendiri kadang masih sulit menangani hambatannya. Saya cukup egois soal ini, dan saya tidak akan meminta maaf untuk itu.

Akhirnya, saya begitu mencintai transportasi umum Jakarta, memberi kesempatan saya untuk terus berpikir tanpa henti. Rasanya hampir mirip dengan perasaan saat mengendarai motor di Jogja, yang barangkali, beberapa tahun mendatang saya akan mulai lupa cara mengendarainya.

wordsflow