I am constantly inspired by people who do musics

by nuzuli ziadatun ni'mah


Hari ini kantor libur, dan karenanya saya mendaftar beberapa hal yang harus saya lakukan sebagai kompensasi atas waktu luang yang saya dapat di tengah kekacauan Jakarta yang yah, sebetulnya tidak saya rasakan nyata begitu dekat. Hanya sirine yang terdengar berseliweran di jalan belakang kosan yang tepat bersebelahan dengan Kali Ciliwung. Lalu sudah dari kemarin pagi ada pengalihan arus dan pengumuman perubahan lalin untuk jalur-jalur rawan angkutan umum. Sungguh sebuah kemudahan hidup di jaman google maps dan segala perangkat pendukung informasi yang berfungsi real time.

Eniwei, saya sudah mencontreng empat dari enam agenda hari libur ini. Berhubung agenda yang ke enam agaknya tidak akan terlaksana, maka saya berusaha merampungkan agenda ke 5 demi tercapainya persentase keberhasilan yang lebih tinggi, hehe.

Topik ini tentang Fajar Merah, dan secara luas tentang orang-orang yang bermusik.

Kemarin lalu saya menjumpai poster tentang penayangan film dokumenter Nyanyian Akar Rumput. Sempat salah sangka kalau itu akan menceritakan Wiji Thukul, ternyata film itu lebih melihat anaknya sebagai seorang musisi, juga sebagai seorang anak. To be honest, saya sungguh-sungguh tidak kenal dan tidak tahu menahu soal Wiji Thukul. Dibandingkan kawan-kawan saya baik yang mawas politik dan sejarah, juga narasi-narasi perjuangan, pembaca buku, atau bahkan pecinta film Istirahatlah Kata-Kata yang jauh lebih kenal siapa Wiji Thukul, saya hanya sebatas tahu kalau Wiji Thukul hilang sejak kerusuhan 1998. Sementara kawan-kawan saya sudah dengan fasihnya menyebut nama ini di beberapa diskusi, juga mengutip tulisan atau puisinya, saya cuma bisa mengingat cover bukunya yang berwarna kuning, kerap saya lihat di toko buku.

Maka, saya anggap upaya saya menonton film ini sebagai langkah untuk mencari tahu siapa orang ini. Barangkali dengan menontonnya empati dan kepedulian saya akan meningkat.

Saya sendiri baru dua kali menonton Fajar Merah manggung saat masih di Jogja. Saya suka gubahan musiknya. Tapi sebagaimana juga dirasakan oleh ibunya, saya merasa musik Fajar tidak menyuarakan heroisme, tapi cenderung lebih romantis. Dia cenderung sedang melakukan pencarian, dan mengekspresikan emosinya. Dari beberapa rekaman panggungnya, aksi teatrikalnya mengekspresikan emosinya sendiri, apapun itu bentuknya. Barangkali yang ia rasakan jauh lebih rumit dari yang terlihat.

Ketika menonton film ini, saya kembali tersadar kalau kita lebih sering sok tahu tentang hal-hal yang dirasakan seseorang, dipikirkan seseorang, dipahami seseorang. Meski cara saya menulis ini juga penuh dengan asumsi, tapi saya juga menyadari bahwa yang saya lihat bukan ‘penerus’ Wiji Thukul, tapi sebatas anak laki-laki yang juga sedang mencari dirinya sendiri.

Musiknya romantis, dan cenderung tidak penuh kemarahan. Ia mengingatkan lewat larik, dan mencoba menyentuh lewat nada, bukan sebaliknya. Aksi panggungnya adalah ungkapan, entah ungkapan jenis apa, tapi selalu ada yang berbeda, ada proses, ada pendalaman.

Barangkali hal-hal ini yang begitu saya sukai dari pemusik. Emosi-emosinya tersimpan, terbaca, tersampaikan lewat nada, irama, dan lirik yang mereka gubah. Aksi panggungnya adalah ekspresi ayas perasaan yang melekat saat itu di tempat itu, atau bisa juga merupakan kumpulan memori-memori yang lalu. Dan sangat menarik untuk menyadari bahwa aksi panggung cenderung menyimpan kejutan, kontekstual, dan begitu ‘sementara’.

Salah satu hal yang secara pribadi membuat Fajar Merah menarik bagi saya adalah tatapan matanya. Bukan hanya dia, semua orang di dunia ini memiliki tatapan mata yang menarik hati saya. Semua orang menggambarkan ‘ketelanjangan’ dan ‘teka-teki’ lewat tatapan matanya. Manusia selalu menarik, selalu membuat saya tertarik, sekaligus kalut dan takut pada saat yang persis sama.

Well, jenis manusia yang jauh lebih menarik adalah mereka yang bermusik. Ah bukan, yang melakukan hal-hal paling mereka sukai dengan kesungguhan. Cara mereka menatap sesuatu bisa membuat saya tertampar, sekaligus tersinggung dan iri. Somehow.

wordsflow