Pekerjaan.

by nuzuli ziadatun ni'mah


Baiklah, mari memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan “apa yang menyebabkan seseorang bertahan pada pekerjaannya?”

Sebetulnya ini hanya sebuah cerita. Lantaran tadi siang saya baru menjalani ujian negara (dalam arti yang sesungguhnya) sementara partner kerja saya sedang setting stand untuk bazaar esok lusa, saya jadi merasa perlu menanyakan pertanyaan tersebut ke diri saya sendiri.

Begini. Selama saya hidup, tidak ada hal yang cukup membanggakan untuk saya sebut sebagai sebuah goal. Beberapa di antaranya hanyalah produk dari ambisi atau memenuhi rasa haus saya akan kompetisi. Alhasil, hal-hal tersebut tidak memiliki keterikatan yang cukup kuat dengan saya sebagai subjek pewujudnya, atau inang dari ide dan upaya yang telah saya lakukan.

Tapi siang ini ketika saya sedang memantau pekerjaan anak-anak, saya menyadari bahwa barangkali, upaya saya membangun, menghidupi dan mempertahankan SketchandPapers adalah betul-betul life goal. Saat itu pula lah saya berjanji untuk membuat dan menuntaskan tulisan ini malam ini juga.

Pertama-tama, apa yang saya maksud dengan goal?

Barangkali ini klise, tapi jawaban yang mungkin paling relevan adalah soal kepuasan personal atas usaha dan upaya apapun yang kamu curahkan ke hal spesifik ini. Apakah ini menjelaskan passion? Mungkin iya, dan mungkin tidak.

Saya pernah menceritakan sedikit tentang usaha saya membuat buku. Tapi sejujurnya, cita-cita saya sejak dulu adalah membuat brand/merk yang merepresentasikan diri saya. Saya ingin menciptakan sebuah nama baru yang mewakili wujud saya yang asli karena barangkali, saya tidak suka muncul ke permukaan.

Saya telah mengupayakan beberapa jalan untuk mewujudkan cita-cita terpendam itu. Saya memiliki nama pena ketika pertama kali menulis puisi, novel, dan cerpen di waktu SD. Nama itu berubah permanen hingga saya SMA dan saya singkirkan dari perjalanan hidup saya begitu masuk kuliah. Nama SketchandPapers sendiri sudah ingin saya gunakan untuk menjual karya sketsa saya saat di bangku terakhir masa SMA, namun baru benar-benar saya gunakan di akhir tahun 2014.

Menariknya, saya sendiri berambisi menjadi wiraswasta karena kemuakan saya secara personal ketika masih SD. Dengan profesi bapak ibu saya, hampir dipastikan saya tidak akan pernah mendapat beasiswa, dan begitu terganggu ketika orang tua semua teman sekelas adalah wiraswasta, menjadikan saya satu-satunya orang yang tidak paham topik itu. Saya sudah belajar jualan sejak TK, tapi saya bahkan baru mengingat ini kembali belum lama. Dan selama coba-coba berdagang, bahkan sekarang, ternyata hal-hal yang saya lakukan bertujuan untuk personal branding, dan tidak lebih condong pada profit usaha.

SketchandPapers mengajarkan sangat banyak hal pada saya. Mengajarkan banyak tahapan, proses, perbaikan, tantangan, kritikan tajam, dan seterusnya. Ketika memulainya akhir tahun 2014, saya bahkan tidak yakin dengan apa yang saya lakukan. Sampai akhirnya saya mendapat dukungan dari banyak orang. Semakin luas jaringan konsumen, semakin beragam keinginan mereka. Saya mencoba mewujudkan kesemuanya dengan proses yang tidak mudah.

Di samping pengembangan usaha itu, kesibukan berpikir dan mengerjakannya membantu saya menjalani hidup. Mengalihkan perhatian saya pada hal-hal selain pokok yang saya pikirkan secara mendalam. Saya punya waktu untuk berkontemplasi, melakukan perulangan, menjadi perfeksionis, kelelahan, kesal dengan deadline, dengan konsumen, marah-marah, berhenti berusaha perfeksionis, mulai membangun toleransi pada karya, menenangkan saya ketika menangis, dan banyak hal lain yang menemani proses saya bersama SketchandPapers. Saya ingat bahkan dia menyelamatkan saya pada masa-masa paling tidak masuk akal sebagai pegawai, usaha ini tetep berhasil saya jalankan.

Salah satu hal yang paling saya takutkan adalah popularitas. Saya memiliki batas tidak terlihat dalam mengupayakan popularitas usaha saya. Ketika batas itu hampir jebol, saya menariknya kembali ke dalam. Bukan karena tidak ingin berkembang, tapi saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan mantan boss saya; menghancurkan usaha sendiri karena gegabah dan salah perhitungan.

Maka ketika bulan Januari saya harus melepas keterikatan saya dengan brand ini, saya merasa sebagian pegangan hidup saya terambil. Saya pun tidak rela. Barangkali karena sejak awal saya tidak pernah ingin membagi SketchandPapers dengan orang lain. Dia adalah representasi saya, dan tidak boleh ada orang lain di sana. Pada buku-buku inilah saya melampiaskan perasaan-perasaan saya secara nyata. Senang, tenang, marah, berurai air mata, putus asa, bersemangat, kecewa, cinta, dan lain sebagainya mewujud pada interaksi yang saya bangun dengan buku-buku itu. Bagian yang tidak kalah menyenangkan adalah respon setiap orang ketika menerima barang kiriman. Senyata itu memang. Bahkan hampir-hampir dia menjadi substitusi dari lingkungan sosial saya.

Barangkali saya sedikit berlebihan karena emosional. Tapi sungguh, meskipun SketchandPapers bukanlah manusia, dia tetap subjek dengan kompleksitasnya sendiri. Dialah yang menyelamatkan ‘hidup’ saya selama 5 tahun belakangan.

Dan dalam kesadaran ini, saya menjadi semakin rindu Jogja. Begitu ingin naik kereta ke sana lantas tak kembali lagi ke kota ini.

Tapi lalu ada hal kedua.

Saya sadar saya tidak cocok bekerja dalam tim. Selama 5 bulan terakhir saya bahkan mengalami banyak kesulitan. Tapi pekerjaan ini membantu saya mengembangkan usaha. Saya yang sebelumnya tidak mampu memberi kepercayaan pada orang lain, dan was-was akan kemungkinan melakukan kesalahan seperti bos saya sebelumnya akhirnya memberanikan diri mencari partner. Lalu proses yang lain, dan yang lainnya lagi.

Maka, setelah selama 4 tahun tidak pernah berani bermimpi untuk masuk ke event sebesar FKY, akhirnya tahun ini kami berhasil mencapainya. Lagi-lagi saya tidak mau memikirkan profit karena itu melelahkan. Menghitung sana sini dan sebagainya lantas berakhir memberatkan partner dalam mengupayakan target. Saya hanya senang—kesenangan murni—karena bahkan dalam jarak sejauh ini saya tidak kehilangan usaha yang sudah susah payah saya bangun. Barangkali satu-satunya hal yang betul-betul bisa saya sebut sebagai ‘milik’ hanya si brand ini. Sisanya bukan. Bahkan kadang saya menganggap dia betul-betul subjek tunggal seperti kita, cermin saya.

Dan SketchandPapers juga yang membuat saya setiap hari bisa mengerjakan pekerjaan lebih cepat, datang lebih awal, untuk menyediakan waktu luang yang lebih banyak agar saya bisa memantau dari jauh dan membuat rencana akhir pekan untuknya.

Entah apa yang akan terjadi pada saya lewat pekerjaan baru ini. Sebagian kawan saya masih suka mengangkatnya untuk topik lawakan. Kadang saya hampir tersinggung, atau kesal karena satu dan lain hal. Setidaknya, orang-orang mendorong saya untuk mencoba memahami dan mengerti hal-hal di permukaan atau di dasar palung tentang pekerjaan ini. Saya juga mulai berpikir untuk selalu siap pada perubahan-perubahan mendadak nantinya. Saya pikir, satu-satunya yang cukup menyenangkan untuk diingat adalah SketchandPapers akan selalu menjadi tempat saya pulang dan bergantung, apapun nanti yang terjadi.

wordsflow