Menyoal Cinta

by nuzuli ziadatun ni'mah


Barangkali menjadi relevan kembali untuk membicarakan cinta. Terlepas dari apa yang sudah, sedang, dan akan saya alami terkait topik ini, membicarakan cinta sudah menjadi hal yang paling menarik di abad ini. Segala isu di luar itu kalah dan hampir tidak punya kekuatan untuk melawan popularitas topik percintaan di masa kini. Sebut saja isu-isu penting nasional dan internasional, misalnya soal sampah, pemanasan global, perburuan satwa, berkurangnya tutupan hutan, dst. Barangkali pesaing topik ini cuman abang-abang boyband Korea, skinker, sama perkucing-anjingan.

Okai ini lebay sih, bisa diabaikan, hahaha.

Again, membicarakan cinta menjadi relevan karena hampir setiap orang di dunia ini (saya katakan hampir karena selalu ada yang tidak), pernah mengalami pasang surut kehidupan karena percintaan. Perkembangan hidup kita, berisikan cinta di sepanjang perjalanannya, menempatkan kita menjadi objek, penonton, subjek, dan barangkali penasihat. Begitu banyak meme, percakapan virtual, and even like what the one said to me, “and other lies you can tell to yourself.”

Pembicaraan mengenai ini menjadi menarik kembali karena saya lagi-lagi masih menemukan relevansinya dengan hidup saya sendiri, dan apa yang saya pelajari dari sekitaran saya.

Seorang senior menyebutkan bahwa melalui pengamatannya,

Tentang nikah dan berprestasi: semakin banyak ketemu orang ‘berprestasi’, polanya justru kebanyakan sudah ‘menikah’/punya hubungan jangka panjang. Semacam konsekuensi alamiah dari kemampuan berkomitmen dan kedewasaan emosional, yang biasanya berkorelasi positif dengan pencapaian.

(Kausalitasnya belum konklusif tapi ya. Misal menurut satu sisi mungkin support moral partner menjaga ‘emotional hygiene’ sehingga lebih produktif dan fokus. Atau sebaliknya, prestasi leads to a certain socio-economic status that helps you find partner menurut pendapat lain.)

Sebetulnya jika dimaknai barangkali sudah tidak perlu ada penjelasan tambahan tentang pernyataan di atas. Tapi kalau saya boleh menggarisbawahi pernyataan ini, ada beberapa kata kunci yang bisa mengawali pembicaraan mengenai hal ini.

Yang paling menarik adalah penyebutan tentang kemampuan berkomitmen dan kedewasaan emosional.

Barangkali klise saja, dan tidak ada yang mengejutkan dari hal ini. Komitmen menarik dibicarakan karena sejauh yang saya lihat dari lingkungan sekitar, ada perubahan dalam diri seseorang ketika kita sudah berani mengambil komitmen tentang sesuatu. Tapi pertanyaannya, yang bagaimana yang bisa disebut sebagai komitmen. Kadang kita bias saja menyebut sesuatu sebagai sebuah komitmen karena sudah diputuskan, padahal kita semua, setidaknya sekali pernah terjebak pada salah kaprah pemahaman atas komitmen.

Kenapa komitmen dan kedewasaan emosional perlu disandingkan, karena keduanya memiliki hubungan kausalitas, atau jika boleh saya katakan bahwa kedewasaan emosional membawa kita pada hal-hal semacam komitmen, in their real meaning. Bisa jadi, itu juga yang menyebabkan komitmen tidak disebut dalam kata dasarnya namun sebagai sebuah ‘memampuan berkomitmen’. But there, butuh kedewasaan emosional agar kita mampu melakukannya.

Menilik ke kehidupan personal saya berkaitan dengan ini, ada beberapa tahapan hidup yang saya putuskan dalam kekalutan, kemarahan, atau sekelumit dendam. Gejolaknya memang tidak cukup besar, tapi pada titik tertentu mengguncang stabilitas emosional harian saya di lingkungan baru. Membuat saya mempertanyakan kembali apakah saya kurang bersungguh-sungguh dalam mengasah kedewasaan emosional saya. Komitmen saya tidak berjalan mulus karena saya mengkhianatinya dan lebih memilih mengikuti emosi saya.

Ada banyak teman-teman saya yang memiliki kedewasaan emosial sejak saya masih berada di titik paling arogan. Mereka yang kemudian membuat saya sadar ada yang salah dengan diri saya dan karenanya saya menggali-gali seorang diri (meski akhirnya meminta bantuan) untuk menemukan bongkahan-bongkahan kebebalan lantas mencoba melihatnya dari segala sudut.

Saya pikir, titik moksanya manusia dalam menjalani kefanaan ada pada kedewasaan emosionalnya. (anjay nih ngomong apa sih) Bukan berarti harus selalu menjadi positif, atau menjadi protagonis dalam setiap kesempatan. Mendewasa menurut saya mungkin lebih dekat dengan kesadaran (being aware) atas diri. Tahu kapan berbahagia, kapan menangis atau kapan menghentikannya, menyadari setiap hal yang kita rasakan. Olah rasa mereka menyebutnya. Tapi yah, saya bahkan tidak berani mengira-ira kapan saya bakal lulus dalam menjalani tahap pembelajaran ini.

Lalu korelasinya dengan mencintai apa? Karena mencintai adalah komitmen, dimana dibutuhkan kedewasaan emosional untuk membuatnya menjadi benar.

Sempat terpikir oleh saya bahwa mencintai saja ternyata tidak cukup. Manusia membutuhkan ‘imbalan’ atas cinta itu dengan dicintai dengan sama besar. Kadang tidak bersyarat, tapi saya sendiri menyadari bahwa saya menetapkan standar-standar tertentu. Apa sebab saya bisa tahu? Karena pada satu titik saya merasa tidak adil bahwa saya tidak dicintai sebesar yang saya kira saya berikan ke orang lain. Tapi pemikiran semacam ini pun perlu saya ragukan kebenarannya karena praktis selama 27 tahun hidup saya, saya tidak pernah mencintai dengan benar. Saya curiga bahwa saya hanya merasa mencintai seseorang alih-alih betul-betul melakukannya.

Dan barangkali benar bukan seperti itu. Ketika seseorang mencapai kedewasaan emosional, dia akan tahu kapan bertahan dan kapan melepaskan. Dia mengerti komitmen semacam apa yang sebaiknya diambil. Entah kenapa saya yakin bahwa kedewasaan emosional lah yang menjamin berjalannya komitmen, dan bukan sebaliknya.

Tapi yah, saya kurang tahu sampai di mana kah saya saat ini. Pun saya kadang masih terjerumus ke dalam perasaan di dalam diri dan sering sukar untuk melawannya. Saking saya harus memetakan berbagai badai emosional yang saya rasakan, kadang saya menulis buku harian dengan berderai air mata, kehilangan jam-jam istirahat karena meladeni keinginan untuk menangis saat itu juga, atau sengaja mencari film yang memancing emosi-emosi tertentu. So silly but it helped me to track back my emotions.

Sebagaimana yang saya sebutkan, tulisan ini saya buat karena terpancing dengan pernyataan di atas. Mana mungkin orang yang tidak bisa melakukan satu hal dengan benar berani-beraninya menulis hal semacam ini? Hehehe. Tapi justru dengan alasan yang sama, saya mencoba membenahi apa yang salah dari nalar dan kemampuan saya dalam merasa.

Meskipun ada beberapa prinsip yang coba saya jalani, saya juga menyadari bahwa sebebal-bebalnya manusia, kita selalu butuh orang lain untuk bergantung. Barangkali untuk memberikan dukungan emosional atau justru untuk kita sirami cinta sebanyak yang kita mau. Dengan memikirkan ini saya sering merasa tenang melihat teman-teman saya mendadak menikah karena dijodohkan atau bertemu dengan orang yang sama sekali baru.

Sebelum benar-benar mencapai akhir paragraf, saya ingin berpesan satu hal. Karena mencintai itu bagian besar, ketika cintamu berbalas, maka berbahagialah. Cintailah pasanganmu sebaik-baiknya kamu ingin dicintai. Di tengah argumen tentang cinta yang semakin banal dan ‘tidak istimewa’, mampu mencintai dengan benar saja sudah sangat baik, terlebih ketika kamu dapat menemukan frekuensi yang sama atas perasaan itu. Dan untuk Anda-Anda yang belum berpasangan, mencintailah dengan benar meski cintamu tidak berbalas. Setidaknya kamu memberi yang orang lain butuhkan, yang dunia ini butuhkan, yang kamu sendiri juga butuhkan. Percaya deh, tidak ada yang sia-sia dari cinta.

Akhir kata, sampai di sini saya masih ragu saya menulis apa, karena apalah arti tulisan ini sementara saya masih percaya zodiak dan golongan darah. Hahahaha.

Ya begitulah, antara bohong dan tidak, bergitulah saya mencoba berkamuflase dalam berkehidupan.

Semoga berkenan dengan tulisan ini. Tabik.

wordsflow