Gimmick

by nuzuli ziadatun ni'mah


Baru saja saya mencoba varian sabun baru dikasih seorang teman. Agaknya jenama yang agak lebih terkenal dibandingkan jenama sabun alami yang biasa saya pakai. Wanginya persis wangi kembang temu yang merupakan bunga kesukaan saya di masa kecil. Saya jadi agak kebingungan mau menulis ini dari yang mana dulu mengingat topik soal gimmick dan kembang temu ini saya rasa-rasa sama mendesaknya.

Tapi saya ceritakan bagian yang ringan dulu saja.

Kembang temu, jikalau pembaca sekalian belum pernah tahu merupakan jenis kembang yang umum tumbuh liar di kebon-kebon. (sebentar saya googling dulu) Oke, barusan googling malah jadi bingung sendiri, hahaha. Saya sih nggak pernah tahu fungsi tanamannya apa, tapi kembang temu muncul dari umbi. Bunganya hanya muncul saat musim hujan dan batangnya akan muncul setelah hujan pertama.

Sejujurnya saya hampir melupakan bunga ini karena sudah sangat lama saya tidak tinggal bersama orang tua. Hari-hari SMA hingga sekarang saya habiskan di asrama dan di kos sehingga setiap musim hujan saya tidak lagi menantikan si kembang. Lebih-lebih karena kembang temu bukan lagi pusat dunia saya sih, hehehe.

Tapi libur lebaran kemarin nenek saya tetiba membahas itu. Menurutnya, saya kecil betul-betul anak kebon yang setiap hari selalu masuk kebon hanya untuk nungguin kembang temu saya tumbuh. Ini agak lucu sih buat saya pribadi karena meskipun saya suka kembang temu, saya tidak pernah suka kembang temu yang sudah tua. Kembang temu punya ciri spesifik, yaitu di sela-sela kelopak semi daunnya akan muncul bunga yang sesungguhnya dimana tengahnya akan menampung air dan sedikit berlendir. Menurut saya itu menjijikkan. Maka sebelum bunga sampai pada tahap tumbuh kembang yang itu, saya harus sudah memetiknya dan karenanya harus saya pantau setiap hari.

Saya kasih ilustrasi berikut. Yang sebelah kiri adalah kembang temu pada titik tercantiknya dimana setiap helai kelopaknya tampak segar, ramping, dengan semburat merah magenta yang menggoda. Sedangkan yang sebelah kanan adalah kembang temu pada masa menuju tuanya.

Sebegitu cintanya saya pada kembang temu sampai ciri-ciri kemunculannya pun bisa saya deteksi. Misalnya, gundukan tanah mana yang menandakan akan muncul kembang temu esok hari. Kangen sih kalau mengingat cerita ini karena praktis setiap hari kebon depan rumah adalah wahana main saya dan agaknya mendasari kegemaran saya masuk hutan semasa kuliah. Dipikir-pikir, agak aneh juga saya sesuka itu sama kembang temu. Tapi jika boleh mengibaratkan diri dengan bebungaan, saya akan memilih kembang temu sebagai representasi diri, hehehe.

Waktu itu kembang temu bahkan bisa menjadi pemicu pertengkaran saya dengan kakak laki-laki saya mengingat dia suka sekali mematahkan tangkai bunga sebelum sepenuhnya mekar. Ah saya jadi mellow mengingat masa kecil. Agaknya saya lantas melupakan kembang temu semenjak masuk SMP karena yah, kesibukan baru menduduki bangku sekolah yang lebih tinggi dan intensitas main di sekitaran rumah juga berkurang. Atau, karena rumah saya akhirnya dibangun baru saat saya kelas 5 SD dan pohon favorit saya buat dipanjatin dipotong untuk bikin gawang pintu. Sad.

Wow, prolog ini aja mencapai 400 kata, hahaha.

Tapi soal gimmick, kenapa menjadi topik, berawal dari pertanyaan-pertanyaan orang terdekat saya terkait pilihan sabun mandi saya yang sok ramah lingkungan. Padahal sebetulnya saya tidak pernah betul-betul ingin kampanye produk ramah lingkungan karena toh saya tidak tahu apa-apa soal dunia industri kimia. Bahkan, saya yang suka banget sama tahu sampai-sampai bisa hidup dengan makan tahu setiap hari saja nggak tau pencemaran macam apa yang bisa dihasilkan dari tahu.

Demikian, pemilihan sabun alami yang saya lakukan berawal dari alasan praktis karena saya kesulitan mencari sabun muka untuk kulit saya yang terlampau sensitif. Sudah ganti berkali-kali dan tidak pernah ada yang cocok sampai saya iseng menggunakan sabun sereh yang saya temukan di swalayan dekat kos saya. Entah bagaimana kemudian saya menemukan akun dagang sabun-sabun buatan sendiri dengan harga yang relatif terjangkau, varian banyak, baunya enak, dan yang pasti, tidak membuat kulit saya semakin buruk. Akhirnya selama 5 tahun terakhir saya betah betul menggunakan produk tersebut tanpa mau repot-repot menggantinya ke produk pabrikan mana pun.

Pun demikian untuk perawatan wajah akhirnya saya juga menggunakan sabun mandi yang sama biar nggak repot. Barangkali akhirnya saya terpaksa membeli sabun pabrikan untuk saya bawa-bawa saat sedang melakukan perjalanan jauh. Tapi belakangan ada yang super cocok meskipun produk pabrikan, tapi itu rahasia, hehe.

Jadi, bicara soal pemakaian produk, saya kadang merasa risih oleh kecenderungan orang untuk mengaitkan pilihan material kita pada prinsip ramah lingkungan yang sedang gencar. Saya pribadi menyadari bahwa pilihan-pilihan saya tidak akan mampu mengubah apa-apa yang besar. Mungkin mengubah produksi sampah personal saya, iya. Tapi selebihnya tidak ada dampak besar yang bisa saya berikan.

Demikian gaya hidup, apalagi di kota-kota yang sudah mapan seperti Jakarta, bertebaran kampanye ramah lingkungan yang sebetulnya gimmick saja. Misalnya menggunakan sedotan besi, menggunakan tumblr atau botol minum, tempat makan, naik kendaraan umum. Daripada disebut ramah lingkungan, saya cenderung lebih suka tidak disebut aja sih, hehe. Berdasarkan penelitian tipis-tipis saya soal sampah, bukan berarti tidak memakai sama sekali itu baik karena toh kita tetap akan menghasilkan sampah jenis lain. Saya termasuk yang santai saja menggunakan plastik karena merasa sedikit paham. Atau menggunakan beberapa barang dengan jenis material tertentu.

Kadang gatel juga karena tidak mampu mengkategorikan satu jenis material ke dalam kategorisasi yang sudah ada di dalam kamus pikiran saya. Tapi ya sadar diri karena saya tidak pernah suka pelajaran kimia dan mau menelan pelajarannya sekedar untuk lulus SMA dan masuk kuliah. Sama suka inget kata bapak saya kalo nggak ngerti cara ngebuangnya ya jangan dibuang, disimpan aja terus. Demikian prinsip bapak saya sampai-sampai bekas pulpen aja dikumpulin jadi satu.

Bukannya mau julid sih, saya pribadi takjub dengan beberapa orang yang saya ikuti kegiatan hariannya lewat kanal media sosial dan betul-betul menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Saya juga berkeinginan untuk sesadar itu atas pilihan-pilihan material dalam kehidupan sehari-hari. Tapi tentu saya tidak suka melabeli diri dengan sesuatu. Tidak mau juga menggabungkan diri pada gerakan tertentu. Sekadar karena saya merasa itu baik untuk saya aja sih. Beberapa kali saya menemukan (bahkan marak sekali) iklan produk yang diembel-embeli dengan label ramah lingkungan. Padahal kita sendiri tidak tahu spesifikasi material yang digunakan dan proses keseluruhannya. Label lebih sering hanya digunakan untuk meningkatkan value produk di mata pelanggan dan menaikkan pamornya, padahal mungkin hanya sedikit yang betul-betul ramah lingkungan.

Ya begitulah pasar. Mereka melihat, lantas mengubah komoditas sesuai dengan value yang dimiliki oleh pelanggan yang menjadi pangsa pasarnya. Seringnya setiap memikirkan ini saya ingin sekali belajar tentang material tapi kimia aja nggak pernah suka, hahaha.

Ah sudahlah. Makin ngelantur aja nih. Tampaknya saya butuh tidur tapi saya tahu kalian butuh asupan tulisan dari saya, huehehe. Satu lagi. Beberapa kali saya menemukan aktivitas kunjungan yang meningkat di jendela ini dan agaknya saya harus mengucapkan selamat datang. Terima kasih karena tidak bosan. Tabik.

wordsflow