soal bekerja

by nuzuli ziadatun ni'mah


Teringat masa-masa saya masih sekolah dan terus menerus disuntik dana oleh kedua orang tua saya untuk hidup, kadang saya meremehkan drama di tempat kerja dan bagaimana orang-orang menghadapinya. Lantas dalam hati memikirkan betul bahwa tidak akan pernah saya merelakan diri untuk menghabiskan waktu saya merasakan drama pekerjaan semacam itu.

Tapi mungkin terkadang hal-hal yang sebetulnya kita takutkan atau enggan menjalani seringkali dijatuhkan begitu saja di hadapan kita. Lantas kita mengada pada kejadian itu dan tidak lagi sekadar mengangani hal yang sebelumnya kita kira-kira. Kita dibenturkan untuk memahami atau akhirnya mengutuki. Pilihkan salah satu.

Sembari mengobrol soal kemungkinan perombakan instansi tempat saya bekerja saat ini, saya dan seorang teman kantor membicarakan tentang bagaimana kriteria seseorang yang dianggap sukses dalam bekerja. Kami mengulik mengenai parameter yang digunakan masing-masing orang dan tampakan yang muncul darinya. Beberapa orang yang dianggap sukses oleh standar dominan di masyarakat ternyata memiliki latar dan proses menjadi yang rumit dan saya kira saya pribadi tidak mau mengalaminya. Beberapa tampak begitu menyenangi pekerjaannya walaupun penampakannya biasa saja.

Sampailah kami pada pembahasan mengenai permasalahan pekerjaan yang sedang kami alami di kantor. Masing-masing kami yang awam dengan sektor tempat kami bekerja dan sistem paten yang sulit untuk dirombak tentu memiliki kekecewaan tertentu dengan apa yang ada. Kami memprotes ini dan itu, mencoba saling menyemangati satu sama lain, bahkan tidak jarang wacana untuk keluar kami perbincangkan sebagai teman makan siang atau pelipur ketika harus merelakan akhir minggu.

Ketika memikirkan ini, saya selalu mengingat bahwa ada begitu banyak orang yang sebetulnya rela mengambil tempat kami bekerja. Dari beberapa pengalaman kecil saya dalam bekerja, baik di sektor formal, informal, serabutan, tukang input data, bahkan menjadi pengusaha, niscaya semua orang menginginkan hal yang sama; kerja ringan, mudah, libur pada waktunya, dan gaji besar. Tapi kembali lagi, beberapa motivasi saya untuk bekerja sebelumnya tidak terletak pada bayaran. Beberapa justru saya ambil dalam upaya saya melarikan diri dari sesuatu, atau menambah pengalaman dan pride karena pernah melakukan ini, atau pernah menjadi bagian dari kegiatan itu. Salah satu yang selalu mengingatkan saya soal pengalaman kerja adalah kerja di startup dengan manajemen yang amburadul, bos yang selalu ribut, keuangan ambyar, pegawai tidak dibayar bahkan dihutangi, ditelponin orang karena hutang, kerja hingga larut malam bahkan pagi buta, tapi menyisakan pelajaran yang barangkali akan selalu saya ingat.

Meski demikian, ketika memikirkan sekarang saya hampir takjub dengan diri saya yang betah di pekerjaan itu pada masanya. Mengingat itu saya kembali berkaca pada kami di hari ini, mencoba melihat dimana letak pemasalahan yang menjadi motivasi munculnya gugatan.

Tapi kiranya tidak bijak bagi saya untuk mendetilkan cerita ini, hehe. Saya cukup berkaca dari pada pendahulu saya di tempat ini soal bagaimana mereka bekerja karena merasa yang kami kerjakan betul-betul membantu dan memberi manfaat untuk orang lain. Kadang sulit juga untuk mengelak bahwa kondisi internal dapat memengaruhi mood tapi seharusnya kerja menuntut kita untuk mengesampingkan hal-hal semacam itu dan alih orientasi pada kualitas kerja. Alih-alih memusingkan bahwa atasan kita A dan B, mengerjakan semaksimal yang kita bisa cukup memperbaiki mood saya sehari-hari. Hanya saja di suatu waktu saya sampai pada titik muak karena sulit sekali melakukan penetrasi ke dalam sistem dalam upaya memperbaiki skema kerja atau eksekusi pekerjaan sesuai dengan gaya yang menurut kita lebih efisien dan efektif.

Dibandingkan masa-masa saya kuliah, waktu luang menjadi lebih sedikit karena begitu selesai bekerja, jalanan membuat tubuh lelah, udara begitu tidak sehat sehingga saya merasa pernapasan saya bermasalah selama beberapa minggu belakangan. Jujur saja, saya iri dengan kebebasan saya di masa lalu dengan semua waktu luang untuk membaca buku, diskusi kritis, bermain-main, yang sayang sekali bekasnya sudah hampir hilang diterpa tuntutan sehari-hari untuk bertahan hidup. Saya bahkan tak lagi punya keberanian untuk mengutarakan pendapat di tengah memanasnya berbagai fenomena sosial dan lingkungan hari ini. Meski tetap membaca, semua hal yang saya tahu adalah hal-hal yang permukaan saja, yang tidak saya tahu sama sekali.

Juga, saya masih terus mengembangkan bisnis dengan menerapkan prinsip-prinsip dasar kapitalisme. Tapi meskipun saya menyukai konsep kapitalisme dalam ranah ekonomi, saya memilih tidak menerapkannya, tidak terlalu berorientasi pada akumulasi nilai lebih dan tidak menerapkan bisnis model kapital intensif. Kadang saya gugup meyakini sesuatu di tengah gejolak masyarakat yang ekstrim dan mudah marah. Juga kalut ketika berhadapan dengan rekan-rekan saya yang begitu siap menghadapi apapun di luar keyakinannya. Sementara itu saya terus menerus berlindung di dalam bilik perlindungan pribadi dengan semua nilai serta prinsip yang saya yakini sendiri. Meski begitu, saya yakin semua orang ingin merdeka dari opresi dan penjajahan, sebagaimana saya juga ingin merdeka dalam pekerjaan. Sebagaimana saya, bangsa yang ingin merdeka mungkin tidak membenci manusia-manusianya, tapi mengutuk sistemnya, dan memerangi praktik opresinya. Entahlah, saya juga tak mampu banyak bicara.

Sekian, mari akhiri saja tulisan ini di sini.

wordsflow