will there something surprising on the next monday?

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sudah beberapa postingan terakhir saya terfokus pada bahasan soal pekerjaan. Jujur saja memang sebagian besar hidup saya kini saya curahkan untuk hal tersebut karena praktis, memang di sana lah saya berkecimpung. Di tengah kota ini bisa dibilang saya tidak mencari teman, tidak juga mencari hal-hal lain semacam kekayaan atau karir. Well pertanyaannya, saya nyari apa? Hehehe.

Beberapa kali saya menemui gejolak tertentu karena mempertentangkan hal yang praktikal dan yang ideal. Kadang benturan di antaranya bisa membuat saya tak mampu mengendalikan diri dan cenderung jadi membenci hal-hal yang saya kerjakan. Tapi yah, sebagaimana hal-hal yang juga telah saya lalui selama ini, dalam prosesnya saya pun bertemu dengan hal-hal yang saya cintai. Ada proses penasaran, kecewa, marah, benci, maaf, pemakluman, cinta, dan rupa-rupa emosional lain yang saya temukan dalam interaksi saya dengan pekerjaan.

Tentu tidak terlalu menyenangkan tapi kadang di antaranya saya masih bisa memetik hikmah dan kesenangan. Sebut saja bahwa di akhir hari saya suka menghabiskan waktu seorang diri ketika ac kantor sudah mati dan orang-orang sudah bergegas pulang. Kadang di waktu lainnya saya akan memilih pulang lebih awal karena ingin menonton suatu film tertentu, atau secara random mengambil rute memutar untuk mencoba makanan yang membuat saya penasaran. Di lain waktu saya menghabiskan malam dengan memutar pertandingan badminton atau menyempatkan diri mencuci baju di tengah malam.

Yah, kembali ke persoalan judulnya. Menjelang pergantian kabinet baru, ada banyak desas-desus yang beredar di sekitaran kami. Well, tapi tentu saja saya tidak pernah terlalu memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Lebih karena penasaran soal ‘bagaimana jika’. Saya bahkan tidak akan heran jika di hari Senin nanti grup kantor akan riuh dengan pembahasan soal perubahan jajaran petinggi atau pindah tempat merger instansi, ya atau apalah itu.

Saya cukup apatis soal hal-hal semacam itu, lebih karena selama menjajal ‘wahana’ ini, saya dipertemukan dengan berbagai fakta menarik yang bertabrakan dengan diri saya atau bahkan yang sejalan. Tentu saja suatu tempat kerja dapat dinilai dengan berbagai cara. Lewat cara berinteraksi antar pegawai di dalamnya, kelompok-kelompok kecil yang terbentuk, interaksi atasan ke bawahannya, sistem kerja yang dibangun, model evaluasi yang dilaksanakan dan lain sebagainya.

Pendapat saya soal tempat ini juga beragam, dan begitu anehnya hingga kadang saya hanya fokus ke hal-hal yang saya lakukan dan seperti biasa, persetan dengan orang lain.

Saking randomnya hal-hal yang terjadi, semakin hari saya semakin yakin untuk trust no one but yourself. Mencari partner boleh, tapi seperlunya saja karena tidak ada yang betul-betul tahu kepentingannya. Do not pick side between two bosses, pick yourself instead. Beyond that, believe in your moral standard too.

Di luar itu semua, lingkaran sosial saya berubah, hal-hal yang sebelumnya bisa tersentuh dan berada dalam jangkauan tangan kini berpindah ke layar dengan berbagai ukuran. Terkadang saya kudu merenung sembari terpaku ke layar kecil di tangan atau layar yang lebih lebar tempat saya menulis saat ini. Yah, karena hari-hari saya diisi dengan rindu dan penantian akan akhir minggu, waktu terbagi ke dalam paruh minggu saja, sisanya sambil lalu tanpa sisa. Aneh ya.

Belakangan saya tidak mampu membagi waktu dan mencari kesenangan yang sama dengan membaca buku, seolah-olah adiksi saya terhadap buku yang sudah tumbuh sejak SD mati pelan-pelan dilanda kemalasan. Beberapa buku yang saya beli akhir bulan kemarin bahkan belum saya sentuh. Sedih betul. Juga soal menulis, yang agaknya juga mulai saya tunda-tunda sampai topik yang saya pikir sangat menarik menjadi terlampau basi dan saya lupakan begitu saja.

Beberapa hal yang kemudian bisa membantu saya untuk terus berrefleksi adalah interaksi dan nonton film. Seketika saya beralih menjadi anak visual dan pelan-pelan menomorduakan dunia tekstual. Rindu lah tentu, apa daya ternyata menjadi pekerja begitu melelahkan.

Tanpa berusaha membaca ulang apa yang saya tuliskan ini, mari saya sudahi. Saya tidak tahu apakah akhirnya saya akan berkutat pada tulisan soal pekerjaan atau saya akan menemukan hal-hal lain yang lebih menarik. Tapi sejauh ini hanya sebatas ini yang mau saya bagi. Tabik.

wordsflow