Menjadi Jakarta (iii)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sudah sejak hari Senin lalu saya memendam satu topik untuk saya tuliskan di blog ini. Saya hampir menuliskan perjalanan perkeretaapian saya setelah sejak Februari tidak pernah sungguh saya bahas meskipun perjalanan sudah menjadi rutinitas mingguan atau dua mingguan saya. Kadang malas sekali menuliskan apa-apa atau karena laptop saya yang sudah tidak lagi bisa kooperatif untuk mendukung kebutuhan saya belakangan. She’s been working so hard all this time and I thought I need to move on from her.

Karena lawakan minggu lalu agaknya sudah basi untuk saya tertawakan, jadi cerita perkeretaapiannya saya anulir dulu, menunggu saya dapat topik lain yang menarik. Hehe.

Nah, melanjutkan series tulisan soal ‘menjadi Jakarta’ ini, saya kira Jakarta adalah surganya geliat kesenian sebagaimana Jogja. Betul kata teman saya, barangkali saya hanya belum menemukan komunitas yang menarik perhatian saya atau tempat yang dapat memuaskan saya akan kebutuhan-kebutuhan non fisik semacam berkesenian. Maka dengan semangat seminggu lalu saya iseng menjadi acara di salah satu platform langganan. Tentu yang saya cari adalah event gratisan secara bulan ini saya sedanf mencoba mengubah gaya hidup dan menjadi lebih bijak ((not sure it will works tho)).

Salah satu tempat yang menarik perhatian saya adalah IFI. Sepanjang bulan dia punya acara pemutaran film yang sebetulnya digratiskan untuk orang yang les di sana. Sementara untuk umum berbayar atau, bisa aja ngambil yang gratis di IFI Wijaya. Saya menyempatkan diri beberapa kali mengunjungi tempat itu meski agak sedikit grogi di kunjungan pertama. Usut punya usut, bangunan IFI Thamrin sebelumnya adalah kedutaan sehingga penjagaannya ketat dan harus x-ray. Tapi bapaknya baik dan dia terheran-heran saya mau ke sana ‘hanya’ untuk nonton film. Sendirian pula. Haha.

lobby IFI Thamrin, berharap kapan-kapan bisa nongkrong di sini sebelum gelap

IFI Thamrin sejalanan kaki aja dari Sarinah yang biasa saya pakai untuk transit antara bus GR1 dan TJ untuk menghemat tenaga jalan kaki. Kadang saking sudah setiap hari suka aja mampir Sarinah meskipun cuma beli odol atau atau ambil duit di atm. IFI Thamrin lantas menjadi opsi lain kenapa turun Sarinah selalu menyenangkan.

Pilihan utama saya jatuh ke Taman Ismail Marzuki. Saking seringnya ke sana saya sampai melihat perubahan bertahap dari belum diapain dan sempet nonton di bioskopnya sampai kompleksnya direvitalisasi. Dari jaman jalanannya masih baik-baik saja sampai pohonnya ditebang jadi trotoar dan jalan makin sempit-karena-tetep-buat-parkiran-jadi-tetep-macet.

Surprise sekali karena minggu ini ada serentetan acara Pekan Komponis Indonesia. Bulan kemarin saya skip nonton Jakarta Philharmonic karena harus pulang larut malam dari kantor, padahal saya sudah ada tiketnya (lagi-lagi untung gratis), sehingga yang satu ini semacam ‘pengganti’ buat saya.

Acaranya menarik meskipun saya nggak ngerti-ngerti amat. Tapi lagi-lagi saya terkesan karena ternyata teatrikal sekali yang ditampilkan. Saya juga baru tahu ketika profil masing-masing orang dibacakan, ternyata ISI tersebar di banyak tempat di Indonesia dan karenanya lulusannya punya rasa setempat yang menarik sekali. Salah satu performance yang menurut saya wah sekali adalah pertunjukan berjudul Mangatok oleh Hamidun Syaputra. Ia menampilkan dua orang yang menggubah musik dari suara alami dan instrumen tambahan dari pakaian yang mereka pakai. Saya sangat terhipnotis oleh penampilan keduanya.

babak akhir dari performance

Selepas performance ini, saya teringat Mawang yang sempat viral sekitar sebulan yang lalu. Saya sendiri ngakak nggak ketulungan sewaktu menonton videonya dan benar-benar tertawa setiap teringat Mawang. Tapi setelah melihat ini, yang mana secara konsep tidak jauh berbeda dengan cara Mawang mengekspresikan emosinya, saya jadi mikir barangkali memang poinnya di emosi. Yang sebetulnya membuat Mawang ‘nyebelin’ itu tuh speech di awal sebelum nyanyi. Hahaha.

Well, dengan tulisan ini, saya merasa sedikit terbuka dalam membicarakan kehidupan saya dan upaya menikmati proses untuk ‘menjadi Jakarta’. Tentu saja banyak hal lainnya. Tapi kenapa memilih yang lain jika ada yang semenarik ini, hehe.

Minggu depan sampai akhir bulan ada Festival Teater Jakarta full selama 3 minggu (so much fun!), dan akan jadi hiburan saya yang lain selain badmintonan. Sambil scroll update dari DKJ saya sering mikir sebentulnya beruntung sekali orang-orang Jakarta ini karena punya lembaga dan organisasi seni yang super aktif selama setahun nonstop. Ini belum membicarakan hal-hal yang lain, konser-konser populer atau tempat pameran yang lokasi sedikit-agak-di-luar-Jakarta-jadi-saya-suka-males-ngedatengin.

Terakhir, saya kasih bonus beberapa foto lain dari acara Pekan Komponis Indonesia 2019.

Jaluna oleh Gempur Sentosa
pameran alat musik baru

wordsflow