Healing

by nuzuli ziadatun ni'mah


Hari ini karena tweet Sentot saya membuka youtube dan mencari sebuah video clip dari Kunto Aji dari album terbarunya yang bertajuk Mantra-Mantra. Ya padahal sudah diupdate Mas Adjie semalam tapi saya skip apapun sedari sore karena tidak enak badan. Belum ada satu menit menonton, saya menutup videonya.

Sedikit cerita, sekitar awal tahun ini setelah kepindahan saya ke Jakarta, seorang teman membagikan poster acara dengan tema finding balance of doing and being. Datang karena ada Rara Sekar yang pemikiran, tindakan, dan kegiatannya menarik perhatian saya dari lama. Dalam acara itu, saya pertama kali saya menaruh perhatian pada Mas Kunto Aji, dan satu orang lagi yang merupakan seorang emotional healer, namanya Mas Adjie.

Dalam sesi singkat itu, hal-hal yang sebelumnya saya pikir hanya eksis di diri saya (atau setidaknya tidak pernah betul-betul saya percayai ada di orang lain) ternyata juga eksis pada mereka dalam berbagai bentuknya. Pada salah satu sesi, Kunto Aji menceritakan tentang masa lalunya, dan bagaimana proses yang ia hadapi lantas bagaimana pula ia memasukkan unsur-unsur itu ke dalam sebuah album. It grew my respect over him.

Sesi itu juga membawa saya pada pemahaman lebih dalam mengenai healing dan meski baru beberapa bulan setelahnya saya menemukan akun sosial media Mas Adjie, pertemuan pertama saya adalah salah satu hal yang paling berkesan dari kepindahan saya ke sini.

Saya punya seorang kenalan yang membantu saya saat pertama kali saya memutuskan untuk berpindah kota. Namanya Venus, seorang psikolog. Kami ketemu beberapa kali sebelum keberangkatan saya, sesi yang menarik, singkat, dan berkesan. Ada banyak hal yang belum terselesaikan memang, ada yang saya kesampingkan, ada yang tetap dipikirkan.

Tapi saya baik-baik saja kok misal ada yang penasaran soal ‘apakah saya oke’. Tetap saja proses healing bukan hal yang dilakukan sekali terus sudah. Sebagaimana hidup dia harus terus diasah dari hari ke hari karena tidak ada yang betul-betul master dalam menjalani kita, patternnya tentu berbeda dengan orang lain jadi baik saya maupun kamu harus jadi yang paling master dalam menjalaninya.

Tentu saja ini hanya omong kosong karena saya toh tidak tahu apapun tentang kamu dan semua orang di sekitar saya. Pun saya barangkali tidak sungguh mengenal diri sendiri, juga menerimanya sepenuh hati.

Ah, saya sedikit melantur. Tapi di bulan ini tahun lalu ada hal yang rasanya bahkan masih bersisa. Sembari memikirkan itu, saya kira berterima kasih sepenuh hati sama sulitnya dengan meminta maaf sepenuh hati. If you know what I mean.

Kembali ke soal video Pilu Membiru-nya Mas Aji, saya kira saya akan menonton video kolaborasi Mas Aji dan Mas Adjie malam nanti selepas ke TIM untuk menghadiri Festival Teater Jakarta. Mungkin akan saya ceritakan beberapa hal selama di TIM setelah 2 hari skip karena kram perut. Sampai jumpa di postingan selanjutnya.

wordsflow