Tetiba malas kerja

by nuzuli ziadatun ni'mah


Jujur saja, sudah beberapa waktu belakangan saya malas masuk kantor. Saya sempat membolos karena sakit yang sudah seminggu tidak sembuh. Di waktu-waktu secinta itu dengan pekerjaan, biasanya saya akan mengusahakan tetap berangkat dan pulang ketika segala hal sudah selesai saya kerjakan. Tapi belakangan hal-hal menjadi lebih membosankan meskipun pekerjaan masih saya bereskan.

Ah tapi baiklah. Saya sering kali mengeluhkan pekerjaan belakangan ini. Bukan. Memang sedari mula saya banyak mengeluh, hahaha.

Beberapa waktu yang lalu seorang teman crafter saya bercerita bahwa dirinya memutuskan keluar dari tempat kerjanya saat ini. Padahal tempatnya bekerja mengusung ide yang sangat menarik untuk mempertemukan crafter di Jogja. Bukan hanya itu saja, bahkan dalam beberapa minggu ke depan kami akan mengadakan kegiatan dengan tema Women Empowering. Jarang sekali ada wadah yang mengumpulkan crafter di Jogja mengingat beberapa tahun belakangan crafter dan komoditas ‘kreatif’ non pertunjukan hanya dijadikan ‘pelengkap’ dari kegiatan seni yang lebih besar. Bukan hanya itu saja, pameran maupun bazaar bahkan kalah dengan kuliner jika disejajarkan dalam satu kegiatan yang sama. Crafting, tampaknya tidak memiliki nilai jual yang lebih tinggi jika dibandingkan kegiatan seni lainnya.

Secara terpisah, saya dan teman lain sempat beberapa kali membicarakan mengenai bagaimana posisi pekerjaan dalam mindset umum dipetakan secara tidak setara oleh masyarakat, terutama juga oleh struktur yang lebih besar. Saya tidak akan membicarakan entah teori siapa karena toh saya juga sudah lupa akan banyak hal itu, tapi jelas sekali bahwa sehari-hari kita melihat ketimpangan.

Saya sering menengok linimasa instagram untuk melihat bagaimana seseorang berkembang atau mengembangkan kemampuannya dalam berkarya dalam bidang minor, misalnya keramik, seni lukis, handlettering, rajut, desain, dan sebagaimana. Masing-masing dari mereka, juga termasuk saya cukup beruntung karena memiliki hal yang bisa disebut profesi meskipun dipelajari secara otodidak dan bukan merupakan pekerjaan umum yang dikejar oleh orang lain. Pernah pula bercita-cita untuk sekolah ke Jepang lantaran negara itu menawarkan disiplin keterampilan yang saya kira sulit untuk ditemukan di Indonesia.

Stereotip tentang bekerja masih menjadi sesuatu yang hangat dibicarakan dan sering kali menuai perdebatan. Selalu saja saya temukan orang yang berkomentar buruk di postingan seseorang karena dengan pekerjaannya yang ‘ah gitu doang’ dia bisa memiliki penghasilan yang jauh di atas orang-orang yang bekerja di bidang akademis atau sejalan dengan jurusannya. Mindset soal ‘pendidikan adalah investasi’ dimana income harus dapat mengganti biaya pendidikan menjadi perdebatan dan problematika yang dihadapi lulusan-lulusan akademis, pun juga dengan saya. Di satu sisi saya menyimpan cita-cita tersendiri soal kerja seperti apa yang saya inginkan dan tekuni sementara ada bagian diri saya yang juga menekan saya untuk mempertanggungjawabkan pilihan akademis yang pernah dan sedang saya ambil.

Oh ya memang pembicaraan ini ngalor ngidul wong saya nulisnya nggak pake mikir.

Juga persoalan timpangnya pendapatkan, misalnya pada profesi akademis yang sepenuh hati menjalankan profesinya sesuai dengan kaidah-kaidah dan etika yang berlaku seringkali kalah dengan mereka yang bekerja di dunia hiburan atau profesi administratif. Ketimpangan profesi menurut saya menjadi salah satu pe-er besar dalam dunia kerja di Indonesia karena selalu ada profesi yang lebih rendah di bawah profesi yang lainnya. Kadang kita nyaman dengan profesi tertentu dan menjadi minder kemudian karena dianggap ‘yah gitu doang kerjaan lu cuma ngejilid buku sama berdagang?’. Well, berkarya tetap butuh olah pikir dan nalar, kemampuan manajemen baik finansial, emosional, psikis karena kita juga berhubungan dengan orang, memikirkan hal-hal yang belum terjadi dan memperkirakan peta perjalanan usaha yang sedang dibangun.

Beberapa waktu lalu saya begitu terpukau dengan sebuah video yang mewawancarai seorang ibu yang bekerja di restoran anaknya. Ibu ini suka sekali membuat pasta dan memaksa anaknya untuk mempekerjakannya di resto anaknya. Sesuka itu dia membuat pasta hingga semua pasta di resto itu dibuat manual dengan tangan oleh si ibu. Seolah tidak peduli tapi saking sudah membuat pasta selama puluhan tahun dia bisa menciptakan pasta dengan bentuk yang persis sama satu sama lain, dengan rasa yang persis sama dari hari ke hari. Kecintaannya untuk membuat pasta membuat saya begitu tersentuh dan teringat untuk memaknai pekerjaan sebagai sesuatu yang beyond doing.

Mengerjakan sesuatu setiap hari sebetulnya tidak lantas membuat seseorang menjadi mesin manakala dia masih mampu merasa dan menitipkan rasa itu lewat karyanya, apapun itu. Sementara pegawai-pegawai, contohlah yang bekerja di pabrik, rata-rata dibuat berjarak dengan karya yang mereka ciptakan sehingga rasa itu tidak sampai terbawa, tidak tersampaikan kepada kita melalui komoditas yang mereka ciptakan. Komoditasnya numpang lewat, sementara tangan kita digerakkan oleh kebiasaan semata, bukan oleh kesadaran.

Begitulah dalam ranah sistem kerja kapitalistik kita dibuat berjarak hingga mungkin membenci hal-hal yang kita lakukan rutin setiap hari. Ya, sepertinya begitu, atau barangkali tidak. Saya kadang bahkan tidak mengerti hal-hal yang belakangan diperdebatkan dan mencoba mendalami apa yang sebetulnya diinginkan semua orang tanpa menemukan jawaban pastinya. Tapi juga sembari berpikir, semua sarana komunikasi dan keleluasaan informasi memberikan kesempatan bagi kita seluas-luasnya untuk menjadi apapun, mengerjakan apapun dan membebaskan diri dari batasan-batasan apapun. If you know what I mean.

Dan yasudah begitu saja, saya harus pamit untuk menonton teater. Sampai jumpa di postingan random berikutnya. Semoga berkenan.

wordsflow