WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

Category: on Book

Munisipalisme Libertarian


Mari membahas sebuah buku yang akhirnya mampu saya selesaikan setelah sekian lama teronggok ketika saya sedang ada di lapangan. Anehnya, saya justru merasa jauh lebih mudah memahami si buku dalam perjalanan saya dari Bandung ke Jogja dengan menggunakan kereta. Padahal di awal saya mencoba memahaminya, saya bisa beberapa kali membaca satu paragraf yang sama tanpa memahami maksudnya. Hal semacam itu sering terjadi ketika membaca buku sih, hoho.

Tidak dapat dikatakan sebagai buku yang mudah untuk dipahami. Ada beberapa bagian yang menurut saya cukup sulit untuk mampu saya bayangkan atau saya pahami lebih dalam. Beberapa bagian lainnya terlampau mudah karena merupakan narasi atas utopia yang telah banyak dipikirkan oleh manusia di hari ini.

Ah, sebelumnya barangkali saya harus menjelaskan bahwa saya tidak akan terlalu banyak memberikan pendapat pribadi mengenai si buku. Dalam artian, beberapa pendapat yang akhirnya saya utarakan di sini merupakan pendapat yang sedikit banyak berada di luar buku tersebut. Mungkin. Beberapa kutipan yang menurut saya cukup penting akan saya sajikan sebagaimana adanya tanpa adanya penambahan dan pengurangan. Pun saya akan membiarkan saudara-saudara pembaca memberikan tanggapannya masing-masing untuk diri Anda sendiri.

Bagaimanapun anehnya sebuah narasi, utopisnya sebuah gagasan, atau bentuk ketidakmungkinan lain yang mampu ada seharusnya patut kita pikirkan terlebih dahulu sebelum kita memberikan penilaian atau justifikasi terhadap hal-hal tersebut.

Sebelum melangkah ke sana, saya pikir saya perlu sekali memberikan cerita mengapa saya sampai membaca buku ini.

Ada waktu di mana saya memikirkan secara penuh mengenai kehidupan yang dijalani oleh manusia-manusia di seluruh dunia di hari ini. Dibandingkan mengganggap bahwa dunia ini telah berada di bawah rezim pasar secara menyeluruh, saya lebih suka mengganggap bahwa kita masih berada dalam posisi transisi. Artinya, tidak semua yang ada di sekitar kita merupakan produk-produk kapitalis, dan jika kita lebih suka menganggap bahwa semua yang berasal dari kapitalisme adalah hal buruk, maka harus saya katakan bahwa kemudian, semuanya menjadi tidak sepenuhnya buruk.

Kadang karena begitu dekatnya seluruh hal dengan kapitalisme, segalanya menjadi seolah-olah bersifat kapitalistik, contoh yang paling penting barangkali adalah teknologi. Bagi saya sendiri, teknologi adalah hal yang sebetulnya berdiri sendiri. Namun di hari ini teknologi begitu identik dengan modern, sementara modern identik dengan industrialisasi dan akhirnya rezim pasar. Padahal, teknologi adalah hasil dari buah pengetahuan manusia sehingga ia bukan merupakan hal yang berada sepenuhnya di bawah kapitalisme.

Di hari ini, kadang saya merasa bahwa seolah-olah, ketika membahas upaya untuk menyingkirkan kapitalisme, orang cenderung mengarah untuk kembali ke cara hidup tradisional yang selama ini dilalui oleh nenek moyang kita. Seolah-olah masih menggunakan teknologi sama halnya mendukung kapitalisme itu sendiri. Tapi tunggu dulu, teknologi ada sejak dahulu meski dalam bentuk yang masih jauh dari praktis dibandingkan hari ini.

Masyarakat hari ini telah mengembangkan begitu banyak hal mulai dari jarum hingga kapal induk misalnya. Semua penemuan adalah pengembangan teknologi dari yang lampau. Benar, teknologi adalah bagian dari kebudayaan, dan karenanya seharusnya ia merupakan hal yang terlepas dari bayang-bayang kapitalisme.

Saya pribadi sering kali merasa bersalah ketika diskusi untuk mengkritik kapitalisme namun masih menikmati dan barangkali yang juga menghidupi kapitalisme itu sendiri. Semua hal yang sebetulnya menyamankan hari-hari saya adalah hal-hal yang menghidupi kapitalisme. Namun lagi-lagi, teknologi bukanlah kapitalisme, pun ekonomi. Oleh karenanya sebetulnya mengapa saya harus merasa bersalah dengan semua hal yang saya nikmati?

Barangkali selama ini sebetulnya saya mencampuradukkan segala hal berbau modern sebagai sesuatu yang identik dengan kapitalisme. Atau, saking seringnya verba itu digunakan, saya jadi sering keliru memahami kapitalisme itu sendiri.

Ada dua hal yang tidak saya suka dari kapitalisme, pertama soal eksploitasinya, yang kedua soal ketimpangannya. Untuk masalah kepraktisan, oke lah saya memang menganggap bahwa kapitalisme itu enak banget loooh. Tapi dua hal tadi membuat saya gregetan namun susah juga kalau tiba-tiba ditodong solusi.

“Sebagai pengganti masyarakat shopping mall, kita harus menyusun masyarakat terdesentralisasi, yang di situlah ‘rumah’ kita, lokal kita, menjadi seotonom mungkin semampu kita. Kita harus membangun pabrik-pabrik lokal yang menggunakan alat-alat sederhana. Kita harus menciptakan koperasi-koperasi loka, seperti kerjasama pangan. Kita harus bercocok tanam untuk pangan kita sebanyak mungkin. Kota harus membuang uang jika kita bisa dan mengadopsi barter atau alternatif pembayaran. Komunitas-komunitas lokal yang mampu memenuhkan kebutuhannya sendiri mungkin akan bisa bertahan, di luar arus utama masyarakat. Perlahan-lahan komunitas-komunitas tersebut akan berkembang-biak menciptakan masyarakat manusiawi yang ramah lingkungan.” (hal. 152)

“… munisipalisme libertarian berupaya memperkuat kembali tingkat lokal, ia juga menilai kemandirian terisolasi sebagai sesuatu yang tidak sempurna dan menyedihkan.” (hal. 153)

“Tanpa ekonomi kapitalis, yang tuntutan ‘tumbuh dan mati’-nya merupakan kekuatan utama di balik krisis ekologi, warga akan bebas untuk membangun kembali ranah sosial mereka sepanjang batas-batas ekologis. Kota-kota besar secara fisik dan secara institusional bisa didesentralisasi. Kota kecil dan pedesaan dapat diintegrasikan ke dalam sebuah keutuhan tergabung dan konflik historis di antara mereka akan terhapuskan. Bahan bakar kotor pasti akan dihilangkan, digantikan dengan sumber-sumber daya energi yang bersih dan dapat diperbaharui, bahkan dalam produksi pabrik. Dunia non-manusia tidak akan lagi dipahami sebagai dunia yang penuh dengan kekurangan, sebagaimana kapitalisme menganggapnya seperti itu saat ini—dengan terlalu sedikitnya sumber daya yang mesti diperjuangkan demi dominasi satu terhadap lainnya—melainkan sebagai dunia produktivitas dan kemajuan evolusioner menuju keberagaman dan kompleksitas.” (hal. 212)

Kutipannya cukup segitu aja ya, sudah cukup menggambarkan sih. Kayaknya lho yak.

Janet Biehl melalui Munisipalisme Libertarian sebetulnya berupaya untuk mewujudkan demokrasi yang benar. Menurutnya, politik hari ini telah melenceng terlalu jauh dari semangat politik yang sesungguhnya. Personal is political, akhirnya saya memahami maksud dari kalimat ini. Sepanjang buku itu, Biehl mencoba memberikan gambaran bagaimana cara mewujudkan munisipal-munisipal itu sehingga kita akan hidup di dalam dunia yang lebih demokratis dan adil, tanpa adanya negara. Terdengar indah, memberi harapan, namun hal itu ia akui sebagai sesuatu yang utopis. Ya nggak jauh berbeda dari cara saya berandai-andai sih, namun ia menuliskannya dalam buku dengan struktur yang benar. Jauh berbeda dong dari saya.

Saya pribadi suka dengan gagasan itu. Namun sekali lagi, negara ini belum sepenuhnya kapitalistik atau sekronis itu. Ada banyak simpangan dan retakan di dalam elemen terkecilnya. Dan banyak desa di Indonesia yang merupakan perwujudan munisipal yang diidamkan oleh Janet Biehl. Dianya aja yang belum ke Indonesia kan.

Di balik gagasannya, saya pikir Janet Biehl melewatkan bahasan mendasar di bagian paling awal bukunya, yaitu soal manusia. Seluruh gagasannya mensyaratkan satu hal, bahwa semua orang harus dapat berpolitik dengan benar dan mampu memahami manusia lain dengan baik. Sayangnya, ia melupakan soal ketimpangan, bahwa manusia dilahirkan dengan kemampuan yang tidak sama. Dan bukankah hal itu memang sungguh nyata? Tanpa itu, segala gagasannya mudah runtuh karena toh akhirnya seluruh aktor di dalamnya akan merusak harmonisasi itu.

Kadang saya merasa bahwa masyarakat kota jauh lebih sakit dibanding masyarakat desa. Kita yang hidup di kota menjadi pihak dengan ketergantungan lebih tinggi, hal yang paling mendasar deh, logistik. Tanpa adanya jaringan di luar kota yang berproduksi sepanjang tahun, kita nggak akan bisa makan. End.

Jadi, sebaiknya bagaimana?

Just make sure that we’ve been doing the best that we could. Don’t blame others for not doing something like what you’ve done, they have their own parts. In case you don’t have the same belief with your friends, pray for their safety and health. Don’t judge, don’t blame.

Manis sekali kan kalimat saya? Tentu saja di balik semua ini ada begitu banyak pekerjaan yang belum saya selesaikan. Semua hal ini, dan semua tulisan sebelumnya, merely self-reminder notes rather than for others.

Ada penggusuran di Kulonprogo untuk pembangunan bandara baru. Ada kemuakkan karena perebutan sumber daya yang tidak pernah ada habisnya di hari ini. Dari waktu ke waktu kita tidak pernah kehabisan berita tentang hal itu. Dan berapa orang yang terluka dan menderita di luar sana? Banyak.

Seorang adik kelas saya pernah menulis, ‘Even if we say we love Earth, we would not be there when something bad happen to this Earth, we definitely could not do something to help. We all the 7 billion peoples are actually nothing. This Earth is all alone these whole time.’

Random yak? As always.

wordsflow

Advertisements

Anime Vibes and Everything Behind


“Kok kamu bisa gambar sih?”

Pertanyaan itu beberapa kali disampaikan teman-teman saya ketika mendapati karya saya atau melihat saya sedang menggoreskan pensil di atas kertas. Tidak bisa disangkal, kehidupan perkomikan saya di masa SMP lah yang membawa saya menjadi diri saya hari ini. Mungkin hal itu juga yang membuat saya memberikan ruang tersendiri kepada pengarang-pengarang komik kesukaan saya, cerita-cerita kesukaan saya, hingga akhirnya saya mengenal anime.

Ada komik seri yang sangat saya sukai, dan tidak banyak saya kira yang mengikuti komik ini. Judul komiknya Q.E.D., dan dibandingkan Conan yang kala itu sangat populer, dia jauh lebih sedikit penggemarnya. Sebagai komik yang juga mengangkat tema detektif, maka ia tenggelam di bawah bayang-bayang popularitas Conan. Tapi, mari saya ceritakan mengapa saya katakan itu komik yang paling mempengaruhi hidup saya.

*Date by RADWIMPS is playing*

Saya suka hitung-menghitung sejak kecil. Saya agak lupa bagaimana bisa saya bertemu Q.E.D., tapi kalau tidak salah ingat saya melihat deretan komik itu di tempat peminjaman komik di depan SMP saya. Berbeda dengan Conan, Q.E.D. tidak sekedar menawarkan cerita detektif yang sulit dipecahkan, namun juga ilmu pengetahuan, terutama matematika dan astronomi. Saya mengenal rumus Euler dari sana, mampu menghafal bilangan phi juga dari sana, tahu lubang hitam bahkan dari sana, memahami geometri, dedekind cut, menghitung bilangan prima, atau berbagai urusan lainnya yang berhubungan dengan matematika, praktis saya pelajari dari komik itu. Pun, saya pernah meletakkan impian kuliah saya di MIT karena komik itu. Menelusuri tragedi penyihir Salem juga saya ketahui dari komik itu.

Secara keseluruhan, bisa dibilang komik itulah yang menjadi penunjuk jalan saya selama jenjang SMP hingga pertengahan SMA. Hingga akhirnya Motohiro Katou ini menulis komik yang juga bertema detektif dengan tokoh yang berbeda dan dengan latar penceritaan yang berbeda, C.M.B. Sekali lagi Motohiro Katou berhasil mengubah saya dengan manawarkan komik detektif berlatar arkeologi. Saya kurang tahu seberapa besar popularitas kedua komik ini, yang jelas keduanya mengubah hidup saya dan cara pandang saya.

Saya ingat pernah bertengkar dengan ibu saya karena membaca komik menjadi hal yang menyita waktu luang saya ketika SMP. Ibu saya kala itu menganggap bahwa komik tidak membawa pengaruh apapun dalam hidup, bahkan tidak memberi manfaat dan malah memberikan kerugian. Tentu saja saya marah dengan pernyataan itu, karena sungguh, saya belajar sangat banyak karena berteman akrab dengan dunia perkomikan di kala itu.

Pun begitu dengan menggambar. Saya mempelajari geometri dari komik, dan terdorong untuk mengembangkan kemampuan saya menggambar karena berharap bisa membuat komik sendiri. Bahkan, ke-Jepang-an itu muncul dan saya pegang teguh hingga masa akhir SMA saya ketika akhirnya saya memutuskan untuk mengambil kesempatan beasiswa ke Jepang. Sayang sekali dua kali mendaftar saya tidak diterima. Pun demikian dengan cita-cita saya masuk MIT menjadi hal yang begitu jauh ketika saya menyadari bahwa kampus impian saya itu mustahil sekali saya masuki. Lebih-lebih ketika saya tahu dari film A Beautiful Mind bagaimana MIT itu sebetulnya. Tetap saja, saya masih terkagum-kagum menyadari bahwa saya pernah sungguh bermimpi bisa masuk ke kampus itu.

Lebih dari itu, hingga hari ini saya masih menikmati berbagai judul komik yang saya ikuti sejak SMP. Banyak yang masih terus saya baca meskipun saya sudah hafal betul dengan dialog yang ada di dalamnya. Kadang ketika saya ingat bahwa saya ternyata belajar banyak dari komik, saya sadar bahwa mungkin pendidikan bukan hal yang sungguh-sungguh memacu saya untuk melakukan hal-hal di hidup saya. Bisa jadi motivasi itu memang sangat sederhana. Bahkan tidak pula datang dari keinginan untuk membahagiakan keluarga.

Lalu SMA, saya bertemu dengan Ghibli, yang juga mengubah hidup saya. Mungkin memang saya cenderung lebih suka film kartun atau anime dibandingkan dengan film-film Hollywood. Entah mengapa. Saya pun menghabiskan semua film Ghibli selama masa SMA saya dengan mengobrak-abrik tempat DVD bajakan setiap hari Minggu untuk mencari film-film itu. Saya ingat pernah juga berramai-ramai menghabiskan seri Code Geass dengan kerumitan politiknya.

Lalu, di pertengahan kelas 2 SMA, seorang senior cowok saya, tiba-tiba mempopulerkan anime 5 cm per Second. Sebuah anime yang berisi 3 cerita mengenai satu orang tokoh utama. Yang luar biasa adalah, judul itu tidak hanya dibuat anime-nya saja, namun juga ada komik dan novelnya. Sebagai seorang yang doyan anime, yang saya dan teman-teman kritisi waktu itu adalah kemampuan Makoto Shinkai dalam mengolah anime yang dia buat. Kabar-kabari dari senior-senior saya, itu adalah one man project-nya Makoto Shinkai. Saya tidak pernah mencari tahu soal ini, karena saya hanya peduli betapa keren yang ia kerjakan dengan anime itu.

Hayao Miyazaki dan Makoto Shinkai kemudian menjadi dua orang yang saya kagumi di dunia per-anime-an. Sementara anime seri lain yang populer bahkan tidak pernah saya tonton, meskipun sangat ingin memahami ceritanya, misalnya saja One Piece atau Samurai X. Yah, sejauh yang bisa saya ingat, hanya Code Geass dan Death Note yang saya tonton dari episode 1 hingga episode terakhirnya dengan khidmat.

Jepang, menjadi negara impian saya sejak SMP, dan saya pikir kegagalan saya mendapat beasiswa ke negara itu adalah akhir dari impian saya bertandang ke Jepang sebagai seorang mahasiswa. Bagaimanapun waktu tidak dapat diulang, saya akan terus bertambah tua kan. Demikian, angan-angan untuk datang ke Jepang tidak lagi membawa semangat menggebu-gebu seorang pelajar seperti saat saya masih SMP atau SMA dulu.

Meskipun demikian, entah karena alasan apa, suatu hari saya mencari secara iseng di Youtube tentang ‘8 Anime yang wajib kamu tonton’. Beruntung sekali karena daftar saya yang terakhir saya selesaikan kemarin ketika film Koe no Katachi bisa ditonton secara streaming. Meski setelah itu saya menambah daftar anime wajib lagi hingga jumlahnya menjadi 100, hehe.

Inti dari cerita ini apa?

Nggak ada, saya hanya mau cerita tentang hal lain yang sangat mempengaruhi hidup saya melebihi yang saya pikirkan sebelumnya. Ternyata saya pernah berpegangan pada impian-impian besar, bukan melulu pada perasaan terhadap seseorang. Mungkin tulisan ini juga efek saya maraton anime kemarin siang, mengulang Kimi no Na Wa. dan Hotarubi no Mori e. Padahal anime, tapi saya selalu berhasil tersentil dengan sangat dalam oleh mereka, sial.

*Nan Demonai Ya is playing in background*

Dan, lagi-lagi anime tidak bisa dipisahkan dari soundtracknya. Begitulah yang kemudian membuat saya berulang kali memutar lagu-lagu Joe Hisaishi, Cecile Corbel, dan akhirnya RADWIMPS. Anime vibes ini tidak juga berakhir. Jadi, mari tenggelam semakin dalam.

wordsflow

*

Akhirnya saya menulis lagi, hahahahaha. Sudah lama saya ingin mereview hal-hal yang saya suka. Anggap saja saya sedang memberi review Q.E.D. Sungguh, komik itu sangat layak untuk dikoleksi.

Selipan: ketika membaca Capital


Ada sebuah buku berjudul Capital, yang tidak pernah saya sangka akan saya baca, saja kaji, saya review, dan saya kritik sebagai bagian dari pembelajaran akademis saya. Saya tidak banyak kenal dengan Marx, tidak sungguh-sungguh paham seluk beluk kehidupannya; siapa Engels baginya, apa yang selama ini ia kerjakan, di mana dia pernah tinggal, and so forth.

Tapi, sesuai judul tulisan ini, saya merasa butuh segera menuliskan catatan ini. Setiap 3 minggu sekali saya akan kembali membaca Capital yang memang menjadi dasar pembelajaran pemikiran Marx sebelum lanjut ke artikel kritik dan pengembangannya. Dalam sela-sela membaca bab mengenai surplus value, saya menyadari betapa menakjubkannya konstruksi pikiran Marx sehingga mampu menuliskan begitu tebalnya buku, meski secara garis besar ‘hanya’ membicarakan mengenai keseluruhan mode produksi.

Setiap detil ia pertanyakan kembali, setiap detil ia ulangi hingga sebagai pembaca, saya sering kali harus mengulang-ulang kalimat yang sama untuk memahami maksud Marx. Sebenarnya saya menikmati menkaji halaman per halamannya meski dengan terbata-bata mengeja bahasa Inggris-nya, atau setiap maksud dari kalimat-kalimatnya. Seolah-olah saya membaca sebuah novel, tapi berisi tentang pemikiran logis dan dialektis dari seorang Marx.

Ketika membaca semacam ini, saya seolah ingin memberi semangat pada diri sendiri, bahwa tulisan, bagaimana pun akan tetap berguna. Pertanyaannya hanya; apakah kebergunaan itu hanya untuk menciptakan ketidakbergunaan yang lainnya atau tidak?

Mencari Sebuah Kata dalam Buku Tebal


Begitu kali ya ibaratnya, ketika kita dihadapkan pada realitas dunia yang begitu luas, tapi kita juga dihadapkan pada batas-batas diri, baik fisik maupun pengetahuan.

Siang tadi saya melakukan percakapan yang cukup penjang dengan Fadlan, seorang mahasiswa Fisika Teknik yang ‘kebetulan’ menjadi teman saya. Mungkin percakapan ini juga dipengaruhi sama bacaan saya sebelumnya, Dunia Anna, dan film-film, dan pemikiran masa kecil, dan semua hal yang terjadi pada saya.

Saya akan mereview apa aja yang kami perbincangkan tadi siang;

Begini, sedikit cerita, kami membahas tentang tugas akhir yang sedang coba saya revisi, sembari Fadlan komentar ini itu tentang buku yang saya baca; Brida, karya Paulo Coelho. Saya juga baru kali ini berhasil membacanya setelah sebelumnya hanya bisa ngelirik di toko buku. Lantas saya katakan padanya bahwa saya sedang mencoba melarikan diri dari pikiran saya yang telah tidak sengaja bangun dari tidur gegara membaca Dunia Anna.

Dan kami pun berbincang tentang substansinya (ah, ini saya tambahkan beberapa pendapat yang tidak masuk obrolan kami).

Isu yang diangkat di dalam buku itu adalah tentang pemanasan global, dan upaya-upaya kecil yang coba digagas untuk menyelamatkan bumi dengan basis spesies. Itu persis seperti yang pernah saya angan-angankan ketika jaman saya pertama kali mengenal Animal Planet, National Geographic, atau beberapa jenis yang mirip dengan itu. Dan masih ingatkah tentang Eliza Thornberry yang bisa bicara dengan binatang? That was so awesome. Terlepas dari itu, saya sering sekali mengganggap binatang itu sekelas manusia. Sungguh. Bahkan mungkin karena efek kartun itu, saya bahkan merasa benar-benar bisa membuat binatang mengerti maksud saya dengan melihat langsung ke dalam matanya. Tidak selamanya berhasil sih, tapi itu membuat saya memandang binatang dengan cara yang berbeda.

Dalam perbincangan tadi siang, kami memulai dengan membahas ‘setelah kuliah lantas apa?’. Dia berkata pada saya, “Kamu pernah nggak berpikir untuk belajar terus seumur hidup?”.

Dan maka saya bilang iya. Belajar itu obsesi terbesar saya meskipun saya tahu saya tidak mampu mengambil semuanya. Haha. Jadi teringat sindiran guru Bahasa Indonesia saya saat SMA, “Kamu lebih milih jago di satu bidang atau bisa semua tapi setengah-setengah?” Dengan yakin saya bilang “Saya lebih memilih bisa semua dan mendalam”. Menurut saya, secara naluriah saya tertarik dengan benda-benda langit, dengan interaksi antar makhluk hidup, dengan hal-hal yang tidak terlihat, dengan pemikiran manusia-manusia lain di bumi ini, dengan maksud Tuhan menciptakan kita, semuanya. Buat saya secara naluriah saya dibawa untuk bisa tertarik dengan semua itu, dan saya memilih untuk mengikutinya.

Saya ceritakan pada Fadlan, bahwa akhirnya saya pun menyadari apa yang tidak mungkin dari keinginan itu. Dengan keinginan yang begitu egois dan serakah, pada akhirnya saya tersadar bahwa setelah saya tahu semua, lantas buat apa jika akhirnya saya tidak mampu berbuat banyak? Itu bukan tindakan kemalasan saya bilang. Salah satu penyebabnya adalah gender, dan meski mungkin banyak yang menyangkal, tapi buat saya gender memberikan saya batasan untuk bergerak. Ketika kamu seorang wanita, kamu akan tahu seberapa mengekang kah itu, atau seberapa besar pengaruhnya terhadap pergerakan kita. Saat saya bisa bicara berdasar pengetahuan itu, tidak akan ada gunanya jika akhirnya saya pun tidak berbuat apa-apa. Jadi saya katakan padanya bahwa bisa jadi passion saya adalah menuliskan semua itu untuk banyak orang.

Lantas buat apa saya mengambil jurusan Arsitektur?

Haha. Itu pertanyaan yang amat mudah dijawab. Sama sederhananya dengan mengapa saya masuk Mapala. Saya sering punya impian kecil yang saya ikuti terus menerus. Seperti memilih jurusan, alasan sederhananya adalah karena saya ingin membangun sendiri tempat dimana anak-anak saya akan tumbuh besar. Karena saya penyuka matematika dan fisika tapi tak ingin merelakan kesenangan menggambar, dan pilihan itu jatuh pada Arsitektur. Dan itu lantas tidak membuat saya ingin menjadi arsitek handal. Lihatlah, pikiran saya sekarang tergoda pada membangun keluarga.

Saya mencoba berkelakar pada Fadlan tadi siang. Saya ceritakan ketakutan saya akan hari tua, bagaimana dunia ini akan berubah dalam waktu singkat. Bukankah revolusi industri belum lama berlalu dan sekarang kita sudah ribut masalah pemanasan global? Begitu cepat dunia berubah.

Saya sampaikan juga pemikiran saya tentang bahasan filsafat yang sering gagal saya pahami. Mengapa tak saya temukan pemikiran serupa dari penulis timur? Kenapa tak saya temukan gagasan ketimuran di banyak buku? Atau cuma sayanya aja yang belum nemu. Dan bukannya menyombongkan diri (oke, mungkin juga sih), kenapa kita harus mengutip sesuatu dari orang lain?

Ada pendapat dalam diri saya yang meyakini bahwa pertanyaan filosofis itu pernah mampir dalam diri setiap orang. Yang membedakan adalah momen ketika mereka tersadar akan pertanyaan itu. Beberapa memilih untuk langsung mencari jawabannya, beberapa menyimpan pertanyaan itu untuk nanti, beberapa takut jika menemukan jawaban sehingga memilih melupakan, beberapa terlalu nyaman sehingga mengabaikan, dan semua alasan lain yang akhirnya membagi manusia ke dua kubu besar; yang mencari jawaban dan yang melupakan. Jadi jika suatu hari kita bertemu dengan gagasan yang disampaikan orang lain, menurut saya itu hanya sebuah pemantik untuk mematangkan gagasan yang telah kita punya berdasar pengetahuan, pengalaman, dan teori yang kita kembangkan. Tapi sungguh, tidak masalah jika kita berimam ke satu tokoh, hanya saja kita harus punya pernyataan yang bertanggungjawab atas itu semua.

Kami juga berimajinasi tentang manusia yang menjadi lebih kecil di kemudian hari, meyakini bahwa memang begitulah evolusi terjadi (seperti Nabi Adam yang katanya dulu sangat besar). Bagaimana jika kita berubah jadi sekecil semut? Atau bagaimana jika kamu adalah tanah Jakarta? Atau bagaimana jika manusia membuat pulau-pulau mengambang untuk memindahkan populasi sementara pulau sungguhan memperbaiki diri? Atau mengapa kita tidak mulai saja menggunakan tenaga nuklir alih-alih mencoba berbagai energi alternatif sementara permintaan terlalu tinggi? Kenapa kita harus menuruti negara-negara pemenang perang sementara kita tidak ambil bagian dalam perang itu? Kenapa kita terbatas pada kebijakan politik dan ekonomi sementara kita tidak mengerti?

Pertanyaan itu berkembang semakin banyak tanpa bisa terkendali dalam pikiran saya. Kami juga sempat berkelakar tentang limbah radioaktif (saya sih amatir parah di bab ini). Teman saya yang jurusan Teknik Nuklir pernah cerita tentang studi limbah padat radioaktif. Lantas bertanyalah saya pada Fadlan, “Kenapa limbah itu nggak dibuang aja ke luar angkasa?”. “Iya ya, kan di luar angkasa juga isinya radioaktif”. Setelah berpikir sejenak, saya berkelakar, “Pasti udah pernah dipikirin coy sama negara maju. Kitanya aja yang ada di negara berkembang makanya nggak tau informasi begitu”. Dan belakangan saya konfirmasi ke Adoy bahwa gagasan itu sudah dibahas dari lama oleh para ahlinya. See, betapa menjadi negara tertinggal sangat mempengaruhi pemikiran seseorang.

Lebih jauh, saya teringat pernyataan senior saya tentang pentingnya mempelajari ruang angkasa. Bukankah yang kita lihat adalah citra jutaan tahun cahaya? Bukankah bintang yang paling dekat pun tidak mampu kita datangi dengan mengorbankan semua waktu yang kita punya? Singkatnya, kita tidak punya harapan di luar angkasa, jadi kenapa masih dipelajari?

Tapi, jika kita menemukan unsur di planet terdekat yang bisa dimanfaatkan di bumi, kenapa nggak? Kita tak bisa menutup kemungkinan itu. Atau kita tidak seharusnya menyerah pada pesona luar angkasa yang siapapun pasti tergoda. Dan bukankah jika kita berpikir sejauh itu, masalah kita tidak sebatas ribut dengan teman, tapi lebih jauh dari yang bisa kita temui di depan mata.

Jika kamu pernah punya pertanyaan tentang jiwa manusia, kamu akan paham maksud saya.

Ah, ada lagi gagasan di Brida yang juga pernah saya pikirkan sebelumnya. Jika bagian terkecil dari elemen adalah atom, dan tidak ada atom yang bertambah atau berkurang di bumi ini, bukankah sudah pasti ia akan menuai kehancuran jika salah satu berlebihan? Sebagai yang awam dalam membahas unsur-unsur alam, katakanlah ada x jumlah unsur karbon di bumi. Lantas ia mengalami reaksi kimia untuk kemudian terdistribusi menjadi minyak bumi, bagian dari flora fauna, tersebar di udara, atau tetap ada di tanah. Terus misalnya jumlah manusia semakin banyak, kan berarti unsur karbon yang membentuk selainnya menjadi berkurang bukah sih? Kasarnya, jika manusia semakin banyak, lalu minyak bumi diubah menjadi udara, lantas jumlah karbon ‘jatah’nya flora dan fauna harus menutup kekurangan ‘kebutuhan’ karbon pada manusia. Jadi akhirnya jumlah mereka akan berkurang. Mmm, itu…

Ah, ngerti kan ya maksud saya? Semacam itulah. Intinya, jika nanti semua cadangan unsur itu sudah kita pakai semua, maka bukankah kita harus merelakan banyak hal untuk mengantikan keberadaannya?

Kan, saya jadi takut setelah memikirkan itu.

Tapi, sekali lagi, saya hanya manusia. Mungkin saya bisa menjelaskan beberapa fenomena, atau bisa menerima banyak hal dengan lebih netral, atau bisa berpikir jauh hingga terlalu sakit saat jatuh. Tapi saya masih menganggap penting skripsi, atau harga bensin yang naik, atau urusan cinta, atau novel apa yang ingin saya baca, film-film yang baru keluar, dan lagu-lagu populer. Saya masih tertawa melihat kelakuan bodoh orang-orang, saya masih menangis jika terluka, atau sedikit banyak saya masih mencari popularitas dengan menulis ini semua.

Ya, saya masih tetap manusia biasa jika hanya sekedar memikirkan semua yang saya tulis di atas. Hah, ironi yang lebih menyakitkan bukan?

wordsflow

Cerita dalam Dunia Anna


Saya sedang membaca buku Dunia Anna, yang sekarang sudah bisa ditemukan di banyak toko buku.

Saya tidak akan banyak menulis tentang isi bukunya, atau bahkan membahas tentang pengarangnya, atau membahas tentang filsafat. Bukan itu topik utama tulisan saya yang ini.

Sekedar membagi rasa lega, akhirnya saya terbebas juga dari Seminar Pra Tugas Akhir yang harus saya laksanakan sebelum masuk ke Studio Perancangan Tugas Akhir saya. Kali ini saya membuat Museum Pinisi (entah saya lupa pernah membahasnya atau belum). Intinya sih, setelah ini saya harus mengejar revisi sebelum bulan Februari biar saya tetap bisa selesai bulan Mei. Karena saya sudah mulai lelah mengerjakan rangkaian skripsi yang maha panjang ini. Karena saya sebetulnya sedang mengejar sesuatu (atau katakanlah seseorang)

Well, sedikit cerita, seminar saya berlangsung amat sangat lancar. Di antara semua rombongan se-tim saya untungnya saya cukup sedikit revisinya, hanya saja harus banyak motong sana sini biar tinggal 80 halaman saja. Haha, itu tugas berat; membuang apa yang sudah susah payah kita kumpulkan. Tapi begitulah biar revisi ini lekas selesai.

Kembali ke topik bahasan,

Saya belum selesai membaca bukunya. Tapi saya terusik karena di tengah-tengah buku Jostein Gaarder membahas tentang antar generasi, dan ini mengingatkan saya akan ketakutan masa lalu saya.

Saya tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa kehidupan ini sebentar, buat saya itu tidak demikian. Hidup menjadi tampak sangat sebentar karena kita membandingkan dengan kecepatan cahaya, karena kita membandingkan dengan luasnya alam semesta, karena kita membandingkan seberapa tua alam yang kita tinggali ini. Tapi jika saya memperkecil lingkup imajinasi saya hanya sebatas pada manusia, menjadi tua itu menakutkan buat saya.

Dulu saya pernah memikirkan tentang kakek-nenek saya yang sudah hidup sejak penjajahan Belanda dan Jepang. Bayangkan saja, di era yang masih sangat manual seperti itu mereka lahir, dan di tahun ini dimana segala sesuatu telah berubah menjadi dunia cyber, mereka masih hidup. Ada berapa banyak peristiwa yang mereka lalui untuk sampai di hari ini. Ada berapa perubahan kebudayaan masyarakat yang mereka lewati hingga hari ini. Dan begitulah, mereka tergerus zaman yang masih mereka tinggali.

Maka setiap kali saya pulang ke rumah dan melihat kakek-nenek saya, pemikiran semacam itulah yang ada dalam benak saya. Apa yang akan saya temui di 10, 20, 30, bahkan 50 tahun ke depan? Di zaman seperti apa saya akhirnya akan meninggalkan dunia ini? Tanpa ingin membahas lebih, semua ini cukup jadi pemantik saja, karena memang yang kita kerjakan sekarang akan juga kita rasakan pengaruhnya hingga kita mati nanti.

Semacam meng-amin-i Soe Hok Gie jika mati muda itu adalah anugerah.

Dan, bukan kah itu menunjukkan bahwa manusia sebenarnya takut akan perubahan, meskipun akhirnya menerima hal itu, cepat atau lambat? Haha, olah pikir sejenak sebelum sibuk lagi dengan skripsi. Selamat sore…

wordsflow

A Creative Project


Saya menamainya “Sketch and Papers”, semacam projek kreatif handmade-notebook.

Berawal dari kesulitan saya menemukan notebook kecil yang menurut saya menarik dan harganya cukup terjangkau, akhirnya saya mulai untuk berkarya membuat notebook sendiri untuk kebutuhan saya dan untuk kado teman-teman di sekitar saya. Dari sana pula banyak yang akhirnya meminta saya untuk membuat usaha, itu jauh sebelum akhirnya saya memutuskan untuk merealisasikannya.

Tapi percaya atau tidak, justru ketika saya sedang tidak sungguh-sungguh untuk merealisasikannya, datang lah kesempatan yang membuat saya tergugah untuk menjadikannya bisnis kreatif.

Dan bagitulah “Sketch and Papers” tercipta.

Seri handmade-notebook yang saya buat merupakan jenis notebook polos yang membebaskan pemiliknya untuk berkreasi baik pada cover maupun pada isinya. Ini merupakan sebuah realisasi dari keinginan saya untuk memiliki notebook serupa yang tidak pernah saya temukan di toko buku, atau kalaupun saya menemukannya ia menjadi terlalu mahal atau terlalu tebal. Maka saya mengekspresikan keinginan saya pada buku ini. Terlebih lagi karena saya juga termasuk orang yang suka menggambar, jadi begitu lah selera notebook saya.

Kamu juga bisa request khusus untuk edisi birthday gift, sesuai dengan jenis dan bentuk buku yang kamu inginkan.

Dan begitulah, cek webnya di bawah ini ya… Selamat melihat-lihat… 🙂

http://sketchandpaper.wordpress.com/

http://sketchandpaper.wordpress.com/

wordsflow

Perempuan (i)


Pernah dalam suatu masa saya menggugat dalam pikiran, tentang keberadaan perempuan. Tentang diri kami di mata laki-laki. Mengapa kami selalu tidak pernah bisa setara, bahkan mendekati? Dan dengan demikian, apa yang menjadikan seorang wanita itu istimewa sebagai manusia?

Ah, mungkin ini tidak perlu saya jawab di sini. Cukup di pikirkan di dalam diri kita masing-masing seberapa tinggi wanita itu di mata kita.

Perempuan berasal dari bahasa sanskerta, empu yang berarti yang dimuliakan.

Tapi dalam banyak buku yang saya baca, terutama pada mereka yang condong ke arah feminisme, banyak pengungkapan bentuk perlakuan pada perempuan yang tidak sesuai dengan apa yang mereka katakan tentangnya.

Nawal el Saadawi dalam bukunya ‘Perempuan di Titik Nol’ menceritakan tentang seorang pelacur yang menunggu hukuman mati. Ia menceritakan tentang kisah hidupnya di Kairo dengan semua bentuk perlakuan yang pernah ia terima dari laki-laki yang hidup di sekitarnya.

“Saya tahu bahwa profesi saya telah diciptakan oleh lelaki, dan bahwa lelaki menguasai dua dunia kita, yang di bumi ini dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka denga harga tertentu, dan bahwa tubuh paling murah dibayar adalah tubuh sang isteri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada menjadi seorang isteri yang diperbudak.”

Saya sedang tidak ingin mereview isi buku itu. Tapi saya sarankan untuk membacanya sendiri, sebelum kita dilarang untuk membaca buku tertentu, atau sebelum buku-buku itu dihancurkan atau ditarik dari edaran. Yah, siapa tahu itu nanti terjadi.

Tidak pula saya ingin mendukung atau menyangkal isi buku. Saya hanya ingin menanggapi sesuai dengan apa yang saya pikirkan.

Sesungguhnya ada banyak orang yang memiliki pemikiran dalam dirinya masing-masing. Bahkan bisa jadi pemikiran mereka bukan sekedar pemikiran dangkal yang tidak pantas untuk diketahui orang lain. Karena saya meyakini, sebenarnya masing-masing orang adalah filsuf, paling tidak untuk diri mereka sendiri.

Dan tentunya saya menyayangkan banyaknya perempuan yang tidak menulis, baik tentang topik perempuan secara umum maupun tentang diri mereka sendiri.

Terkadang saya kesal ketika membaca blog yang hanya menceritakan tentang keluh kesah perempuan tentang hidupnya, terutama yang berhubungan dengan laki-laki. Tapi belakangan saya pun menyadari, bahwa begitu munafiknya saya jika saya membenci itu, karena saya pun banyak menuliskan hal yang sama. Dalam buku diary, dalam blog ini, dalam timeline sosial media saya, dan banyak tempat lainnya. Ya, saya seakan-akan menipu diri.

Lantas, apa yang sebenarnya ingin saya dapatkan dalam semua tulisan itu?

Ada di antaranya yang sungguh-sungguh ingin saya sampaikan kepada seseorang, agar ia tahu, agar ia mengerti bahwa ada orang lain yang begitu menyayanginya dalam bentuk yang saya ungkapkan. Terkadang beberapa tulisan hanya luapan perasaan dalam kesendirian dan keterasingan. Di saat yang lain, saya menulis untuk menggugat manusia-manusia di sekeliling saya. Dan yang lain lagi adalah ekspresi saya dalam (mencoba) menulis karya sastra.

Ini perlu, karena bagi saya, wanita adalah manusia yang tepat untuk mengungkapkan segalanya dalam bentuk tulisan. Karena ekspresi kita lebih mendalam dalam keadaan sunyi dan hening. Karena semua ini menyenangkan, tidak berbatas, dan tidak tergugat.

Ah, kembali ke novel Perempuan di Titik Nol.

Seperti dalam bagian yang saya kutip di atas, perempuan menggugat peran lelaki dalam menciptakan pelacur di dunia ini. Namun selalu, mengapa kami yang selalu dipersalahkan dalam hal ini? Mengapa tidak pernah ada yang mempertanyaan kesucian laki-laki, dan hanya kami yang selalu dituduh dan digugat?

Saya tidak sedang berusaha untuk membenarkan tindakan perempuan yang ingin ‘membalas dendam’ pada lelaki. Justru yang lebih ingin saya katakan adalah,

Hei, jangan hanya memandang dan mempersalahkan perempuan di hadapanmu, berkacalah dan tatap kedalaman matamu sendiri!

Dalam banyak hubungan, bukan hanya perempuan yang mengisi dan mendominasi, bukan pula sang lelaki. Tapi hubungan adalah interaksi mendalam dua individu yang seharusnya setara dan sebanding, karena jika tidak maka akan ada pihak yang terluka dan tersakiti. Sayangnya, kesadaran akan itu selalu saja ditutupi dengan keangkuhan dan kesombongan untuk tidak mau merendahkan diri satu sama lain. Jika hubungan dimaknakan seperti itu, maka semuanya hanya akan menjadi luka semata, hanya menjadi sesuatu yang tertanam dalam pikiran. Hanya berakhir dengan tuntutan.

Belakangan, setelah membaca novel itu, membaca banyak cerpen, mendengar cerita orang lain, dan juga menganalisa secara pribadi lingkungan di sekitar saya, saya merasa lebih bisa menghargai mereka yang melacurkan diri. Bahkan dalam Supernova karya Dewi Lestari pun, ada orang yang demikian, tentunya dengan pemikiran yang ia bawa.

Tapi tidak, saya sedang tidak mendukung tindakan pelacuran, atau semua hal yang sejenisnya. Saya punya pemikiran tersendiri tentang semua itu, terutama menyangkut diri saya sendiri.

Hanya saja, lagi-lagi saya ingin menyampaikan pada Anda sekalian, untuk tetap menjadi manusia yang bisa melihat lebih peka dan lebih kritis terhadap segala sesuatu. Saya juga bukan orang yang bebas dari kesalahan dari penghakiman terhadap mereka yang dicap buruk oleh masyarakat. Dan terlepas dari nilai-nilai agama yang selama ini dijunjung tinggi di negara ini, saya merasa pelacur tidak lebih buruk dari mereka yang mencaci tanpa mengevaluasi diri sendiri.

Ya, baik secara langsung maupun tidak, kita juga turut menjerumuskan mereka pada dunia itu. Ketika kita tahu seorang perempuan sudah tidak ‘suci’ lagi, kita ramai-ramai bergunjing dan menyerangnya, sehingga ia akan lebih memilih untuk melanjutkan apa yang sudah ia mulai. Kita beramai-ramai meragukan orang yang ingin kembali ke masyarakat. Kita melarang perempuan yang pernah menjadi pelacur untuk tinggal di lingkungan kita, melarang anak-anak untuk menyapa mereka, dan menganggap mereka adalah penyakit.

Bukankah mereka juga manusia yang juga lahir dari manusia? Bukankah kita sama-sama terdiri dari darah dan dosa?

Kita mengkotak-kotakan segala sesuatu, menyingkirkan yang tidak kita senangi, dan hanya berhubungan dengan mereka yang kita anggap ‘pantas’. Padahal yang mereka sebut pantas itulah yang menghancurkan kemanusiaan sekelilingnya.

Jika memang kita tidak ingin membantu seseorang, maka setidaknya jangan menyakiti mereka.

Semua orang memiliki hak yang sama, hak untuk hidup dengan tenang di dunia ini, karena mereka pun dilahirkan seperti halnya kita. Jika pun ada orang yang merasa lebih tinggi, maka mereka hanya orang-orang yang tidak pernah memandang dunia dengan mata terbuka. Setelahnya, janganlah kita menyakiti orang lain, jika kita tidak juga ingin disakiti oleh orang lain.

Semua tindakan kita adalah yang akan dicatat oleh sekitar kita, dicerna, dan dikembalikan dalam bentuk yang kurang lebih setara. Dan begitu lah semua siklus itu selamanya akan menjadi lingkaran yang tidak akan pernah berakhir.

(*)

Saya menolak segala bentuk pengekangan terhadap keinginan perempuan untuk terus belajar. Saya menolak opini mereka yang mengatakan bahwa tidak selayaknya perempuan mengenyam pendidikan yang terlalu tinggi.

Bagi saya, bahkan seharusnya perempuan yang lebih banyak belajar, lebih banyak membaca, lebih banyak melihat, lebih banyak menganalisa. Karena meskipun tujuan mulia perempuan adalah menjadi seorang istri dan ibu, tapi itu bukanlah hal yang mudah.

Istri, seharusnya menjadi orang pertama yang harus tahu kesulitan suaminya, orang yang bisa mendengar dan memberi pendapat. Dan karenanya, perempuan tidak seharusnya menjadi individu yang biasa saja. Bukan untuk menjadi lebih pintar dan lebih tahu dari laki-laki. Tapi justru untuk memahami pemikiran laki-laki, kita harus bisa melampaui pemikiran itu sendiri.

Menjadi ibu pun bukan perihal gampang. Karena kita adalah pendidik pertama yang akan mengantarkan seorang anak dalam menghadapi lingkungan masyarakatnya. Keluarga adalah lingkup yang paling mikro dalam pendidikan seseorang, dan ibu menjadi tameng yang paling depan dalam menghalau pertanyaan ‘mengapa’ dari seorang anak yang penasaran.

Bukankah pertanyaan kenapa membuat kita menjadi seorang filsuf sejati?

Dan itulah yang dilakukan anak-anak saat mereka kecil. Mereka tidak berhenti untuk bertanya mengapa, mengapa, dan mengapa. Hanya orang yang dengan sombongnya mengatakan bahwa ia telah dewasa yang akan berhenti bertanya ‘mengapa’ dan disanalah ia berhenti belajar. Mungkin juga tidak terkecuali saya sendiri.

Ya, buat saya, tidak lah salah bagi perempuan untuk berusaha mendekati atau bahkan melampaui pengetahuan laki-laki. Yang menjadi kurang tepat adalah ketika kita melupakan tujuan itu dan meninggikan ego kita untuk ‘membalas dendam’ pada laki-laki. Bukan kah pendendam adalah sifat alami perempuan yang tidak bisa dihilangkan?

Ah, tapi mungkin itu akan saya bahas lain kali, karena jika saya teruskan ini akan menjadi postingan yang panjang. Hehehe…

Jadi, selamat malam, selamat kembali ke dunia pikiran… 😀

wordsflow

Pada Penderitaan


Jujur, jika saya ditanya, saya tidak tahu bagaimana rupa derita, karena secara umum saya tidak pernah merasakannya.

Jika dibandingkan dengan mereka yang pernah hidup dalam perang, dalam pengasingan, dalam ketidakadilan, hidup saya bisa dibilang sangat bahagia, tidak kekurangan apapun. Hanya saja, kini saya yakin pada suatu titik, banyak orang yang menderita yang pernah merasa begitu bahagia, melebihi apa yang pernah saya rasakan dalam hidup saya.

Saya baru saja membaca Kumpulan Cerita-nya Leila S. Chudori yang berjudul Malam Terakhir, yang cukup banyak menceritakan derita dan ketidakadilan yang mungkin pernah terjadi di negeri ini. Tidak jauh beda dengan apa yang dituliskan Puthut EA pada bukunya (yang sudah saya tulis di postingan sebelumnya), semuanya berhubungan dengan rasa kemanusiaan.

Saya tidak pernah mengerti dengan mereka yang mendengungkan keadilan, tapi memperlakukan sesama manusianya dengan cara binatang, dan bahkan lebih buruk dari binatang. Mereka yang membantai atas nama keadilan, hanyalah orang-orang yang lebih buruk dari mereka yang membunuh dengan jujur. Begitu menjijikannya mereka yang bisa menyiksa manusia seakan mereka adalah manusia suci. Sungguh memuakkan.

Ada perang di Gaza, ada banyak yang kehilangan nyawa.

Tapi tidak ada yang bisa saya lakukan di sini. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk mereka.

Saya hanya bisa sebatas membaca berita, ikut menyebarkan ke sekeliling saya yang tidak tahu, lalu sibuk mengutuk di dalam hati. Ya, tidak ada yang lain. Selebihnya saya hanya bisa terus mencari tahu dan hanya bisa merasa kesal.

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Saya tetap yakin, mereka yang ada di Gaza dan Palestina secara umum adalah orang-orang yang tidak pernah kekurangan cinta. Mereka akan tetap tegak, karena ada banyak tangan yang tidak pernah berhenti mendukung mereka, karena ada banyak nyawa yang terus menguatkan mereka.

Jika saya pernah mengatakan bahwa dunia ini milik anak-anak, maka paling tidak berdoalah untuk mereka yang masih belum mengenal dosa. Dan ingatlah jika bisa saja itu terjadi pada orang-orang terdekat kita, keluarga kita, atau teman kita di sekolah.

Kita tidak lah berbeda dengan semua manusia di dunia ini. Kita hanya kebetulan datang ke dunia melalui lorong yang dipilihkan Tuhan. Lalu kenapa harus mengusik orang lain?

Sungguh tidak bisa kah manusia hidup dalam damai? Jika bumi mungkin ditelan matahari, mengapai perdamaian menjadi tidak mungkin? Sungguh tidak bisa kah?

Dalam ketidakmampuan saya berbuat sesuatu yang nyata, mungkin hanya lewat tulisan saya bisa memberikan dukungan. Saya tidak tahu kapan ini akan berakhir, tapi semoga secepatnya. Saya percaya pada teori mestakung. Dan jika itu sungguh nyata, semoga banyak orang yang mau ikut mewujudkannya.

#SaveGaza #VivaPalestine

wordsflow

Setelah Membaca Buku


Membaca “Drama Itu Berkisah Terlalu Jauh…” karya Mas Puthut EA membuat saya ingin menulis tentang sesuatu yang selama ini hanya sebatas pikiran semata.

Saya tidak akan banyak berbicara tentang sosialisme, komunisme, liberalisme, nasionalisme, dan semua ‘isme’ itu, karena saya pun tidak cukup paham tentang konsepnya. Takutnya hanya akan berakhir dengan salah kaprah antara saya dan kalian, atau antara penggagas konsep itu dengan saya. Ya begitulah. Anggap saja saya hanya ingin berbicara antar manusia biasa, yang tidak lebih pintar dari Anda sekalian yang nyasar membaca postingan ini.

Ada banyak cerita dalam kumpulan cerpen tersebut. Buat kalian yang ingin membaca topik cukup berat dengan bahasa yang cukup mudah dicerna, sepertinya buku itu cocok untuk dibaca, dan menjadi suntikan ide sebelum menulis sesuatu.

Saya jadi teringat dengan perbincangan yang marak terjadi di lincak selama kira-kira 2 tahunan yang lalu, di mana setiap orang lebih suka berdiskusi ngalor ngidul ketimbang mengurusi timeline facebook, twitter, atau media sosial lainnya. Banyak bahasan yang berhubungan dengan kemanusiaan, kepedulian, lingkungan, pendidikan, dan semua hal yang selama ini menjadi keresahan masing-masing manusia di sini.

Teringat halaman-halaman pertama membaca buku itu, saya kembali teringat orang tua saya.

Entahlah. Bagaimana jika, orangtua ditinggalkan anak-anaknya ketika mereka telah tua? Bagaimana jika anak-anak ini tidak pernah berkunjung? Bagaimana jika mereka tidak akan pernah mendengar kabar anak-anaknya? Bagaimana bahkan, jika suatu ketika justru ada orang lain yang tidak dikenal mengabarkan kematiannya? Bagus jika mayatnya kembali, tapi jika kabar itu bahkan tidak pernah kamu tahu faktanya?

Saya memang belum punya anak, bahkan belum sungguh-sungguh kepikiran untuk punya anak. Tapi beberapa kali dalam seminggu ini saya tidak sengaja membaca banyak artikel tentang hal yang sama. Bahwa masing-masing dari kita tidak selayaknya meninggalkan orang tua kita, apapun kondisinya.

Saya menyadari bahwa terkadang kami tidak sesuara dalam berpendapat, bahkan terkadang sama sekali bertolak belakang. Banyak hal yang saya lakukan tidak disetujui oleh orang tua saya. Dan tidak jarang rasa sayang mereka justru malah ‘mengganggu’ saya. Tapi sungguh, saya harus terus-menerus sadar bahwa saya bukan apapun tanpa mereka. Saya masih terus dihidupi oleh mereka. Ketika saya terluka, mereka selalu bisa ‘menyembuhkan’ saya tanpa melakukan apapun juga. Saya iri pada orang tua saya. Karena mereka bisa mengendalikan saya dengan begitu rupa, sehingga saya harus terus ‘bergantung’ pada mereka.

Ya, saya tidak mandiri sama sekali. Karena saya terlalu lemah sekedar untuk memikirkan momen saya akan kehilangan salah satu atau keduanya, suatu hari nanti.

Meski demikian, godaan menjadi pengelana selalu datang pada saya. Karena saya ingin mencoba menjadi orang yang tidak memiliki apapun, selain kemauan dan usaha. Selain rasa percaya bahwa ada banyak orang di dunia ini yang masih menganggap sesamanya sebagai saudara. Dan itu saya dapatkan dalam perjalanan 10 hari saya dari Jogja-Surabaya-Makassar-Bulukumba-Makassar-Jakarta-Jogja. Semacam perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, sendirian, dan penuh kejutan. Dalam perjalanan itu, saya menemukan keramahan Indonesia yang selama ini tidak pernah dinikmati oleh banyak warganya.

Entah saya yang memang terlalu skeptis atau gimana, tapi jarang sekali saya menemukan orang yang dengan mudah menerima orang lain, yang katanya adalah saudara sebangsa dan setanah air.

Sepertinya orang sekarang lebih mudah curiga…

__ Mas Marga dalam Drama Itu Berkisah Terlalu Jauh…

Ya, mungkin masyarakat terlalu curiga dengan sesamanya. Kebaikan selalu harus dibayar dengan mahal. Tidak ada lagi tolong-menolong dan pinjam-meminjam. Segalanya harus berorientasi pada uang (baca: sewa dan beli). Dan karenanya, saya merasa sangat beruntung karena orang-orang di sekitar saya masih cukup paham bagaimana cara menolong dan membantu orang lain.

Bicara tentang tolong-menolong, saya terkadang tidak tahu harus bagaimana menghadapi para pengemis. Di satu sisi saya merasa malu jika tidak membantu mereka, tapi di satu sisi saya tidak suka dengan caranya. Saya jauh lebih ikhlas jika saya harus membeli sesuatu (yang mungkin tidak cukup berguna) dari seseorang yang menjual dagangan di pinggir jalan. Karena usaha itu ada pada mereka, karena mereka begitu gigih memperjuangkan apa yang ingin mereka dapatkan. Meski mungkin pada akhirnya saya juga membenci mereka yang memperdagangkan tipuan.

Terkadang muncul pemikiran bahwa saya sangat memalukan. Saya mengendarai motor, makan makanan enak, tidur di tempat nyaman, berpakaian bagus, punya banyak barang bagus, bisa membaca segala buku, kuliah, dan semua fasilitas yang saya miliki. Padahal ada orang-orang yang bahkan untuk makan saja susah, untuk berteduh saja tidak bisa. Tapi saya pun tidak tahu harus bagaimana.

Saya tidak mau muluk-muluk bicara ini itu untuk membantu seseorang, karena selama ini semua itu tidak sungguh-sungguh bisa membantu. Saya ingin seperti Romo Mangun yang tinggal langsung dan berbagi dengan mereka. Berbagi dalam hal apapun, ilmu, rezeki, ide, dan semua hal yang dapat dibagi dengan orang lain, bahkan kebahagiaan.

Ini bukan tuntutan atau apapun. Tapi mungkin sebagai sesama manusia, alangkah lebih baik jika kita mulai peduli dengan manusia yang hidup di sekitar kita. Tidak perlu kita pergi jauh-jauh ke Palestina atau ke Suriah. Tidak perlu kita mengumbar kesedihan dan rasa iba tentang mereka. Cukup mulai dari hal yang sederhana untuk membantu sesama. Makan di warung makan lokal, membaca buku dan tulisan tokoh-tokoh Indonesia tentang keresahannya, membeli koran dari orang-orang di pinggir jalan, menonton pertunjukkan seni, datang ke pameran, mendengarkan debat dan bedah buku, turut berdiskusi masalah-masalah umum Indonesia, dan selalu tersenyum pada siapapun yang kamu temui.

Semua usaha sederhana itu akan membawa dampak yang lebih nyata dari pada anti sama sekali terhadap produk luar negeri, karena kamu nggak mungkin bisa. Atau mengumbar rasa iba pada penderitaan warga dunia di belahan lain, padahal kamu tidak pernah membaca koran lokal, tidak pernah tahu masalah sosial yang dihadapi teman sebangkumu, atau semacamnya.

Saya tidak berusaha untuk mengkritik siapapun secara khusus. Anggap saja ini kritik untuk saya pribadi yang selama ini juga tidak cukup peduli.

Ya, ada terlalu banyak hal yang meresahkan di dunia ini, entah itu jauh atau pun dekat dari kita. Ada banyak konsep yang selalu dengan mudah dicap baik atau buruk tanpa menelisik dan menelaahnya lebih dalam. Orang mudah percaya, apalagi pada sesuatu yang dipercaya oleh banyak orang juga. Orang selalu bergerombol dalam memfitnah dan menjelek-jelekkan, tapi takut berdiri sendirian di atas kebenaran yang sesungguhnya. Banyak orang yang lebih percaya pemikirannya sendiri dibandingkan melihat kembali dan mencoba berdialektika dengan lingkungannya.

Pada akhirnya mereka berbondong-bondong menentukan ‘kebenaran’ yang mereka percaya, dan menafikan sebaliknya.

Saya tidak percaya pada hitam dan putih. Saya hanya percaya pada abu-abu, karena kita adalah manusia. Karena hitam dan putih hanya milik Tuhan semata.

wordsflow

Bifurkasi


Sampailah saya pada titik balik pencarian niat dan semangat untuk kembali menulis serius.

Tepat pada malam Sabtu kemarin saya menemukan judul yang sangat cocok dengan calon novel saya kelak. BIFURKASI. Kata yang sangat sesuai menggambarkan segalanya yang ingin saya tulis nanti. Tampaknya tidak ada hal lain lagi yang ingin saya cari setelah menemukan kata ini.

Saya padahal sudah pernah mendengarnya sebelumnya. Namun entah mengapa baru beberapa hari ini saya sungguh-sungguh merenungi kata ini.

Saya menghabiskan setengah hari Minggu saya dengan membaca Norwegian Wood-nya Haruki Murakami. 100 halaman pertamanya membuat saya terus memikirkan susunan kata, suasana hati tokoh utamanya, cara berpikirnya, dan alur ceritanya. Entah bisa disebut beruntung atau tidak, karena saya menemukan suasana hati yang sama seperti waktu saya membaca Orang Asing karya Albert Camus. Itu hanya dalam satu minggu terakhir.

Saya berakhir dengan merasa absurd, tidak merasakan apapun, tidak khawatir akan apapun.

Suasana Pantai Siung, ombak yang begitu bergelora siang itu, batu yang terus terhempas ombak berulang kali, buih putih yang timbul dan meluas, semua saya tatap terus menerus. Perulangan itu menjadi nada harmonis dalam penglihatan saya. Sementara pikiran saya menyamakan dengan suasana hati yang timbul dari novel yang sedang saya baca. Ceruk yang saya temukan di balik tebing itu sangat menyenangkan. Seakan-akan memang hanya ditujukan untuk saya seorang. Spot yang hanya bisa dihuni oleh satu orang, dalam bentuk tempat duduk yang nyaman, langsung menghadap ke selatan, dan jauh dari ancaman panas matahari.

Selama membaca buku, perasaan saya berubah menuju ke diri saya yang seorang lagi. Kesendirian itu bahkan menambah kesempurnaan pagi itu untuk menjadikan saya menjadi saya yang lain. Pagi yang menyenangkan.

Dan selama berkontemplasi itu, akhirnya saya menemukan plot yang selama ini saya tunggu-tunggu kedatangannya. Saya menemukan keinginan untuk menulis kembali. Saya menemukan tujuan saya dalam menulis. Saya menemukan sebuah alur, judul, tokoh, dan segala ramuan yang saya butuhkan untuk menulis novel.

Pagi di hari Minggu yang menyenangkan.

Dan seperti yang saya bilang, umur 22 sangat berarti untuk seorang perempuan. Semingguan ini saya menjalani hari-hari pertama saya menuju umur 23 tahun, saya menemukan banyak hal, meski dengan hanya duduk dan menulis.

Ya, umur 22 memang sangat penting untuk seorang perempuan. Dan di umur ini saya akhirnya berani menulis kembali. Bukan lagi tulisan anak SMP yang masih sekedar tahu bahagia. Atau bukan lagi tulisan anak SMA yang hanya tahu bertanya tanpa tahu dimana harus mencari jawabannya. Bukan pula tulisan anak kuliahan dengan topik idealismenya. Mungkin tidak akan terlalu istimewa. Tapi ini akan menjadi tulisan saya di umur dua puluh dua.

wordsflow