WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

Category: on Travelling

pantai, dan hari panas yang lain


Sudah lama saya tidak menulis sebuah catatan perjalanan. Maka, kali ini saya mau bercerita sejenak perihal libur yang tiada habisnya. Dan waktu yang terlalui dengan begitu banyak percakapan di antara berbagai manusia.

Pantai sudah menjadi hal yang saya akrabi sejak kecil. Tapi karena ketakutan saya pada air, jarang sekali saya merasa sungguh menikmati pantai, hehe. Lebih dari itu, air pantai selalu pliket dan tidak nyaman di kulit, sehingga saya tidak sebegitu merasa tertarik kepada pantai. Tapi yah, meski begitu nyatanya saya sering bermain ke pantai, entah dengan berbagai macam tujuan, hehe.

Sekitar setahun yang lalu, Ocean of Life yang ada di Watu Kodok membuat semacam trip tracking dari Siung ke Wedi Ombo. Jalurnya sangat indah, dan karena mahal saya tidak ikut trip itu.

Hingga akhirnya, beberapa waktu yang lalu saya menemukan teman seperjalanan untuk trip ini, hehehe. Kami berlima memutuskan untuk menghabiskan waktu libur yang mepet dengan mengambil trip ke sini. Sebenarnya tripnya nggak sampai tracking ke Wedi Ombo, tapi ini sudah sangat menyenangkan.

Saya tadinya hampir memutuskan tidak jadi berangkat karena begadang, tapi akhirnya jalan juga, hehe. Setelah sarapan soto di Sagan, kami pun berangkat menuju Pantai Siung. Hari itu sangat panas, dan udara yang begitu gerah menemani kami. Beruntung sekali karena saya tidak harus menggunakan motor saya yang sudah menyedihkan itu, hahaha.

Begitu sampai kami sama sekali tidak menyentuh air laut dan langsung saja menuju tempat tujuan. Jalan di tengah terik matahari memang tidak menyenangkan. Bahkan selepas tanjakan pertama kami memutuskan nongkrong di warung dan membeli es teh. Sayang sekali si es tidak ada, jadilah kami hanya numpang berteduh di warung sembari mengumpulkan semangat menerobos terik matahari yang gila-gilaan.

Kan, tiba-tiba saya tidak bersemangat meneruskan cerita ini.

Tapi yasudah, pokoknya kami menempuh perjalanan lumayan panjang melewati ladang dan jalan setapak. Saya sangat menyukai jalan itu, suka banget. Dan beruntung sekali akhirnya saya bisa menempuh perjalanan di jalur yang sudah saya angan-angankan sejak tahun kemarin.

Setelah tanjakan pertama tadi, jalanan berubah datar. Jalan menanjak hanya sampai warung yang biasanya digunakan untuk berfoto-foto para pengunjung Siung. Tidak banyak yang meneruskan ke jalur kami, dan riuh rendah pengunjung teredam begitu kami meneruskan perjalanan. Jalan setapak yang membawa kami berbelok ke kanan, melewati ladang kacang. Kami membayar retribusi untuk kedua kalinya di bagian ini. Ada beberapa rumah yang kami lewati, dan memang orang-orang ini tampaknya tinggal di sana.

Jalanan kemudian berbelok turun ke kiri, ke arah sungai. Kami melewati jalan setapak di samping sungai. Dan, jeng-jeng-jeng, ada rumah lain yang jualan es teh. Langsung saja kami duduk di lincak bawah pohon, memesan es teh, main musik, lalu foto-foto di sungai, hehe. Pemandangan dari spot itu bagus, dan saya bisa saja betah sampai sore nongkrong di sana.

Air mengalir sampai ke laut ❤

Sampai sini saja saya sudah bahagia, padahal tujuan kami masih setikungan lagi. Hehehehe. Entah berapa banyak foto yang kami ambil, tapi cukup lama kami menghabiskan waktu di sini. Bahkan sempat membuat rekaman video kompilasi musik. Selesai membayar minuman kami meneruskan perjalanan. Sebenarnya terik matahari dan udara bercampur air laut sudah berhasil membuat saya gerah banget. Jadi saya sarankan untuk tidak memakai celana jeans kalau jalan-jalan ke sana. Gunakan juga pakaian yang outdoor yang nyaman. Intinya, lebih baik setelah outdoor gembel gitu lah yaaa, jangan kayak saya. Hahaha.

Spot favorit

Ini dia spot foto yang membuat saya mupeng banget sedari setahun yang lalu, ketika saya melihatnya di poster Ocean of Life. Menyenangkan, sungguh. Dan saya rela berlama-lama di sepanjang jalan itu untuk merekam semua yang saya lihat di dalam ingatan. Bahkan, saya pikir saya sebaiknya punya rumah yang halaman belakangnya langsung menuju jalan semacam ini. Well, that’s too over-dream sih tapi.

Jalan itu tidak panjang memang, hanya setikungan itu, kemudian menanjak sebentar, dan sampailah kami di bukit tujuan! Dari sana sebenarnya bisa dilanjutkan sampai ke Wedi Ombo. Tapi itu bukan tujuan kami, dan rasanya terlalu lapar untuk melanjutkan perjalanan. Kami akhirnya menghabiskan seharian untuk duduk termenung, mengobrol hal-hal receh hingga serius, masak-masakan, baca novel, mainan anjing, sampai bikin video rekaman. Seolah-olah tak ada pe-er yang menunggu untuk dikerjakan bersama, hehehe.

Tapi bagaimanapun, jalur itu layak untuk dilalui lagi, mungkin berkali-kali.

Si anjing jinak yang menemani main

Yang ini si anjing manis yang menjaga tempat main kami. Dia kepunyaan bapak-bapak yang buka warung di sana, sekaligus penjaga bukit kali ya. Saya sebetulnya terobsesi punya anjing dari lama. Maunya sih, kalau nggak golden retriever ya siberian husky. Tapi saya takut memelihara hewan; takut nggak sanggup ngerawat dan akhirnya mati. Dan oleh karena itu saya lebih suka gangguin piaraan orang lain, hehe. Duuh, si anjing tampan banget deh, gemas!

Grup musik dadakan

Si teman saya yang pegang gitar itu punya berbagai alat musik daerah, yang dengan suka rela ia bawakan untuk kami. Dia juga yang mengaransemen komposisi musik untuk kami jadikan video rekaman di siang yang terik itu. Jadilah jalan-jalan kami menghasilkan dua rekaman video musik yang cukup membanggakan buat saya yang memang nggak pernah punya bakat musik dari dulu. Saya tadinya mau membagikan videonya, apa daya karena filenya yang terlalu besar makanya saya tidak bisa upload, hehe.

Akhir kata, akhirnya saya selesaikan juga tulisan ini. Daan, mungkin saya akan menulis trip-trip lain. Mungkin.

 

Ceritanya sok-sok-an candid

laugh until it get hurts, yet it would never hurts your heart; only tickling your stomach instead

wordsflow

Kota-kota Kecil and Romantika Pencarian


Menuliskan sedikit cerita dari hari-hari saya yang biasa saja. Maaf nggak nyambung blas sama judulnya, hehe.

Well, belakangan memang banyak hal yang terjadi di hidup saya, meski harus saya akui bahwa itu bukan hal yang luar biasa. Saya masih saja kelayapan kemana-mana dengan diri saya sendiri. Mencari suaka atas keresahan di tempat-tempat yang teduh dan menyenangkan.

Beberapa hari setelah Lebaran tahun ini, saya berkesempatan untuk mengelilingi beberapa kota kecil di sekitaran Jogja. Awalnya saya ke Salatiga, pertama kalinya saya sungguh-sungguh datang ke kota itu setelah sebelumnya hanya tahu namanya saja. Padahal nenek saya tinggal hanya sekitar 20 menit dari kota, tapi sayangnya saya tak pernah mampir.

Entah mungkin karena saya bekas mahasiswa Arsitektur atau saya memang terlalu menyukai hal-hal yang berbau lampau, selalu saja, di manapun saya singgah, hal pertama yang menarik perhatian saya adalah bangunan Belanda yang ada di kota tersebut. Setelah sebelumnya saya pikir Salatiga adalah kota buatan jauh setelah Belanda, tampaknya saya salah besar. Banyak bangunan lama di kota ini, meski saya hanya sekilas melihatnya saja.

Beranjak ke Temanggung beberapa hari kemudian, saya juga menemukan tanda-tanda yang sama tentang peninggalan Belanda di kota ini. Bahkan ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang, dahulu ada rel kereta dari Parakan. Bahkan rumah teman saya ada di belakang bekas stasiun.

Saya sebenarnya ingin membahas banyak tentang kota-kota kecil ini. Sejujurnya, bahkan saya berencana untuk melakukan ekspedisi kota-kota kecil peninggalan Belanda. Agak muluk memang, but it’s worth to try. Bagaimanapun, saya memang suka dengan bangunan-bangunan lama. Bukan karena bagus atau jeleknya sih, di luar nilai-nilai estetis bangunannya, bangunan lama selalu tampak syahdu dan menarik bahkan sekedar untuk dilihat dari jauh. Apalagi sampai mempelajari lebih dalam. Pasti akan sangat seru sekali.

Lanjut, masih ada Magelang yang cukup menarik perhatian saya dari lama. Apalagi setelah pernah dibekali kuliah tentang kota Magelang oleh salah satu mahasiswa S3 di jurusan saya dulu. Ibunya kelahiran Magelang dan bahkan mempelajari Magelang sampai ke Belanda. Dia sangat tahu kota itu, meski saya kurang yakin hal apa saja yang pernah ibunya berikan untuk Magelang.

Terakhir, saya tentu bersinggungan dengan Jogja, setiap waktu. Kota saya saja bahkan belum pernah sungguh-sungguh saya telusuri setiap jengkalnya. Ada beberapa tempat yang belum berhasil saya rekam dalam ingatan. Sedikit demi sedikit, saya mencoba rutin untuk jalan-jalan. Sekedar menghabiskan waktu, mengisi memori, menyembuhkan diri, dan memperkaya pengetahuan saya tentang perpetaan dan bangunan di Jogja. Semoga nanti suatu ketika saya bisa menuliskan dengan lebih detil dan cukup layak untuk dibaca.

Sekian saya tulisan saya. Cuma biar blognya nggak jamuran.

Tabik

wordsflow

Life Serenade (i)


Oke, sekarang 22.22 dan saya lagi punya mood yang bagus untuk menuliskan sesuatu di hari ini.

Well, live goes on everybody, no matter happen, no matter we feel, no matter we hope. Everything keep moving in their track.

Karenanya, saya hari ini memutuskan untuk melakukan perjalanan paling kontemplatif yang pernah saya lakukan seumur hidup saya; touring seorang diri. Sebagai pendahuluan, asal muasal cerita ini adalah agenda saya ke Semarang sejak sebulan yang lalu (sebenernya udah lama banget sampai nggak tau kapan). Tapi kemudian karena satu dan lain hal akhirnya rencana itu tertunda di hari ini. Sayang sekali juga, pagi tadi saya diberitahu bahwa temen saya nggak bisa nemenin di sananya. Yah begitu lah, daripada buru-buru ternyata di sana nggak dapet apa-apa, akhirnya saya memutuskan mengganti tujuan saya. Meski ketika itu saya masih nggak tau mau kemana.

Setelah mandi super bersih, pakai gincu dan eye liner (hehe) plus pakai baju baru, berangkatlah saya ke Satub untuk mengambil helm dan sepatu. Ketika saya datang mereka sedang bersih-bersih, dan beruntung sekali karena ada gorengan banyak nangkring di lincak. Hohoho. Jadilah saya kenyang duluan sebelum memutuskan untuk makan.

Berhubung saya sudah terlanjur gembar-gembor kalau mau ke Semarang-tapi-ternyata-nggak-jadi, akhirnya dengan gengsi sebesar badan saya, tanpa tujuan saya melenggang keluar Satub.

Perjalanan ini saya mulai dengan belanja kebutuhan darurat yang nggak perlu saya ceritakan lah yak. Hehehe. Begitu selesai belanja, saya pun meluncur ke Prawirotaman untuk memenuhi hasrat saya makan es krim. Oh my God, no one could reject it! Jadi meski seorang diri, saya tetap makan es krim di sana. Hahahaha. Sembari menekuni setiap sendoknya, saya memikirkan alternatif perjalanan saya. Jujur saja, saya masih begitu ingin pergi ke Semarang. Itu keinginan saya sejak lama, dan entah mengapa rasanya susah sekali merealisasikannya.

Yak, pilihan saya jatuh pada Purworejo dan Gunung Kidul, dan selama 2 detik lampu merah Prawirotaman itu akhirnya saya memilih untuk belok ke kanan. Tampaknya secara pribadi saya lebih jatuh cinta pada Gunung Kidul meski saya sesungguhnya tak punya tujuan khusus ingin kemana. Sempat beberapa waktu yang lalu saya melihat seseorang membagi foto sebuah pantai di Wonogiri. Tapi itu terlalu jauh karena hari sudah menunjuk pukul 1 siang. Maka saya memutuskan untuk pergi ke tempat yang lebih pasti. Waduk Gadjah Mungkur tampaknya menarik untuk dijelajah.

Lantas saya menepi di pinggir jalan dan membuka Maps sebagai imam hampir setiap manusia nyasar di dunia ini. Hahaha. Saya sengaja mencari jalur tengah karena jalannya pasti paling seru. Jika harus lewat Klaten sepertinya terlalu panas. Kalau lewat Bedoyo rasanya terlalu jauh. Jadi saya mengambil jalur Nglipar-Semin-Manyaran-Wonogiri. Berasa tahu banget, padahal pengetahuan jalan-jalan di sana nol besar.

Tapi saya sangat penasaran dengan perjalanan ini. Lebih karena saya sudah lama mengingikan melakukan perjalanan jauh seorang diri. Dan tujuan saya yang ini juga sudah cukup lama saya masukkan ke dalam list. Lebih-lebih lagi, Semin juga menjadi salah satu tujuan perjalanan saya yang lain. Dahulu saya sering sekali ke sana, ke sekolah Bapak saya, mancing, jalan-jalan. Hahaha.

Berbekal ingatan lewat GPS hape, saya berbelok ke arah Nglipar. Saya sempat melewati jalur ini beberapa bulan lalu, ke Betara Srinten. Tapi tempat itu baru setengah jalan menuju ke Semin. Sempat ada insiden kecil ketika di tikungan saya kelebihan kecepatan. Hahaha. Untungnya ada dua orang yang menolong saya. Dan meskipun pegal-pegal perjalanan ini harus tetap berlanjut hingga tuntas.

Setelahnya saya mencoba lebih berhati-hati karena jalanan yang basah. Perjalanan cukup statis menuju ke Semin karena hanya ada satu jalur. Paling-paling saya hanya melakukan dialog-dialog dengan diri sendiri. Entah bagaimana rasanya saya tidak merasakan emosi apapun kecuali bahagia dan tenang menempuh perjalanan. Aneh sekali.

Barulah begitu masuk ke kecamatan Semin saya memutuskan untuk berhenti dan mengisi perut. Hehehe. Sesekali saya membalas pesan dari orang-orang yang setiap hari mengisi ruang obrolan saya. Ah, perjalanan yang ini juga kebetulan tidak diketahui ibu saya. Jadi seperti biasa, saya menggunakan adik saya untuk menjadi pendukung.

Jam menunjukkan pukul 3.30 sore, dan menurut peta perjalanan saya masih sekitar 1 jam lagi. Maka saya bergegas dan kembali mengecek jalur dengan GPS. Apes sekali ternyata, sinyal di daerah Semin dan seterusnya tersendat-sendat. Jadi saya berbekal arah saja mengikuti jalan yang sekiranya tampak seperti jalan utama. Yang penting ke arah timur aja. Hahaha. Beruntung juga karena di beberapa simpangan terdapat plang penunjuk arah yang siap membantu saya. Patokan saya hanya ke arah Klaten, atau Wonogiri, atau Pracimantoro. Ya begitu deh pokoknya, sampai setelah beberapa kali ada adegan putar balik, sampailah saya di simpangan Wonogiri-Pracimantoro.

Saya terus menuju ke utara dengan semangat perjalanan yang semakin menggebu. Semakin bersemangat setiap kali ada bagian waduk yang nongol dan tampak di sela-sela dedaunan. Sebenarnya tujuan saya bukan ke tempat wisatanya sih, lebih ke tempat yang bisa melihat di waduk dengan sudut paling menariknya. Tapi melihat perbukitan di depan yang begitu indah, alhasil saya memutuskan untuk terus menuju utara sampai ke lokasi rekreasinya.

Hemm, sedikit menyesal, tapi bangga dengan perjalanan yang saya buat seorang diri. Ahahaha. Bersebelahan langsung dengan si waduk, jajaran tebing menghiasi sisi barat. Bagus. Anggun. Cantik. Dan rasa-rasanya saya harus kesana sekali lagi, dengan perbekalan yang lebih serius lagi. Tentu dengan seorang teman untuk menjelajah.

Saya hanya keliling-keliling sejenak, berpuisi via instagram, lantas memutuskan untuk pulang.

Bagaimana pun, yang lebih saya sukai dari kegiatan ini adalah ketika saya menghabiskan waktu sepanjang jalan; seorang diri, menantang berbagai kemungkinan buruk, dan mencoba menikmati apapun yang bisa saya nikmati. Saya tak perlu ijin orang lain untuk berhenti, untuk terus berjalan lagi, atau untuk memilih simpangan mana yang harus saya ambil. Semua kan terserah saya. Dan saya pikir itu kebebasan yang menyenangkan untuk sesekali dinikmati. Apalagi ini kan hari Minggu.

Yah begitu lah. Saya baru menginjakkan kaki kembali di Sekret sekitar pukul 8 malam. Bahagia, dan entah kenapa nggak lelah sama sekali.

Oiya, tulisan ini memang nggak dimaksudkan untuk jadi prosa. Saya lagi malas mencari padanan kata yang puitis. Hehehe. Jadi saya cerita-cerita biasa aja lah.

So, good night people.

wordsflow

telaah, memori


Telah lebih dari seminggu saya menelantarkan blog ini. Oh ya, sejujurnya saya sedang tidak memiliki bahan untuk dituliskan, tidak sedang mengalami sesuatu yang penting untuk dicurhatkan. Tapi coba saya tuliskan beberapa hal. Siapa tahu tetiba saya bisa menciptakan karya tulis yang layak baca di malam ini.

Oke, mungkin ada sih yang bisa saya cuhatkan. Dalam hitungan minggu, adek saya akan resmi menjadi istri orang lain, dan meski saya bilang saya baik-baik saja, tetap ada sesuatu yang berubah setiap kali saya menginjakkan kaki di rumah.

setiap detik adalah larik, setiap tempat adalah latar, setiap orang adalah tokoh utama,
setiap kita menciptakan dunia; entah yang nyata atau maya

Saya menuliskan kalimat ini di akun twitter saya beberapa jam yang lalu. Sebatas pengungkapan pendapat, bahwa sesungguhnya kita memainkan peran berbeda di setiap waktu, tempat, dan di hadapan orang yang berbeda pula. Kita tidak pernah menjadi orang yang sama, meski ia masih tetap diri kita sendiri.

Kita, ah mungkin hanya saya, tidak pernah menjadi orang yang sungguh-sungguh sama sepanjang waktu, di semua tempat, dan bahkan di hadapan banyak orang. Selalu ada bagian diri saya yang menyaring kepribadian mana yang harus dan tidak perlu saya tunjukkan. Bagian mana dari diri saya yang seharusnya menjadi dominan. Saya pikir, hanya dengan memahami perubahan dan perbedaan itu, saya akhirnya baru akan mampu memahami diri saya sepenuhnya.

Itu bukan menipu diri atau berkepribadian ganda. Bukan sama sekali. Kesemuanya tetap lah diri saya yang asli. Saya yang jutek, sinis, terkadang baik, penyayang kucing, angkuh, tak acuh, atau kepribadian yang lain, adalah saya yang sesungguhnya. Bukan pula membeda-bedakan tempat atau orang lain, namun ada kalanya menjadi diri kita yang paling nyaman lah yang akhirnya menuntut kita untuk bertindak sesuai waktu, tempat, dan situasi.

Pun begitu dengan saya di kampus, di kosan, di tempat umum, atau saya di rumah.

Kepribadian yang paling saya sukai adalah diri saya ketika di kampus. Itu semacam diri saya yang hanya bisa saya tunjukkan di kampus, sedangkan saya yang ada di kosan, tempat umum, dan rumah tidak akan pernah sepenuhnya menjadi seperti itu. Entah karena lingkungan atau karena penerimaan saya atas hal-hal yang terjadi di kampus, saya menjadi orang yang cukup terbuka terhadap diri saya sendiri dan permasalahan yang saya hadapi. Saya jarang membenci dan lebih banyak tertawa dibandingkan jika saya ada di lingkungan yang lainnya.

Kosan dan tempat umum buat saya merupakan ruang privasi saya yang paling dalam. Karena ketika itu saya banyak menenggelamkan diri di dalam pikiran dan dunia imajinasi saya yang masih berantakan. Saya selalu punya ide cerita atau sajak atau renungan di kedua tempat itu. Saya menjadi pendiam, tertutup, dan cenderung sinis terhadap sekitaran saya.

Hanya dengan merekonstruksi bagaimana itu terjadi, baru akhirnya saya paham bahwa hal itu pun merupakan mekanisme pertahanan diri saya dari ‘bahaya’ yang mungkin mengancam dari luar. Terkadang saya lari dan bersembunyi di dalam batok kepala saya, atau terkadang saya sungguh-sungguh berlari hingga lelah menghampiri. Kesemua hal itu hanyalah mekanisme pertahanan diri saya dari rasa sakit, entah yang mampu dirasakan atau yang hanya berupa renungan.

Oke, cukup lah sendu-senduannya.

Saya rindu naik gunung, amat sangat. Tapi untuk melakukannya, saya butuh beberapa pertimbangan (yang sesungguhnya hanya ada di pikiran saya tanpa pernah saya katakan), dan karenanya hingga hari ini belum juga terlaksana.

Ah, mungkin sebaiknya saya perlihatkan foto-foto pendakian saya ke Lawu suatu ketika dulu, dalam rangka merayakan ulang tahun sahabat pena saya saat SMP. Ini salah satu dari sedikit memori menyenangkan saya di kampus Arsitektur. Ketika itu kami melakukan pendakian lintas angkatan karena sering ngumpul bareng di kantin kampus. Pendakian super sembrono via Cemoro Kandang dan turun di Cemoro Sewu Gunung Lawu. Kami berangkat memulai pendakian jam 3 sore dan muncak jam 2 pagi dan bermalam di puncak. Bertahun-tahun setelahnya saya selalu merasa ini pendakian bodoh. Tapi untungnya tidak terjadi apapun pada kami.

IMG_9162

Ini foto sebelum berangkat ke lempuyangan. Ketika itu kami menggunakan kendaraan umum karena akan melalui jalur yang berbeda untuk naik dan turunnya. Foto paling saya suka di depan tulisan Teknik Arsitektur. Oiya, waktu itu sengaja banget fotonya di sebelah kiri biar tulisan ‘dan Perencanaan’nya nggak kelihatan, haha.IMG_9178

Pendakian yang super nggak safety. Saya packing paling banyak, bahkan bawa tenda segala. Untungnya ketika naik kami saling bertukar muatan, jadi tampak lebih adil.IMG_9198

Di pos 3 sempat ada kejadian mie tumpah karena saya nggak kuat mindahin dari atas kompor. Padahal kami telah amat sangat lapar dan kedinginan. Sedikit cerita, semua orang yang ikut pendakian ini adalah asdos TKAD (Teknik Komunikasi Arsitektur Dasar), orang-orang keren yang sering kami ajak diskusi masalah desain pada masanya dulu (sebelum saya malas ngampus).IMG_9244Well then, karena sudah muncak jam 2 pagi, esok harinya saya malas bangun pagi untuk sunrise-an. Saya tetap tidur sampai waktu foto-foto tiba. Saya rasa ini kali terakhir bendera Khatulistiwa berkibar atas nama Arsitektur UGM deh. Saya sudah nggak tahu lagi dimana bendera ini, dan kemana orang-orang ini.

wordsflow

setelah mencoba menulis berulang kali


Saya begitu lama melupakan bagaimana rasanya menulis dengan bahagia. Entah berapa kali saya dihadapkan pada halaman baru di blog ini, berusaha untuk menulis satu atau dua kalimat serius yang bukan tentang kamu dan tentang sajak. Tapi semuanya putus di tengah jalan, dan tanpa sengaja terlupakan.

Dan ini adalah percobaan saya yang ke enam dalam kurun satu minggu terakhir.

Ya, saya sedang tidak begitu paham dengan perubahan diri saya, entah untuk yang ke berapa. Saya masih menyukai lagu-lagu yang sama, masih melakukan banyak hal yang sama, masih memikirkan beberapa hal yang sama saja, namun semua itu tidak berdaya menghadapi berubahan hati saya yang tiba-tiba. Dan lebih menyebalkan lagi karena saya tidak dapat menjelaskan ke diri sendiri tentang perubahan itu.

But okay, just simply forget it.

*

Saya mau bercerita tentang proses skripsi saya yang kini telah memasuki tahapan studio perancangan. Itu artinya setelah berkutat dengan penelitian, konsep, dan semua diagram-diagram programatik itu, akhirnya kami melakukan hal yang lebih menyenangkan, yaitu corat-coret.

Seperti yang sebelumnya saya ceritakan, skripsi saya tentang Museum Pinisi, yang meskipun tidak menggunakan pendekatan atau penekanan secara spesifik, namun semua pembahasannya menuju ke arah critical regionalism. Dalam hal ini saya tidak ingin mengutipkan beberapa kalimat dari para pencetusnya. Namun secara pribadi saya percaya teori ini yang paling cocok untuk menangani beberapa permasalahan desain di daerah.

Terkadang bahkan hingga saat ini, saya sendiri masih belum yakin tentang materi yang saya pilih. Sebegitu penting kah sebuah Museum Pinisi dibuat? Sungguh kah harus di sana dengan konsep yang demikian? Padahal riset yang saya lakukan sudah dianggap cukup, tapi saya masih merasa ego saya yang ambil bagian paling besar di sana.

Teringat dengan pembahasan Museum Karst Indonesia yang ada di Pracimantoro, Wonogiri, yang pada akhirnya pun tidak terselesaikan dengan baik. Saya tidak tahu apa yang kurang dari tempat sekeren itu. Tapi saya pribadi suka jalan-jalan ke museum. Buat saya museum itu sangat nostalgic dengan segala bentuk penataannya, backsoundnya, suasananya, pengunjungnya, dan terutama dari materinya. Mungkin salah satunya juga karena saya menggemari sejarah meskipun nggak pernah bisa menghafal nama dan tahun. Bagi saya, olah imajinasi yang saya rasakan ketika membaca itu sudah cukup menggantikan.

Ketika pengambilan data tempo hari, saya pernah berkunjung ke Museum Bahari di hari Senin yang notabene semua museum libur. Beruntung saya bertemu dengan Kepala Bidang Koleksi dan Perawatan-nya Museum Bahari, yaitu Pak Isa. Sungguh baiknya beliau karena berkenan saya wawancarai secara illegal tanpa surat dari kampus, ngasih saya es teh di siang bulan Oktober-nya Jakarta, dan semua hal lainnya. Bapaknya bercerita bahwa menjaga museum sangat tidak mudah. Sudah begitu sangat jarang orang yang mau sungguh-sungguh meluangkan waktu lebih dari 1 jam untuk mengelilingi semua bagian museum untuk bertanya ini dan itu kepada petugasnya. Padahal tiket masuk museum tak pernah mahal di Indonesia. Museum bahari saja hanya 5.000, sama halnya dengan Museum Nasional yang ada di lingkungan Monas.

Dengan tempat yang se enak itu, lokasi yang menyenangkan, akses ke museum yang mudah, sangat jarang warga Indonesia yang menghabiskan hari liburnya dengan jalan-jalan ke museum.

*

Jika dibandingkan dengan museum yang dikelola secara swasta seperti Museum Ullen Sentalu maupun Museum Affandi, keduanya memiliki tiket yang jauh lebih mahal, namun dengan kualitas materi pameran yang tidak jauh berbeda.

Jadi bedanya di mana?

Sepertinya, yang membedakan keduanya adalah eksklusifitas museum dan pelayanan yang diberikan.

Yah, meskipun saya menulis seperti ini, tetap saja ada sangat banyak museum di Jogja yang belum sempat saya kunjungi, entah yang harga tiketnya hanya 2.000 atau yang sampai 50.000.

Saya sih lebih ingin mengajak teman-teman untuk lebih banyak melihat tempat-tempat menarik yang bukan hanya bagus untuk difoto, tapi memudahkan kita untuk mengambil pengetahuan dari Sang Berilmu.

Yah, tengok saja Museum Samudraraksa di kompleks Candi Borobudur, Museum Karst, Museum Ullen Sentalu, Museum Merapi, Museum Affandi, Museum Geologi, Museum Sonobudoyo (saya juga baru tahu kalau museumnya ada 2), dan entah berapa museum lagi yang ada di Jogja.

So then, let’s take a tour..

 

wordsflow

Coming Home


You will never know what ‘coming home’ is, if you never leave…

Ada seseorang yang pernah mengatakan hal itu pada saya suatu ketika. Namun ketika itu saya tidak terlalu memikirkan terlalu jauh kata-kata itu, sehingga hanya begitu saja tersimpan tanpa saya mencoba untuk mendalami maknanya.

Baru kemudian, saya merasakan sungguh-sungguh apa yang disebut sebagai pulang atau dalam bahasa jawa disebut mulih (pulih). Sehingga kemudian ada hal lain yang bisa membuat kita tahu apakah sebuah rumah yang selama ini kita tinggali adalah rumah yang memang membuatmu merasa ‘pulang’?

Selama perjalanan 10 hari yang saya lakukan kemarin ke Makassar, saya menemukan banyak hal yang selama ini tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Banyak keluarga yang membantu saya dalam perjalanan dan dalam hari-hari saya menjalani kegiatan saya di sana. Banyak orang yang dengan rela hati membagi cerita mereka pada saya, padahal saya bukan saudara, dan bahkan adalah orang asing sesungguhnya.

Perjalanan yang dilakukan seorang diri selalu menjadi sebuah perjalanan yang menyenangkan, karena semua perasaan yang kita rasakan tidak bisa dibagi dengan orang lain. Karena semua yang kita pikirkan hanya bisa dipendam di dalam hati. Karena ketika kita berhadapan dengan jurang yang dalam, kita sendirilah yang menentukan kapan ingin menyeberang atau berbalik arah kembali. Semua ‘kesendirian’ itu mengajarkan pada kita akan ‘keterasingan’.

Kita mungkin punya sekelompok orang yang kita sebut keluarga. Tapi dosen saya pernah bilang, bahwa dalam bahasa Jawa, mulih atau pulang, merupakan kata yang juga dapat diartikan kedalam kata pulih, yaitu memulihkan semua hal yang ada dalam diri kita sebagai individu. Rumah akan bisa mengembalikan semua hal yang terasa ‘habis’ setelah begitu banyak hal yang diperbuat selama ini.

Maka, rumah yang bisa membuat kita selalu merasa hidup kembali adalah rumah yang sesungguhnya, yang dengan demikian membuat kita selalu merasakan apa yang seharusnya kita rasakan ketika kita sudah tidak lagi merasa penuh. Rumah dengan sendiri mengisi semua kekosongan yang kita rasakan sebagai manusia yang memang semu semata karena tidak ada rasa bahagia yang sesungguhnya abadi. Lantas, ketika akhirnya tidak ada tempat yang bisa membuat kita merasakan semua sensasi itu, kita telah kehilangan ‘rumah’ yang sesungguhnya.

Dan disana lah kamu akan merasa asing akan apapun. Kamu kehilangan tempat untuk pulang.

wordsflow

 

At the Moment


Selalu ada kejutan di setiap hal yang akhirnya tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Ketika dosen Tugas Akhir-mu bilang bahwa mungkin lebih baik kamu mundur semester depan, ternyata telah ada kejutan yang menunggumu di satu minggu setelahnya. Atau, ketika nilai Kerja Praktekmu tidak keluar di semester ini, ternyata ada hal lebih baik yang bisa kamu lakukan. Atau, ketika proposal KKN kelompokmu tidak diterima, ternyata ada kelompok manusia lain yang menunggumu dengan bahagia. Atau, ketika akhirnya seorang petugas check in mengatakan bahwa kamu sudah telat dan tiketmu hangus, akan selalu ada hal menyenangkan yang sesungguhnya menanti.

Sungguh, melalui semua hal itu tidaklah mudah, apalagi jika akhirnya bukan hanya seorang saya yang mengalami dampaknya, namun banyak orang di sekitar saya, termasuk juga keluarga saya, atau teman-teman yang telah begitu ikhlas membantu saya. Selalu ada rasa tidak terima, entah berlangsung berapa lama. Hanya saja, semakin saya belajar untuk merelakannya, semakin saya sadar bahwa apa yang mungkin saya rasa adalah sebuah kekecewaan, ternyata bukan sesuatu yang bisa menghancurkan saya. Selalu ada tahap ‘gugatan’ dan akhirnya ‘penerimaan’. Bukankah manusia selalu belajar dan terus belajar?

Tidak lebih dari 5 jam yang lalu, pesawat saya yang seharusnya membawa saya kembali pulang akhirnya terbang tanpa saya. Apa yang terjadi?

Jalan macet, saya baru tiba di bandara 40 menit sebelum keberangkatan. Saya dengan tertib antri di belakang deret manusia-manusia satu rombongan di depan counter check in. 5 menit berlalu, saya melayangkan pandangan ke sekitar, ada toko buku yang menarik perhatian saya. 10 menit berlalu, saya mulai tidak sabar sama rombongan di depan saya, karena mereka hanya mengobrol. 15 menit berlalu, saya menyapukan pandangan ke counter lain, semua penerbangan di atas jam 15.00, hanya line saya yang jam 14.00. 20 menit, rombongan itu akhirnya bertanya ke petugas. Dan, entah mau bilang apa tentang mereka, ternyata rombongan itu salah antrian! Begitu saya tanyakan status tiket saya, petugasnya dengan judes mengatakan bahwa tiket saya telah hangus.

Itu adalah salah satu moment freeze yang akan terus saya ingat selama apapun. Kekesalan saya tidak akan bisa digantikan dengan apapun. Pun rasa bersalah saya pada orang tua saya juga tidak bisa diganti dengan apapun.

Dan begitulah semuanya berlalu begitu saja. Rombongan itu tidak pernah tahu jika mereka telah membuat seorang penumpang ketinggalan pesawatnya. Atau mungkin petugas counter itu juga tidak akan ingat berapa orang yang telah gagal pulang, atau gagal pergi di hari ini. Mungkin juga penumpang pesawat tidak akan pernah memikirkan bangku di sebelahnya yang kosong. Ya, semua kembali normal, kembali berjalan begitu saja dan apa adanya. Tidak perlu juga menggunakan kata ‘jika’, karena itu tidak akan pernah merubah apapun yang telah terjadi sebelumnya.

Tapi, lagi-lagi seperti semua hal lain yang juga pernah terjadi dalam hidup kita, akan selalu ada kejutan di tempat-tempat yang tidak terduga. Selalu ada kemudahan lain di kesulitan yang kita rasakan berat.

Esok hari, entah apa yang akan saya temukan di tempat yang telah mengecewakan saya hari ini. Tempat yang saya, akan bisa memberikan banyak kenangan pada manusia, dan itu yang terjadi pada setiap orang.

wordsflow

Jalan-Jalan Rabu


BOROBUDUR!

Ini trip hari Rabu minggu kemarin. Berarti itu tepat seminggu yang lalu saya lakukan bersama Awang.

Dibandingkan berberapa trip saya sebelumnya ke Borobudur, bisa dibilang ini trip yang paling saya nikmati. Mungkin karena saya hanya berdua, atau mungkin karena saya akhirnya telah menyimpan kekaguman baru pada Candi Bodobudur.

Bermodalkan keinginan untuk masuk ke Museum Kapal Samudraraksa yang ada di dalam kompleks candi, akhirnya saya masuk ke kompleks itu. Sebagai informasi, pintu masuk ke kompleks candi sudah lebih baik. Pintu masuk yang sebelumnya sudah tidak dipakai, dipindah ke sebelahnya dengan sistem yang lebih baru. Kemudian bangunannya juga dibuat lebih baru dengan bangunan utamanya berbentuk Joglo. Sistem tiketing yang diterapkan juga sudah lebih baik meskipun masih belum tertib sana sini.

kartu tanda masuk yang baru, sekarang udah memakai e-tiket

kartu tanda masuk yang baru, sekarang udah memakai e-tiket

Dengan sistem e-tiket yang baru diterapkan, sekarang jadi nggak bisa koleksi tiket masuk Borobudur seperti dulu lagi. Hiks…. Tapi bagian menyenangkannya, akhirnya nggak bakal seribet dulu kalau mau masuk ke kompleks candi. Karena sekarang sistem pembelian tiket untuk rombongan punya prosedurnya sendiri, punya line antriannya sendiri. Ah, ada yang menyedihkan dari penyediaan fasilitas di sana. Nggak ada parkir motor! Jadi kami harus parkir di luar candi, di warung depan kompleks. Yah, alangkah lebih baiknya jika parkiran sebegitu besar diberi satu spot parkir untuk motor dan sepeda. Saya rasa itu tidak akan banyak memakan tempat.

Setelah masuk, kami langsung melihat gajah berkeliaran di halaman. Entah sejak kapan ada, tapi saya baru lihat ada gajah saat itu. Sayang sekali karena akhirnya tidak banyak yang melirik si gajah, dan kebanyakan wisatawan langsung menuju ke bangunan candi nun jauh di sana.

Sebelum naik, ada petugas yang aktif memberitahu pengunjung untuk mampir mengambil kain batik bagi yang sudah 17 tahun ke atas. Tentu saja kami antusias untuk turut memakai. Kata bapaknya, bagi yang laki-laki maka wajib memakai di sebelah kanan, sedangkan wanita di sebelah kiri. Itu dimaksudkan untuk menghormati tata cara pemakaian kain batik.

DSCN0217

ini tulisan yang ada di relief Kamadhatu pojokan kaki candi sebelah tenggara

Kami menemukan ukiran ini di batu relief Kamadhatu. Saya lupa cara bacanya. Yang pasti, waktu itu ada kumpulan wisatawan dari Jepang, dan ada pemandu wisata yang menemani mereka. Kami berdua sedang duduk di tangga yang menuju ke lantai 2, bagian relief Rupadhatu. Sang pemandu wisata tetiba menunjuk bagian batu dan mengatakan sesuatu dalam bahasa Jepang. Sepenangkapan kami dia menceritakan tentang tanda itu dan cara bacanya. Begitu bapaknya pergi kami langsung menuju ke tempat yang ditunjuk dan menemukan ukiran itu di batu.

Mungkin nanti kalian juga akan menemukannya di sana. Dan jangan lupa bertanya atau mencari tahu apakah itu dan apa maknanya.

Setelah puas ngobrol dan nongkrong, kami memutari lantai 2 sesuai dengan arah jarum jam, mencoba mengikuti aturan Pradaksina umat Buddha. Ternyata Candi Borobudur jadi tampak begitu luas jika kita sungguh-sungguh mencoba membaca relief dan mengelilinginya secara penuh pada setiap lantai. Saya juga baru menyadari seberapa detil para pendiri Borobudur mengukir setiap relief yang mereka pasang di sana. Bagaimana cara mereka bisa membuat setiap bagiannya bercerita dan dapat dimengerti. Saya rasa sungguh sayang jika saya baru menyadarinya kala itu.

Bahkan, banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya perhatikan ternyata justru merupakan sesuatu yang sangat menarik. Sayangnya, dalam trip kali ini saya tidak menargetkan untuk mencapai bagian teratas candi karena lagi-lagi, tujuan saya adalah ke museum. Jadi saya hanya mengelilingi relief Kamadhatu dan Rupadhatu.

DSCN0233

ini foto narsis kami yang pertama dengan kamera baru Awang

Di bagian relief Rupadhatu, saya sengaja mencari relief kapal yang banyak dibicarakan orang. Cukup susah ternyata mencari satu bentukan relief di antara begitu banyak. Barulah di lantai dua kami menemukan relief yang dicari.

Relief yang pertama berada di sisi barat bagian kanan jika dilihat dari cara melakukan Pradaksina. Relief yang ini lebih kecil jika dibandingkan dengan relief kapal yang satunya.

DSCN0234

relief kapal di sebelah barat candi

DSCN0238

relief kapal yang di sebelah utara candi

Kedua relief tersebut lah yang kemudian mengilhami Philip Beale, seorang eks-Marinir Angkatan Laut Inggris yang terpesona pada kapal yang ada di relief Candi Borobudur. Akhirnya ia melakukan penelitian terkait kapal tersebut, dan didapat informasi bahwa sejak satu abad sebelum berdirinya candi, kapal itu telah melakukan perjalanan dari Indonesia ke Madagaskar. Jalur pelayarannya dinamakan jalur kayu manis. Maka dari itu, akhirnya Bapak Philip ini mencoba untuk mereka ulang kapal yang dianggap begitu legendaris ini. Pada tahun 2003-2004, akhirnya ekspedisi dilakukan untuk menapaki kembali jalur kayu manis yang dimaksud.

Nah, bagian mirisnya adalah, tidak banyak orang yang tahu tentang museum ini. Bisa dikatakan, saya bahkan tidak pernah tahu ada museum kapal di Borobudur jika bukan karena tugas akhir saya yang membahas tentang museum kapal. Pun, pengunjung yang datang ke museum ini tampak tidak mampu menikmati museum. Mereka hanya lewat, tengok kanan-kiri, komentar, lalu keluar.

Sayang sekali, padahal kapal ini adalah salah satu kapal yang tidak akan pernah lagi dibuat.

Bagian yang mengagumkan juga dari kapalnya, ternyata sebagian dari kapalnya dibuat dengan bambu. Itu sangat menarik, karena dengan material yang demikian, Kapal Samudraraksa akhirnya tetap bisa mengarungi laut hingga Madagaskar, lalu lanjut hingga ke Ghana.

20140604_134919

foto kapal asli yang sudah dimuseumkan

Beginilah bentuk Kapal Samudraraksa yang telah dimuseumkan. Mungkin nanti kalian harus melihat sendiri dan mencermati sendiri kapal ini. Sayangnya ketika kami masuk ke museum, tidak ada petugas yang bisa kami tanyai terkait isi dan museum secara keseluruhan. Padahal menurut saya akan sangat baik jika ada semacam guide khusus museum.

Terakhir, ayuk giatkan jalan-jalan museum dan tempat-tempat belajar lainnya yang lebih menyenangkan.

Selamat berlibur, selamat jalan-jalan… 🙂

foto narsis kami sebelum melepas kain batik :)

foto narsis kami sebelum melepas kain batik 🙂

wordsflow