WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

Category: on Question

saya dan arsitektur


Sudah lebih dari 2 tahun saya menyelesaikan studi arsitektur saya, dan hari ini sebuah pertanyaan tiba-tiba terbersit di dalam pikiran saya.

Masihkah saya layak disebut sebagai lulusan arsitektur?

Seminggu yang lalu saya bertukar cerita dengan Tamimi, rekanan saya di jurusan dulu yang hingga hari ini masih menggeluti arsitektur. Dia orang keren. Amat sangat jauh dengan saya, dia mendalami arsitektur tanpa berhenti belajar, baik dalam bidangnya maupun hal-hal lainnya. Sejak lulus, sahabat saya ini langsung masuk konsultan dan tentu saja, sudah ada beberapa karyanya yang dibangun. Bukan hanya itu, dia berani menantang diri sendiri untuk masuk ke hal-hal yang barangkali, kalo saya tidak akan mencobanya. Hahaha. Kami sempat membicarakan rencana-rencana ke depan. Dibandingkan dengan saya, dia lebih teguh untuk tetap mengambil studi magister di jurusan yang sama; arsitektur.

Lebih jauh lagi, teman-teman saya yang begitu lulus langsung melanjutkan ke studi kini bahkan mulai memperkenalkan bironya sendiri-sendiri. Beberapa dibangun secara mandiri, namun tidak jarang yang saling berkolaborasi. Ada juga teman-teman saya yang sudah mulai kembali ke kampus untuk menjadi dosen. Dan tentu saja, masih sangat banyak teman-teman saya yang lainnya yang masih ada di jalur itu dengan berbagai prestasi mereka yang luar biasa.

Apa gerangan yang menyebabkan pertanyaan itu muncul?

Adalah kerjaan saya membuat konsep dan mempersiapkan pameran selama seminggu belakangan ini. Saya ingat masa-masa kuliah saat harus begadang mengerjakan tugas. Padahal tugas itu sudah diberikan jauh-jauh hari. Jauuuuuh sekali. Dan selalu saja saya baru mulai mengerjakannya di waktu-waktu yang mepet.

Kadang-kadang saya masih bertanya-tanya kenapa saya begitu malas masuk kuliah ketika itu. Padahal banyak sekali hal menyenangkan di kampus yang bisa saya kerjakan. Lantas saya juga menggali ingatan tentang teori-teori yang selama ini saya pelajari di kampus.

Nihil. Saya lupa sekitar 70% dari kuliah yang saya peroleh. Yang tersisa hanya pengetahuan dasar terutama pada soal konstruksi dan sirkulasi; dua hal yang paling saya suka dari mendesain. Sisanya, termasuk di dalamnya kuliah tentang estetika dan sebagainya itu, sulit saya ingat kecuali masa-masa ketika saya tidak sepakat dengan dosen saya.

Saya memang ingat semua desain yang pernah saya buat selama kuliah. Namun ketika saya membuka dokumennya di laptop, tidak banyak yang saya temukan di sana. Hahaha. Sudah saya tidak punya kamera, pun semua kerjaan saya masih saya kerjakan manual. Satu-satunya desain yang saya digitasi hanyalah Tugas Akhir. Masa-masa tersulit saya dalam hidup agaknya. Bahkan saya ragu masa menulis thesis nanti akan lebih sulit dari itu.

Cita-cita saya sederhana sebetulnya, saya hanya ingin membangun rumah tinggal sendiri. Untuk itulah saya berupaya untuk menjadi arsitek. Barangkali hal itu sangat tidak masuk akal untuk hari ini. Di saat segala hal sifatnya sangat komersil, menjadi arsitek rumah tinggal sama halnya bunuh diri karena tidak akan banyak yang diperoleh, bahkan untuk hidup pun belum tentu cukup. Tapi saya masih menganggap hal itu sebagai cita-cita yang layak untuk saya kejar. Dan sangat layak untuk saya perjuangkan.

Tapi bagaimana cara mencapainya?

Sejak lulus, saya hampir tidak pernah menyentuh arsitektur. Saya tidak pernah update dengan arsitek-arsitek terkenal di hari ini, saya tidak kenal arsitek di Indonesia, saya tidak tahu karya-karya hebat, dan lebih parah lagi saya tidak memperkaya pengetahuan saya pada ranah arsitektur dan teknologi bangunannya. Dibanding membaca semua hal itu, saya cenderung lebih suka membaca novel klasik, atau menonton anime.

Di waktu-waktu seperti inilah saya menghadapkan diri pada pilihan untuk berhenti berarsitektur atau tetap memegang cita-cita saya sebagai arsitek rumah tinggal.

Pertanyaannya, bagaimana memastikan bahwa saya ‘berhenti’ atau ‘tetap bercita-cita’? Parameternya tidak ada, dan variabelnya pun tidak jelas.

Barangkali, ini bukan persoalan berhenti atau tidak, lanjut atau tidak. Saya pikir hal semacam ini lebih pada soal kecintaan. Cieeh. Maksudnya, sebagai orang yang selalu sulit menjatuhkan pilihan, ada ketidakrelaan di dalam diri untuk melepaskan arsitektur dan sepenuhnya berpindah ke antropologi. Saya terus menerus dengan jumawanya mengatakan ke diri sendiri bahwa lintas jurusan tidak pernah salah, pada dasarnya semua ilmu cocok satu sama lain. Saya mendua memang, tapi saya mencintai kedua studi itu.

Ada banyak hal di arsitektur yang belum tuntas saya pelajari dan barangkali tidak akan pernah tuntas selamanya. Demikian juga di antropologi ada begitu banyak hal yang tidak bisa saya padu-padankan dengan studi arsitektur, tapi itulah tugas yang saya petakan untuk diri sendiri.

Tidak jarang saya tersenyum senang ketika ada yang memuji kenekatan saya mengambil lintas jurusan meski tidak memiliki latar belakang yang sungguh mendukung (saya belum pernah penelitian sama sekali!). Tapi sebetulnya saya mengirikan status ‘arsitek’ yang sungguh-sungguh disandang teman-teman saya yang telah berkarya. Sedangkan saya belum berhasil menelurkan satu karya arsitektur pun. Hahaha.

Dan begitulah. Saya sering meledek diri sendiri karena pemalas luar biasa dan akhirnya hanya bisa melihat orang lain berkembang dari jauh. Saya rindu diskusi-diskusi arsitektur, hehe. Tapi saya orang yang selalu ragu memastikan partner terbaik. Jadilah saya ngobrol dengan sesiapa yang bisa saya temui.

Kabar baiknya, saya ternyata masih bersemangat membuat maket dan masih paham skala. Bahkan setelah tangan pegal dan tengkuk sedikit nyeri, saya ternyata tidak bad mood dan nggak mutung. Sementara, itu saja sudah lebih dari cukup untuk memastikan bahwa masih ada harapan untuk saya dan arsitektur.

Tabik.

wordsflow

Advertisements

menghapus kebencian


Ada sebuah ketakutan yang selama ini dibawa serta oleh pemikiran dan hati yang menghidupi diri. Suatu waktu, berbagai pertimbangan rasional dan emosional pun tidak mampu menghapuskan perasaan aneh bernama kebencian yang menggelayut. Ia bukan hanya bergabung teguh dengan ketakutan menciptakan penjara yang tidak bercelah pun tanpa cahaya.

Kadang di tengah penyesalan saya akan perasaan itu, tidak ada yang mampu menolong kecuali mencurahkan segala ketidakmampuan diri dalam bentuk air mata, atau duka yang terlalu pahit nan pekat. Saya selalu percaya kala itu, bahwa tidak akan pernah ada yang bisa menolong saya dari belenggu itu kecuali dengan berjalannya waktu. Tapi, menunggu atau beradu, keduanya pun saling berseteru.

Rasa benci itu hal yang tidak pernah mampu saya urai selama ini. Kebencian yang menyengat ke masa lalu, kepada manusia-manusia yang tidak sungguh bersalah, kepada momen yang tidak pernah tepat, kepada nasib yang tidak pernah mendukung, kepada diri yang tidak pernah mau menyerah ataupun melangkah, kepada masa depan yang tidak pernah memberi kepastian. Semua hal yang mengganggu itu terangkum dalam sebuah rasa yang pahit bernama kebencian. Hal yang sungguh tidak pernah berhasil saya damaikan dengan kesenangan, pengharapan, cinta, ketenangan, maaf, atau segala bentuk rasa lainnya. Dia menjadi sebuah yang dominan dan bercokol mengangkangi segalanya.

Lalu, saya semakin terpuruk membenci.

Begitu sederhana rasa itu sebenarnya. Penolakan untuk ikhlas menerima, untuk menikmati hidup sebagaimana adanya; tanpa prasangka, tanpa tuduhan, tanpa apapun kecuali menjalani sebaik yang saya bisa. Pun, setelah memahami bukan berarti pemahaman itu akan datang bersamaan dengan perasaan yang sama.

Apa yang kau tahu soal memahami dan merasakan? Keduanya tidak pernah berkawan akrab. Keduanya adalah asing satu sama lain. Merasakan adalah yang lebih jauh saya akrabi, sedang memahami adalah hal yang baru saya kenal namun saya sukai.

Belakangan, ada harapan yang tersemai, ada celah yang telah terbelah. Pada akhirnya. Dan saya kira, seharusnya saya tidak pernah menyia-nyiakan celah itu sesegera mungkin sebelum sekali lagi terisi endapan yang semakin mengerak.

Berupaya tidak boleh setengah-setengah kata seseorang. Orang lain mengatakan bahwa berupaya tidak akan pernah salah asal dengan sepenuh jiwa.

Yang manapun yang benar, saya tak lagi cukup peduli. Pada akhirnya yang lebih saya percaya adalah suara di dalam diri. Menerima dan mempercayai tidak akan pernah ada artinya tanpa bertindak dan bergerak. Begitulah yang abstrak selalu kalah dengan yang empirik. Yang ideal selalu jatuh di bawah yang material. Kadang mungkin, yang ‘terasa’ kalah dengan yang ‘ternyatakan’. Kadang kala.

Suatu pagi saya terbangun dengan sebuah kesadaran baru. Ternyata saya menyisihkan cinta yang besar untuk diri sendiri. Selama ini saya bukannya mengabaikan diri, hanya saja kesadaran akan diri itu tersisih karena terlalu sibuk mencintai orang lain.

Pagi itu saya tersadar, cinta itu lah yang membuat saya berhenti merusak diri, berhenti membenci diri, berhenti takut akan hal yang tidak pasti, dan mengakrabi diri jauh lebih dalam dan lebih tenang. Dia juga yang membuat saya bisa bertahan dalam luka dan duka, dalam pengharapan dan bahagia, dalam ketakutan dan gelap gulita. Meski demikian, saya masih begitu mempercayai perasaan saya, dan bagaimanapun selama ini hal itulah yang mengawal saya menjalani hidup yang sudah 25 tahun ini. I do feel the intimacy with the quarter life crisis these days.

Mungkin, pada waktu tertentu saya percaya akan ada masa badai datang kembali, mungkin dengan kekuatannya yang lebih besar. Namun hari ini, kali ini, biarkan saya menikmati ketenangan air tanpa riak, langit tanpa awan, gerimis tanpa angin, harap tanpa resah, dan cinta tanpa ketakutan, pun tanpa kebencian.

wordsflow

Running Away


Ada seorang perempuan.

Aku melihatnya berlari satu putaran setiap dua hari sekali. Aku tak pernah melihatnya menyapa siapapun yang berpapasan, bahkan kuduga ia juga tidak melihat ke depan. Dunianya hanya sejauh tiga meter di depan kakinya, seolah tidak ada hal lain yang penting lagi. Tak peduli bagaimana ia orang lain melihatnya dengan penuh perhatian, atau orang lain mencibirnya dengan kesombongan. Baginya dunianya hanya berjarak tiga meter dari ujung kakinya.

Aku melihat perempuan itu berlari pada waktu-waktu tertentu. Setiap pagi dua hari sekali ia dengan wajah setengah mengantuk berlari dengan ritme lambat yang menenangkan, suara langkah kakinya bahkan begitu stabil tanpa ada perubahan. Sering pula ia berlari di sore hari selepas pukul setengah lima. Kadang secara tidak terduga ia datang di hari-hari tertentu, tapi ia memang tidak pernah berlari pada jam yang tepat sama seperti hari-hari sebelumnya.

Wajahnya penuh dengan pertanyaan, itulah hal yang paling aku suka.

Suatu hari, sekitar sebulan yang lalu, aku melihatnya menangis ketika berlari. Aku tak pernah tahu apa yang ia pikirkan, apa yang ada di kepalanya, bagaimana suasana hatinya. Yang kutahu pasti, ekspresi wajahnya tak pernah sama setiap kali ia berlari, dan aku yakin ia tidak pernah berhenti berpikir setiap kali melakukannya.

Meski demikian, ada hari yang sungguh membuatku penasaran dan berkeinginan dengan sangat untuk bertanya. Hari itu sore pukul empat, waktu yang jarang sekali ia gunakan untuk berlari. Wajahnya tidak terbaca; ekspresi yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Ia begitu teduh, teduh yang tidak aku pahami karena seolah ia menyembunyikan gemuruh yang lebih besar. Kali ini, aku memperhatikannya jauh lebih seksama, dan aku punya waktu kurang dari satu menit untuk memutuskan akan menyapanya atau sekali lagi melepasnya untuk kutatap lagi di lain hari.

Jarak kami sudah hampir sejajar, tapi tak juga ada keputusan yang aku ambil. Pada langkah ke lima dari posisiku, ia berhenti, lalu menunduk dalam. Aku terpaku di tempatku, tak mampu memutuskan untuk menyapa atau membiarkannya. Tapi justru aku menunggu. Seolah yakin aku akan menemukan jawaban tak lama lagi.

Ia menunduk dalam, punggungnya tiba-tiba bergetar pelan dan punggungnya naik turun. Ia menunduk semakin dalam, hingga akhirnya terduduk. Secara ajaib, suasana itu terasa begitu pekat untukku, seolah ada dorongan untuk mendekatinya, lantas meletakkan tanganku di pundaknya untuk mencoba merasai berat hatinya. Tapi tidak kulakukan; aku tetap terpaku di tempat, bahkan suara napasku harus kutahan sepelan mungkin agar ia tak terganggu.

Tak sampai dua menit ia berdiri kembali, mengusap ujung matanya dan berlari pada irama yang sama. Seolah tak terjadi apapun!

Maka aku berlari pula mengikutinya dari belakang. Aku begitu ingin melihat hal apa lagi yang ia lakukan. Tapi tak ada lagi yang cukup penting terjadi pada dirinya selepas tangis itu. Aku bahkan tidak melihatnya menengok ke belakang barang sejenak. Lagi-lagi dunianya hanya sejauh tiga meter ke depan dari ujung kakinya, dan terus begitu sepanjang waktu.

Benar. Tak akan ada yang bisa melihatmu selain dirimu sendiri. Tak ada yang memahami kedalaman hatimu selain dirimu sendiri.

Perempuan itu aku, dan aku adalah perempuan itu.

Pada momen berlari, aku menikmati kesendirian yang dalam, melihat tidak pada siapapun kecuali sejarak tiga meter ke depan. Tidak mendengar apapun kecuali detak jantung dan tapak kaki pada tanah yang keras. Tidak merasakan apapun kecuali panas tubuh yang meningkat. Tapi pikiranku berkelindan erat dengan perasaan, bergelayut mengikuti irama detak jantung. Kadang terlonjak pada sebongkah ingatan, kadang teredam pada sepenggal pemahaman. Tapi ritme itu tidak berubah, terus berlalu tanpa ragu.

Perkaranya hanya satu, selama apapun pelarian itu, pada akhirnya titik akhirnya tetap sebuah mula.

wordsflow

mempertanyakan untuk mempercayai Tuhan


Harus saya katakan sejak awal, bahwa yang saya tuliskan tidak bertujuan untuk menghasut, atau memberi pembenaran. Tidak demikian. Adalah naluri manusia (dalam kacamata saya) bahwa segala sesuatu harus dipertanyakan sebelum dipercayai sebagai kebenaran. Semoga saya tidak keliru.

Untuk itu, bagi yang tidak berkenan atau merasa tidak nyaman, silakan berhenti sampai di sini. Tapi saya akan tetap melanjutkan.

Saya ingat seorang guru agama di masa SD saya, pernah menjelaskan bahwa mempertanyakan “Apakah Allah itu perempuan atau laki-laki?”, “Bagaimana bentuk Tuhan?”, “Di mana Dia tinggal”, dan seterusnya, adalah pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat seseorang berdosa. Sebagai anak kecil yang telah hafal cerita mengerikan perihal siksa kubur dan siksa akhirat yang tidak akan pernah berakhir, maka hal itu menjadi begitu tabu dan mau tidak mau setiap anak akan berusaha melupakan pertanyaan-pertanyaan khas anak kecil itu.

Belakangan, jauh setelahnya ketika saya duduk di bangku kuliah (saya pernah membahas ini), dunia anak-anak kemudian harus saya akui sebagai dunia paling jujur dan paling filosofis dari seorang manusia. Pertanyaan-pertanyaan yang sering dikategorikan polos itu, jika ditanyakan oleh seorang mahasiswa, maka akan menjadi pertanyaan berkenaan dengan filsafat ketuhanan. Padahal, heei, anak kecil juga bisa kelez. Dan pada akhirnya, tanpa penelusuran yang cukup mendalam, semua hal itu hanya akan menjadi sebuah dogma saja, yang juga ditelurkan dari mitos-mitos tanpa bukti.

Sekalipun selama ini saya percaya, meski beberapa masih ada di bawah landasan rasa takut akan hukum karma, siksa kubur, atau siksa neraka, namun pertanyaan-pertanyaan seputar ke-Tuhan-an itu tidak bisa saya anggap angin lalu, karena setiap kali berritual, saya toh masih memikirkan hal ini.

Maka, dengan dasar keraguan tersebut, sering kali saya merasa malu ketika melakukan ibadah. Rasa malu ini berdasar pada suara dalam pikiran saya, “untuk apa saya ibadah kalo toh saya masih belum mampu percaya betul?” Dan begitulah, setiap datang waktu untuk bersujud, berserah, atau apapun istilah yang digunakan untuk menyebut hal tersebut, pertanyaan itu kembali hadir dan membuat saya merasa terganggu dengan diri sendiri.

Jika hal-hal semacam ini sudah muncul, saya menjadi begitu dekat dengan perasaan “hilang” sebagai manusia. Bahwa jika memang benar ada Tuhan yang menurunkan manusia dengan tujuan-tujuan tertentu di dunia ini, toh pada akhirnya saya masih juga belum mampu menemukan untuk apa saya ada, hadir, berproses, dan akhirnya nanti mati? Apakah sungguh hanya untuk menjaga Bumi saja; menjadi khalifah? Lantas kalau Bumi sudah dijaga nanti akan diberikan kepada siapa? Agar ketika tertelan lubang hitam di pusat Bima Sakti, Bumi masih tetap utuh? Atau apa? Apakah Tuhan sungguh-sungguh butuh disembah oleh manusia? Atau sebenarnya penyembahan itu adalah sebuah bentuk kepasrahan akan rahasia-rahasia kehidupan?

Memang benar, penjelasan semacam itu (dalam Islam) telah banyak dipaparkan oleh imam-imam yang cukup liberal, yang mencoba untuk tidak sekedar memberikan dogma kepada umat Islam, namun saya butuh dialog. Demikian, tidak banyak yang bisa memberikan saya jawaban yang cukup memuaskan tentang hal semacam itu.

Lantaran alasan itu, tidak salah saya kira, ketika akhirnya secara pribadi saya mencoba merombak segala pemahaman saya mengenai konsep ke-Tuhan-an, dan mempertanyakan secara pribadi masalah agama dan kepercayaan ini. Agama-agama tetangga, yang mungkin juga kalian pahami, cukup banyak yang menguraikan masalah ini dan mencoba membahasnya secara terbuka. Dan untuk alasan sederhana itu, berkali-kali akhirnya saya justru merujuk pada agama-agama lain untuk mencari apa yang tidak bisa saya dapatkan dari agama saya. Dasar tindakan itu saya rasa cukup beralasan, dengan mempertanyakan, kepercayaan kita justru akan semakin kuat.

Di hari ini, yang saya lihat adalah kecenderungan manusia yang lebih suka mengkonsumsi dogma dan mitos, karena hal itu lebih mudah. Urusan agama juga demikian, beberapa hal memang dogmatis. Tapi, untuk percaya akan Tuhan, kita harus lebih dahulu mendefinisikan apa, siapa, bagaimana Tuhan itu. Lalu, bagaimana ke-Tuhan-an itu? Lebih awal, bahkan saya merasa harus bisa menjawab pertanyaan mengenai bilamana entitas yang disebut Tuhan itu ada? Agaknya, akhirnya kita tersudut pada kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita pahami asal-usul-proses-nya sehingga lebih mudah mengatakan bahwa itu adalah hasil kerja Tuhan.

Saya memang pernah membaca juga buku tentang Sejarah Agama-Agama yang ditulis oleh Allan Menzies, dan saya kira cukup lengkap. Tapi, bahkan penjelasan itu tidak bisa menjawab rasa penasaran saya perihal ke-Tuhan-an ini, dan masih saja ada hal yang tidak bisa saya akui di dalam pikiran saya. Atau, jangan-jangan memang perkara ini tidak perlu penalaran? Atau memang benar bahwa agama “hanyalah” jalan hidup? Atau agama adalah panduan hidup? Atau justru itu takdir?

Kerumitan itu masih belum menemukan titik terang hingga hari ini. Namun, di banyak perkara yang berhubungan dengan hidup dan kematian, serta kejadian-kejadian yang terjadi di realitas kehidupan, mengatakan bahwa segala sesuatu merupakan kehendak Tuhan rasanya terlalu “polos” dan tidak menjelaskan apapun. Apakah bisa saya katakan bahwa masyarakat yang begitu taat dan bekerja keras akan selalu mencapai kesejahteraan? Apakah semua orang sungguh-sungguh (dalam artian sesungguhnya) selalu diberikan cobaan sesuai dengan kemampuannya? Bagaimana menjelaskan hal-hal yang terjadi pada masyarakat Timur Tengah yang dilanda peperangan selama bertahun-tahun? Bagimana menjelaskan nasib masyarakat kalangan bawah yang saya lihat begitu patuh beribadah namun tidak pula keluar dari kemiskinannya? Atau bagaimana menjelaskan masyarakat yang hidupnya begitu mudah padahal dalam definisi masyarakat “beragama” mereka itu munafik?

Penjelasan-penjelasan sederhana itu tidak mampu memberikan gambaran yang komprehensif mengenai nasib seseorang di hari ini. Dan sekiranya, tidak salah bagi seorang manusia untuk mempertanyaan perkara ke-Tuhan-an ini. Demikian, maka justifikasi soal ke-Tuhan-an ini menjadi begitu sulit untuk disamaratakan, bahwa sulit sekali untuk melihat siapa yang apa, siapa yang bagaimana, siapa yang seperti apa.

Seorang dosen saya, yang gaya pengajarannya saya sukai selalu memperingatkan kami untuk terus merefleksikan segala persoalan kepada hal-hal yang sangat pribadi dari kita. Menurutnya (yang juga saya iyakan) memahami perkara liyan seperti menelusuri diri sendiri. Maka untuk memahami liyan kamu harus memahami diri sendiri, dan untuk mampu memahami diri sendiri kita juga harus mendalami liyan. Saya rasa, hal itu juga berlaku dalam mempelajari Tuhan. Ah, tapi Tuhan tidak sama dengan manusia kan? Atau jangan-jangan Tuhan hanya sebuah hasil dari psikokinesis?

Di luar pertanyaan-pertanyaan saya tadi, sebenarnya saya memiliki kekaguman yang mendalam perihal agama saya, dan meski mungkin banyak orang yang tidak sepakat, tapi Al-Qur’an itu mengagumkan. Saya kurang tahu dengan kitab suci lain, karena saya belum pernah membaca. Tapi saya bisa mengatakan, bahwa saya yang tidak taat ini pun selalu merasa tersentuh setiap kali mendengar seseorang membaca Al-Qur’an.

Well, agaknya saya harus mengakhiri tulisan ini sebelum ngelantur. Jika kemudian pembaca yang budiman kecewa karena saya tidak memberikan konklusi apapun, maafkan saya, karena tulisan ini tidak bermaksud mencapai kesimpulan. Saya pikir, saya yang juga masih berproses ini tidak layak memberi konklusi.

Tapi, sebagai penutup, saya akhirnya mencoba menjawab diri sendiri, bahwa berketuhanan itu sama seperti mencintai. Kamu ragu, kamu bertanya-tanya, kamu tidak tahu ke mana akhirnya, tapi toh tetap mencintai. Maka begitu juga berketuhanan. Karena di ujungnya mungkin kita mengharapkan kepastian, entah datang atau tidak. Mungkin, pembaca yang budiman tidak akan cukup paham bagaimana proses panjang saya akhirnya mencapai kesimpulan itu. Tapi berketuhanan berdasar dogma, dan berdasar pencarian, buat saya tidaklah sama. Dan semoga saya tidak keliru.

Pada akhirnya, satu pelajaran dari guru SD saya yang juga selalu saya ingat, iman itu diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan lewat perbuatan. Tanpa yang terakhir, kamu tidak akan mencapai keimanan, maka saya mencoba. Tabik.

wordsflow

kenapa akhirnya semua manusia berseteru?


Kemarin pagi, ada sebuah kebijakan baru yang diterapkan oleh kampus saya mengenai akses. Jalan utama menuju Lembah tiba-tiba dipasang portal dan tanpa pemberitahuan pagi kemarin diberlakukan wajib karcis untuk masuk ke areal kampus. Tentu saja hal itu menjadi perbincangan hangat. Bukan hanya karena implementasinya yang tiba-tiba, namun juga karena hal itu membuat antrian panjang dan kemacetan di simpang Jl. Agro.

Secara pribadi, saya yakin hal tersebut bertujuan baik, sebagaimana semua kebijakan kampus tampaknya adalah untuk meningkatkan citra kampus di manapun; di hadapan mahasiswa, calon mahasiswa, sesama akademisi, pemerintah pusat, khalayak internasional. Yah apapun lah, yang saya lihat, setiap kebijakan bertujuan untuk mencapai pujian. Tak lama setelah merasakan si portal untuk pertama kalinya, saya membaca sebuah postingan di laman Facebook, yang mempertanyakan kebijakan kampus yang katanya penuh dengan mahasiswa pemenang kompetisi internasional dengan dosen-dosen yang handal pada akhirnya tidak mampu menangani urusan parkir kampus.

Tertamparlah diri ini.

Bukan hanya soal itu. Kita melihat banyak sekali contoh lewat begitu banyak cerita nyata atau fiksi, tentang orang-orang tua yang sukses mengerjakan berbagai hal, menyelesaikan berbagai persoalan, namun gagal mendidik anak-anaknya, membiarkan anak mereka ‘terjerumus’ dalam seks bebas atau penggunaan narkoba, dst. Tidak heran bagi saya, institusi sebesar kampus, yang dipenuhi oleh orang-orang yang kritis dan tentu saja intelek, akan sulit untuk menata dirinya. Ada berapa kubu yang berbeda ideologi di sana, ada berapa kubu yang berbeda paradigma, dan seterusnya.

Saya kira, perihal keberagaman paradigma dan opini telah begitu banyak dipelajari melalui metode-metode analisis perilaku manusia, dan itu ada di berbagai bidang ilmu! Tapi toh kita tidak pernah lepas dari satu fakta: kita masih bertikai setiap harinya.

Maka, menjadi begitu menggelitik pikiran saya sendiri akhirnya, terutama tentang konsep ‘harmoni’. Apakah harmoni itu? Bilamana harmoni tercipta? Apakah harmoni memang mampu dicapai oleh manusia? Apakah harmoni merupakan sebuah cita-cita? Ataukah ia dipaksakan menjadi realita?

Sekiranya memang, saya sendiri pun meyakini meski mungkin karena adanya berbagai faktor yang menyebabkan perubahan tubuh manusia, setiap manusia tercipta berbeda. Hal ini bukan hanya urusan fisik, namun juga cara berjalan, suara, perilaku, dan pemikirannya. Tentu saja perbedaan itu pula yang akhirnya membuat setiap manusia itu unik begitu saja, dan kesejarahan mereka juga unik satu sama lain. Buat saya pribadi, sungguh aneh ketika setiap orang yang begitu berbeda itu, mampu menciptakan sebuah komunitas yang kini kita sebut sebagai ‘masyarakat’. Anehnya, setiap kita juga sama sepakat bahwa ada yang disebut sebagai kesepakatan bersama, yang mungkin kita kenal sebagai etika, moral, tata krama, aturan-aturan, dan seabreg istilahnya itu.

Kemudian saya bertanya-tanya, siapa yang akhirnya mampu menciptakan kesepakatan-kesepakatan itu? Jika pada akhirnya kita percaya pada cerita-cerita masa lalu, kematian pertama diciptakan oleh Qabil terhadap Habil saudaranya. Hal itu saya anggap sebagai upaya penguasaan terhadap orang lain, sebuah dorongan untuk menguasai dan mengatur tentu saja. Yang dilakukannya? Power. Ia menggunakan ketangkasan fisiknya untuk mampu menguasai orang lain. Hewan-hewan yang (katanya) mendahului manusia juga mencoba menerapkan penguasaan melalui kekuatan fisik. Kita kemudian mengenal istilah ‘yang berkuasa yang bisa mengatur’.

Maka, saya tidak bisa mempercayai bahwa ada masyarakat yang tidak memiliki struktur sosial yang hierarkis. Saya menduga (tanpa berusaha mencari tahu lebih dalam), setiap manusia yang akhirnya tunduk di bawah naungan masyarakat, adalah mereka yang tidak mampu mempercayai dirinya sendiri bahwa mereka mampu mencari penghidupan dan perlindungan seorang diri. Saya, anda, dan orang-orang ini, akhirnya membutuhkan sebuah naungan yang mampu menjamin penghidupan dan perlindungan itu.

Smith sempat menyebutkan, bahwa masyarakat menciptakan kodifikasi-kodifikasi tertentu yang kemudian kita sebut sebagai kesepakatan umum, misal dalam urusan fashion, hukum, atau apapun, yang kemudian menciptakan selera pasar yang sama. Tanpa adanya kodifikasi tersebut, maka setiap orang akan tetap unik pada simbol dan kode masing-masingnya sendiri. Bahasa juga merupakan salah satu keluaran kodifikasi tersebut. Maka, jangan merasa berbeda dengan orang lain jika kita nyaman berada di bawah masyarakat kita, karena itu artinya kita telah terkodifikasi oleh masyarakat itu.

(Maaf saya nyomot teori Smith untuk berbagai hal, karena saya anggap masih cukup relevan. Kerjaan ilmuwan kan begitu, mengembangan teori, coba ini itu, siapa tau lebih bisa menjelaskan).

Ini bukan soal ingin menjadi berbeda atau ikuti arus saja. Saya masih yakin manusia yang juga muncul dari manusia lain, yang mana juga mensyaratkan secara mutlak adanya persetubuhan dua manusia, menjadikan manusia setidaknya pada suatu waktu harus berhubungan dengan manusia lain. Seorang perempuan yang padanya dibiarkan mampu mengandung selama 9 bulan dan menghidupi seorang bayi selama 2 tahun, menempatkan manusia sebagai entitas yang harus hidup bersama dengan manusia lain. Meski secara biologis mamalia juga mengalami hal yang sama, pada akhirnya ke-berakal-an manusia menjadikan manusia memiliki sifat-sifat yang tidak dimiliki mamalia lainnya. mampu menciptakan kode-kode yang tidak mampu diciptakan mamalia lainnya, atau jika mau mengutip Marx, manusia melakukan ‘kerja’, yang mana tidak dilakukan oleh mamalia lain. Lebih jauh, Heidegger mengatakan bahwa hanya manusia (yang dia sebut das sein) saja yang mampu mendekati Ada-nya, sedangkan makhluk lainnya hanya menjalani saja.

Demikian, berbagai jenis manusia melalui berbagai disiplin ilmu mencoba menguraikan 5W1H-nya tentang manusia, tentang diri mereka sendiri, tentang kelompok kecil manusia, tentang masyarakat, dan bahkan seluruh orang di Bumi. Bagaimanapun, semua itu mengangumkan dan membingungkan di saat yang bersamaan. Seolah saya tetap yakin bahwa itu utopis saja, untuk berupaya memahami manusia di luar diri kita sendiri. Antropologi keluar sebagai disiplin ilmu yang tidak lagi sekedar ngurusin etnografi, tetapi juga mewujudkan cita-cita ‘memahami liyan untuk merefleksikan eksistensi diri’. Artinya, manusia yang tidak mampu memahami orang lain, akan sulit melakukan refleksi dan akhirnya akan sulit pula memahami dirinya sendiri.

Mengapa?

Pada suatu waktu, ketika kesadaran eksistensi pertama kali menyerempet saya, saya bertanya-tanya mengapa hanya saya yang tidak mampu melihat diri saya sendiri? Mengapa harus orang lain (melalui sepasang mata mereka) yang akhirnya bisa menelaah diri saya secara keseluruhan dan malah bukan saya sendiri yang bisa melakukannya? Saat itu saya menyadari mengapa penting sekali memiliki sebuah cermin besar seukuran badan.

Apa garis merah dari tulisan saya yang berantakan dan tidak jelas juntrungannya ini? Ada saudara-saudara, hehe. Jawabannya adalah imajinasi.

Sudah sangat lama saya mencoba mengkaitkan berbagai banyak hal di pikiran saya. Saya tidak menyukai parsialisasi ilmu pengetahuan, yang akhirnya hanya mampu menyingkap sebagian fakta saja. Ibarat orang-orang yang sering mencontohkan bagaimana seekor gajah didefinisikan oleh beberapa orang buta, tapi toh akhirnya kita mampu menjelaskan bagaimana gajah itu secara keseluruhan. Demikian saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa sebuah realitas, atau masalah, atau apapun, mampu dijelaskan secara menyeluruh dan komprehensif, melalui penalaran dan kajian berbagai disiplin ilmu. Toh pada mulanya ilmu tidak tercerai berai begitu.

Di situ, saya mencoba mencari-cari di mana seni dibutuhkan, dan kenapa harus ada? Melalui seni, manusia menyehatkan imajinasinya, sehingga mereka mampu membayangkan kemudian, bagaimana liyan itu, lantas dapat mengkontekstualisasikannya ke diri sendiri. Imajinasi yang kering akan merusak diri, dan karenanya butuh dipupuk melalui konsumsi berbagai seni yang mewujud dalam produk-produk kebudayaan, atau mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saya mencoba menelusuri bagaimana seseorang bisa meyakini sebuah ideologi dengan begitu yakin, karena bahkan hari ini pun saya masih begitu takut untuk menjatuhkan pilihan saya pada sebuah ideologi tertentu. Sejarah-sejarah dunia telah mengabarkan kepada kita dengan cerita lukanya, Mesir yang maju, Roma yang menguasai Eropa dan sekitarnya, Islam dan masa-masa kejayaannya, Mongol, Yahudi, Nazi, Uni Soviet, dan seterusnya hingga hari ini, ideologi apapun yang dijunjung orang-orang ini, toh tetap ada yang mati. Tetap saja ada manusia yang dikorbankan. Lantas apa yang membuat kita begitu yakin ideologi yang kita yakini tidak lantas membuat orang lain menderita juga?

Saya sangat suka dengan cara berpikir Gie. Dari buku hariannya, saya mencoba membaca perdebatan internal yang ada pada dirinya. Dari surat-suratnya dengan kawan-kawannya, saya bisa membayangkan apa yang sedang dia pikirkan. Dan bagaimanapun, dia adalah orang yang memandang manusia sebagaimana ia melihat dirinya sendiri. Seorang tentara juga mungkin seorang ayah untuk anaknya, seorang miskin juga adalah bagian dari keluarga kecilnya, dan bahkan dirinya adalah seorang anak pada sebuah keluarga.

Ah, saya mulai ngelantur, dan meski masih ingin meneruskan cerita, saya sudah mengantuk. Jadi saya sudahi dulu.

wordsflow

tentang kontemplasi di ketinggian bumi


Sesuai janji, saya menulis lagi di hari ini.

Selama persis 49 jam saya ‘membuang’ waktu untuk mendaki bumi, sekali lagi. Saya menyebutnya sebagai perjalanan kontemplasi. Di umur yang hampir 25 tahun ini, toh apalagi yang bisa begitu saya nikmati kecuali untuk kontemplasi?

Ada hal yang ingin saya singkirkan ketika perjalanan itu saya setujui, dan memang hal itu baru akan tampak dan saya pahami begitu saya menjauh dari hal-hal yang sering saya lihat sehari-hari. Dan bukankah gunung dan hutan adalah pengganti yang begitu menyenangkan? Terlebih lagi, pergi ke tempat semacam itu tentu saja tidak untuk memikirkan hal-hal yang terlampau berat dan tugas-tugas kuliah. Tentu saja tidak, waktu semacam itu adalah kebebasan yang sesungguhnya untuk memikirkan diri sendiri, dan hal-hal yang belum kita temukan jawabannya.

Pertanyaan pertama yang saya ajukan untuk diri sendiri, hal apa yang paling saya tidak suka dari diri sendiri?

Pertanyaan kedua, apakah sebetulnya saya menerima kondisi fisik saya yang, tidak cantik?

Pertanyaan ketiga, apa esensi dari gerakan feminisme, lalu apa pendapat pribadi saya?

Ketika pertanyaan itu, yang menemani hari-hari saya di gunung. Bahkan sepanjang perjalanan saya berdialog panjang dengan diri sendiri, sembari menahan pegal di kaki karena begitu jarang berolah raga, dan sesekali menggigil karena udara yang terlampau dingin.

Tentang pertanyaan pertama.

Saya sadar ada banyak orang yang secara pribadi atau secara terbuka sering mengatakan saya orang yang mutusi. Dan hal itu bukan tanpa kesadaran saya melakukannya, karena saya selalu punya cukup waktu sebelum mengatakan sesuatu atau memutuskan sesuatu. Perkara mutusi, adalah sebuah upaya pertahanan diri sebenarnya, akan hal-hal yang tidak bisa saya temukan jawabannya secara langsung atau saya konfirmasikan. Hal itu membantu saya dalam menjalani hidup saya sehari-hari, dan membuat saya semakin mudah berpikir.

Ah, saya berharap kamu akan membaca penggal pengakuan ini.

Ada masa di mana aku selalu berkata pada diri sendiri, bahwa aku tidak tahu apapun tentang siapapun. Bahkan kepada diri sendiri pun kadang aku kesulitan untuk bertindak. Aku sering sadar, bahwa aku merindukanmu, atau berharap dapat berbagi cerita denganmu. Tapi toh ketika kita bertemu, hampir-hampir aku tidak menginginkannya. Sehingga begitu sering aku bertanya sekali lagi pada diri sendiri, yang begitu aku sebut mencintai?

Kita sama kesepian kukira. Tapi aku tak pernah tahu kesepian seperti apa yang kamu rasakan, yang pasti dengan perlahan aku mencoba memahami kesepian seperti apa yang sedang kurasakan. Mungkin, dua orang yang kesepian memang tidak bisa begitu saja disandingkan, karena tidak akan ada hal-hal yang bisa saling dipertukarkan kecuali kesepian itu sendiri. Ah, aku mulai mutusi lagi. Enggak sih, aku tak tahu apa-apa tentang takdir, atau kehendak, atau nasib. Semua bersilang sengkarut dan mencoba diakui sebagai takdir kita.

Kupikir, seharusnya kamu mulai mencari seseorang yang bisa kau sebut ‘perempuanku’, agar kau tak lagi kesepian. Agar mungkin, begitu kamu memastikan diri, aku bisa memutuskan juga ke mana aku akan melangkah tanpa harus bersusah payah menerjemahkan dirimu. Bagiku, lebih mudah menerima kenyataan dari pada memutuskan jalan yang harus kuambil pada titik bifurkasi.

Aku mencoba menyiapkan diri dan memberimu kepastian bahwa aku tak akan lagi dengan mudah memutuskan segala hal seorang diri.

Tentang pertanyaan kedua.

Saya mulai jengah sebetulnya, menyangkut pertanyaan cantik-tidak cantik ini, hahaha. Harus saya akui dengan jujur, bahwa selama bertahun-tahun saya merasakan ketidakpuasan diri akan fisik yang saya miliki. Sudah sangat sering saya disalahpahami karena muka saya yang menyebalkan, dan bukan salah saya jika saya demikian. Sudah terima saja. Tapi jauh sebelum saya disalahpahami karena saya jutek, saya dulu lebih nggak terima karena saya tinggi, sehingga berkali-kali dikira anak pertama di keluarga saya. Tapi semakin saya tumbuh dewasa, persoalan kecantikan ternyata lebih mengganggu.

Tentu saja saya masuk golongan anak-anak perempuan yang ingin tampil menarik dan cantik. Tapi saya sudah sadar bahwa saya tidak cantik sejak saya masih duduk di bangku TK. Kenyataan itu saya sadari karena saya nggak pernah dimintai tolong untuk menjadi gadis-gadis kecil yang bawa kipas manten. Ya ampun, cerita memalukan apa ini. Sejak itu saya sadar, bahwa saya tidak cantik, dan dimulailah segala pertanyaan tentang diri sendiri.

Belakangan saya tahu bahwa orang bisa dibuat cantik, dengan alat rias. Tapi itu tidak memuaskan, karena ibu saya bukan tukang dandan, jadi dia tidak dapat saya jadikan preferensi yang baik. Cukup lama saya ‘menggunakan’ ibu saya sebagai subjek penelitian saya. Semakin lama saya sadar, bahwa kesan yang ditampilkan raut wajah seseorang tidaklah tetap, meski citra yang tersimpan di dalam pikiran relatif lebih tetap dan tidak berubah. Misal saya membayangkan wajah seseorang, ya begitu saja bentuknya, meski di dunia nyata seseorang itu memiliki berratus ekspresi yang berbeda.

Maka, soal cantik tidak cantik itu cuma jadi permasalahan ingatan, hahaha. Kesimpulan macam apa ini? Tapi begitulah, saya sudah lama berdamai dengan diri sendiri, bahwa tidak cantik ya akan begitu selamanya. Nggak perlu berusaha hingga babak belur untuk membuat diri sendiri secantik standar yang diciptakan orang-orang, karena itu menyulitkan diri sendiri. Saya cenderung lebih suka berkaca dan memasang tampang cemberut saya, dan mencoba membayangkan orang lain menghadapi bentuk muka saya yang begitu menyebalkan. Kasian ya orang-orang yang bertemu dengan saya. Hahaha.

Tentang pertanyaan ketiga.

Pada suatu malam yang panjang, saya dan seorang teman (yang cerita hidupnya saya jadikan cerpen tempo hari), berdiskusi singkat mengenai feminisme. Dia yang cukup perhatian dengan permasalahan itu akhirnya mengatakan pada saya, “Menurutku akhirnya gerakan feminis mengalami kemuduran, balik lagi ke awal.” Maksudnya, di hari ini banyak perempuan yang ingin kembali kepada khitohnya aja menjadi seorang ibu, menjadi pemberi kehidupan untuk keluarga kecilnya, dan menjadi ibu rumah tangga. Para lulusan-lulusan perguruan tinggi ini menolak anggapan umum bahwa sarjana harus bekerja, dan memilih hidup menjadi seorang ibu saja. Toh menjadi ibu adalah kodrat seorang perempuan yang adalah juga sebuah karunia.

Pertanyaan ini menyangkut hal yang begitu inti dari pergulatan diri saya sebenarnya. Apa yang kemudian saya anggap penting, yang saya inginkan, yang saya tuju, dan seterusnya. Bukankah urusan ini begitu mengganggu setiap perempuan juga?

Ada beberapa hal yang mencoba saya sadari melalui pertanyaan ini.

Pertama, saya adalah dassein, yang merupakan seorang individu bebas yang tunggal; terlempar seorang diri, dan akan tercerabut dari eksistensinya seorang diri pula. Maka, perihal pencarian diri bukan perkara menghindari kodrat perempuan sebagai pemberi kehidupan untuk anak-anaknya. Justru saya kira, adalah tugas kita jika memang akan memiliki anak, untuk mampu memberikan garis awal yang baik bagi mereka untuk memahami keterlemparannya di dunia. Demikian, mencari definisi tentang hidup, memahami segala hal yang terjadi, mempertanyakan diri dan lingkungannya, atau hal apapun itu, bukan perkara kamu perempuan atau laki-laki. Tapi adalah buah dari status bebas kita sebagai seorang individu.

Yang kedua, kita yang merupakan individu-individu bebas ini, terkurung di dalam berbagai struktur yang saling tumpang tindih. Saya sebagai perempuan misalnya, adalah status yang diberikan atas struktur yang ada di masyarakat, bahwa manusia terbagi menjadi laki-laki dan perempuan. Di dalamnya ada banyak sekali aturan-aturan yang mayoritas tidak tertulis, tapi disepakati bersama. Saya juga seekor makhluk biologis dan material, yang bisa bertumbuh, berkembang biak, berreaksi atau melebur, dan seterusnya. Maka, menjelaskan seorang ‘saya’ tidak bisa sembarangan saja, karena manusia menempati berbagai dimensi struktur.

Dari sana saya kira, menjadi ibu atau tidak menjadi ibu, hidup sendiri atau berkeluarga, bekerja atau tinggal di rumah saja, berlaku feminim atau maskulin, bukan soal benar tidaknya, ‘lebih perempuan’ yang mana, atau perdebatan-perdebatan panjang lainnya. Saya tidak suka generalisasi semacam itu. Kita semua diberikan pilihan sebebas itu sejak lahir, meski pertama-tama harus pula menerima keterlemparan diri dan kesejarahan kita. Jadi, perihal ‘kemunduran’ feminisme bagi saya tidak begitu saja bisa diiyakan. Kita melihatnya sebagai kemunduran, karena sebelumnya perlawanan itu hanya dilakukan pada satu dimensi struktur saja, sementara kita melihatnya dari dimensi struktur yang lainnya. Jadi nggak ketemu. Ah, tapi saya bukan penggiat feminisme, saya hanyalah penerjemah diri.

Sebagaimana sering saya katakan, tulisan di sini tidak pernah sepuitis yang saya dialogkan di dalam pikiran. Saya selalu lupa kalimat-kalimat yang saya susun di dalam kepala. Bahkan terkadang yang tertulis akhirnya juga tidak sampai pada kedalaman pemikiran saya. Tapi biarlah, pinggang saya hampir copot.

Tapi jalan-jalan kontemplasi ini begitu menyenangkan, dan saya begitu menikmatinya. Ternyata saya sudah begitu lama tidak bergelut dengan diri sendiri seintensif itu.

wordsflow

nih saya kasih foto saya yang ndembik, pose favorit eke

nih saya kasih foto saya yang ndembik, pose favorit eke

Tentang Tanah


Maafkan karena pembahasan saya yang selalu kembali ke hal-hal yang saya resahkan. Ini akan menjadi tulisan pertama saya tentang jalan-jalan kecil saya ke Paninggaran, dimana untuk pertama kalinya saya mencari info atas nama penelitian. Beban berat yang sampai sekarang saya resahkan, bahkan ketika saya yakin telah mencapai kesimpulan yang cukup beralasan.

Suatu ketika saat saya belum resmi menjadi mahasiswa, seorang teman pernah mengatakan, “setiap tindakan manusia selalu didasarkan pada kondisi sosio-ekonomi-politik mereka”. Katanya juga, “kamu nanti pasti belajar tentang agraria”. Dan betul memang, saya pun menjalankan hal-hal yang ia katakan itu, persis sebagaimana ia bercerita.

Tapi, saya harus mengakui berkali-kali, terus-menerus, bahwa saya tidak tahu tentang agraria. Meski hidup di keluarga petani, dan masih rajin nyawah setidaknya sampai saya SMP, sering diceritakan suka-duka menjadi petani oleh simbah dan saudara-saudara jauh saya, harus saya katakan bahwa saya pun belum pernah ‘menjadi’ petani. Hal tersebut menempatkan saya tidak sebagai pelaku, tapi hanya orang yang kebetulan tahu.

Saya mencoba membaca banyak buku, bertanya ke banyak tempat, dan akhirnya memaksakan diri melihat dan bertanya langsung pada petani, sebagai upaya untuk memahami. Buku-buku sosio-historis memperlihatkan begitu banyak upaya pematokan tanah, pemberian akses pada satu pihak, atas nama ideologi dan politik tertentu. Apapun itu, nyatanya semuanya memakan korban. Demikian, dinamika sosial menjadi sebuah perjalanan konflik yang tidak berhenti.

Banyak pihak yang terus menerus berada pada posisi paling dilematis di dalam masyarakat dan lingkungan sosialnya. Pihak-pihak ini yang mendapat ancaman paling besar, dan berada di posisi yang paling rawan. Konflik, demikian tidak bisa hanya dilihat sebagai urusan dua pihak yang berada pada kutub ekstrem, namun merupakan serangkaian proses yang panjang dan dialektis. Meski demikian, di dalam proses pun, ada tindakan strategis dan taktis yang mana sepertinya jarang diperhatikan. Tindakan strategis menempatkan kondisi historis sebagai basis pengambilan keputusan, sedang tindakan taktis pada kondisi darurat kala itu.

Penjelasan lebih lanjut tentang ini tidak bisa saya tuliskan sekarang, karena tulisan ini hanya saya ketik melalui ponsel pintar saya. Sementara, menulis serangkaian gagasan yang runut membutuhkan waktu dan laptop.

Konflik agraria, menempatkan tanah sebagai hal yang paling penting untuk diperdebatkan. Apakah kepemilikan atau hanya akses, apakah penggunaan atau pengambilan, dan seterusnya. Pembahasan mengenainya telah dimulai sejak pertama kali petani dijajah oleh penguasa-penguasa di tanah hidup mereka.

Saya tidak sedang berusaha untuk mengajak mendukung petani secara buta. Pun kiranya saya tampak fasis, saya tak merasa perlu meminta maaf pada siapapun.

Ketika saya membicarakan fenomenologi di postingan-postingan sebelumnya, sebenarnya saya ingin mencoba mengatakan bahwa setiap manusia memiliki sistem pengetahuannya sendiri. Perkara itu bertentangan dengan manusia lain, itu memang manusiawi, tapi kesepakatan kolektif yang akan mengatur mereka. Maka, pertanyaan ‘bilamana sebuah masyarakat tercipta’ menjadi sebuah pertanyaan yang luar biasa sulit untuk dijawab bagi saya. Jawabannya dapat digunakan untuk melihat bagaimana sebuah masyarakat berdamai dengan friksi-friksi yang tercipta.

Kadang, ketika berpikir begini, saya begitu malu. Di luar sana pasti telah ada yang menelusurinya lebih dalam, memberikan kriteria-kriteria, atau bahkan analisis historisnya. Mungkin saya memang belum banyak membaca.

Meski begitu, saya selalu tersadarkan, bahwa saya pun masih tidak mampu memahami bagaimana masyarakat SATUBUMI dapat terbentuk. Padahal kami penuh konflik, berbeda ideologi, dan sebagaimana, namun masih dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat. Bagi saya itu aneh, dan membuat saya meyakini bahwa saya harus menjawab sendiri pertanyaan tadi atas dasar amatan dan partisipasi.

Ah, saya pernah dikatakan terlalu ambisius dalam belajar. Memang, saya mengakui hal itu. Tapi adalah perlu untuk melakukannya saya kira.

Lalu Paninggaran, sebuah kecamatan luas yang asik. Segala hal dapat kita temukan di sini; kehidupan pra kapitalistik yang hampir primitif, atau bahkan geliat modernitas yang ekspansif. Di dalamnya tercampur segala konflik sosial yang mungkin ada, meminta setiap orang berdamai dengan satu konflik dan konflik lainnya, menjadikan setiap individu sungguh-sungguh tidak bisa menjadi hitam putih. ‘Masyarakat’ membuat individu harus mendefinisakan diri mereka sendiri ketika berkehidupan sosial.

Masyarakat yang relatif dan tidak tetap ini dibenturkan pada konsep ‘kepemilikan’ atas tanah yang tetap dan tidak akan berubah secara kuantitas. Mereka limbung dan secara individual menanggapi perubahan dengan cara yang berbeda-beda. Meski tugas kami adalah mencari pola, saya tidak ingin menolak fakta bahwa diferensiasi sosial itu ada, dan terus berubah.

Ah, layar kecil ini membuat saya bingung menyusun kerangka tulisannya. Intinya, saya memang belum sungguh mampu berpijak dan masih terus mencari. Memang tidak mencari kesempurnaan, bahkan membuat teori sosial yang adiluhung. Tidak. Saya juga manusia biasa. Cuma, kalau tidak dituliskan, saya merasa yang saya pikirkan menjadi tidak berguna.

Saya sudahi dulu, sembari berharap Jum’at segera tiba. Sampai jumpa.

wordsflow

(tidak usah dikasih judul)


Meninggalkan Jogja dalam sebuah perjalanan panjang tampaknya adalah sebuah pilihan yang cukup tepat untuk saya lakukan dalam beberapa minggu terakhir. Memang tidak sepenuhnya saya terpisah dengan dunia tempat saya tinggal. Teknologi telah mampu memutus jarak yang ada, dan menyingkat waktu, serta menyimpankan memori yang kita butuhkan untuk mengingat kembali. Teknologi menyadarkan pada fakta bahwa di hari ini waktu tidak mengendalikan manusia seutuhnya, meskipun kita masih saya bertanya-tanya tentang kematian. Di beberapa tempat bahkan kematian sudah tidak lagi menjadi sebuah misteri secara menyeluruh, kajian tentang kematian dan dunia metafisik sudah begitu banyak dan membanjir di dunia ini.

Lalu apa lagi yang masih menjadi rahasia jika semua hal itu sudah mulai dipahami dan terus menerus coba ditelusuri?

Pertanyaan tersebut sebenarnya tidak bermula dari sana. Adalah ketika berkonfrontasi dengan masyarakat di lapangan, saya dihadapkan pada fakta bahwa selama ini saya terlalu naïf melihat begitu banyak hal yang terjadi di masyarakat, apalagi terkait fenomena dan konflik sosial. Saya ketagihan mengkaji manusia, meski masih begitu enggannya saya meyakini metode-metode psikologi untuk mempelajari manusia. Mungkin karena selama ini saya melihat ‘ilmu psikologi’ yang ‘demikian’ sehingga saya sulit untuk mempercayai ilmunya, hahaha. Enggak ding, karena sejujurnya saya belum kenal ilmu psikologi itu seperti apa.

Sebenarnya saya sedang mencoba untuk mengkaitkan beberapa teori yang sudah begitu umum digunakan terutama dalam kajian sosial kontemporer. Saya suka gaya-gaya analisis ala Marxian, meski masih belajar teori-teori turunannya yang sepertinya sudah sebegitu bercabang bagai anak sungai. Sudah begitu, kajian etnosains sedang banyak dipelajari di dunia antropologi, dengan fenomenologi sebagai dasar epistemologinya, meski etnosains tidak sungguh berakar dari fenomenologi. Lebih dari itu, psikoanalisis juga menjadi kajian yang begitu ‘nyata’ untuk mendeskripsikan individu-individu. Entah saya akan dibilang mendua, meniga, atau seterusnya, saya tidak ambil pusing, yang penting semuanya dapat saya gunakan untuk memahami manusia yang saya temui, saya lihat, atau yang berhubungan dengan saya.

Apa lagi guna semua hal kalau meniadakan manusia dalam kajiannya? Bumi saja ketika tidak ada manusianya hanya sekedar materi, tata surya kalau tidak memberi pengaruh pada keberlangsungan bumi tidak penting untuk dipelajari, dan semuanya-mua tidak akan berpindah atau menjadi penting ketika tidak berhubungan dengan manusia. Saya memang agak egosentris, tapi memang begitu dasar setiap pembelajaran. Setiap hal dipelajari ketika menjadi kebutuhan.

Saya melihat bahwa manusia adalah sesuatu yang tidak akan pernah stabil, karena stabilitas manusia berarti matinya jiwa dan hanya menyisakan manusia sebagai sebuah mesin bergerak, entitas terprediksi dan tidak lagi menarik untuk dipelajari. Maka ketika kita menjadi manusia yang labil, kita masih manusia. Berbanggalah dengan keadaanmu.

Memahami manusia menjadi babak baru dalam setiap hidup, menyisakannya menjadi pekerjaan yang tidak pernah ada usainya. Kecil bertengkar dengan saudara dan teman sebaya, remaja mengenal kedewasaan, pemuda mencari identitas, dewasa memikirkan keluarga, mendidik anak, bergumul dengan perubahan jaman, dan akhirnya menghadapi kematian. Anehnya, dari begitu banyaknya manusia, semuanya mengalami dengan cara yang berbeda, berdialog dengan cara yang berbeda dengan diri sendiri, dan menggunakan logika yang berbeda dalam menanggapi. Setiap perbedaan itu memberikan friksi, menciptakan konflik, membentuk konflik, mencoba menemui solusi atau jalan tengah, dan seterusnya-seterusnya. Aneh kemudian saya kira, ketika masuk ilmu sosial dan merasa salah jurusan, padahal telaah sosial adalah pe-er kita hingga mati.

Begitu berbedanya manusia juga membuat paradigma yang diyakini tidak kemudian bisa mendeskripsikan setiap manusia atau fenomena sosial yang kita temui. Menguasai semua paradigma memang terlalu ambisius, tapi percayalah, hal itu yang dibutuhkan karena antara manusia yang tumbuh di lingkungan dan lahir dari keluarga yang sama pun akan dapat sangat berbeda cara berpikirnya. Di sini saya yakin, logika belum mati, dan altruisme masih tetap ada dalam bentuknya yang berbeda-beda. Hal-hal yang sudah di-‘mati’-kan oleh filsuf dan para ahli sosial sebenarnya masih berkeliaran dalam kelompok-kelompok kecil manusia, berkelana dalam pikiran-pikiran manusia sebagaimana meme merajalela di dalam diri manusia-manusia. Lihatlah bagaimana cara manusia berdebat di hari ini, hehehe. Atau bagaimana diri kalian menolak ide saya mengenai hal-hal yang saya tuliskan di blog ini. Hehe, seru ya.

Agaknya, saking serunya manusia dan segala hal yang melingkupinya, saya menganggap bahwa setiap manusia adalah subjek yang butuh untuk dipahami, dan begitu pula cara menemukan diri sendiri. Sebegitu tenangnya kita nantinya ketika mampu mendefinisikan diri sendiri, dan memahami apa yang sedang terjadi dengan diri sendiri. Kadang memang akan selalu ada yang mengganggu, dan memang begitu cara perubahan menyentuh kita, terima saja, yang penting kita mampu menyadari apa yang sedang terjadi.

Ah, saya mulai mencerahami pembaca-pembaca yang budiman, maafkan.

Ini hanya sebuah upaya untuk melerai rindu saya pada catatan harian saya di blog ini. Rasanya sudah begitu lama saya bersentuhan dengan tuts laptop dan tidak mengetik dengan sebahagia ini, meskipun topik yang saya bahas tidak pernah terlalu penting. Ah, kepentingan juga relatif terhadap prioritas dan logika masing-masing orang, terkadang terhadap kondisi sosio-ekonomi-politik mereka. Setidaknya, ketika masih sulit untuk memahami manusia, kita sudah bersahabat dengan diri sendiri dan mampu melihat bagaimana diri kita di dalam lingkungan sosial. Jika belum, mari berupaya bersama-sama, semua orang melakukannya kok.

Selamat bermalam Minggu, selamat merindu.

wordsflow

Dalam Euphoria


Tidak bisa tidak, saya harus menulis di blog sekarang juga.

Setelah semalam saya berurai air mata dan didera kesedihan mendalam (bohong) karena laptop saya totally dead, dalam kondisi setengah putus asa saya mencoba sekali lagi menghidupkan belahan jiwa saya yang lain ini. Dan ternyataaa, nyalaaaa. Wuhuhuuuu. Well, lebih menggembirakan karena tulisan saya tentang kerja dan Marind-Anim masih ada pada tempatnya, dan tersimpan. Wow sekali lah.

Demikian, maka hal ini patut dirayakan dengan menulis sebuah postingan baru di blog. Yeeee. Lalu, apa yang mau dituliskan?

Saya ingin mengupdate sedikit kehidupan saya yang tetiba sibuk di akhir kuliah, hehe.

Pagi tadi saya sesaat menyadari bahwa mungkin (hanya mungkin), keputusan saya untuk kuliah lagi adalah sebuah kesalahan. Di saat saya memiliki sebuah usaha untuk bertahan hidup, saya tidak pernah sedikit pun punya waktu bebas untuk mengembangkan usaha saya tersebut. Demikian, customers saya tidak pernah bertambah, usaha saya tidak pernah berkembang, dan saya kesulitan untuk membuat inovasi produk. Saya berusaha untuk menelusuri kembali motif sebenarnya mengapa saya memutuskan untuk sekolah lagi. Apakah sekolah adalah hal yang saya butuhkan? Saya inginkan? Dan mengapa saya justru menyisihkan hal yang sebenarnya begitu saya nikmati setipa prosesnya?

Secara singkat, saya bisa mengatakan iya, bahwa saya hidup dengan kontestasi merasa butuh untuk mengaktualisasi diri. Belajar sendiri membuat saya mengaktualisasi diri secara tidak terarah dan justru membuat saya tidak mampu menyadari apa yang sebenarnya sedang saya cari. Masuk kuliah menjadi babak baru bagi saya karena dengannya saya harus menentukan ke mana saya mau melangkah. Kuliah saya menyodorkan empat konsentrasi dan dengan berani saya mengambil konsentrasi bertajuk ‘Dialektika Negara, Kapital, dan Masyarakat Sipil’. Saya yang tidak pernah percaya dan selalu angkuh untuk rela mengutip harus dan wajib mengutip sana sini dalam review atau tugas kuliah. Sebagai bekas anak Arsi yang tidak pernah diajari menulis dengan benar, hal itu luar biasa sulit.

Saya mencoba untuk tetap menjadi normal di setiap upaya saya menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang jelas membuat saya minder. Hampir semua orang di kelas saya berasal dari Antropologi. Sebagian lain yang tidak mengambil jurusan tersebut setidaknya pernah memiliki pengalaman kerja lapangan, dan saya nol besar. Dunia saya hanya seputaran teks dan jauh dari realita. Maka seperti yang saya ungkapkan di postingan sebelum-sebelumnya, keberadaan saya di dunia teks membuat saya semakin merasa tidak berguna sebagai seorang akademisi, lebih lagi sebagai manusia.

Maka, pertanyaan sederhana seputar  melemparkan diri ke dunia Antropologi menjadi sebuah pertanyaan besar dimana sebenarnya saya sudah nyaman dan lebih bahagia di dunia saya sebelumnya; membuat buku dan menulis cerita fiksi. Pencarian atas itu masih ada hingga saya menulis ini. Saya suka akan rasionalitas, tapi hal semacam itu hanya saya gunakan untuk menentukan pilihan. Sedangkan pada hasil, saya seratus persen percaya pada kuasa the invisible hand. Demikian, saya mendua dengan mempercayai keduanya. Biar saja, saya kan orang Jawa.

Saya terpesona pada caption seorang teman tentang karyanya berjudul ‘merely an illusion’.

We realize that we’re out of energy. Everything has been sucked by something strange. Our time, our mind, both of them have been distorted. In the end, what we thought was love, perhaps was merely an illusion.

Oke, masalah hati memang urusan lain. Tapi selalu seru untuk di-update kaaan, hehe. Tidak ada yang menarik di hari ini. Saya menyimpulkan bahwa masalah hati itu selalu palsu, tapi juga tulus di saat yang sama (kan, saya selalu mendua; karena takut dinilai atau karena ingin menegaskan diri?). Dalam urusan cinta, saya lebih percaya gestur daripada kata-kata. Saya tiba-tiba berusaha menafikkan teks dan bahasa. Maka, begitu juga semua tulisan saya, semuanya bisa jadi bohong belaka, hahaha. Absurd banget deh.

Biarlah hidup berjalan begitu saja kata seorang pujangga. Pujangga lain mencoba untuk menghindari gerak hidup yang tidak memberi kebebasan. Masalah way of life ini saya yakin sudah ada seribu satu manusia yang mencoba merumuskan cara yang paling menenangkan untuk hati dan pikiran. Masalahnya, setiap manusia itu unik, dan keunikan ini berimplikasi pada setiap detil hidupnya, bahkan dari persoalan keyakinan akan way of life yang paling pas untuk dirinya.

Saya bagaimana?

Mungkin saya memang cenderung suka menyiksa diri sendiri. Seolah-olah memikirkan hal-hal buruk, perihal kecemburuan, iri hati, rendah diri, dan kawan-kawannya akan selalu membuat saya sadar tentang hidup yang saya jalani. Bahwa dengan merasakan hal-hal itu membuat saya kembali sadar bahwa saya hanya manusia biasa, yang perannya di dunia ini tak seberapa, dan tidak lebih besar dari sampah. Berkali-kali saya merasa tidak berguna, menyadarinya dalam darah dan daging, dan menanamkannya sedalam akar-akar pohon di dalam pikiran saya. Alasannya sesederhana karena pikiran saya selalu kembali ke sana meski sejuta kali saya mencoba untuk melarikan diri.

Setiap kali mendapat respon buruk dari orang-orang yang saya inginkan, pemikiran itu kembali. Setiap tidak memperoleh hal yang saya doakan, pemikiran itu kembali. Setiap kali mengalami mimpi tentang hal yang tidak didapatkan, pikiran itu kembali. Ada sangat banyak hal yang membuat pikiran itu kembali. Dan saya menyerah untuk memintanya pergi.

Kadang saya meminta diri sendiri untuk selalu ceria, ala kadarnya, polos bagai bunga-bunga yang baru mekar, atau upaya respon apapun yang positif. Berhasil di awal, gagal di hari kedua dan seterusnya. Maka ego pribadi untuk menunjukkan kompetensi di hadapan orang lain seringnya lebih ingin saya wujudkan, meski setelahnya bisa saja saya menyesalinya.

Masih terang di ingatan saya bagaimana rasa malu bertahun lalu masih bertahan hingga hari ini. Dan masih banyak rasa malu lain yang bertahan hingga hari ini, entah pelaku-pelakunya mengingatnya sebagai sebuah peristiwa penting atau tidak. Upaya menghindari perasaan yang tidak perlu selalu gagal saya wujudkan. Tapi berikutnya, saya mencoba menerima bahwa kontrol emosi hanya akan membuat saya menjadi robot dan semakin tidak berguna.

Tapi benarkah?

Manusia itu amat sangat rumit, saking rumitnya saya begitu terpesona dengan setiap manusia. Hal itu juga yang membuat saya menyayangkan metode penelusuran psikologis yang melihat karakter manusia dengan menggunakan rumus-rumus atau aturan tertentu, hati kecil saya menolaknya. Tapi melihat kumpulan manusia ‘hanya’ dari relasi sosialnya juga tidak memuaskan rasa penasaran saya tentang manusia. Selalu ada yang tidak saya temukan dari masing-masing disiplin ilmu ini. Karenanya, hidup menjadi ‘lapangan’ buat saya untuk menelaah masing-masing manusia. Demikian, jika saya mengganggu Saudara-Saudara dengan melihat tanpa tedeng aling-aling maafkan kelancangan saya. Saya tanpa sadar suka memperhatikan orang dengan keterlaluan, dan sering juga memberikan penilaian awal terhadap siapapun.

Hemm, curhat ini saya cukupkan saja, karena sudah hampir 1000 karakter. Saya masih ada pe-er untuk memahami postmodern yang saya pikir sudah saya pahami, tapi ternyata belum sama sekali. Duh deeek, kacau sekali. Hahaha.

Yaudah, tabik.

wordsflow

Selipan: ketika membaca Capital


Ada sebuah buku berjudul Capital, yang tidak pernah saya sangka akan saya baca, saja kaji, saya review, dan saya kritik sebagai bagian dari pembelajaran akademis saya. Saya tidak banyak kenal dengan Marx, tidak sungguh-sungguh paham seluk beluk kehidupannya; siapa Engels baginya, apa yang selama ini ia kerjakan, di mana dia pernah tinggal, and so forth.

Tapi, sesuai judul tulisan ini, saya merasa butuh segera menuliskan catatan ini. Setiap 3 minggu sekali saya akan kembali membaca Capital yang memang menjadi dasar pembelajaran pemikiran Marx sebelum lanjut ke artikel kritik dan pengembangannya. Dalam sela-sela membaca bab mengenai surplus value, saya menyadari betapa menakjubkannya konstruksi pikiran Marx sehingga mampu menuliskan begitu tebalnya buku, meski secara garis besar ‘hanya’ membicarakan mengenai keseluruhan mode produksi.

Setiap detil ia pertanyakan kembali, setiap detil ia ulangi hingga sebagai pembaca, saya sering kali harus mengulang-ulang kalimat yang sama untuk memahami maksud Marx. Sebenarnya saya menikmati menkaji halaman per halamannya meski dengan terbata-bata mengeja bahasa Inggris-nya, atau setiap maksud dari kalimat-kalimatnya. Seolah-olah saya membaca sebuah novel, tapi berisi tentang pemikiran logis dan dialektis dari seorang Marx.

Ketika membaca semacam ini, saya seolah ingin memberi semangat pada diri sendiri, bahwa tulisan, bagaimana pun akan tetap berguna. Pertanyaannya hanya; apakah kebergunaan itu hanya untuk menciptakan ketidakbergunaan yang lainnya atau tidak?